
Hari ini Tasya harus pergi pagi-pagi sekali. Jika Tasya menyuruh para peserta berkumpul jam 6 pagi, tentunya Tasya harus datang lebih awal dari mereka. Seperti biasa Radit adalah sasaran empuk ketika pagi hari untuk mengomel.
"Sarapan yang bener, nanti keselek," peringat Radit pada Tasya yang terlihat sangat buru-buru.
"Ini udah mau jam 5, Bang," sahut Tasya tanpa mempedulikan perkataan Radit. Pokoknya dia harus datang paling awal agar imagenya tidak jelek.
"Apaan tiga puluh menit lagi bodoh. Lu tuh kebiasaan dah, jangan terlalu perfeksionis. Nyusahin diri sendiri, nyusahin Abang juga yang jadi sasaran tiap pagi," omel Radit.
"Yeee, datang lebih awal itu lebih bagus, Bang. Lagian gue tuh bukan perfeksionis tapi gue tuh rajin. Beda cewek sama cowok prinsipnya."
"Lu mah bukan datang lebih awal, tapi kecepetan. Santai aja kenapa. Di sama juga lu nanti diem kaya orang dongo nungguin mereka," kesal Radit.
"Gak bisa, gue sama lo beda prinsip. Banyak omong kali Abangku iniii," kata Tasya kesal.
"Serah lu dah." Radit pasrah dengan adiknya ini.
Tasya bahkan pernah datang jam 5 untuk pergi study tour, padahal keberangkatan dimulai pada jam setengah 7. Entah terlalu rajin atau terlalu bodoh. Radit sudah tak habis pikir dengan kelakuan adeknya itu.
"Bang, lo anterin gue ya," pinta Tasya dengan memelas.
"Males ah," tolak Radit. Karena sudah pasti Tasya akan membuatnya kewalahan karena terburu-buru.
"Lo tega apa, liat gue pagi-pagi gini jalan kaki ke sekolah? Terus gimana kalau adek lo yang gemes ini diculik? OH ATAU DIJUAL GIN-" ucap Tasya sambil memelas.
"Iya, gua anterin. Bentar, ganti baju dulu. Paling bisa emang bujuk gua buat ikutin kemauannya," cibir Radit.
"Nah gitu dong," Tasya tersenyum penuh kemenangan, dia tau kalau abangnya sangat menyayangi dirinya dan tidak akan mau kehilangan dia.
...~ • ~...
Mereka pun akhirnya sampai di sekolah Tasya. Radit dan Tasya menunggu sampai satu jam karena ke perfeksionisannya Tasya. Sebenarnya Radit malas tapi tidak tega meninggalkan adiknya sendiri.
"Pokoknya lu gak boleh telat makan, gak boleh cape-cape, inget pesen gua. Gua gak mau pulang-pulang lu sakit atau lu kecapean. Pokoknya jangan bandel kalau gak mau masuk rumah sakit lagi," peringat Radit pada Tasya.
"Heh, gue panitia. Masa iya jangan cape-cape. Terus gue gak kerjain apa pun gitu? Yaampun Abang tenang aja kali, gue udah gede dan bia jaga diri. Lo ini selalu perlakuin gue kaya anak 5 tahun tau gak?" Kesal Tasya.
"Ya pokoknya jangan terlalu cape. Vik? Sini," panggil Radit yang baru saja melihat Viko lewat.
"Yo, Bang. Ada apa dan mengapa?" Viko memang sudah mengenal Radit. Karena Radit ketua OSIS juga waktu itu dan tentunya dia langganan berhadapan dengan Radit.
"Gua titip Tasya, kalau sampe ada apa-apa, lu yang gua abisin. Pokoknya ingetin dia makan sama istirahat," ucap Radit pada Viko.
"Adek lu mah gak usah dijagain juga gak akan apa-apa, Bang. Macan aja takut kayaknya mah sama dia. Terlalu garang," kata Viko asal.
"Heh, jadi maksud lo gue serem, gitu?" Protes Tasya tak terima.
"Gak usah gua bilang, lu udah nyadar sendiri," ucap Viko sembari meledek ke arah Tasya.
"Sableng emang lo," kesal Tasya.
"Malah berantem, pokoknya gua titip Tasya sama lu," peringat Radit.
"Sip." Viko mengiyakan.
Setelah beberapa jam, peserta sudah kumpul semua. Mereka pun segera memasuki bus. Tasya mencari kursi yang kosong, tapi hanya ada 2 kursi belakang yang kosong. Terpaksa Tasya duduk di sana.
"Peserta semuanya udah dicek?" Tanya Tasya pada Chandra.
__ADS_1
"Udah." jawab Chandra.
"Sip." kata Tasya.
"Lu udah dapet tempat duduk, Sya?" tanya Vio yang melihat kursi sekitar, mencari tempat kosong untuk Tasya.
"Belum, tapi kayaknya di belakang kosong," jawab Tasya tersenyum. Dia tidak repot, berdiri juga jadi asalkan acara ini tidak mengecewakan.
"Duduk sama gua aja," tawar Chandra.
"Gak, nanti malah perang dunia gue sama lo," tolak Tasya sambil berlalu menuju kursi belakang. Chandra pun hanya berdecak. Tasya duduk dekat kaca. Tiba-tiba Viko menyusul duduk di sebelah Tasya.
"Ngapain lo duduk di sini?" Tanya Tasya sinis saat melihat Viko berada di sebelahnya.
"Bus lain penuh, yang kosong cuma ini," jawab Viko santai.
"Kenapa gue harus duduk sama lo sih. Kenapa gue harus berurusan sama lo terus," tanya Tasya kesal.
"Takdir dan kenapa lu kayaknya anti banget sama gua?" Viko bertanya balik.
"Ya gak anti, cuma lo rese. Pasti bikin gue hipertensi, coba kalau lo bener pasti gak akan buat orang anti sama lo," cerocos Tasya.
"Apa? Salah besar lu. Gua ganteng, baru itu yang bener," ucap Viko dengan percaya diri.
"Najis, gantengan juga pak sopir ini dari pada lo Viko. Dasae tukan kepedean, terlalu narsis, gak ada akhlak!" Hujat Tasya.
"Serius?" Tanya Viko mendekatkan wajahnya pada Tasya dan spontan membuat jantung Tasya rasanya mau copot.
"A-apaan sih lo jauh-jauh hus-hus," ucap Tasya sembari menjauhkan wajah Viko.
"Jawab dulu, emang gua gak ganteng? Kata nyokap gua, gua adalah anak paling tampan satu dunia. Yakin lo gak liat kegantengan gua?" Tanya Viko memastikan sekali lagi.
"Gak! Lo gak ganteng titik," jawab Tasya menjauhkan wajah Viko dengan kedua tangannya.
"Bodo, Vik bodo." kata Tasya pasrah.
Bus mulai berjalan. Tasya memilih untuk meminum susu kotaknya dibandingkan harus berdebat dengan Viko. Karena tak ada gunanya. Ada saja kata-kata yang sudah Viko sediakan sepertinya. Karena dia tak pernah kehabisan kata-kata jika sudah berdebat dengan siapa pun termasuk Tasya.
"Sya," panggil Viko perlahan.
"Apa?" sahut Tasya.
"Gua kan sie dokumentasi tuh."
"Terus?"
"Tugas gua apa?" tanyanya.
"Tugas lo photoin semua agenda kegiatan disana. Nanti lo minta aja kamera OSIS nya di Ivan atau Yudhis," jawab Tasya santai.
"Kalau lu, sebagai ketua pelaksana ngapain?" tanyanya lagi.
"Gue? Gue mah tinggal suruh-suruh aja," kata Tasya sombong. Walaupun dia tidak benar-benar dengan omongannya.
"Enak jadi lu dong, cuma diem suruh-suruh."
"Iya lah," kata Tasya santai.
"Kejam emang lu," hujat Viko.
__ADS_1
"Lo gak tau aja gue kejam, paling jahat, tukang siksa, bossie, dan lo bakalan tau nanti." Tasya tertawa jahat.
"Mending tukeran aja sama gua. Gua jadi ketua pelaksana dan lu dokumentasi," tawar Viko.
"Sekata-kata lo ngomong, ya gak bisa gitu lah."
"Bisain aja, kenapa gak bisa?"
"Serah." Kata Tasya.
Viko langsung memasang earphone nya. Mendengarkan lagu juga adalah salah satu hobi dari seorang Viko Narendra.Perjalanan lumayan sudah jauh. Tasya hanya sibuk memainkan ponselnya. Hanya sekedar check grup kepenulisannya atau membaca novel.
Tiba-tiba sebuah kepala mengenai pundak Tasya. Ternyata Viko tertidur. "Aduhh, Vik! Bangun elah," kata Tasya berusaha menyingkirkan kepala Viko.
Namun usahanya sia-sia, Viko begitu berat. Dengan pasrah Tasya membiarkan Viko tertidur di pundaknya, meskipun sungguh. Itu sangat berat sekali. Tasya memilih untuk melanjutkan membaca novel saja.
Tanpa disadari ada yang sedang memotret moment itu. Ada juga yang sedang memperhatikannya dengan tatapan tidak suka. Siapa lagi kalau bukan Chandra. Sekilas, Tasya melirik ke arah wajah Viko.
"Sebenernya lo ganteng, tapi sayang. Lo nyebelin dan gue gak suka manusia kaya lo," batin Tasya.
Sudah lama Viko tertidur dan perjalanan lumayan masih lama. Pundak Tasya sudah mulai lelah dan pegal. Tapi Viko tak kunjung bangun. Tasya masih memperhatikan wajah Viko. Menurutnya, Viko lebih terlihat tampan jika sedang tertidur. Karena, tak terlihat seperti Viko si badboy pecicilan.
"Ngapain lu liatin gua? Ganteng?" tiba-tiba saja Viko terbangun dari tidurnya, dan sontak membuat Tasya kaget karena sedang menatap Viko.
"Kok gua nyaman tidur dengan posisi kaya gini?" Batin Viko.
"Mampus, dia bangun," batin Tasya.
"A-apan sih lo. Siapa juga yang liatin lo. Lo berat, lo kebo susah dibangunin." Alibi Tasya.
"Gak mau ngaku lu," kata Viko.
"Serah."
Tasya kembali memperhatikan ponselnya, sementara Viko kembali menikmati setiap alunan yang terdengar dari earphone nya. Tanpa sadar Viko ikut bernyanyi. Tasya melirik ke arah Viko. Sungguh. Suara Viko sangat enak untuk didengar. Tasya pun terhanyut dalam tatapannya pada Viko.
Berada dipelukanmu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta
"Suara lo kenapa bikin gue deg degan ya, Vik," Batin Tasya.
Berdua bersamamu
mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan cinta
"Nah kan, lu ngeliatin gua lagi," kata Viko melirik Tasya.
"Ishhhh, suara lo gak enak didenger. Berisik, tau! Makanya gue ngeliat ke lo!"
"Halah padahal dalam hati lu mengagumi suara gua, iya 'kan? Ngaku lu. Gengsi amat ngakuin suara gua bagus," kata Viko.
"Karena suara lo gak ada bagus-bagusnya," balas Tasya.
"Serah lu dah," timpal Viko. Beradu Argumen dengan Tasya tidak akan ada habisnya.
__ADS_1
Tasya menetralisir debaran jantungnya. Rasanya debaran ini dua kali lebih cepat daripada biasanya. Entah apa yang dia rasakan, dia pun tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan sekarang.
"Apa gue punya penyakit jantung ya," batin Tasya.