
Setelah asik bermain, mereka terakhir menaiki bianglala. Bianglala itu kincir besar maskot utama pasar malam, jadi sayang untuk dilewatkan. Tasya sangat suka melihat bianglala dengan lampunya yang berkelap-kelip, menurutnya itu sangat keren.
Meskipun Tasya memiliki phobia ketinggian, tapi dia selalu ingin menaikinya. Dia selalu merajuk kepada Radit agar diikuti keinginannya, walaupun saat sudah sampai di atas dia teriak-teriak ketakutan.
"Sebenernya gue parno sama ketinggian." Tasya memainkan jari-jarinya. Telapak tangannya sedikit berkeringat, tapi dia sangat ini menaikinya.
"Yaudah, turun lagi aja, yuk," ajak Viko sambil menggengam tangan Tasya. Dia merasa gemas dengan gadis yang ada di hadapannya ini, dia penakut tapi selalu ingin mencoba apa yang sudah dia pikirkan.
"Eh enggak, gue emang takut. Cuma kalau ada temennya ya gue berani, sedikit," tolak Tasya sambil cengengesan. Serius, jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.
"Haleh, apalagi temennya cogan kaya gua ya? Ngaku lu?" tanya Viko jahil sambil mendekatkan wajahnya ke arah Tasya.
"Apa hubungannya kampret, gak kaya gitu," kata Tasya sambil menjitak kepala Viko dengan tangan ajaibnya. Iya ajaib, mampu membuat orang kesakitan.
"Suka amat tangan lu jitak pala gua," kesal Viko meringis kesakitan.
"Gak tau, lo nya kali," ucap Tasya menggantung.
"Guanya apaan?" tanya Viko heran.
"Lo-nya jitakable." Tasya terkekeh dan sedikit bisa menetralkan rasa takutnya.
"Cih, bahasa lo aneh-aneh aja, pake ada jitakable segala," decih Viko.
"Gue kan anak gahoel," kata Tasya bangga.
"Alay lu," dengus Viko.
"Gak alay, gak gue," ledek Tasya sambil menjulurkan lidahnya.
"Alay bangga ya lu, gak ngerti gua sama jalan pikiran lu," kata Viko keheranan.
"Ya kita harus mensyukuri sifat yang ada pada diri kita," ujar Tasya dengan sok bijak.
Kincir mereka mulai berputar, sudah beberapa kali berhenti. Itu sangat membuat jantung Tasya terus berdebar. Tasya sebenarnya takut, tapi Tasya sangat ingin menaikinya, selalu seperti itu dari dulu. Entah apa yang memotivasinya untuk terus menaiki hal yang ditakutinya itu.
Hingga sekarang mereka berhenti di posisi paling atas kincir.
"Yaaakkkkkkkk, Viko," teriak Tasya.
Spontan dia memeluk Viko yang ada di hadapannya. Viko pun kaget saat Tasya memeluk lehernya.
"Sya elah, Sya lu kenapa anjir. Katanya tadi gak takut sekarang malah kaya kucing kena air."
"Gue takut, pokoknya gue gak mau liat ke luar," teriak Tasya.
Viko yang jahil dengan sengaja menggerak-gerakan kursinya. Tasya berteriak, Viko menyebalkan menurutnya kali ini. Dengan sengaja dia menggerakan kursinya. Itu membuatnya semakin takut membuka mata.
"Viko, lo gak usah macem-macem!!" Teriak Tasya.
Viko malah semakin jahil menggerak-gerakkannya sambil tertawa keras.
"Vikoooooooooo!!!!" Teriakan Tasya semakin menjadi-jadi.
"Diem." Viko menutup mulut Tasya, tapi posisinya Tasya masih mengalungkan tangannya di leher Viko.
Mereka bertatapan, keduanya ini sangat nyaman dengan posisi ini. Jantung mereka seakan berdetak dua kali dari biasanya. Beberapa menit saling memandangi paras satu sama lain membuat mereka tersadar.
"Dih modus lo," kata Tasya sambil melepaskan tangannya dari leher Viko.
"Dih, kok gua. Siapa yang meluk gua? Lu, 'kan?" dengus Viko tak terima.
"Ya salah lo lah, kenapa lo gerak-gerakin. Kan udah gue bilang, kalau gue takut, nakal banget. Bilangin ke bang Radit nih!" kesal Tasya.
"Salah sendiri, jadi orang penakut amat, huuuu pengaduuu," balas Viko tak kalah kesal.
Tasya melirik ke sampingnya. Terlihat pemandangan lampu-lampu kota dari atas. Indah, satu kata yang bisa menggambarkan pemandangan saat ini.
"Vik, bagus ya."
"Iya bagus, cantik juga." Viko mengucapkan itu sambil memandangi wajah Tasya.
Tiba-tiba ponsel Tasya berbunyi. Dia sudah menduga, itu pasti Radit.
"Halo, luwak white coffe," ucap Tasya saat mengangkat telefonnya.
"Heh, di mana lo. Udah malem," tanya Radit cemas.
__ADS_1
"Gue lagi main, nanti balik kok," jawab Tasya santai.
"Sama siapa? Di mana? Ngapain?"
"Atu atu lo nanya, gue tau gue kek seleb. Tapi nanyanya sabar, Bwang," kata Tasya.
"Buru jawab."
"Gue lagi di pasar malam, sama Viko, lagi naik bianglala, puas?"
"Oh sama Viko. Tenang dah gue kalau kek gitu."
"Tenang, adek lu aman sama gua, Bang," teriak Viko.
"Buset, itu anak nyamber amat kek burung."
"Banyak berkumandang lo, udah ya. Gue tutup," kata Tasya.
"Pacaran mah beda ye."
"Kagak elah, nanti gue jelasin di rumah."
"Oke. Gue tutup," kata Radit lalu mematikan panggilannya.
Tasya kembali menaruh ponselnya di Tas, rasa takutnya entah kenapa mendadak hilang. Yang ada sekarang hanyalah rasa nyaman menikmati pemandangan dan ... isi sendiri.
"Eh, Vik. Lo tau gak?" Tasya menatap ke arah Viko.
"Nggak, lo kan belum ngasih tau," ucap Viko santai.
"Ihhh ngeselin lo." Tasya pun mengeluarkan jurus andalannya yaitu cemberut sambil ngambek-ngambek gemas.
"Iya paan?" Viko kini berbalik menatap Tasya serius.
"Tadi gue kan diajak Chandra ke belakang sekolah."
"Terus?"
"Dia bilang suka sama gue masa," ucap Tasya santai sembari mengetuk-ngetuk besi kursi mereka.
Viko tertegun mendengar ucapan Tasya. Terpancar rona kebahagiaan dari wajah Tasya. Sementara Viko? Dia bingung dengan apa yang dia rasakan sekarang. Apa mungkin dia cemburu?
"Terus?"
"Bingung, apa?"
"Gue suka sama dia atau enggak. Gue tuh gimana ya orangnya."
"Gimana?"
"Gue suka sama Chandra, apalagi kalau dia bersikap manis sama gue. Tapi kalau dia kasar sama gue, gue jadi gak suka dia, aaaa gimana sih?" ucap Tasya frustrasi.
"Ya pastiin hati lu," ujar Viko.
"Pastiin gimana?"
"Lu suka sama dia atau enggak. Kalau perasaan ngalor ngidul gitu ya gak tau suka atau enggaknya," ucap Viko tak acuh.
"Gue gak tau, soalnya gue sekarang lagi gak suka sama Chandra. Tapi gue seneng Chandra bilang suka ke gue."
"Labil amat lu."
"Gatau, bawaan lahir kali ya. Tau ah, gue bingung. Kesel aja gue sama Chandra."
"Lu kesel karena Chandra bilang suka ke lu?"
"Gak, ada hal lain."
"Apa?
"Kepo lo."
"Najis."
...~ • ~...
Mereka pun sampai di depan rumah Tasya. Viko lega karena sudah mengantarkan Tasya selamat sampai rumah. Orang tuanya selalu mengajarkan itu padanya. Sehingga Viko sangat menghormati wanita.
"Makasih ya, Vik. Lo udah buat gue seneng hari ini." Tasya tersenyum tanda bahagia dan itu menular pada Viko yang kita tengah tersenyum balik padanya.
__ADS_1
"Sama-sama. Makasih udah mau temenin gua," ucap Viko.
"Sama-sama juga."
"Btw, sini tangan lu," perintah Viko.
"Buat apa?" tanya Tasya sambil mengulurkan tangannya ke arah Viko.
Viko memasangkan sebuah gelang ke tangan Tasya.
"Tadi gua beli ini, ternyata sepasang. Yaudah buat lu satu. Anggap aja gelang pertemanan kita," kata Viko sambil tersenyum manis.
"Whaaa bagus. Makasih ya, Vik. Baik banget lo sama gue."
"Sama-sama. Pake ya, jangan dilepas, awas aja!" kata Viko.
"Iya."
"Gua balik dulu," pamit Viko.
"Hati-hati."
Viko pun melajukan motornya. Sementara Tasya sedang senyum-senyum sendiri melihat gelang yang terpasang di tangan indahnya itu.
"Kok lo, sweet ya, Vik," gumamnya pelan.
Ternyata Radit melihat adegan drama tadi dari balik jendela. Sudah lama sekali dia tak melihat Tasya senyum sebahagia itu. Radit pun percaya jika mereka saling mencintai. Namun, mereka belum menyadarinya sekarang. Tasya memasuki rumahnya. Dia sudah ditunggu Radit di balik pintu.
"Eeemmm senyum-senyum. Ngapa lu?" goda Radit saat Tasya memasuki rumah.
"Dih siapa juga yang senyum-senyum. Biasa aja gue," kata Tasya sewot.
"Gimana kencannya?" Tanya Radit.
"Siapa yang kencan?" Tasya menatap Radit dengan tatapan sok polosnya.
"Lu sama Viko lah."
"Idih bukan kencan. Tadi tuh gue lagi gabut aja. Terus pas pulang Viko ajak gue main. Yaudah gue ngikut."
"Sama aja itu bego."
"Dih beda!" Ucap Tasya penuh penekanan.
"Kalau gua liat-liat kalian makin lengket. Jadian sono."
"Apaan jadian-jadian. Btw lo harus tau sesuatu."
Tasya berjalan menuju sofa. Dan dengan entah saraf motorik mana, Radit mengikuti Tasya.
"Apa?"
"Tadi Chandra bilang, dia suka sama gue," kata Tasya bahagia.
"Lah, kok bisa. Wahhh parah ini. Perusak banget si Chandra."
"Perusak apaan?"
"Perusak PDKT lu sama si Viko lah."
"Ihhh gue sama Viko cuma temenan elah. Gue juga curhat tentang Chandra ke dia kok."
"Wah gak peka lu. Viko tuh kayaknya suka sama lu deh."
"Mana ada, orang dia tau kok gue suka sama Chandra. Tapi gue juga gak yakin sih suka sama dia."
"Apa sih yang lu yakinin. Labil lu mah."
"Bukan labil. Bingung aja gue."
"Belum tujuh belas tahun sih. Makanya masih labil."
"Emang ada hubungannya sama belum tujuh belas tahun?"
"Ada lah, buktinya lu. Labil."
"Ah serah lo deh, Bang. Gue mau mandi. Gerah."
"Dih, ngindar lu."
__ADS_1
"Damat."
Tasya pun memilih untuk langsung ke kamarnya, pertengkarang kakak dan adik jika diteruskan akan panjang sampai beberapa episode.