
"Pa, aku mau kuliah di Amerika," ucap gadis itu kepada Ayahnya.
"Loh jauh sekali, Sayang. Kenapa kamu gak memilih buat di dalam negeri saja? Mash banyak universitas bagus di negara kita. Kasian juga mamamu, Sayang," ucap sang ayahnya.
"Bella udah gak bisa di sini, Bella mau lupain semua kenangan di negara ini. Ketika udah berhasil Bella akan balik lagi kesini dan kembali lagi ke pelukan Mama Papa," ucapnya mantap.
Dalam sekejap dia mengikuti kemauan putrinya Dia pikir Bella sangat terluka karena kehilangan kakaknya. Jadi dia membiarkan Bella untuk mengambil waktunya dan perlahan bisa melupakan hal-hal yang membuatnya sedih.
Beberapa bulan berlalu, Bella akhirnya bisa meninggalkan Indonesia dan berkuliah di salah satu Universitas terbaik Amerika. Dia mulai memasukan beberapa barang dan salah satu bingkai photo yang selalu dia simpan di kamarnya.
"Setelah aku bisa lupain kamu, aku bakalan buang ini," gumamnya.
Bella membantingkan Tasnya ke sembarang arah. Matanya mulai memanas mengingat kejadian tadi dan kejadian di masa lalunya. Perlahan Bella mengambil sebingkai photo yang berada pada laci kamarnya.
Aldo Prayoga.
Sungguh, dia membenci pria itu sekarang. Pria yang mematahkan hatinya demi perasaan yang hingga kini tidak terbalaskan. Bella melempar bingkai itu ke tong sampah dan membakarnya. Kini tidak ada rasa lagi yang tersisa untuk Al. Yang ada hanya rasa benci yang dia rasakan.
"Kenapa gue gak pernah bisa lepas dari bayang-bayang lo sih, Tasya?!" Ucap Bella sambil terisak.
Dia benar-benar membenci Tasya. Meskipun mereka tidak pernah bertemu atau saling mengenal, tapi Tasya yang membuatnya kehilangan cinta pertamanya dan sekarang dia mulai nyaman dengan Viko tapi ternyata Tasya juga ada di antara mereka.
Bella membuka Instagram miliknya, melihat postingan Al bersama teman-temannya dan dia baru mengetahui kalau sekarang Tasya juga dekat dengan teman-temannya. Emosinya semakin memuncak, memang salahnya karena memutuskan hubungan dengan mereka, tapi bukan berarti Tasya bisa memilikinya.
"Kenapa sih lo selalu rebut apa yang gue punya? Kenapa semua orang suka sama lo dan kenapa semua orang jadi milik lo?! GUE BENCI BANGET SAMA LO, TASYA!" Bella yang histeris pun membantingkan ponselnya. Tidak peduli dengan barang itu yang dia rasakan sekarang adalah emosinya.
"Gak, kali ini gue harus dapetin apa yang gue mau. Lo gak bisa selalu ada di atas gue,Tasya. Kali ini akan gue pastikan lo ngerasain apa yang gue rasain. Viko harus jadi milik gue!"
"Dan Al, lo juga bakalan sakit ketika orang yang lo cintai hancur!"
Bella mengeratkan cengkramannya pada selimut miliknya, dengan satu tarikan dia menarik semuanya hingga hancur berantakan. Dia tidak peduli dengan keadaan kamar ini sekarang, dia benar-benar akan membuktikan ucapannya.
.
.
.
Pagi-pagi Viko tersenyum melihat isi pesan dari Tasya, jadi dia putuskan untuk menghubungi kekasihnya itu.
"Halo," Tasya dari seberang sana.
__ADS_1
Sepertinya Tasya sedang bersama teman-temannya. Terlihat Tasya yang penuh dengan coretan spidol di wajahnya membuat Viko terkekeh.
"Kamu di mana itu? Kenapa itu pipinya cemong sama spidol?" Tanya Viko.
"Hahaha lagi di rumah Monik, lagi ngumpul aja sambil main uno. Aku kalah terus jadinya dicoret," adu Tasya.
"Kasiannya pacar aku, nanti aku marahin mereka," ucap Viko yang gemas melihat kelakuan Tasya.
Tasya pun mengarahkan ponselnya pada teman-temannya. " Say hai dulu."
"Hai, Vik!" Sapa mereka sambil tersenyum.
"Lu kapan balik, kasian tuh ada yang galau setengah mampus," ucap Al.
"Hahaha baru juga mulai kuliah, Al. Nanti kalau luang gua balik kok," jawab Viko santai.
"Awas lo ya jangan macem-macem di sana. Jangan sakitin sahabat gue!" Ancam Monik.
"Iya-iya, gak akan lah. Gua sayang banget kok sama Tasya," balas Viko terkekeh.
"Bagus, yaudah gih sana kangenan. Daritadi cewek lu udah nungguin," ceplos Yoda.
"Iya-iya, yaudah gua cuma mau bilang jagain Tasya selama gua gak ada di sana.
"Aman-aman."
"Kamu baru bangun ya? Kalau di sini udah malem, tadi pulang kuliah aku langsung main, nih aku masih belum ganti baju." kata Tasya.
"Iya aku baru bangun, Sayang. Gimana hari pertama kuliahnya?" Tanya Viko.
"Emm lancar, aku seneng banget tau. Aku belajar ilmu kedokteran, aku pake almamater terus dikasih jas lab yang pake namaku. Pokoknya hari ini best day ever," jawab Tasya senang.
"Bagus kalau kamu seneng, nikmati masa kuliah kamu dengan baik ya. Aku juga ikut seneng kalau kamu seneng," ucap Viko.
"Iya, Sayang. Terus kamu sendiri gimana di sana? Udah punya temen?" Tanya Tasya.
"Udah, sekelas pada baik. Aku juga punya temen yang apartemennya sebelahan sama aku, jadi kita kemana-mana bareng, sama-sama orang Indonesia juga," jawab Viko.
"Ih seru, bagus dong. Jadi kamu gak kesepian di sana," ucap Tasya sambil tersenyum.
"Iya, lumayan ada temen sharing. Kadang temen makan bareng atau diskusi bareng karena kita sekelas," lanjut Viko.
"Bagus kalau gitu aku seneng dengernya, nanti kenalin ke aku dong temennya. Aku juga pingin tau temen kamu," kata Tasya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya nanti aku kenalin, kayanya dia bakalan nyambung sama kamu. Dia baik, kadang suka kasih makanan kalau dia habis eksperimen masak, anaknya juga supel dan gampang nyambung, karena kita juga sebelahan kan hahahha."
"Oh dia bisa masak? Keren, harusnya kamu belajar dari dia biar bisa masak sendiri. Aku gak mau ya kalau kamu makan fast food terus."
"Iya-iya, nanti aku belajar sama Bella."
Seketika Tasya terdiam, dia mulai berpikir apa dia salah bicara ya pada Tasya.
"O-oh dia cewek?" Tanya Tasya sambil terkekeh.
"Iya, aku juga udah janji sama dia bakalan kenalin ke kamu."
"Iya nanti bilang aja," Tasya pun tersenyum dan mereka kembali berbincang tentang hari ini.
...~ • ~...
Di satu sisi Yoda yang peka dengan perasaan Al mulai jengah dengan sikap pria itu yang terlanjut nyaman di zona nyamannya tapi dia juga terluka.
"Sampai kapan sih lu nyembunyiin ini semua dari Tasya?" Tanya Yoda gerah.
"Asli, lu sakit tapi lu cuma diem di tempat. Akur lagi sama pacarnya, gila. Kalau gua gak kuat sih," timpal Angkasa.
"Tapi lambat laun Tasya pasti tau juga sih, Al. Lo gak bisa nyakitin diri sendiri kaya gini, sekiranya kalau lo bilang bakalan lega," kata Belva.
"Gua lebih takut kehilangan dia daripada takut sakit hati, biarin aja kaya gini dulu," ucap Al sembari menghela napasnya.
"Sampai kapan?" Tanya Monik yang menatap tajam ke arahnya.
Al hanya menaikan bahunya. Jujur mereka sudah geram dengan Al, tapi mereka harus tetap men-suport Al dalam keadaan apapun jadi mereka pasrah dengan keputusan yang Al ambil.
"Kalian kenapa sih kok tegang banget?" Tanya Tasya yang tiba-tiba datang.
"Enggaa, kita laparr. Kita kan belum pesen makan iyakan?" Tanya Angkasa.
"Benerr, lapar banget. Yok yok pesen biar makin semangat ngalahin Tasya," sahut Yoda.
"Ihhh jahat banget kalian sama gue," ucap Tasya yang kembali duduk.
Sementara Al hanya tertawa melihat tingkah Tasya yang gemas seperti itu.
"Gacoan yaa, gue mau gacoan," pinta Belva.
"Iya-iya kalem," ucap Monik sembari berkutat pada ponselnya.
__ADS_1
Tasya sejenak terdiam, dia sedikit kepikiran tentang teman perempuan yang Viko ceritakan. Apalagi Viko menceritakannya dengan antusias. Tapi Tasya berusaha berpikir positif, dia tidak boleh posesif. Viko juga pasti membutuhkan teman di sana dan dia tidak boleh membatasi itu.
Al melirik ke arah Tasya. Dia peka jika Tasya sedang memikirkan sesuatu. Terlihat dari sorot matanya yang kosong. Tapi Al tidak akan bertanya sekarang, kalau Tasya mau pasti dia akan menceritakannya.