
Setelah pulang sekolah, Tasya langsung bergegas mandi dan berdandan. Hari ini Viko mengajaknya jalan-jalam untuk merayakan Anniversary mereka yang pertama. Sebenarnya tadi mereka sudah bertukar kado di sekolah, tapi rasanya tidak cukup kalau tidak di rayakan berdua. Cincin kupu-kupu yang diberikan Viko membuat Tasya senyum-senyum dan ingin segera pergi bersama Viko.
Tidak terlalu formal, Tasya hanya memakai celana kulot nude dengan crop top dan tidak lupa memakan cardigan sebagai pemanis. Viko sudah menunggunya di bawah, Tasya pun pamit ke pada Radit dan langsung berlari masuk ke dalam mobil milik Viko.
"Lama ya?" Tanya Tasya sembari memakan seatbell mya.
"Iya lama, tapi pas liat kamunya cantik jadi worth it," goda Viko.
"Apasih gombal banget, mau kemana kita?" Tanya Tasya.
"Apa ya? Nanti juga kamu tau," jawab Viko sambil terkekeh dan melajukan mobilnya.
"Eemm oke." Tasya hanya mengangguk sembari memperhatikan jalan.
Beberapa bulan setelah pertengkaran mereka, mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Entah bepergian ke tempat-tempat wisata atau hanya berjalan-jalan sebentar. Tidak terasa kalau waktu cepat berlalu. Tasya senang masih bisa merayakan 1 tahun hubungan mereka meski dalam posisi dikejar waktu.
📍Floating Market Lembang.
Setelah mengisi saldo kartu yang akan dipergunakan di tempat ini Tasya langsung berlari masuk ke kota mini yang menjadi salah satu wahana di sana. Viko tersenyum melihat tingkah Tasya lang lucu dan menggemaskan. Tak jarang juga dia mengabadikannya dalam ponsel.
"Kamu tau gak, aku kayanya kesini sekitar 2 tahun lalu dan itu belum kaya gini. Kaya cuma pasar apungnya aja," kata Tasya sambil meminum susu cup yang dibelinya tadi di depan.
"Iya, sekarang udah bagus, aku tau kamu pasti bakalan suka." Viko mengusak rambut Tasya lalu merangkul gadis itu.
"Ayok kita ambil photo yang banyak," ajak Tasya sembari melihat ke arah Viko. Viko pun mengangguk. Sebenarnya dia bukan tipe orang yang suka mengabadikan gambarnya. Tapi semenjak bersama Tasya justru dia suka mengabadikan setiap moment walaupun hal sekecil apapun.
Tasya mengatur tripod nya dan memasang timer pada ponselnya. Dia dan Viko berdiri di sebuah bangunan aestetik lalu mengambil beberapa jepretan di sana. Puas dengan hasilnya, mereka melakukannya lagi di setiap spot yang menurut mereka bagus.
Waktu sudah semaki sore, pemandangan di sini cukup bagus untuk menikmati langit jingga orange. Apalagi di atas sepeda air sambil menikmati beberapa kuliner di sana.
Sejenak Tasya melihat ponselnya, melihat-lihat photo yang mereka ambil seharian ini. Tasya menatap satu foto yang menarik. Terlihat di sana Viko yang menggendong Tasya di punggungnya sambil saling menatap dengan senyum bahagia.
"Yang, pake ini jadi wallpaper yuk," ajak Tasya yang memperlihatkan ponselnya pada Viko.
Viko mengangguk, apapun yang Tasya inginkan pasti akan selalu dia turuti. "Boleh, kirim lah. Nanti aku pasang."
Tasya pun senang dan langsung mengirimkannya pada Viko. "Bagus kan?"
__ADS_1
"Iya bagus," kata Viko sembari mengubah tampilan ponselnya.
"Aku mau kalau nanti kita jauh kamu selalu inget aku pas liat hp," ucap Tasya pelan sambil tersenyum.
"Padahal sebelum ganti pun fotonya muka kamu," kata Viko sambil terkekeh.
"Ya beda, maksudnya ini kan moment nya kita pas anniv. Jadi biar kamu lebih semangat kuliahnya di sana dan cepet cepet lulus. Terus kita ketemu lagi buat rayain kaya ginj." Tasya terkekeh lalu memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Kalau itu udah pasti, karena aku juga kan udah janji sama kamu buat balik lagi. Asalkan kita tetep komitmen. Pasti berat tapi kalau kita jalanin sama-sama, semuanya akan lebih mudah." Viko tersenyum ke arah Tasya.
"Oh iya aku kepikiran tau, besok udah pengumuman SNMPTN. Aku lolos gak ya?" Tasya menatap yang ada di sampingnya itu.
"Lolos, aku yakin pasti lolos. Pacarku kan pinter, tapi sayang gak percaya diri. Pokoknya apapun yang tejadi besok, kamu harus lapang dada. Jangan sampai bikin beban. Kalau lolos ya jalanin, kalau engga coba lagi."
Di tengah danau dengan langit orange, senyuman Viko jauh lebih menenangkan perasaan Tasya. Perasaan yang tadinya sedih karena memikirkan hubungan mereka kedepannya, menjadi perasaan bahagia dan tidak sabar untuk bertemu lagi di tahun-tahun berikutnya. Dengan perasaan yang sama dan orang yang sama juga.
...~ • ~...
Kini Tasya dan Viko sudah sampai di depan rumah Tasya. Mereka senang karena menghabiskan waktu hari ini. Viko mengeluarkan bouquet bunga dari dalam bagasi mobilnya.
"Buat kamu," kata Viko sembari memberikan bouquet bunga mawar merah pada Tasya.
"Makasih yaa, makasih buat hari ini juga," ucap Tasya.
"Iya sama-sama. Habis ini kamu bersih-bersih terus tidur ya. Jangan tidur kemalaman. Apalagi karena mikirin hasil besok," peringat Viko.
Tasya mengangguk. Setelah mastikan semuanya, Viko pun pamit pulang. Tasya pun melambaikan tangannya saat mobil itu mulai menjauh.
Setelah Viko pulang, Tasya masuk ke rumah. Dilihatnya Radit dan Al sedang asik bertaruh bola. Menurut Tasya kegiatan yang aneh.
"Wihh princess kita udah datang," kata Radit.
"Apasih Abang," Tasya pun menaruh bunganya di meja dan duduk di tengah-tengah Radit dan Al.
"Seneng banget nih aura-auranya," goda Al.
"Hehehe seneng dong, abis pacaran. Lo tau gak tadi gue ke floating market, terus ngabisin waktu di sana. Lain kali kita harus kesana sih sebelum pergi ke Surabaya," ucap Tasya bahagia.
"Bagus lah kalau lu seneng. Gua juga ikut seneng liatnya, soalnya muka lu gak ditekuk macam kertas lecek." Al tertawa sambil mengusak rambut Tasya.
__ADS_1
"Ihhh suka banget ya acakin rambut gue." Tasya pun langsung merapikan rambutnya. "Ya gimana yaa lo bakalan ngerasa lupa waktu kalau deket orang yang lo sayang. Itu yang lagi gue rasain."
"Hadehh bucin, mau ngelangkahin abang lu?" Tanya Radit.
"Boleh kalau nikahnya sama Vik-"
"AHHHH SAYANG BANGET GA MASUK," teriak Al tiba-tiba.
"Anjirr apaaa, gua ga liat. Ah lu sih dek, ngomong mulu," kesal Radit.
"Apasih kok jadi gue. Lagian kalian aneh deh nonton bola. Mereka tuh kaya gak punya uang aja buat beli bola, bola satu diperebutin aneh banget," cibir Tasya.
"Ck, kalau dikasi satu-satu bukan permainan." Radit memeluk adiknya itu gemas dan menciumi pipinya.
Tasya pun berteriak, menurutnya geli kalau sekarang Abangnya ini menciuminya seperti waktu kecil. "Aaaaaa bau jigong!!!! Gagagagagaga!"
"Alah waktu itu aja mau cium-ciuman sama Viko, sama Abangnya dicium gak mau," balas Radit mencibir.
"Lu ciuman?" Tanya Al kaget.
Pipi Tasya mulai memerah mengingat kejadian waktu itu, meskipun sudah lama tapi dia belum pernah menceritakannya pada Al.
"Enggaaa!!!! Itu ga gitu ceritanya. Lagian kita gak ciumannn orang bang Radit muncul," sanggah Tasya.
"Oh jadi kalau gua gak keluar bakalan ciuman?" Selidik Radit.
"Ihhhhhhh enggakk, apasih. Engga lahh orang gue aja gak bisa ciuman. Udah ihh gak usah dibahas lagi, udah lama juga," protes Tasya.
"Oh udah gede ya sekarang, sampe paham cium-ciuman," goda Al.
"Engga astagfirullah, gue tuh gak ciuman. Asli gak pernah. Kemarin tuh cuma salah paham aja," elak Tasya.
"Cieeee," kata Al semakin menggoda Al.
"Aaaaaalllll!!! Engga ihhh," teriak Tasya sambil memukuli lengan Al.
"Awwaaa! Hahahahaha, ututu Taca udah gede," ledek Al.
Radit dan Al pun sibuk mengganggu Tasya, bagi mereka itu adalah kesenangan sendiri. Al selalu bisa menyembunyikan perasaannya, tapi kenapa kali ini rasanya sedikit berbeda? Al menggeleng cepat, dia harus menyingkirkan pemikiran itu, atau tidak nantinya dia akan egois.
__ADS_1