
"Bang," panggil Tasya. Namun Radit tak mendengarnya, dia sedang fokus pada ponselnya dan itu membuat Tasya sangat kesal.
"Abang Raditya Putra!" Panggil Tasya setengah berteriak.
"Apa? Ganggu mulu lu," sahut Radit ketus dan melirik ke arah adiknya itu.
"Yaudah gak jadi," kata Tasya ngambek. Dia tidak suka dibentak seperti itu, padahal dia hanya memanggil saja. Menyebalkan sekali pikirnya.
"Iya iya, ngambekan lu mah jadi cewek, pantesan jomblo!" Ucap Radit meledek Tasya.
"Abisan lo, fokus sama hp. Gue gak diperhatiin," kesal Tasya pada Abangnya itu. Sudah tau dia sangat bosan, tapi malah diabaikan.
"Makanya, kalau mau diperhatiin cari pacar," sindir Radit.
"Dih, lo mah nyangkutin sama pacar terus. Kesel ah, gue kan punya Abang, malah disuruh cari pacar terus. Males males males, padahal bersyukur kalau adeknya gak terkena pergaulan bebas."
"Ya iya lah, kalau lu ada pacar kan gua jadi ngurangin beban," kata Radit asal yang langsung saja membuat Tasya semakin memberenggut.
"Jadi gue ngebebanin lo ya, Bang. Keysipp, cukup tau aja gue kalau di mata Abang gue sendiri gue adalah seorang beban," ucap Tasya yang dibuat dramatis.
"Ih ngambek lagi, iya udah iya. Mau apa dekku? Jangan ngambek aja, lagi sakit juga. Maafin Abang yaa, jadi mau apa?" Tanya Radit yang gemas ingin melempar Tasya ke sungai detik ini juga.
"Tau ah, kesel gue sama lo," kata Tasya melipat kedua tangannya.
"Jangan ngambek, lu mau apa gua beliin deh," bujuk Radit.
"Gak," singkat Tasya.
"Ah elah ngambek, gua tinggal nih?" Ancam Radit.
"Yaudah sih, tapi kalau gue ilang jangan cariin gue ya?" ancam Tasya balik.
"Untung lo adek gua satu-satunya, Sya. Kalau bukan udah gua lemparin ke gorong-gorong," cetus Radit.
"Oh jadi, kalau lo adeknya banyak, gue mau dinistain, gitu? Cukup tau gue mah, Bang."
"Ah elah, salah mulu gua," kata Radit yang mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Tiba-tiba, dokter pun memasuki ruangan itu untuk mengecek keadaan Tasya. Dokter yang sudah hafal sekali kondisi Tasya. Beliau sudah menangani Tasya dari dia masih kecil.
"Gimana? Ada yang yang terasa sakit lagi?" tanya dokter.
"Udah ga terlalu kok, Dok."
"Selalu ikuti saran kakak kamu, Tasya. Yang dia lakukan, itu terbaik untuk kamu," nasehat dokter.
"Tasya ini bandel, Dok. Dia ga pernah mau nurut. Kayaknya betah di sini dia," kesal Radit.
"Bukan betah, bukan susah diatur. Tapi karena lupa, Dok," sanggah Tasya.
"Intinya, mulai hari ini kamu harus ikuti kata kakak kamu, ya," kata dokter.
"Iya, Dok. Hari ini gak disuntik 'kan?" tanya Tasya perlahan.
"Sekarang tidak. Mungkin sore iya," kata Dokter.
Tasya mengembuskan napasnya kasar. Meskipun dia langganan masuk rumah sakit, tapi dia sebenarnya paling takut dengan suntikan. Mungkin jika kemarin tidak pingsan, butuh setengah jam untuk memasang infusan pada tangan Tasya.
...~ • ~...
Seseorang memasuki ruangan inap Tasya, ternyata itu adalah Chandra. Entah ada angin apa Chandra ke sana. Aneh bukan? Memang sifatnya yang berubah-ubah sangat membingungkan. Kebetulan di sini tidak ada orang, karena Radit sedang pulang untuk mengambil beberapa pakaian Tasya.
"Chandra?" kaget Tasya.
"Gimana keadaan lu?" tanya Chandra.
"Gue gak apa-apa kok," kata Tasya.
"Lu suka banget di sini," ucap Chandra datar.
"Bukan suka, terpaksa, kenapa lo sama kaya abang gue. Nanyain nya kaya gitu mulu," sanggah Tasya.
"Kalau terpaksa kenapa lu sering ke sini?"
"Ya karena, ya gitu," kata Tasya.
Chandra menatap Tasya. Itu membuat jantung Tasya semakin tak karuan.
"Ke-kenapa lo liatin gue kaya gitu?" tanya Tasya memberanikan diri.
"Gak apa," kata Chandra dengan muka flatnya.
"Gue gak suka diliatin kaya gitu," kata Tasya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya gak suka, lo kesambet ya?"
"Gak, lu udah makan?" tanya Chandra.
"Udah tadi," jawab Tasya.
"Sekarang lu mau apa? tanya Chandra.
"Hah? Mau apa apanya? Kok lo gak jelas," kata Tasya bingung.
"Sekarang lu mau makan apa?" pertegas Chandra.
"Gak tau, mulut gue gak enak makan apa pun."
"Namanya juga sakit. Buah, mau?"
"Mau jeruk aja deh gue," kata Tasya.
Perlahan Chandra mengambil jeruk dan mengupasnya dengan teliti. Dia mengupasnya sampai bersih untuk Tasya.
Saat Chandra mendekatkan jeruk pada Tasya, Tasya berniat mengambilnya, tapi ternyata Chandra menyuapinya. Tasya menerimanya dengan senang hati, walaupun sekarang jantungnya mungkin telah berdetak sangat cepat.
'Coba kalau lo bersikap manis terus sama gue, Chan. Gue pasti suka banget sama lo. Enggak, sekarang pun emang suka," batin Tasya.
"Permisi, sepadaaa," teriak Niken saat memasuki ruangan itu.
"Nikeennnnn," panggil Tasya yang masih lemah suaranya.
"Tasyakuhhh," kata Niken sambil memeluk Tasya.
"Sama siapa lo ke sini?" tanya Tasya.
"Sama gua." tiba-tiba sebuah suara muncul, tak lain dan tak bukan adalah Viko.
"Lo?"
"Iya, gue sekalian mau balik. Katanya, Viko mau ke sini juga, yaudah deh bareng. Tapi gue gak bisa lama-lama. Gue ada acara," kata Niken.
"Gak apa kok. Sherli sama Sarah mana?" tanya Tasya.
"Mereka paling malam ke sini, tadi ada urusan dulu katanya," kata Niken.
"Oh gitu," kata Tasya ber-oh ria.
Tasya, Chandra, dan Niken hanya menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Viko.
"Ah, gue pulang dulu deh ya, Sya. Nanti gue ke sini lagi," kata Niken.
"Mau gua anter lagi?" tanya Viko.
"Hm, nggak usah, Vik. Lagian rumah gue deket kok dari sini," kata Niken.
"Oh yaudah," kata Viko santai.
"Hati-hati," kata Tasya.
Niken pun ke luar dari ruangan itu. Tersisa Chandra dan Viko. Mereka saling menatap tak suka.
"Udah lama lu di sini?" tanya Viko pada Chandra.
"Udah."
"Ohh. Btw, lu kapan balik?" tanya Viko pada Tasya.
"Ga tau, baru juga masuk. Ih lo ya, kebiasaan. Gue udah bilang kan, masukin baju lo," kata Tasya sambil menjitak kepala Viko.
"Aww! Ah elah, Sya. Lagian ini di luar sekolah. Terus lu, masih sakit juga tapi gak ilang-ilang galaknya," keluh Viko.
"Ya abisnya sih lo, susah amat dibilangin."
Chandra yang melihat kedekatan mereka seperti tak terima. Hingga dia memutuskan untuk pulang. Dia merasa diabaikan oleh mereka berdua.
"Gua balik, cepet sembuh ya," kata Chandra mengusap rambut Tasya sekilas, dan lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Btw, makasih ya," kata Tasya.
"Makasih buat apa?" tanya Viko heran.
"Makasih lo udah bawa gue ke sini," kata Tasya.
"Ya lu lagi sama gua, masa iya gua tinggalin lu di gedung," jawab Viko asal.
"Ya makanya, gue bilang makasih," kata Tasya.
__ADS_1
"Santai aja sama gua mah," kata Viko.
"Hari ini ada PR?" tanya Tasya.
"Lu lagi sakit aja masih sempet-sempetnya nanya PR ya Allah," kata Viko frustrasi.
"Ya ga gitu," kata Tasya.
"Gak tau, gua bolos seharian," jawab Viko enteng.
"Bolos mulu, taken kagak," kata Tasya.
"Kenapa? Lu mau taken sama gua?" tanya Viko santai.
"Dih siapa juga yang mau taken sama lo," kata Tasya.
"Tangan lu," kata Viko.
"Tangan gue kenapa?" tanya Tasya bingung.
"Gue ngilu liatnya," kata Viko.
"Gue yang diinfus, tapi lo yang ngilu."
"Ya ngilu aja liatnya."
"Lebay amat lo," kata Tasya.
"Gak lebay, emang ngilu. Seumur hidup gua belum pernah masuk rumah sakit. Oh pernah deh," katanya menggantung.
"Kapan?"
"Pas gua dilahirin dan gua gak inget," kata Viko.
"Aihh najong," kata Tasya sambil terkekeh.
"Lu ketawa? Biasanya lu marah-marah mulu kalau sama gua," kata Viko.
"Ya kan kita udah temenan," kata Tasya.
"Jadi, kalau kita kagak temenan, lu kagak mau ketawa? Terbazeng," kata Viko.
"Ya ga gitu, gue cuma gak biasa kalau ketawa di depan orang yang ga deket sama gue," kata Tasya.
"Lah, ketua osis mana bisa kaya gitu."
"Ya emang gak biasa aja ih, kalau semisalnya disapa baru sapa balik, kalau disenyumin ya disenyumin balik," kata Tasya.
"Berarti gua salah satu orang beruntung ya bisa temenan sama lu," kata Viko.
"Ya beruntung lo jadi temen gue, udah lucu, imut lagi," kata Tasya bangga.
"Ngelunjak lu lama-lama," kata Viko.
"Heh manada ngelunjak, ya!"
"Betah gua di sini," kata Viko.
"Kenapa?"
"Banyak makanan," kata Viko cengengesan.
"Lo tamu yang ga tau diri tau gak," kata Tasya.
"Bodo amat, yang penting kenyang," kata Viko santai.
"Anjiran emang," kata Tasya.
"Lu gak mau? Atau modus mau disuapin gua?"
"Dih, enggak. Mulut gue emang gak enak makan apa pun," kata Tasya.
"Gak enak gimana? Cobain deh, ini pasti enak," kata Viko yang mendekatkan anggur pada bibir Tasya.
"Gak mau," kata tasya.
"Beneran yang ini enak," kata Viko.
Tasya pun terpaksa memakannya.
"Ih beneran, kok yang ini enak, Vik."
"Iya lah, apa pun makanan dari tangan gua pasti enak," kata Viko yang menaik-naikan alisnya.
"Aishhh sa ae lo," kata Tasya sambil tertawa.
__ADS_1
Mereka pun terus berbincang-bincang. Dan mereka pun nyaman satu sama lain. Terlebih Tasya, karena debaran jantungnya ini beda dari debaran jantungnya untuk Chandra.
Maklum lah Ms. Labil.