
Tasya mengambil hoodie dan Sling bag miliknya. Bajunya dalam keadaan basah kuyup karena tidak membawa baju khusus. Al hasil mereka harus pulang ke hotel dengan basah-basahan.
"Gua punya cara asik buat pulang ke hotel," kata Al yang tiba-tiba saja mendapat ide.
"Apaa?" Tanya Viko penasaran.
"Jadi hutan lindung ini nyambung ke pantai tempat kita liat sunrise. Jadi kita bisa nelusurin hutan ini, paling sekitar 1 jaman nyampe," jawab Al.
"Wah seru tuh, daripada balik naik kapal lagi. Udah bayar mahal malah sebentar, ayok lah gas," seru Arka yang nampak bersemangat mendengar usulan Al.
"Yang lain gimana?" Tanya Al memastikan
"Gas lah, yakali engga?" Jawab mereka serempak.
Setelah mendapatkan persetujuan bersama, mereka pun memasuki hutan tersebut. Hutannya benar-benar dilindungi, masih segar dan tidak mudah dijamah oleh tangan-tangan manusia, bahkan ada beberapa monyet dan orang utang tinggal di sana dibiarkan bebas.
Tasya tersenyum saat dia melihat sebuah kupu-kupu berwarna biru hinggap di sebuah dedaunan. "Vik, liat deh kupu-kupunya bagus."
"Iya bagus, di kota udah gak ada kaya gitu. Soalnya tempat mereka udah digusur sama proyek-proyek," kata Viko lalu menatap Tasya.
"Iyasih bener, sayang banget. Padahal kalau kupu-kupunya di bawa ke rumahku kayanya bagus." Tasya terkekeh membayangkan jika dia bisa membawa kupu-kupu itu pulang bersamanya.
"Jangan, nanti dia insecure," ucap Viko.
"Kenapa insecure?" Tanya Tasya tak paham.
"Soalnya kamu lebih cantik dari dia, nanti dia gak percaya diri buat liatin sayapnya terus depresi dan mati perlahan." Viko tertawa renyah.
"Hahaha apasih, gombal terus. Gara-gara kamu kupu-kupunya pindah ke perut aku," kata Tasya lalu menggigit lengan Viko pelan.
"Kamu mau tumbuh gigi ya?" Tanya Viko sambil merapikan poni Tasya yang sudah mengering.
"Engga, gemes aja pingin aku gigit," kata Tasya dengan nyengir khasnya.
Viko dan Tasya asik mengobrol, sedangkan yang lain sibuk mengeksplor keindahan hutan itu. Memang jika sedang jatuh cinta, yang lain cuma ngontrak. Buktinya mereka tetap asik mengobrol meskipun mendapat tatapan tatapan tajam dari teman mereka.
"Aku mau tanya deh sama kamu," kata Tasya.
"Kenapa waktu kemarin aku sakit, kamu gak milih buat cari yang lebih baik aja? Maksud aku, kan banyak yang suka sama kamu, bahkan Indra si kemayu aja suka sama kamu, kan?" Tanya Tasya.
"Gak ada alasan buat mencintai seseorang, Sya. Kalau aku sayangnya sama kamu, mana bisa diganti ke yang lain. Karena kamu tau gak, kalau kita udah sayang sama seseorang, kita gak peduli dia cantik atau engga, sehat atau sakit, gendut atau kurus. Yang kita tau cuma perasaan bahagia saat liat dia bahagia," ucap Viko tulus.
__ADS_1
Tasya mengulum senyumnya, kenapa bisa di matanya Viko semanis ini?
"Dih apaan itu pipinya udah kaya kepiting rebus," ledek Viko.
"Ih apasih, engga! Jangan digodain!" Kata Tasya yang kini menutup kedua pipinya.
"Hahahaha gemes tau."
"Kayanya sekarang kamu selalu bilang aku gemes, jangan-jangan aku napas aja dibilang gemes sama kamu." Tasya kini menatap Viko dengan wajah gemasnya.
"Iya, semua yang kamu lakuin emang selau gemes di mata aku," jawab Viko santai.
"Udahlah nanti aku makin salting, kamu kalau ditanya gombal terus." Tasya mempercepat langkahnya.
Viko tertawa lalu menahan lengan Tasya, digenggamnya lagi tangan gadis itu. "Jangan dilepasin, nanti kamu ilang bayi."
"Gak bayi, bisa-bisanya segede gini dibilang bayi?!"
"Makanya jangan lucu-lucu. Kalau kamu dilombain lomba mirip bayi, bayinya juara dua."
"Udalah kamu mending diem aja, jangan godain aku muluuu."
"Halah gak kreatif lu, itu kan lelucon gua. Kalau lu dilombain mirip babi, babinya juara dua," teriak Arka yang kesal melihat keuwuan mereka.
"BABI!" Teriak Viko dan Arka pun langsung berlari kencang.
"Panggil apa?" Tanya Tasya tak mengerti.
"Panggilan sayang misalnya, orang kalau pacaran punya panggilan sayang, masa kamu manggil aku Viko sih.?"
"Yakan namanya emang Viko," jawab Tasya polos.
"Ya panggil sayang kek biar romantis."
"Gak mauu. Nanti aja kalau udah berani. Kalau sekarang belum berani," ucap Tasya sambil menyilangkan tangannya.
"Masa ketua OSIS gak berani manggil sayang ke pacarnya sendiri?" Protes Viko.
"Gak .. Gakk ... Gakk!" Tasya tertawa lalu berlari ke depan menyusul Sherli, Sarah, dan Niken.
Viko tertawa lalu menyusul ke depan. Saking asiknya mereka berdua mengobrol sampai tidak sadar kalau mereka berdua tertinggal jauh.
Al mengarahkan kameranya ke berbagai arah, banyak sekali bahannya untuk koleksi photo pribadi. Tiba-tiba Tasya datang dan langsung mepet ke arahnya.
__ADS_1
"Al, katanya bunda Diana mau kesini, itu beneran?" Tanya Tasya pada Al sambil melihat ke arah kamera Al juga.
"Kapan bunda bilang?" Tanya Al menatap ke arah Tasya. Pasalnya dia belum mengetahui soal hal itu. Bahkan Ibunya belum menghubunginya lagi sejak 2 hari yang lalu. Mereka semua berjalan mendahului Al dan Tasya. Viko pun memberi waktu luang pada mereka berdua, karena sepertinya ada hal yang harus mereka bicarakan.
"Emm tadi pagi, bunda nanyain lo udah bangun apa belum. Terus gue jawab belum keluar kamar, ngobrol deh," jawab Tasya asal.
"Kapan bunda mau kesini nya? Bunda ada bilang alasannya mau ke sini apa? Maksudnya ke Bandung," ralat Al.
"Kok jadi lo yang nanya gue sih, kan lo anaknya. Emang bunda gak kasih tau lo sebelumnya?" Tasya menatap wajah Al.
"Belum atau mau kasih kejutan kali ya?" Ucap Al. Dia berusaha tenang meskipun sekarang dia sedikit cemas. Bagaimana pun dia harus mencegah bundanya agar tidak ke Bandung.
"Kenapa sih tegang banget," tanya Tasya. Dia sedikit khawatir saat melihat wajah Al yang mendadak panik.
"Hah, enggaa. Panas aja ini, yuk cepet balik. Takut dicariin. Bucin mulu sih lu, jadi lama jalannya," kata Al sembari merangkul Tasya.
"Gak bucinn ihh. Btw lo tau gak sih kalau Viko itu manis banget," bisik Tasya pada Al. Al hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini pertama kalinya dia melihat Tasya jatuh cinta.
"Kalau orang jatuh cinta, mau dia ngupil, mau dia tengkurep di tengah jalan, atau dia nyebur ke kali demi lu keliatannya bakalan manis, coba kalau gua yang lakuin."
"Najis freak banget, ngapain juga tengkurep di tengah jalan, ketabrak dodol." Tasya pun tertawa mendengar jawaban Al.
"Serius, ketika lu sayang sama seseorang dengan tulus. Apa pun yang dia lakuin bakalan terlihat manis, bakalan ngerasa dia spesial dari siapapun, dan lu bakalan ngerasa selalu beruntung bareng sama dia terus," kata Al yang kembali fokus ke jalanan.
"Emang lo pernah jatuh cinta? Gue belum pernah denger lo ceritain seseorang yang lo suka, atau seseorang yang bikin lo jatuh cinta gitu. Padahal, di sana pasti banyak cewek-cewek cantik." Tasya melirik ke arah Al
"Emmm ada gak ya? Ada. Tapi gua mau fokus dulu sama masa depan gua, gua mau gapai dulu apa yang pingin gua kejar. Gua gak lagi gak tertarik sama percintaan," jawab Al sambil tersenyum.
"Iya sih, lagian semua orang punya kesiapannya masing-masing. Btw, Al ..."
"Kenapa?" Tanya Al.
"Kalau lo ada apa-apa lo bilang sama gue ya, iya gue tau lo gak mau ngebebanin gue semenjak gue sakit kemarin. Atau lo mikir gue lebih butuh lo daripada lo yang butuh gue. Tapi gue mohon lo jangan mikir gitu lagi," kata Tasya lembut. Entah kenapa akhir-akhir ini dia selalu melihat Al yang terkadang gelisah atau cemas.
"Kenapa tiba-tiba bilang gitu?" Tanya Al sambil menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Tasya.
"Kita ini udah sama-sama dari kecil, bahkan darah bunda lo aja ada dalam tubuh gue, menyalur lewat asi-asi yang sering gue pintain dulu. Jadi, gue paham apa yang lo rasain. Ketika lo cemas, khawatir, gelisah. Feeling gue ngerasa kalau lo gak baik-baik aja. Tapi, it's oke kalau sekarang lo belum bisa bilang atau cerita sama gue, gue ngerti dan paham. Tapi kalau lo udah bisa cerita, lo bisa bilang sama gue. Gue tetep Tasya yang sama sampai sekarang. " Tasya tersenyum manis ke arah Al.
Al sedikit terhenyuk, memang ada banyak sekali yang ingin dia ceritakan pada Tasya. Tapi kali ini dia benar-benar ingin menyimpannya sendiri sampai waktu yang tepat datang.
"Gua gapapa, gua cuma lagi ngerasa kangen aja sama suasana Surabaya. Kangen Angkasa, Yoda. Tapi cuma yaa, udah selewat aja gitu. Gua pasti bakalan cerita kalau misalnya gua kenapa-kenapa. Jadi jangan khawatir ya, Sya," kata Al sambil tersenyum.
"Iyaa, gue percaya sama lo. Yaudah ayokk, kita udah ketinggalan jauh!" Tasya pun menggandeng tangan Al. Dia sedikit lega karena Al sudah bilang begitu. Setidaknya dia tidak akan kepikiran dan bertanya-tanya tentang apa yang dirasakan pria itu.
__ADS_1
Al merasa bersalah telah membohongi Tasya. Dia tidak pernah menutupi apapun dari gadis itu. Sedikit sulit namun dia harus tetap bertahan.
"Maafin gua ya, Sya," ucap Al dalam benaknya.