Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Membakar Kenangan


__ADS_3


Sudah 30 menit berlalu, Tasya juga sudah berhenti menangis. Hanya saja dia masih tidak mau bicara, jadi Al sendiri yang menjawab pertanyaan mereka.


"Kenapa akhirnya kalian bisa mutusin pertunangan, kaya mendadak banget. Jadi aja pada mikir aneh-aneh," kata Zea.


"Ya gak mendadak, orang gua sama Tasya ngalir. Udah gua bilang, kalau gua bakalan kasih tau Tasya kalau waktunya udah tepat, waktu KKN itu ada hari yang tepat buat memastikan perasaan dia ke gua, baru gua kasih tau soal perjodohan," balas Al.


"Ya harusnya lo bilang dulu tadi di rumah ke Ayah Bunda, biar gak ricuh begini," kesal Zea.


"Sudah-sudah, jadi kenapa kalian memutuskan buat bertunangan, kenapa gak langsung menikah saja?" Tanya Haris.


"Yah, kita mau menempuh pendidikan dulu. Masih ada satu tahun buat skripsi, setelah itu koas dan sertifikasi, kalau kita udah sama-sama jadi dokter baru kita memikirkan untuk menikah. Kita gak ada rencana nikah muda, lagian Zea dulu aja," ucap Al.


"Kok jadi gue?! Lo jangan menyudutkan gue gitu dong, mentang-mentang udah punya calon," kesal Zea.


"Tapi Al bener loh. Kalau Tasya kan Radit sebentar lagi akan menikah, lah kamu? Masih berkutat aja sama drama korea, biar adikmu juga gak melangkahi kakaknya," ucap Diana.


Zea diam saja, padahal yang meminta izin tunangan adiknya, tapi ujungnya dia juga yang disudutkan. Tapi Zea memang belum ada kepikiran kesana sih, menurutnya komitmen itu hanya pencitraan.


"Jadi kapan mau tunangannya?" Tanya Amara.


Tasya dan Al saling bertatapan, bahkan saling melempar keputusan. Mereka tidak berpengalaman soal ini, jadi mereka belum bisa memutuskan.


"Terserah lo aja," ucap Tasya.


"Gua juga ngikut lu lah, biasanya cewek yang banyak mau," balas Al.


"Gue gak banyak mau, jadi gimana lo aja yang nentuin?" Tanya Tasya.


"Syaa ..."


"Ck, ribet. Gimana kalau pertunangan kalian barengan sama pernikahan gua aja? Biar temen kalian di sana juga bisa diundang. Kalau pernikahan bisa kalian adain di sini, karena rata-rata udah pada punya relasi masing-masing, yang diluar kota bisa disubsidi aja nanti. Kalau pertunangan yang penting keiket, kan?" Tanya Radit


Tasya dan Al saling bertatapan lagi. "Atur ajalah," ucap mereka berbarengan.


Mereka menghela napasnya, beginilah ketika menjodohkan anak-anak. Semuanya pasti serba terserah, tapi mereka memaklumi juga, karena mereka masih kuliah dan tergolong belum matang.

__ADS_1


"Yaudah kalau itu biar nanti gua sama yang lainnya bicarain. Kalian cuma harus fitting baju sama cari cincin, setuju?" Tawar Radit.


Al dan Tasya pun menyanggupi setelah itu saling beradu tos. Zea hanya menatap heran pada keduanya, saat seperti ini saja mereka masih terlihat seperti anak kecil, astaga.


Tasya menyandarkan kepalanya di dada Al dan Al pun mengalungkan tangannya di leher Tasya. Di tengah-tengah diskusi acara pertunangan mereka, mereka malah asik dengan ponselnya masing-masing.


Bahkan mereka bicara melalui Imess, benar-benar tidak mau repot dan terima jadi. Tapi yang lain tidak masalah, dengan maunya mereka berdua saja itu sudah Alhamdulillah. Mereka diskusi cukup lama, karena ini menggabungkan dua acara besar yang berbeda, tentu harus di komunikasikan lagi dengan calonnya Radit.


"Al," panggil Tasya.


"Hm?" Al menunduk dan menatap ke arah Tasya.


"Gue mau ke kamar, gendong. Sakit banget jalannya," pinta Tasya.


Al menggelengkan kepalanya, dia merasa malah seperti seorang pengantin baru yang selalu mengatakan istrinya kemana-mana karena sakit akibat malam pertama. Tapi itu juga salahnya sih, jadi Al pun mengiyakan.


Al pun melepaskan pelukannya dan menggendong Tasya ala brydal. Mereka bingung kenapa Tasya digendong seperti itu.


"Mau kemana?" Tanya Radit.


"Mau ke kamar, mau ngomong sama Al," jawab Tasya.


"Sakittt!" Ucap Tasya ketus.


"Awas jangan ngapa-ngapain kalian berdua," peringat Zea.


"Astagfirullah kenapa suudzon terus, lagian udah biasa juga dari kecil. Gak akan ngapa-ngapain elah," jawab Al.


Al pun langsung menaiki tangga, sementara Tasya hanya memperhatikan wajah Al. Dia baru sadar kalau calon tunangannya ini memang sangat tampan. Kemana saja dia selama ini?


Tasya membantu membuka kamar dan Al pun masuk lalu mendudukkan Tasya di ranjangnya. Pria itu berlutut di hadapan Tasya sembari menggenggam kedua tangan gadis itu. Perlahan dia menciuminya lembut, Tasya merasa kalau Al sangat mencintainya.


"Masih sakit ya? Yaudah gua ciumin biar hilang sakitnya." Al terus menciumi punggung tangan Tasya.


Tasya terkekeh, kenapa pria ini sangat gemas? "Sakit tapi gak sesakit di awal tadi. Lagian konyol banget sih dikira hamil."


"Gapapa yang penting bisa tunangan, gua mau tanya. Lu bahagia gak sama keputusan lu?" Tanya Al sembari menatap ke arah Tasya.

__ADS_1


"Al, kalau gue udah ngambil keputusan artinya itu gue mau. Kalau gue mau otomatis gue bahagia, gak mungkin gue ambil keputusan kalau gue ngerasa gak nyaman," jawab Tasya.


"Gua cuma memastikan, biar kita jalaninnya sama-sama enak, Sayang," ucap Al lembut.


"Jangan panggil gue sayang sayang kenapa sihh." Tasya menarik hidung Al. Hidung Al ini mancung, Tasya jadi berpikir mungkin nanti dia bisa memperbaiki keturunan juga agar anaknya tidak berhidung mungil sepertinya. Memang masih jauh, tapi senang saja membayangkannya.


"Loh kenapa?" Tanya Al.


"Lo tau gak rasanya kaya ada kupu-kupu di perut gue," ucap Tasya jujur.


"Untung isinya gak kadal," kata Al polos.


Tasya tertawa, pria ini memang aneh. Kadang romantis, kadang tidak, kadang gemas, kadang menyebalkan, kadang peka, kadang juga tidak. Tapi dari semua sifat yang ada pada diri Al, dia bisa menerima semuanya, sama seperti Al yang bisa menerima dia apa adanya.


"Jadi kita mau bicarain apa?" Tanya Al.


Tasya beranjak dari kasurnya, dia mengambil sebuah korek di laci. Al bertanya-tanya, Tasya mau berbuat apa? Tasya pun menarik tangan Al untuk mengikutinya. Dia jalan perlahan-lahan karena bagian bawahnya masih terasa sakit.


"Kita mau kemana?" Tanya Al tak mengerti.


"Ke balkon utama, ada yang mau gue tunjukin," jawab Tasya.


Al hanya mengikut saja, lagi pula apalagi yang bisa dia lakukan jika dibuat penasaran. Mereka berjalan ke luar balkon utama. Di sana ada sebuah tempat besar yang biasa dipakai untuk membuat api unggun, tidak hanya itu. Al melihat kontainer yang dia kenali apa isinya.


"Mau diapain?" Tanya Al lagi.


"Al, kalau gue mau memulai suatu hubungan, gue harus menuntaskan semuanya. Perasaan gue udah tuntas, tapi kenangannya masih ada. Gue cuma mau nuntasin ini sama lo, biar kedepannya kita bisa jalanin kehidupan kita tanpa ada bayang-bayang masa lalu gue," ucap Tasya.


"Sya, gua gak permasalahin soal masa lalu. Karena masa depan kita ya cuma milik kita. Jadi, gua rasa gak perlu?"


Tasya menggeleleng, perlahan dia membuka tutup kontainer itu. Mengambil beberapa barang dan menyimpannya di perapian. "Gak, Al. Gue rasa ini perlu, karena buat melangkah kita emang harus bener-bener membuang hal-hal yang lalu. Gue gak mau nantinya kita saling meragukan kalau gak nuntasin ini sekarang."


Tasya menyiram spirtus untuk mempermudah semuanya. Tasya mengambil satu batang korek api, lalu menyalakannya. Dengan mantap dia melemparkan api itu ke perapian. Tasya mengambil beberapa barang lagi lalu dia lempar ke api yang sudah membesar.


Al menatap gadis itu, ada perasaan lega sebenarnya. Mulai sekarang dia benar-benar membebaskan dirinya dari semua kenangan yang pernah sulit untuk dia lupakan. Tasya membuka kotak berisikan polaroid yang pernah amat dia jaga. Sedikit tersenyum, kenangan itu pernah begitu manis, sampai akhirnya terasa benar-benar hambar sekarang.


Tasya membuang satu persatu foto itu dan terbakar habis oleh si jago merah. Mulai hari ini, dia akan menjalani apapun dengan Al dan akan memberikan semua perasaannya hanya untuk pria itu.

__ADS_1


Tasya memeluk Al setelahnya, perasaanya sudah tenang. "Mulai sekarang, cuma lo. Cuma lo yang nempatin satu tempat paling tersembunyi di hati gue. Makasih udah dateng ke hidup gue ya?"


"Hmm, makasih juga lu udah percaya sama gua." Al memeluk Tasya dengan erat, dia sangat beruntung bisa memiliki Tasya. Seseorang yang dulunya ketidak mungkinan dan sekarang menjadi mungkin.


__ADS_2