
Tasya pun berlari dari loby, terlihat Al dan Chandra masih berdebat. Viko ternyata melihat itu semua dan berlari mengejar Tasya. Viko sedikit kebingungan karena dia tidak tau Tasya berlari ke arah mana. Viko khawatir jika Tasya sampai lepas kendali.
"Syaaa, lu di mana? Syaa, Tasyaa!" Viko berteriak mencari ke semua ruangan, namun Tasya tidak ada di sana.
Sedangkan sekarang Tasya mematung di dalam toilet, tertunduk lemas di depan wastafel sambil menangis. Dia berpikir, kenapa mamanya menjadi begitu licik. Dia bertingkah seolah tidak terjadi apapun di depan Chandra, padahal dia tidak sebaik itu.
Amara sedang membeli vitamin untuk Tasya. Untung saja Amara sudah pergi, karena Tasya memiliki janji dengan mamanya.
Lidya turun dari mobilnya dan berjalan menemui Tasya. Dilihatnya Tasya dengan keadaan kusut dan dia tau persis kalau Tasya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Kenapa mama ajak buat ketemu?" tanya Tasya datar.
"Mulai sekarang tolong jauhi Chandra," ketusnya.
"Tap—"
"Jauhi keluarga saya juga, jangan pernah menyentuh kehidupan saya," tunjuk Lidya.
"Kenapa sih? Atas yang mama lakukan apa gak cukup bikin mama sadar kalau mama salah? Apa gak cukup bikin Papa, Abang, dan aku sedih? Mama pernah gak mikirin kita sedikit aja?"
"Tidak pernah! Kenapa? Kalian cuma benalu di kehidupan saya dan satu lagi. Saya tidak pernah mengharapkan kamu ada. Karena kamu, saya harus hidup lebih lama dengan papa kamu yang tidak berguna itu!"
"Tapi aku anak mama! Aku yang anak kandung mama, kenapa yang mama pikirin cuma kebahagiaan diri sendiri, cuma Chandra. Aku sama Abang jauh lebih butuh itu!"
"Jangan panggil saya mama, keluarga saya cuma Dibrata dan Chandra. Lihat diri kamu sekarang, cuma anak tidak berguna yang ditinggal seorang diri. Lebih baik kamu akhiri saja hidup kamu daripada mengganggu kehidupan saya. Bahkan kalau kamu mati sekali pun saya tidak akan peduli." Lidya pun kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Tasya yang mematung.
Tasya menangis sejadi-jadinya, dia kembali teringat kejadian hari itu. Seseorang yang melahirkannya seolah ingin dia lenyap dari bumi.
Al menatap Chandra dengan penuh emosi, pria yang di hadapannya ini memang tidak ingin kalah. Merasa benar dengan apa yang dia pikirkan padahal dia salah. Sejenak Al melirik ke belakang, Al tersadar kalau Tasya sudah tidak ada di sana.
"Apa?! Sekali lagi lu berani bentak nyokap gua, lu berurusan sama gua," ancam Chandra.
Al menatap remeh pada Chandra, lalu dia menarik kerah bajunya.
"Sebelum lu bilang gitu ke gua, coba tanya sama nyokap lu, apa yang udah dia perbuat ke Tasya." Al melepas cengkraman nya dan berlari mencari Tasya. Dia tidak peduli dengan orang-orang itu, Tasya lebih penting sekarang.
Chandra terdiam dan langsung pergi meninggalkan meninggalkan Lidya yang kebingungan. Dia takut semuanya akan terbongkar.
Al panik, dia langsung menyusuri sekolah dan mencari keberadaan Tasya. Seharusnya tadi dia menjaga Tasya agar tidak kemana-mana, kondisi Tasya masih rentan dan Al takut jika Tasya berbuat yang tidak-tidak.
"Tasyaaa, lu di mana!" teriak Al.
"SYAAA," suara itu terdengar dari lantai dua, Al melihat Viko sedang berlarian, dia berpikir Viko juga sedang mencari Tasya.
__ADS_1
Lo gak berguna!
Udah gue bilang lo mati aja.
Hahaha anak yang tidak diinginkan.
Apasih yang lo pertahanin dari hidup lo?
Orang yang lahirin lo aja mau lo mati.
Inget, lo yang udah bunuh papa!
Lempar kacanya!
Tenggelamin kepala lo ke bak sana!
Mati!
Suara-suara itu kembali datang, Tasya tidak dapat mengendalikan dirinya. Semakin dia menutup telinganya, suara-suara itu semakin jelas terdengar. Kepalanya terasa pusing dan sakit sekali. Tasya muak dengan semua ini.
"BERHENTI!!" Tasya melempar kaca dihadapannya dengan Tas. Semua pecah berantakan, Tasya bahkan tidak peduli dengan pecahan yang mengenai kulitnya.
Napasnya tersenggal, dia hanya merasakan sesak dan lemas. Tanpa berpikir lagi Tasya langsung mengambil potongan kaca untuk mengakhiri semuanya.
Namun Viko datang dan langsung menghentikannya, dia memeluk Tasya dari belakang dengan erat, mencoba mengambil kaca yang digenggam Tasya.
"TASYA, STOP! Apa yang lu lakuin?!" Viko mencoba melepaskan genggaman Tasya pada kaca itu, tangannya sudah terluka akibat genggamannya yang erat.
"Lepasin gue! LEPASIN GUE VIKO, gue gak berguna, gue yang udah bikin semua kekacauan. Gue mohon lepasin gue!" Tasya terus menangis histeris, Viko semakin panik dibuatnya.
"Gak, gua gak akan lepasin lu. Sya, tangan lu luka, lepasin kacanya yaa," ucap Viko mengeratkan pelukannya.
Tangan Tasya berlumuran darah, entah sedalam apa kaca yang menembus kulitnya, tapi rasa sakit itu tidak terasa bagi Tasya sekarang.
"LEPASIN VIKO!!" Tasya mencoba berontak.
Al yang mendengar itu dari arah kamar mandi langsung berlari. Al kaget melihat Viko yang sedang terduduk menahan Tasya dengan tangan Tasya yang berlumuran darah. Al langsung menghampiri mereka berdua.
"Syaa, lu jangan kaya gini." Al mencoba menahan lengan Tasya yang memberontak.
"Diemm!!!! Kalian gak tau rasanya jadi gue. Gue gak mau ada di sini lagi!!" Tasya terus terisak dengan napasnya yang tidak teratur.
"Syaa, heyy ayokk kendaliin emosi lu. Gua tau lu marah, lu sedih, lu kecewa, tapi jangan nyakitin diri lu sendiri. Lepas-lepas, ini gua Al." Al mengelus pipi Tasya lembut sembari melepaskan genggaman kacanya.
Al melepas dasinya lalu membalut luka Tasya agar darahnya tidak semakin keluar banyak.
__ADS_1
Viko mencoba mengambil kotak obat dan air minum dari tas Tasya tanpa melepaskan pelukannya. Dia langsung memberikannya kepada Al.
"Itu, semua obat Tasya ada di situ. Ambil satu-satu dan bantu gua biar Tasya minum obatnya," kata Viko.
"Oke bentar, banyak darah." Al mencuci tangannya cepat. Dia mengambil beberapa obat di sana.
"Sya buka mulut lu, minum obat dulu ya, oke?" Viko menghimpit pipi Tasya agar mulutnya terbuka, namun Tasya menggelengkan kepalanya tanda penolakan.
"Gue gak mauu, lepasinnn!!! Gue capek, tolong." Tasya memelas, emosinya benar-benar tidak stabil.
Al mencoba memasukan obat ke dalam mulut Tasya, sedikit kesusahan karena Tasya yang terus berontak. Ketika obatnya sudah berhasil masuk, Al langsung meminumkan air agar obatnya cepat tertelan dan bereaksi.
Viko mengelus lengan dan pipi Tasya, dia terus memeluk gadis itu erat. Dia takut, takut terjadi hal buruk pada Tasya. Baru kali ini dia merasa setakut ini. Takut Tasya pergi meninggalkannya.
Al memperhatikan Tasya yang sedikit menenang, dia tidak melepaskan genggamannya pada tangan Tasya.
"Gua bawa mobil, ayok bawa Tasya ke rumah sakit," ajak Viko.
Al pun mengangkat tubuh Tasya dan menggendong ala brydal. Ditatapnya Tasya yang semakin melemah.
"Al gue mau pulang," rintihnya. Tangannya mulai terasa perih akibat sobekan dari kaca yang digenggamnya.
"Iya-iya kita pulang ya, lu tahan oke? Kita pulang." Al langsung mengikuti Viko yang kini berjalan menuju parkiran. Al terlihat sangat panik, di satu sisi dia benar-benar takut jika terjadi hal yang lebih buruk pada Tasya.
"Lu di belakang, jagain Tasya," kata Viko.
"Bukain pintunya gua susah," sahut Al.
Viko pun membuka pintu mobilnya. Al langsung memasuki mobil. Menaruh kepala Tasya di pangkuannya. Setelah itu Viko melajukan mobilnya dan menuju ke rumah sakit.
Sesekali Viko melirik Tasya dari spionnya. Dia tidak tega melihat keadaan Tasya seperti itu. Jika tadi dia tidak menahannya mungkin Tasya sudah melukai dirinya lebih jauh.
"Al, mereka semua mau gue mati. Gue cape, gue takut," racau Tasya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Ada gua, jangan takut. Udah jangan mikir yang aneh aneh dulu. Tidur aja yaa." Al mengelus rambut Tasya dan perlahan Tasya tertidur karena pengaruh obat tidur yang tadi dia minum.
Sementara itu Viko mempercepat laju mobilnya dan Al mengambil ponsel untuk menghubungi Radit.
"Halo, Bang. Lu sekarang ke RSBM. Tasya drop, gua lagi di jalan sama Viko."
"Tasya kenapa? Kenapa bisa gitu? Keadaannya gimana?" tanya Radit dari seberang sana.
"Susah jelasinnya, lu ke sana aja dulu. Gua matiin ya."
Al pun menutup panggilannya, dia terus menggengam tangan Tasya. Wajahnya terlihat pucat dan panik. Viko yang melihat itu tahu kalau Al begitu menyayangi Tasya. Tapi, dia mencoba mengabaikan itu semua, karena yang harus lakukan adalah memberi pertolongan lebih cepat agar Tasya cepat juga ditindak.
__ADS_1