Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Pertunangan Part 1


__ADS_3


Mendengar serangkaian acara pertunangan membuat Tasya semakin grogi. Belva, Monik dan Niken kini memeluk Tasya dan membuatnya sedikit tenang. Sambutan, maksud dan tujuan serta yang lainnya membuat Tasya mengulum senyuman. Tidak menyangka dia yang masih bocah begini akan dipersunting seseorang. Apalagi yang menjadi calonnya adalah teman masa kecilnya sendiri, menggemaskan bukan?


Acara pertunangan diselenggarakan di area kolam renang dengan konsep outdoor. Itu memang konsep pilihan mereka agar tidak merecokan acara di balroom. Lagi pula pertunangan lebih santai acaranya.


Setelah rangkaian acara selesai, Tasya dipersilahkan memasuki area. Namun dia dibatasi dengan kain oleh Monik dan Niken. Tasya menggenggam tangan Belva, sesekali dia tertawa geli, mereka seperti main kucing-kucingan saja.


Sarah dan Sherli menatap ke arah Niken. Kenapa dia sama seperti Arka? Sejujurnya mereka juga ingin, tapi mereka berada di pihak Viko dan itu melukai Tasya. Mereka sudah merasa malu sekali.


Di depan sana Al sudah penasaran dengan calon tunangannya yang sejak tadi memang sengaja dijauhkan oleh teman-temannya. Baru melihat kakinya saja Al sudah berdebar, memang Tasya ini.


"Gue gugup banget," ucap Tasya.


"Lo udah cantik, kok. Cantik banget," ucap Belva menenangkan.


MC sedikit mempermainkan saat kain akan diangkat, membuat Al gemas sendiri. Rasanya dia ingin menarik Tasya secepatnya ke dalam pelukan.


"Lo mau liat temen gue?" Tanya Monik pada Al.


"Iya, buka cepet," pinta Al.


"Maaf ya, Al. Gak semudah itu. Uang sogokannya mana? Temen gue cantik banget sayang kalau diliatin tanpa ada bayaran." Pinta Niken sembari mengulurkan tangan.


Tasya dan Belva tertawa, kasian sekali Al harus merogok kocek demi melihat Tasya. Tapi biarkan sahabat-sahabatnya ini melakukan tugasnya. Semua orang tertawa melihat adegan itu.


Perlahan Al melangkahkan kakinya dan berdiri di depan mereka. Al mengeluarkan uang 2 juta rupiah dari dalam dompetnya dan memberikannya pada Niken. "Bagi tiga."


Mereka tersenyum puas dan ber tos ria. Namun masih belum puas. Monik berpikir. "Gak jadi deh, gue males liatin temen gue ke lo."

__ADS_1


"Anj," umpat Al pelan seraya mengusap wajahnya.


"Bujuk dulu dong Tasyanya biar dia mau keluar," kata Niken.


Al menghela napas. "Tasya, cantik, come on."


Tasya terkekeh mendengar ucapan Al. "Hmm."


Monik dan Niken menurunkan kainnya, Al tersenyum saat melihat Tasya berada di hadapannya. Tasya sangat berbeda hari ini. Kebaya lilac gelap, sanggulan kecil dengan poni yang disisakan dipelipisnya, membuat Tasya sangat cantik. Al melangkahkan kakinya dan mengulurkan tangan pada Tasya. "Cantik."


Tasya tersenyum lalu menerima uluran tangan Al. Perlahan tapi pasti mereka menuju ke depan untuk prosesi selanjutnya. Banyak pasang mata memandang mereka. Tasya yang cantik dan Al yang tampan membuat mereka terlihat serasi. Ditambah kebaya dan tuxedo lilac yang mereka kenakan.


Viko bergetar melihatnya, dia tidak sanggup sebenarnya. Tapi dia harus melihat ini karena desakan orang tuanya. Tangannya terus mengepal kuat menahan semua perasaan cemburu dalam hatinya. Bukankah dia dan Tasya pernah mempunyai impian yang sama untuk ini?


Al mengambil bouquet bunga mawar putih kesukaan Tasya dan kini mereka berdua berhadapan menunggu arahan MC. Jantung mereka berdebar kencang, karena ini pertama kalinya mereka tampil sebagai pasangan di depan banyak orang.


"Baik sebelum acara sakral dimulai, silahkan akang Al ada yang mau disampaikan dulu sama calonnya?" Tanya sang MC.


Angkasa merebut mic dari MC. "Bentar-bentar, gak ada romantis-romantisnya bapak Aldo Prayoga ini. Aku kamu dong, gua gua. Mau anak lu manggil lu gua juga nanti?"


Semua orang terkekeh, begitu juga Radit dan Amanda. Pengantin yang kini juga menjadi perwakilan keluarga di acara pernikahan mereka sendiri.


Al menghela napasnya, Angkasa benar-benar ingin puas padanya. "Oke-oke ulang. Tasya Aurell," panggil Al.


"Iya Al?" Jawab Tasya lembut dengan mic ditangannya.


"Ah sial, gini doang baper," celetuk Al.


Tasya dan lainnya tertawa, Al ini terlihat lucu sekarang. Yang tadinya suasananya sedikit tegang, malah penuh tawa.

__ADS_1


"Tasya, seperti yang kamu tau kalau hubungan kita udah terjalin cukup lama. Dari kita kecil sampai sekarang, perasaan aku ke kamu gak pernah berubah, Sya. Kamu, gadis kecil yang selalu membuat masa kecil seorang Aldo Prayoga menjadi penuh warna dan bahkan saat beranjak dewasa berhasil menyentuh hatinya,"


"Kamu adalah sebuah ketidak mungkinan yang selalu aku semogakan setiap hari. Sampai rasanya Angkasa, Yoda, Monik dan Belva jengah karena nama kamu yang selalu aku sebut," lanjut Al.


Tasya terharu boleh tidak sih dia menangis? Sementara Al terus menatapnya dengan hangat dan melanjutkan ucapannya.


"Awalnya aku berpikir untuk selalu menjaga kamu dengan baik, itu lebih dari cukup. Di saat kamu bersama orang lain pun aku hanya berusaha menjaga kamu dan berusaha menjaga persahabatan kita. Bahkan saat tau kalau kita dijodohkan aku gak punya keyakinan buat menyatakan apapun sama kamu. Aku mau kamu menerima aku karena kamu mencintai aku, bukan karena perjodohan."


"Sampai aku diberi kesempatan waktu KKN untuk menyatakan perasaan aku saat kita jatuh ke sawah dan bersih-bersih di sungai," ucap Al polos dan kembali membuat yang lain tertawa.


"Sumpah gak elite banget di sawah, gua baru tau," celetuk Radit.


Al menahan tawanya mendengar ucapan Radit, dia harus tetap fokus pada pertunangannya. "Tasya, aku udah bilang kalau aku gak akan menjadikan kamu pacar aku. Sekarang, di depan banyak orang ini. Aku ingin kamu menjadi calon pendamping aku kelak, menjadi istri aku di masa depan." Al menjeda ucapannya.


"Tasya Aurell, ayok kita menjalin hubungan yang lebih serius. Menjadi tunangan dari seorang Aldo Prayoga, teman masa kecil yang dengan tidak tau malunya ingin menjadi teman hidup. Tasya ayok kita S.ked, koas dan sertifikasi bersama-sama. Setelah itu kita menikah dengan adat sunda kesukaan kamu. Apa kamu mau menerima aku dengan ikatan ini?" Tanya Al dengan tulus.


Hati Tasya tersentuh, bahkan air matanya turun setetes. Bukan karena sedih, tapi dia terlampau senang. Tasya pun menyeka air matanya, dia tidak mau make upnya jadi rusak karena ini.


Lalu Mc mengarahkan Tasya untuk menjawab tawaran Al. "Aduhh romantis sekali si akang Al ini, ayok atuh teteh dijawab lamarannya."


"Aldo Prayoga. Sebelumnya aku mau berterima kasih sama kamu. Seseorang yang selalu menjadi malaikat pelindung aku dari kecil sampai sekarang. Seseorang yang selalu aku tempatkan di tempat paling tersembunyi karena gak pernah mau membaginya kepada siapapun."


"Al, terima kasih juga kamu ada di saat-saat terpuruk aku. Di saat seseorang menyakiti aku kamu selalu datang sebagai obat tanpa mengharapkan apapun. Kamu adalah seseorang yang selalu ingin membuat aku bahagia dan tak jarang mengorbankan perasaan kamu sendiri."


"Al mungkin aku telat menyadari rasa sayang dan cinta kamu ke aku kemarin. Aku juga pernah bilang kalau aku akan belajar mencintai kamu dan itu benar aku lakukan. Aku benar melakukannya sampai aku jatuh hati dengan seseorang yang selalu aku ingin keep selamanya menjadi teman agar tidak kehilangannya."


"Iya Al, aku mau. Untuk semua pertanyaan kamu tentang masa depan, aku mau melaluinya sama kamu. Aku, Tasya Aurell menerima kamu dengan kurang dan lebihnya kamu, sama seperti kamu menerima aku." Tasya tersenyum ke arah Al dan menerima bouquet bunga mawar putih kesukaan Tasya dari tangan Al.


Al langsung memeluk Tasya karena bahagia, begitu juga dengan Tasya. Semua orang bertepuk tangan dan merasa terharu dengan kisah mereka.

__ADS_1


Al mengangkat dagu Tasya dengan tangannya. Setelah itu dia menghapus air mata dari wajah Tasya. "Tasya, kamu adalah ketidak mungkinan yang sekarang menjadi mungkin, terima kasih untuk kesempatan yang kamu kasih ke aku. I love you."


"I love you too," balas Tasya sambil tersenyum.


__ADS_2