
Rumah Sakit Premier Surabaya. Adalah salah satu rumah sakit terbaik di Surabaya. Mereka bisa melakukan masa koass di sini dengan bimbingan terbaik tentunya. Berkat bantuan dari Ayah Al semuanya bisa berjalan dengan lancar dan tentunya persetujuan dari universitas.
Setelah menerima arahan, kini Tasya dan lainnya sedang bertugas. Tugas mereka dibagi beberapa stase. Karena di masa koas ini akan ada beberapa stase. Biasanya dibagi menjadi dua stase, yaitu mayor dan minor. Stase mayor antara lain : penyakit dalam, bedah, obgyn, anak, IKK IKM (Ilmu Kedokteran Keluarga Ilmu Kesehatan Masyarakat). Sedangkan stase minor antara lain : mata, kulit kelamin, jiwa, anestesi, THT, syaraf, forensik, radiologi, gigi & mulut, rehabilitasi medik. Stase mayor ditempuh selama 10 minggu dan stase minor selama 5 minggu. Jadi total ada 15 stase yang harus dijalani selama dua tahun koas.
Cukup menguras pikiran, tapi pembimbing mereka bilang kalau tidak perlu dipikirkan terlalu jauh dan nikmati saja progressnya. Lagi pula mereka akan lebih banyak melakukan visite pada pasien. Jadi ya tidak begitu sulit.
Al melirik pada Tasya yang kini sedang melakukan konsultasi kepada dokter senior. Tasya ini memang perfeksionis dan juga pintar, jadi tentulah dia banyak bertanya. Tapi bukan itu permasalahannya. Dokter pria itu sejak tadi mereka datang terus menatap Tasya, membuatnya sedikit kesal saja. Apalagi dokter itu masih muda dan dia ketahui masih melajang.
Namun bukannya dia harus profesional? Jadi dia berusaha mengabaikannya dan fokus pada lembaran pekerjaan yang sedang dia kerjakan. Yoda, Angkasa dan Belva kini sedang ikut dengan dokter lain untuk membantu beberapa pekerjaan mereka. Jadilah hanya Al dan Tasya yang di sana.
"Oh begitu ya, Dok. Terima kasih, maaf kalau saya banyak bertanya," ucap Tasya ramah.
"Tidak apa-apa, saya senang membantu para dokter muda yang aktif dan banyak bertanya. Kalau ada yang mau ditanyakan bisa bicara saja ke saya," balas Dokter Fadil.
"Baik, Dok." Tasya tersenyum dan duduk di sebelah Al.
Gadis itu nampak serius dengan lembaran pekerjaan. Tapi Al sangat suka melihatnya, apalagi saat Tasya membenarkan kacamatanya yang terkadang merosot, semakin cantik.
"Kerjain tugasmu, jangan liatin aku aja. Nanti diliat sama dokter senior malu," kata Tasya tanpa berpaling dari pekerjaannya.
"Emang gak boleh liatin tunangan sendiri?" Tanya Al yang kembali fokus pada lembaran pekerjaannya.
"Boleh, tapi nanti aja ya. Fokus-fokus!" Peringat Tasya.
"Ck, dasar cewek gak peka," gumam Al.
Tasya melirik sekilas ke arah Al, apakah dia melakukan kesalahan? Tapi dia mencoba mengabaikannya terlebih dahulu, pekerjaannya masih banyak sekarang.
Tiba-tiba saja sebuah suara menginterupsi Tasya. "Dokter muda Tasya, bisa kemari sebentar?" Ucap dokter Fadil.
__ADS_1
Tasya mengangguk dan menghampiri dokter Fadil. "Iya, Dok? Ada yang bisa saya bantu?"
"Tolong periksa pasien di ruang Edelweis 10, setelah itu laporannya bisa kasih ke saya. Periksa dengan detail mengenai keluhan apa saja yang dirasakan hari ini."
Tasya mengangguk, setelah itu dia mengambil peralatan dokternya di tas, lalu keluar dari ruangan dan menuju kamar yang di maksud. Tasya tersenyum, ini pertama kalinya dia melakukannya, jadi tentu dia sangat antusias.
Perlahan dia membuka pintu ruangan vip itu. "Permisi." Ucapnya dengan ramah.
"Silahkan, Dok. Eh, Tasya?"
Sebuah suara yang Tasya kenal dan seketika dia menelan salivanya dengan susah payah. Tasya menahan napasnya sejenak, lalu berusaha tersenyum. Bagaimana pun ini pengalaman pertama dan tentu dia harus profesional.
Tasya perlahan mendekat dan bersalaman dengan Rena tanpa melihat ke arah Viko. Dia benar-benar tidak menganggapnya ada di sana.
"Kamu ngapain di sini?"
"Emm itu, Tante. Ini hari pertama Tasya koass di sini dan sekarang harus periksa pasien di kamar ini. Siapa yang sakit, Tan?" Tanya Tasya.
"Terima kasih, Tante. Kalau begitu biar Tasya periksa dulu ya, Tan?" Tasya hanya tersenyum, dia tidak ingin percakapan lebih jauh terjadi di sini.
Rena mengangguk, Viko mengepalkan tangannya. Melihat gadis itu, obsesinya selalu bangkit kembali. Dia benar-benar masih sulit untuk melupakan Tasya, bahkan sampai saat ini.
"Pak, Biar saya periksa dulu ya?" Ucap Tasya ramah.
Tasya memasang stetoskopnya dan memeriksa beberapa bagian tubuh pasien. Setelah itu mulai mentesi darah. Tasya melakukannya dengan fokus dan berusaha semaksimal mungkin. Beni, Rena dan Viko menatap ke arah Tasya. Ada rasa bangga juga melihat Tasya berada di rumah sakit ini sebagai dokter muda. Hal yang lebih tidak disangka, dia kini yang memeriksa Beni.
"Keluhan yang sekarang dialami apa, Pak?" Tanya Tasya yang menerapkan komunikasi pada pasien sekarang.
"Sakit dari ulu hati, menjalar ke bagian perut dan punggung sebelah kanan. Sekarang terasa sakit sekali," jawabnya.
"Oh begitu, boleh dibantu duduk dulu? Biar saya periksa bagian belakang, boleh?" Tanya Tasya.
__ADS_1
Beni mengangguk, Viko kini berseberangan dengan Tasya. Tasya masih sedikit gemetar melihat Viko dari dekat seperti ini. Trauma itu masih ada tentunya. Perlahan Tasya mengetuk bagian punggung bawah pasien. "Ini terasa sakit?"
Beni mengangguk dan Tasya kembali mengetuk dibeberapa bagian dan hasilnya pun sama. Setelah itu Tasya membantu pasiennya untuk kembali berbaring.
"Untuk sekarang saya beri 3 suntikan ya, Pak. Tahan napasnya ya, Pak dan rileks." Tasya menyuntikan beberapa obat pada tangan sang pasien. Entah karena Tasya yang mahir atau dia melakukannya dengan hati-hati, menurut Beni rasanya tidak sesakit saat disuntikan oleh perawat.
"Apa bapak saat buang air kecil merasakan ada butiran pasir dan terasa nyeri?" Tanya Tasya sembari merapikan alat-alatnya tanpa melepaskan senyumnya.
"Ada, sudah 2 Minggu seperti itu."
"Ah begitu ya, baik saya akan sedikit menjelaskan. Suntikan itu untuk menghilangkan nyerinya ya, Pak. Mungkin sekarang bisa diatasi dengan itu, obatnya juga jangan lupa diminum teratur sampai pemeriksaan oleh dokter penanggung jawabnya dilaksanakan. Oleh dokter Fadil Sadewa."
"Kalau dari pemeriksaan barusan memang ada indikasi ke sana. Karena biasanya pasien batu ginjal jika bagian belakangnya diketuk akan terasa sakit. Tapi biasanya dokter akan melakukan USG terlebih dahulu agar lebih akurat."
"Kalau benar batu ginjal apa harus dilakukan operasi, Dok?" Tanya Rena.
"Sesuai keparahan dan jumlah batu ginjal yang bersarang, Bu. Kalau masih kecil-kecil biasanya dokter hanya akan melakukan laser. Saran saya mungkin bisa minum air kelapa ya, Bu bapaknya. Karena itu bagus untuk membersihkan ginjal dan setelah ini mungkin. Ada yang ingin ditanyakan lagi?"
"Tidak, Dok. Terima kasih ya, terima kasih loh Tasya," ucap Rena.
"Iya sama-sama. Kalau begitu saya keluar dulu." Tasya tersenyum lalu keluar dari kamar itu tanpa ingin memperpanjang percakapan. Rena sebenarnya paham sih kenapa Tasya bersikap demikian, tapi Rena memakluminya. Sementara Viko masih diam mematung di tempatnya.
Setelah memberikan laporan Tasya mendapatkan pujian karena pemeriksaan yang detail. Dia pun kembali duduk di kursinya dan berusaha menetralkan perasaannya. Al yang memperhatikan Tasya sedikit khawatir, ada apa dengan gadis itu?
"Kamu kenapa?" Tanya Al.
Tasya menggeleng, bukan tidak ingin bercerita. Tapi lebih baik jika dia tunggu dulu karena sekarang masih di dalam jam kerja. "Gapapa, aku baik-baik aja kok. Semangat kerjainnya!"
Al hanya mengangguk, dia pikir juga ini masih jam kerja. Mungkin Tasya nanti akan menceritakannya setalah pulang dari rumah sakit. Jadi Al tidak memaksakan apapun padanya.
"Kenapa bisa mereka ada di sini, di kota ini?" Batin Tasya
__ADS_1