Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Aku Marah, Boleh Peluk?


__ADS_3


Viko menghentikan mobilnya di salah satu hotel mewah, mengajaknya untuk makan malam di ruangan VIP yang sengaja dia sewa agar lebih privasi.


Tasya menerima uluran tangan Viko saat mereka turun dari mobil. Sedikit tersenyum, ternyata Viko masih mempunyai effort yang besar untuknya. Berarti dia masih memiliki hati Viko meskipun hanya setengahnya.


Mereka masuk ke ruangan yang sudah dipersiapkan dengan spesial untuk Tasya. Tasya benar-benar suka dengan tempat ini. Ya sedikit mengobati rasa sakit hatinya karena perselingkuhan yang Viko buat.


Dia menghentikan langkahnya, ternyata bukan hanya itu saja. Malam ini Viko membawanya ke hadapan orang tua Viko. Tasya menatap ke arah Viko tak percaya dan Viko menipiskan bibirnya.


"Tante," sapa Tasya sembari bersalaman dengan Rena, mereka berpelukan sambil saling mencium pipi satu sama lain. Rasanya Rena sudah lama tidak melihat gadis itu, sekarang jauh lebih cantik dan juga dewasa.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Calon dokter nih, kangen sekali sama kamu. Selamat ulang tahunnya, cantik. Semoga cita-citanya bisa lancar tercapai," ucap Rena tulus


"Aamiin, terima makasih Tante atas doa baiknya. Tasya juga kangen sama Tante, eh Om apa kabar?" Ucap Tasya yang kini menyalami Beni- Papanya Viko.


"Baik, Om sampai pangling ternyata. Memang Viko tidak salah pilih. Selamat ulang tahun yaa," ucap Beni.


"Salah kayanya, soalnya dia lebih suka Bella daripada aku," batin Tasya.


"Iya, Om. Terima kasih ya," balas Tasya dengan senyum.


"Yaudah kita makan aja dulu yuk, sekalian ada yang mau dibicarakan," ucap Rena yang membawa Tasya untuk duduk bersama Viko.


Makan malam ini terlihat mewah, ditemani oleh canda tawa dari Rena dan Tasya. Viko tersenyum simpul, Tasya memang selalu bisa menarik hati orang tuanya. Sekilas, Tasya melirik ke arah ponsel Viko yang menyala, bahkan kini wallpapernya bukan foto mereka.


"Sekarang kegiatan kamu apa, Sya?" Tanya Rena.


"Kuliah, Tante. Ya praktikum, menghafal, karena kami calon dokter umum jadi harus banyak memahami sisi medis yang emm lumayan ... Hehe," jawab Tasya.


"Ada rencana buat ambil spesialis?" Tanya Beni. Entahlah, mereka seperti bertanya kepada calon menantunya jika seperti ini.


"Ada, Om. Kebetulan Tasya mau ambil spesialis kejiwaan. Itu pun kayanya ya 1 sampe 2 tahun dulu kerja, baru ambil spesialis kayanya," jawab Tasya lagi.


"Loh kenapa ambil spesialis kejiwaan? Om pikir kamu akan tertarik ke spesialis bedah atau jantung misalnya," ucap Beni.


"Emm mungkin karena tertarik aja sih, Om. Di Indonesia masih banyak orang terkena gangguan mental tanpa disadari, padahal depresi itu udah jadi salah satu penyumbang kematian yang banyak loh. Jadi Tasya ingin kalau suatu saat bisa berguna dan menyelamatkan lebih banyak jiwa, biar bisa merasakan hidup yang normal."


Mereka mengangguk, itu kenapa kedua orang tua Viko sangat menyukai Tasya. Orangnya kompeten, tegas, dan mempunyai masa depan yang jelas untuk dirinya sendiri.


"Kamu tau, Viko tadinya gak bicara loh soal ulang tahun kamu dan kedatangannya ke Surabaya, tapi 3 hari sebelumnya Tante tau. Jadi kami memutuskan untuk ke sini juga. Kamu tau kenapa?" Tanya Rena.


"Kenapa, Tan?" Tanya Tasya.


"Begini, kalian kan sudah lama juga berpacaran. Kalian sekarang sudah beranjak dewasa. Om dan Tante sangat suka sekali sama kamu. Jadi kami mau melamar kamu untuk Viko."


Sungguh, baik Viko dan Tasya mereka berdua sama-sama kaget. Sebenarnya Viko tidak apa-apa dan senang jika orang tuanya memilih Tasya. Tapi ini terlalu mendadak.


Rena mengeluarkan sebuah kotak beludru berisi cincin yang sengaja sudah dia pilihkan dari jauh-jauh hari.


"Jadi, apa kamu mau jadi calon menantu kami?" Tanya Rena.


Tasya terdiam, bahkan tujuan awalnya kesini ingin mengakhiri hubungan dengan Viko, kenapa malah menjadi acara lamaran?

__ADS_1


Tasya melirik ke arah Viko yang tersenyum ke arahnya. Kenapa dia terjebak dalam situasi ini? Bagaimana bisa dia menerima lamaran Viko sementara sekarang dia mengetahui hubungan Viko dengan Bella?


Rena masih menatap Tasya penuh harap. Ahh, sialnya perasaan Tasya begitu sensitif jika saat-saat seperti ini. Dia tidak mungkin memutuskan hubungannya dengan Viko sekarang.


"Apa dengan lamaran ini dia bakalan bisa ninggalin Bella?" Batinnya. Kenapa rasanya Tasya ingin menjadi egois?


"Tante, Om. Tasya-"


Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan itu, memiliki access card milik kedua orang tuanya tidaklah sulit untuk Bella mencari keberadaan Viko.


Bela bertepuk tangan melihat adegan yang berada di depan matanya. Tapi sayang, ini tidak akan berakhir seperti yang Tasya bayangkan. Viko memijat keningnya, dia justru panik sekarang.


"Halo, Tante," sapa Bella.


"Bella, ada apa kamu kesini?" Tanya Rena lembut. Tentu saja Rena mengenal Bella, saat dirinya ke Amerika akan lebih sering bertemu Bella karena apartemen Bella bersebelahan dengan Viko.


Bella mengeluarkan amplop coklat dan meletakan di hadapan Tasya yang duduk mematung di tempatnya. "Sebelum dia memberikan jawaban ke Tante, dia harus buka itu dulu."


Viko tidak paham apa yang direncanakan Bella? Tapi dia tidak mungkin menahan Tasya membuka amplop itu. Rena menatap Viko tak mengerti.


Viko beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Bella. "Bell, tolong jangan ganggu makan malam ini ya? Kita ketemu besok."


"Gak bisa, aku mau Tasya buka ini dulu sebelum dia jawab pertanyaan Mama kamu," ucap Bella dengan nada yang meninggi.


Di tengah pertengkaran Viko dan Bella, perlahan Tasya mengambil amplop yang ada di hadapannya. Jujur, dia gemetar. Apakah isinya akan membuat dia lebih sakit daripada kejadian tadi siang?


Tasya yang ragu kini memberanikan diri, menarik isi amplop itu keluar. Rena juga terfokus pada apa yang Tasya pegang.


Tasya menggulir foto-foto yang berada di tangannya. Bagaimana rasanya melihat seseorang yang sangat kita cintai sedang meniduri wanita lain di satu ranjang yang sama tanpa busana?


Viko terasa terpental berkilo-kilo jauhnya, kenapa Bella senekad ini membongkar hubungan mereka di hadapan kedua orang tuanya?


Rena terkejut, dia mengambil beberapa foto dari tangan Tasya. Apa yang sudah putranya perbuat? Dan kini Rena menatap Bella penuh kebencian. Padahal Bella sudah dia anggap seperti anak sendiri


Plakk ...


Satu tamparan mengenai pipi Bella. Dia kaget, kenapa malah dia yang jadi tersangkanya di sini? Padahal mereka melakukannya berdua, seharusnya Rena memarahi putranya sendiri.


"Tan-"


"Murahan! Kamu gak malu memperlihatkan semua ini pada kami? Perempuan tidak tau malu kamu!" Bentak Rena.


Beni tak tinggal diam, sorot matanya begitu tajam melihat kelakuan putra yang dia banggakan tapi malah seperti hewan liar.


Plakk ...


Satu tamparan lolos dari tangan Beni untuk putranya. "Bagaimana bisa kamu mempermalukan kami seperti ini Viko?! Jawab! Mama dan papa tidak pernah mendidik kamu untuk menjadi hewan liar dan menyakiti hati seorang perempuan! Kamu tidak akan papa biarkan kembali lagi ke Amerika!" Bentak Beni.


"Pa, itu kesalahan. Viko melakukan itu secara tidak sadar," ucap Viko mencoba menjelaskan.


Bella menatap ke arah Viko. "Gimana bisa kamu bilang ini sebuah kesalahan kalau kita melakukannya berulang kali hah?!"


"BELLA AKU GAK CINTA SAMA KAMU, KAMU CUMA PELARIAN!" Kini emosi Viko memuncak. Kali ini Bella benar keterlaluan.

__ADS_1


Di dalam keributan, Tasya masih setia memandangi foto yang dia pegang. Entah kenapa dia malah memasukannya kedalam tas miliknya. Satu tetes air mata berhasil lolos di pipinya, namun dengan segera dia menyekanya, teman-temannya bilang dia tidak boleh menangis di hadapan Viko. Rena yang melihat itu paham dan malu atas kelakuan putranya.


Tasya beranjak dari kursinya, dia malah menenangkan Rena seolah tidak terjadi apa-apa padanya. Perlahan dia menghampiri Viko, menatapnya lekat-lekat. Rasanya ingin sekali dia menampar pria itu, tapi dia tidak akan pernah bisa melakukannya.


"Tasya aku ... "


"Aku lagi marah, boleh aku peluk kamu?"


Satu kalimat yang tidak pernah Viko bayangkan keluar dari mulut Tasya. Tapi entah kenapa itu malah membuat hatinya teriris.


Tasya mengalungkan tangannya di leher Viko, memeluknya erat dan menumpahkan segala perasaannya. Viko membalas pelukan Tasya begitu erat, seolah itu adalah pelukan terakhir Tasya untuknya. Kenapa dia merasa sangat bersalah karena telah menyakiti gadis sebaik Tasya?


"Sya, biar aku jelasin."


"Aku tau hubungan kalian." Tasya menjeda kalimatnya.


"Aku juga tau kejadian di basement tadi siang," lanjutnya.


Viko mematung, ini jauh di luar dugaannya. Jadi selama perjalanan tadi Tasya memendam semuanya sendiri, dia bahkan tidak marah padanya.


Tasya melepaskan pelukannya, menatap Viko dan mengelus pipinya dengan lembut. Sialnya kenapa Bella jadi ikut merasa bersalah, dia pun memalingkan muka dan tak ingin melihatnya.


"Kamu tau, aku suka diajak bicara. Aku juga suka dengerin orang yang ceritain kesehariannya sama aku, aku suka ketika seseorang antusias saat denger cerita dari aku, aku suka sama orang yang bikin aku ketawa, aku juga suka binar mata seseorang saat menatap ke arahku. Aku suka dicintai,"


"Itu kenapa aku pilih kamu di kehidupan aku. Tapi aku ngerasa, semuanya udah gak ada di kamu. Perasaan kaya gitu udah gak ada buat aku. Viko ... "


"Kita sampai di sini aja ya?" Satu kalimat itu berhasil dia ucapkan.


"Sya aku gak mau-"


"Makasih buat kisah masa remaja yang kamu kasih buat aku. Itu indah banget. Makasih buat pembelajaran berharga yang kamu kasih ke aku. Tapi, sebuah hubungan gak bisa berdiri di atas satu pijakan aja. Bahkan aku gak tau sekarang kamu lagi berpijak di mana."


"Stop, Tasya! Jangan bicara yang aneh aneh. Aku sayang sama kamu!" Viko mengelus pipi Tasya dengan lembut Menatap matanya yang sendu tapi entah kenapa dia tidak menangis. Justru Rena yang kini menangis melihat itu, bagaimana sebuah ketulusan dari seorang wanita yang disakiti putranya.


Tasya terkekeh. "Tenang, kamu lagi berhadapan sama Tasya Aurell yang berumur 20 tahun. Aku gak akan kenapa-kenapa, sedikit doang paling. Kamu jaga diri kamu ya. Jaga Bella juga." Tasya melepaskan tangannya dari pipi Viko. Viko mencoba menahannya namun gadis itu menolak.


Tasya kini menghampiri Rena. Memeluk dan menenangkan seseorang yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.


"Tante, jangan nangis. Tante harus menerima keputusan anak Tante dan terus suport dia. Karena cuma Tante dan Om yang bisa bantu Viko. Tasya pulang dulu ya, apapun yang terjadi Tasya bakalan anggap Tante dan Om sebagai orang tua Tasya sendiri. Kalau nanti Tasya ke Bandung Tasya boleh mampir ya?"


"Sayang, maafkan Tante ya?" Ucap Rena.


Tasya mengangguk dan tersenyum simpul. "Iya, Tante. Kalau gitu Tasya pulang dulu ya."


"Biar Tante antar kamu ya?"


"Gak usah Tante, Tasya bisa naik taxi online." Tasya pun bersalaman dengan kedua orang tua Viko. Sesaat sebelum dia meninggalkan ruangan itu, dia kembali melihat ke arah Viko dan melambaikan tangannya.


"See u," gumamnya pelan.


Tasya keluar dari ruangan itu. Namun entah apa yang dia rasakan, semuanya terasa sesak, tapi dia malah tidak bisa mengeluarkan air matanya. Apakah dia terlalu memendamnya tadi?


"Ayok, Sya. Lo kuat, ayok kita pulang!" Ucapnya pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2