Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Prewedd


__ADS_3


Hari ini Tasya dan Al melakukan prewedd di sebuah pantai, Tasya menyukai pantai dan Al tentu akan mengabulkan apa-apa yang akan menjadi kesukaan Tasya. Sampai di tahap ini menurut Al adalah hal terbaik dari titik hidupnya, sebentar lagi dia dan Tasya akan menjalani kehidupan berumah tangga. Hal yang sejak dulu mereka impikan.


Pantainya tenang, udaranya sejuk, cuacanya cerah dan semuanya seolah mendukung untuk mereka mengadakan prewedding di sana. Dan mereka yakin kalau hari ini akan berjalan dengan lancar.


Tasya di ajak ke sebuah mobil untuk di dandani dan mengganti pakaiannya, begitu juga dengan Al. Mereka tentu harus terlihat baik saat di kamera nanti, karena kalau tidak penyesalannya akan terjadi seumur hidup.


"Ayok, Kak masuk," ucap salah satu asisten pada Tasya.


Tasya tersenyum dan mengikuti arahan mereka. Tasya kini sudah dipersilahkan untuk mengganti baju dengan sebuah dress berwarna biru langit yang cantik, terlihat anggun dan cantik sekali. Semua asisten yang membantunya memberi ruang agar Tasya bisa mengganti bajunya dengan baik dan nyaman.


Setelah selesai, kini Tasya sudah selesai di make up. Dress itu nampak pas ditubuhnya, membuat Tasya semakin cantik dan membuat para asisten itu terpaku sejenak.


"Wahh, kakaknya belum di make up saja sudah cantik, apalagi kalau sudah? Serasi sekali dengan calon suaminya," puji salah satunya.


"Kalian berlebihan, nanti saya jadi malu dan suka pede sendiri," ucap Tasya sambil terkekeh.


"Udah cantik, dokter muda lagi. Keren sekali kak Tasya," ucap salah satunya lagi.


Tasya yang mendengar itu hanya tertawa saja, tidak tau harus bagaimana menanggapinya, jujur dia merasa melayang jika dipuji seseorang sampai sebegininya.


Para MUA sudah siap mendandani Tasya. "Aduh baru kali ini saya bingung mau make-up-in customer."


"Loh kenapa, Mba?" Tanya Tasya yang masih diam karena sedang dipakaikan pelembab.

__ADS_1


"Soalnya sudah cantik, takutnya make up yang bikin kebanting," jawabnya sambil terkekeh.


Tasya ikut terkekeh. "Gak akan kok, Mba. Saya tau kalian sangat profesional dan bisa membuat kami puas," ucap Tasya menyemangati.


Tasya ini menurut mereka sangat baik, bahkan Tasya dan Al membawa makanan untuk mereka karena mereka akan melakukan pemotretan sampai malam di pantai. Benar-benar pasangan yang serasi.


Setelah selesai make up, Tasya dibantu para asisten di bawa ke hadapan photographer dan juga Al. Tasya tersenyum saat lagi-lagi dejavu melihat Al. Dia kini menggunakan kemeja biru langit yang senada dengan dressnya. lengannya yang sedikit dilinting dan menggunakan jam tangan hitam membuat Tasya tersenyum manis.


Al sedang briefing dengan photographer tentang apa saja agenda mereka hari ini, tapi kini dia malah terkejut saat melihat Tasya yang menghampirinya. Gadis itu nampak cantik dari biasanya, rambutnya yang dihias sedikit namun terturai membuat dia semakin cantik dengan make up yang bagus dan tidak membuat Tasya menjadi over.


Al langsung menggenggam tangan Tasya dan membuatnya dekat padanya. Bisa Al rasakan aroma tubuh Tasya yang khas membuatnya merasa tenang di suasana pantai yang indah ini.


Selesai briefing Tasya dan Al sudah siap dengan berbagai pose yang diarahkan oleh sang photographer, tidak sulit karena mereka juga sudah biasa jika berhadapan dengan kamera.


Beberapa kali mengambil gambar, kini Tasya dan Al harus bergaya lebih intens. Jantung Tasya berdebar sangat kencang, pasalnya sedikit saja dia bergerak bibir mereka mungkin akan bertemu.


Al dapat merasakan jantung Tasya yang berdebar sangat kencang, membuat sang pemotret memperingatinya agar tetap rileks. Al tau mungkin ya wajar saja, respon alamiah itu memang tidak terduga. Mereka saja baru berciuman sekali, itu pun Al yang mencurinya.


Tasya dapat merasakan hembusan napas Al, ditambah wangi maskulin dari pria itu. Apalagi cara pandang Al menatap Tasya membuat gadis itu terpesona pada calon suaminya sendiri.


"Rileks, tatap mata aku. Jangan pikirin pose apapun yang menganggu pikiran kamu. Tatap aku seolah aku adalah orang yang paling kamu cintai."


Tasya tersenyum sambil menatap Al. "Kamu memang orang yang paling aku cintai Al." Senyuman dan tatapan itu begitu natural, membuat photographer merasa puas dengan hasil jepretannya. Begitu pun dengan Al, apakah itu pernyataan cinta dari Tasya? Benar-benar gadis yang menggemaskan, tidak tau saja kini Al yang ketar-ketir dengan perasaannya.


"Oke kita rehat dulu," ucap sang photographer.

__ADS_1


Kini mereka kembali di bawa oleh para asisten untuk mengganti pakaian kedua. Ada tiga kali ganti kemungkinan, karena yang terakhir pemotretan yang dilakukan malam hari.


Tasya dan Al yang kini telah berganti pakaian sedang berada di pinggir pantai. Dialasi sebuah kain dan duduk menatap ombak yang berhamburan ke tepi pantai.


Tasya menatap Al dengan lamat, memperhatikan bagaimana tampannya calon suami yang kurang lebih 1 bulan lagi akan menikahinya. Dia beruntung sekali bukan mendapatkan Al? Selain dia baik, dia juga tampan. Entah kenapa kini imajinasinya membuat Tasya tersenyum sendiri sampai tidak sadar kalau Al sudah memperhatikannya.


"Terpesona hm?" Tanya Al yang kini membalas tatapan Tasya.


"Maybe, aku cuma bayangin kalau nanti kita punya anak pasti mirip kamu. Biar ganteng kalau cowok," ucap Tasya jujur.


"Oh sekarang udah pinter godain orang iya?" Tanya Al yang kini menjawil hidung Tasya.


"Aku beneran tau," kata Tasya.


"Kalau cowok harus mirip aku, tapi kalau cewek harus mirip kamu. Soalnya kamu cantik banget hari ini," ucap Al yang kini menggesekan hidung mereka berdua. Tasya yang lebih pendek darinya memudahkan Al dalam melakukan apapun, memang gadis mungil. Mata Tasya terpejam, menikmati sensasi yang datang ketika melakukan ini. Bukan perasaan gugup, tapi ada perasaan senang.


Tanpa disangka dari jauh sana Sean sang photographer menjalankan aksinya memotret moment mereka berdua. Menurutnya ini moment yang sangat bagus untuk diabadikan. Dia benar-benar takjub dengan kedua pasangan yang dia tangani kali ini. Dia seperti menangani model profesional rasanya.


Tadi Al sempat memberinya pesan dan sedikit saran agar mengabadikan setiap moment yang nanti tercipta di sana antara dia dan Tasya agar hasilnya nampak natural, Sean tidak menyangka kalau teori yang Al berikan sangat benar. Dia akan melakukan teknik ini untuk kedepannya.


Al menatap wajah Tasya yang terpejam, memperhatikan bibir mungil yang berwarna fresh itu membuatnya sebagai pria normal ingin sekali mengecupnya walaupun hanya sebentar. Perlahan Al mendekatkan bibirnya pada bibir Tasya, namun saat sedikit bibir itu melekat tiba-tiba mereka berdua dipanggil untuk melakukan sesi kedua pemotretan.


Mereka berdua kaget, tidak lebih tepatnya hanya Al ya g kaget sementara Tasya dengan polosnya menatap Al yang kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kamu kenapa?"


"Gak kenapa-kenapa, Sayang. Ayok kita pemotretan lagi." Al berdiri lalu dia mengulurkan tangannya pada Tasya. Untuk sesaat Tasya tersenyum dan bangkit dari duduknya. Setelah itu mereka berdua saling menggenggam untuk melakukan proses selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2