
"Bang Radit," panggil Tasya lemas.
"Udah bangun lu? Enak masuk sini lagi?" sindir Radit dengan muka julidnya.
"Ihh lo mah jahat amat sama gue, adeknya lagi sakit malah dijulidin," kata Tasya kesal.
"Abis lu jadi anak susah banget dikasih taunya. Gua gak tega liat lu diinfus terus," kesal Radit yang duduk di samping ranjang Tasya.
"Lebay amat lo, Bang. Gue gak apa-apa elah." Tasya menyentil dahi Radit.
"Gak apa-apa palalu peyang. Lu suka ya di sini? Atau mau menetap terus aja, hm?"
"Ya siapa yang suka, pingin balik gue tuh Abang jelekk," rajuk Tasya.
"Makanya, apa susahnya nurut sama gua. Tinggal minum obat sama vitamin teratur, jaga kesehatan, makan teratur, sama jangan banyak pikiran. Itu doang."
"Siapa juga yang banyak pikiran, enggak ih," elak Tasya.
"Kata dokter, lu terlalu stress."
"Kalau gue stress, gue udah masuk RSJ kali."
"Iya, sini gua daftarin lu masuk RSJ," kata Radit kesal.
"Tega beneran ini mah lo sama adek sendiri," kata Tasya.
"Lu sebenernya mikirin apa sih, dek?" tanya Radit perlahan.
"Nggak mikirin apa-apa. Itu kan dokter yang bilang. Gue yang rasain, biasa aja."
"Yaudah terserah. Mending lu makan, ya?" tanya Radit.
"Makan apa? Bubur pake sayur-sayur gitu? Gak mau, gue mak mau makan itu," tolak Tasya.
"Tapi lu harus makan, Dek," bujuk Radit.
"Gue gak mau, Bang. Mending lo beliin gue bubur bayi aja. Gue lebih suka itu daripada bubur yang anpaedah," kata Tasya.
"Lu udah gede ih, masa makan bubur bayi," cibir Radit heran.
"Bubur bayi atau tidak sama sekali," ancam Tasya.
"Iya iya, gua beliin. Lu nyemil apa aja dulu kek, biar gak kosong perutnya," perintah Radit.
"Gak nafsu," kata Tasya tak acuh.
"Ngemil atau tidak sama sekali?"
"Tidak sama sekali, lo ini yang ngamuk bukan gue," kata Tasya.
Ancaman Radit memang tidak mempan pada Tasya. Justru itu seperti boomerang baginya.
Tiba-tiba suara ponsel Radit bergetar. Ternyata Radit tidak membawa ponselnya. Tertera panggilan dari Rafa–temannya Radit dan Tasya mengenalinya. Tasya pun memutuskan untuk mengangkat panggilan, sekalian modus pada Rafa.
__ADS_1
"Halo, Kak Rafa," kata Tasya saat mengangkat panggilannya.
"Eh, Sya. Abang kamu kemana?" tanya Rafa dari seberang sana.
"Abang lagi ke luar, Kak. Biasa cari makanan buat aku," jawab Tasya.
"Katanya sakit lagi ya?"
"Iya, tapi udah mendingan kok."
"Aku mau ke sana, mau pizza?" tanya Rafa yang sudah paham pada gadis itu.
"Peka amat ya ampun. Boleh, biasa ya, Kak. Jangan sampe ketauan Bang Radit juga," kata Tasya.
"Siap, meluncur adek manis," kata Rafa.
"Thanks, Kak," kata Tasya.
"Sip."
...~ • ~...
Radit mengecek ponselnya, dia sedikit mengerutkan dahinya. Pasalnya, dia menemukan Rafa menelfonya tadi. Pandangannya tertuju pada gadis di depannya ini. Lalu menatapnya dengan intens.
"Rafa ngapain telfon?" tanya Radit pada Tasya.
"Tadi nanyain lo, terus dia bilang mau ke sini," jawab Tasya.
Radit hanya menganggukkan kepalanya. Radit sudah tau tipu-tipu club ala Tasya dan Rafa. Kali ini dia harus waspada. Karena sudah pasti Tasya meminta dibelikan makanan yang seharusnya dihindari olehnya.
Tasya tak mengambilnya, dia justru membuka mulutnya seakan kode minta disuapi. Sifat anak bungsunya pasti keluar saat seperti ini, ditambah jika ada Radit.
"Yaampun, Dek. Makan sendiri napa, masa gua udah beliin dan gua juga yang nyuapin lo," keluh Radit.
"Yaudah, gak mau makan. Lagian tangan gue ngilu banget, Bang. Barusan infusannya bocor, jadi harus dipompa," kata Tasya merajuk.
"Iya iya gua suapin, aaa," katanya sambil mendekatkan sendok pada mulut Tasya.
Tasya pun menerimanya dengan senang dan penuh kemenangan.
"Nah, kapok kan sakit. Makanya, nurut apa gua," omel Radit.
"Iya ih, suapin lagi. Gue laper, masa cuma sekali," protes Tasya.
Tiba-tiba seseorang memasuki kamar ini. Ternyata itu Rafa, Rafa segera menyembunyikan pizza yang iya bawa di belakang punggungnya. Tentu saja Radit mengetahuinya.
"Eh, Raf. Masuk aja," perintah Radit.
Rafa pun mendekat ke arah mereka.
"Eh bawa apaan lu?" tanya Radit pada Rafa.
"Emm anu, emm bukan apa-apa," alibi Rafa.
"Dih gak usah segan. Gua tau lu care sama gua." Radit langsung mendekati Rafa dan mengambil pizza yang Rafa sembunyikan itu.
__ADS_1
"Makasih ya, tau aja lu kalau gua belum makan. Double cheese, enak kayaknya pizzanya," kata Radit sambil membuka kotak itu.
"Ta-tapi itu-"
"Gua suka kok, lu emang sahabat ter dabest. Lapar banget emang. Lu mau, Dek?" tawar Radit dengan sengaja.
"Mauu," jawab Tasya spontan.
"Gak boleh deh, lu kan lagi sakit," kata Radit meledek.
Radit memakan pizza itu di depan Tasya.
"Ihhhh Abang!!!! Kak Rafa bawain pizzanya buat gue itu tuh!!!" rengek Tasya.
"Oh buat lu, nah kan. Lu gak boleh makan kaya gini dulu. Harus yang lembut-lembut. Jadi ini buat gua," kata Radit.
"Yaudah, nanti besok aku bawain lagi," bisik Rafa.
"Gak mau, aku maunya yang itu kak," Rengek Tasya.
Hanya segelintir orang yang bercakap aku-kamu dengan Tasya. Salah satunya adalah Rafa. Dia seperti ada rasa segan pada Rafa. Rafa sudah menganggap Tasya sebagai adiknya sendiri. Karena dia tak mempunyai saudara sama sekali.
"Dit, kasih adek lu napa. Satu doang mah gak apa-apa," kata Rafa.
"Dia kalau dimajain nanti keenakan. Kalau mau makan pizza suruh sembuh dulu. Baru gua beliin deh mau berapa banyak juga," kata Radit.
"Yaudah, nanti aja pizzanya. Sekarang lanjut aja makan bubur," kata Rafa.
"Tapi aku mau pizza ih. Aku tuh gamau makan bubur. Gak ada enak-enaknya."
"Ya namanya juga sakit, gak ada yang enak," kata Rafa.
"Pizza enak," kata Tasya.
"Nanti kalau sembuh gua beliin sepuas yang lu mau," kata Radit.
"Tapi gue mau yang itu, mau sekarang," rengek Tasya.
"Gak boleh, sekali gak boleh tetep gak boleh," kata Radit.
"Yaudah, Tasya makan buah aja ya. Biar kakak bukain," kata Rafa mengambil buah jeruk di sana.
"Pizzanya." Tasya masih merengek ingin pizza yang dipegang Radit.
"Sembuh dulu, nanti Radit beliin katanya."
"Gamau, mau yang itu. Jahat amat sih Bang Radit sama adeknya," kesal Tasya.
"Gua denger loh," kata Radit.
"Kalau denger, kasih lah pizzanya," kata Tasya.
"Gak, lu gak boleh makan ini dulu. Padahal ini enak loh, Dek. Bisa aja l milih makanan, Fa," kata Radit.
"Najong, gosah bikin gue ngiler gosah," rengek Tasya.
__ADS_1
Rafa hanya terkekeh melihat kedua adik kakak itu. Satu keras kepala, yang satunya keras kepala dan jahil. Sangat lucu saat mereka seperti itu. Membuat Rafa ingin mempunyai adik perempuan.