Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Luapan Emosi Tasya


__ADS_3


Sudah hampir 2 tahun Tasya menjalani kehidupannya di Surabaya dan selama itulah hubungan dia dengan satu persatu orang yang disayanginya mulai merenggang. mungkin benar apa yang orang bilang, kalau semakin ke sini manusia datang dan pergi, tapi Tasya paling tidak suka ditinggalkan.


Sherli, Sarah, dan Niken jarang berkontak kabar lagi dengannya. Viko dan dia pun juga sama, apalagi Viko di luar negeri sana memiliki jadwal yang padat. Tak jarang juga mereka mempermasalahkan hal-hal kecil. Seperti saat ini, mereka mempermasalahkan Bella. Karena Tasya merasa Viko selalu menyebut wanita itu dalam setiap pembicaraan mereka.


"Aku tau, kamu deket sama Bella. Tapi bisa gak sih jangan bahas dia terus? Aku juga deket sama Al, Angkasa, Yoda tapi kalau lagi sama kamu aku gak pernah bahas mereka," ucap Tasya jengah.


"Emang aktivitas aku kalau gak berhubungan sama Bella apa lagi sih, Sya? Kamu nanya ya aku jawab, aku selalu jujur ketika kamu tanya, kenapa marah?" Tanya Viko yang sudah pusing dengan pertengkaran mereka soal ini. Rasanya tidak pernah ada habisnya.


"Aku juga setiap hari bareng Al, kemana-mana sama dia juga ada aku bahas di depan kamu? Kamu ngerti gak sih kalau aku cemburu? Apalagi kamu jarang banget kasih aku kabar, wajar gak sih aku mikir kemana mana?" Tanya Tasya yang kini sudah menangis.


"Aku sibuk, Tasya. Aku kuliah sampe sore dan pulangnya aku kerja sampai malam. Please ngertiin aku," ucap Viko memelas.


"Aku ngerti, kapan sih aku gak ngertiin kesibukan kamu? Di saat aku mikir juga aku banyak kesibukan, gak jarang juga pulang malem, kerkom, praktikum, walaupun aku cape aku masih sempet buat kabarin kamu walaupun cuma bilang aku udah sampe rumah, aku udah makan, aku udah ini itu, yang mungkin emang gak penting-penting banget. Tapi aku ngehargai hubungan kita, Viko. Apa susahnya kasih kabar 1 menit aja gak lama buat chat aku. Apa kamu lakuin itu? Engga. di mana aku gak ngertiin kamu selama hampir 2 tahun ini?"


"Sya, aku sayangnya sama kamu. Kamu gak percaya?" Tanya Viko melembut.


"Aku tau kamu sayang sama aku, tapi kamu bosen gak sih kalau kita jarang bicara terus sekalinya ada waktu semua pertanyaan aku ujungnya kamu jawab Bella, Bella, Bella terus. Aku tuh udah sering diem tapi akhir akhir ini aku muak tau gak?!"


Viko hanya menghela napasnya lalu mematikan sambungannya. Tasya semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Viko. Apakah seorang wanita tidak akan merasa cemburu kalau setiap quality time selalu membahas wanita lain?


Tasya menghentikan mobilnya di suatu tempat, malam ini pukul setengah 9 malam. Dia tidak bisa pulang jika kondisinya seperti ini. Walaupun Abang dan Tantenya belum tentu pulang. Berjaga-jaga agar mereka tidak khawatir mendengar Tasya menangis. Akhir-akhir ini Tasya merasa kesepian, dia akan selalu teralihkan jika berkumpul dengan sahabat-sahabatnya, tapi setelahnya rasa kesepian itu datang lagi.


Tasya memukul-mukul stirnya, dadanya terasa sesak sekali. Dia bahkan menangis sampai tidak terdengar suaranya. Tasya percaya pada Viko tapi entah kenapa perasaannya tidak bisa sesuai dengan jalan pikirannya.

__ADS_1


Dia menumpahkan segala kekesalannya malam ini, amarah yang sering dia tahan seakan mencuat ke permukaan. Dari tugas kuliah yang menumpuk, jadwal praktikum, kekesalannya pada Radit yang tidak ada waktu lagi untuknya, sahabatnya sibuk dengan urusan masing-masing, Viko yang terus membahas wanita lain dan jarang menghubunginya. Rasanya semuanya meluap begitu saja. Tasya ingin sekali menceritakannya pada Al dan sahabat-sahabatnya di sini, tapi dia terlalu takut dengan tanggapan mereka. Apa mereka akan menganggapnya sensitif?


"Gue marah sama semua orang! Gue marah banget!" Teriak Tasya sembari menepuk nepuk dadanya yang semakin sesak akibat menangis.


...~ • ~...


Viko menghela napasnya panjang, kenapa dia merasa akhir-akhir ini Tasya menjadi lebih sensitif? Apa dia terlihat begitu mencurigakan? Padahal hari ini dia sedang libur kuliah dan menikmati waktu santainya. Tapi ada saja yang membuat kepalanya tidak berhenti berpikir.


Bella mendengar semua percakapan Viko dan Tasya dari balik pintu, dia sudah selesai dari kamar mandi dan akan melanjutkan memasak untuk Viko pagi ini. Tapi melihat pertengkaran mereka membuat Bella semakin ingin menyaksikan lebih lanjut. Tak selang beberapa lama Viko mematikan ponselnya, Bella mendekati Viko.


"Kenapa?" Tanya Bella lembut sembari duduk di sofa dan mengelus punggung Viko.


"Berantem lagi sama Tasya," jawab Viko sembari memijat dahinya yang terasa pusing.


"Gak bisa, Bell. Udah aku bilang kalau aku sayang sama Tasya, aku gak bisa ninggalin dia. Aku udah 3 tahun bareng sama dia," jelas Viko pada wanita yang ada di sampingnya.


"Tapi kamu bilang juga kamu nyaman sama aku, aku yang selalu ada buat kamu, aku yang selalu ada saat kamu butuhin, sampai kapan?"


"Bell jangan bikin aku tambah pusing," peringat Viko.


Bella sudah takut jika Viko berbicara seperti itu, dia tidak mau Viko memutuskan hubungan mereka yang sudah terjalin 5 bulan ini. Meskipun dia hanya menjadi orang kedua, dia pasti akan sampai pada tujuannya, yang terpenting dia harus bersabar.


Viko memang nyaman dengan Bella tapi dia hanya menyalurkan kebosanan selama tidak ada Tasya di sini, dia mencintai Tasya tapi tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Bella, begitu pun sebaliknya. Dia tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Tasya. Egoisme pria.


Iya mereka menjalin hubungan, ketika Bella selalu berhasil membuat pertengkaran di antar Tasya dan Viko, dia selalu ada bersama Viko dan membuatnya nyaman, Viko merasa Bella selalu mengerti apa yang dia butuhkan dibandingkan dengan Tasya. Sampai hubungan itu benar-benar mengalir sampai sekarang. Apalagi Viko belum pernah pulang ke Indonesia untuk menemui Tasya, itu semakin membuatnya leluasa.

__ADS_1


...~ • ~...


Tasya sampai di rumah, di sana belum terlihat mobil Radit dan tantenya. Sepertinya mereka belum pulang, baguslah jadi mereka tidak akan melihat kekacauan Tasya hari ini. Tasya memasuki rumahnya, namun dia kaget karena ada Al di sana.


Al melihat penampilannya yang berantakan, ditambah matanya yang habis menangis. Apa terjadi sesuatu dengan Tasya?


"Tasya lu kenapa?" Tanya Al menghampiri gadis itu dengan khawatir.


Tasya menggeleng, dia akan menangis jika ditanya seperti itu oleh Al. Selalu begitu dari dulu.


"Tasya, jujur! Lu kenapa?" Tanya Al lagi.


Tasya tiba-tiba memeluk Al dengan erat, menumpahkan tangisnya di sana dan Al pun membalas pelukan itu dengan erat. Jujur dia sangat khawatir, Tasya pun dapat merasakan debaran jantung Al yang berdetak sangat cepat.


Tasya menangis sampai tersedu-sedu itu artinya dia memendam banyak hal akhir-akhir ini. Ini Al yang tidak peka atau Tasya yang memang pandai menyimpannya sendirian?


Al melepaskan pelukan Tasya pelan, perlahan dia menangkup kedua pipi gadis itu dan menghapus air matanya. "Heyy, kenapa?"


Tasya kembali menggelengkan kepalanya dan terus menangis, bahkan semakin deras. Al semakin tidak tega melihat Tasya seperti itu. Akhirnya Al memilih untuk mengajak Tasya duduk dan membiarkan Tasya kembali memeluknya. Cukup lama dia menangis, saat Al menatap ke arah gadis itu ternyata dia sudah tertidur.


Al menghela napasnya, mungkin tidak bisa sekarang dia mendapatkan jawabannya. Tapi dia juga paham, mungkin Tasya menangis dari tadi sampai membuatnya lelah. Al menyelipkan tangan diantara lengan dan lutut Tasya. Digendongnya gadis itu menuju kamarnya, Al masuk tanpa menutup pintunya dan membaringkan Tasya di kasur. Perlahan Al menarik selimut Tasya agar dia tidak kedinginan.


Saat Al akan keluar dari kamar Tasya tiba-tiba. "Al, gue kesepian di sini."


Al melirik sekilas, ternyata Tasya mengigau. Tapi Tasya bilang kalau dia kesepian. Apa dia merindukan Radit? Al segera menuntaskan pikirannya, dia tidak boleh berlama-lama di kamar Tasya. Setelah menutup pintu, Al pun pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2