Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Bella Lagi?


__ADS_3


Setelah selesai kelas, Tasya keluar bersama Belva. Hari ini Al, Yoda dan Angkasa ada acara kumpul bersama Shelter - Genk motor mereka. Jadi hanya mereka berdua sekarang, sebenarnya mereka mengajak Tasya dan Belva, namun keduanya tidak mau ikut karena tida terbiasa dengan genk motor.


Belva melirik ke arah Tasya yang sedang menghafal buku anatomi, sepertinya gadis itu sedang banyak pikiran, atau mungkin hanya perasaannya saja? Belva memang memiliki kepekaan yang tinggi, sehingga dia bisa merasakan perubahan pada orang lain meskipun hanya sedikit.


"Sya? Lo lagi banyak pikiran ya?" Tanya Belva memberanikan diri saat mereka menelusuri lorong.


Tasya tersenyum ke arah sahabatnya itu. "Engga, Belva. Gue lagi hafalin ini aja, lumayan juga ternyata matkulnya menguras pikiran," ucap Tasya sedikit berbohong, ya karena dia memang benar juga sedang pusing menghafal.


"Ohh, dikirain kenapa. Maaf ya gue emang suka perasa jadi kalau liat temen gue beda dikit aja, gue langsung takut kalau dia kenapa-kenapa," ucap Belva.


"Gapapa, santai aja kali. Gue seneng malah kalau ada yang perhatiin." Tasya tersenyum santai.


Setelah itu mereka berdua terkekeh. Tadinya mereka ingin menunggu Monik tapi gadis itu masih ada mata kuliah. Jadi mereka memilih untuk mengundurkan acara yang ingin mereka lalukan.


"Yaudah gue pulang dulu ya, nanti kita bicarain lagi deh soal nongki. Monik sih beda jurusan," ucap Belva sedikit kesal.


"Iya gapapa, yaudah lo hati-hati ya. Jangan ngebut, soalnya kebiasaan lo kemarin aja kebut-kebutan," peringat Tasya.


"Iya sayangku, cintaku, i love you," ucap Belva sembari mencium pipi Tasya dan berlari memasuki mobilnya.


Tasya tertawa melihat tingkah Belva dan melambaikan tangan padanya saat gadis itu melajukan mobilnya. Sejenak dia menarik napasnya, mungkin dia memang tidak pandai untuk menyimpan perasaan, sehingga orang-orang peka dengan sikapnya. Tapi Tasya sangat sulit menyembunyikannya untuk saat ini.


Setelah berpikir lama akhirnya dia memilih untuk pulang saja, selain ada janji dengan Zea dia juga harus mengerjakan tugasnya. Meskipun deadline-nya masih lama.


Sekilas Tasya melirik ponselnya, ternyata Viko belum membalas pesannya. Apa mungkin dia sedang tidur ya? Ya wajar saja sih jika iya, sekarang pukul 3 sore dan di sana pasti pukul 3 pagi.


Tasya langsung memasuki mobilnya, berkutat dengan pemikirannya tidak ada akan pernah selesai. Akhirnya dia pun bergegas pulang dan melajukan mobilnya menjauh dari kampus.


...~ • ~...


Setelah sampai rumah dan berganti baju, Tasya mengambil kotak yang memang sengaja dia beli untuk Zea dari Bandung. Dia baru bisa memberikannya hari ini karena baru bertemu lagi dengan Zea.


Dengan senang Tasya membawa kotak itu dan keluar untuk ke rumah Al. Tasya mengetuk pintu dan Zea yang membukanya langsung. Sepertinya tidak ada orang. Diana dan Haris sibuk di kantor dan Al sedang berkumpul dengan teman-temannya dan pasti pulang larut malam.

__ADS_1


"Eh udah pulang, ayokk masuk," ucap Zea sembari menarik tangan Tasya.


Tasya tersenyum melihat Zea yang antusias saat melihatnya, sedikit mengobati rasa rindunya pada Radit. Zea pun mengajak Tasya ke kamarnya. Tasya cukup senang bisa memasuki kamar Zea yang di dominasi dengan warna hijau ini.


Tasya duduk di tepi ranjang, sementara Zea sibuk mengeluarkan beberapa kotak dari dalam lemarinya. Setelah mendapat 5 kotak akhirnya Zea menaruhnya di kasur.


"Buat lo," ucapnya tersenyum ke arah Tasya.


"Semuanya? Banyak banget, Kak," kata Tasya sambil melirik ke arah kotak-kotak itu.


"Ini gue cicil, sambil nunggu lo ke sini waktu pertama kali Alm Om Jo bilang kalau lo mau pindah ke sini."


"Tapi ini kebanyakan ya ampun, Kak. Makasihh, gue malah cuma bawa satu aja buat lo," kata Tasya sembari menyerahkan kotak itu pada Zea.


"Wahhhh kenapa repot-repot, kan gue jadi seneng." Zea pun mengambil kotak dari tangan Tasya.


Zea membuka kotak itu perlahan dan isinya ternyata adalah Tas brand yang dia suka dengan dress berwana hijau yang serasi dengan tasnya.


"Aaa tau aja kalau gue suka warna hijau, makasih adekku yang lucuu," ucap Zea sembari memeluk Tasya.


"Suka lah, apalagi dipilihin kamu yang cantik, modis. Udah gak diraguin lagi udah pasti bagus. Dan ini selera gue banget," balas Zea.


Setelah menaruh hadiah dari Tasya, Zea pun membuka satu persatu kotak yang akan dia berikan pada Tasya.


"Ini sepatu wedges, beli karena lo suka kupu-kupu dan ini gel gitu dan ada kupu-kupunya jadi kayanya lo bakalan suka," ucap Zea sembari membuka kotak pertama.


Zea lanjut membuk kotak kedua, ketiga, dan seterusnya. Tasya benar-benar senang menerima dari Zea. Dia menganggap Tasya seperti adiknya sendiri. Kebetulan Tasya tidak memiliki kakak perempuan dan sekarang dia bisa merasakannya dari Zea.


...~ • ~...


Malam ini Tasya duduk termenung di kamarnya. Dia senang setelah menghabiskan waktu bersama Zea meskipun hanya beberapa jam dan hanya berdua saja. Jika mereka sudah disatukan tentu pasti akan lupa waktu. Seperti sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Tasya baru pulang dari sana.


Sekilas matanya menatap pada satu kotak yang Zea berikan. Itu berisi gaun cantik berwarna putih. Entah kenapa Zea membelikan gaun itu, dia hanya bilang siapa tau terpakai jika nanti dia akan bertunangan atau menikah. Tasya terkekeh, padahal dirinya dan Viko belum berencana ke sana.


Tasya jadi teringat dengan Viko. Mungkin di sana sekarang sudah pagi. Jadi Tasya mencoba menghubunginya. Tasya tersenyum saat wajah pria itu muncul di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?" Tanya Viko sembari tersenyum.


"Gapapa, mau liat kamu aja sebelum tidur. Soalnya kangen, kamu lagi dimana?" Tanya


"Lagi di cafetaria kampus, ini mau sarapan," jawab Viko sambil tersenyum.


"Oh yaudah kamu makan dulu gih, nanti kita chat aja," ucap Tasya yang mencoba memahami situasi.


"Gapapa belum ngambil makanan kok, kamu gimana hari ini cape?" Tanya Viko perhatian.


Tasya mengangguk. "Emm lumayan, kamu gimana semalem? Pulang jam berapa? Makannya gak lupa kan?"


"Kayanya aku pulang tengah malem, gak lupa makan sayangku. Semalem tiba-tiba Bella datang ke kantor bawa makanan jadi ya aku gak lupa, dia juga nungguin aku di kantor karena dia kesini naik taxi, jadi aku gak malem banget pulangnya karena gak enak ditungguin," jawab Viko jujur.


Degh ...


"Bella lagi?" Batin Tasya.


Tasya berusaha bersikap biasa saja, sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan. Tapi dia terlalu takut jika dianggap mempermasalahkan hal-hal kecil. Jadi dia diam saja.


"Ohh bagus kalau kaya gitu. Jangan lupa makan ya, jangan harus diingetin orang dulu baru makan, gak baik. Kamu juga ada magh kan, nanti kambuh. Jangan kecapean yaa, jangan terlalu diforsir kerjanya. Pelan-pelan asal selesai, oke?" Ucap Tasya sambil tersenyum.


"Iya, Ibu Negara. Siap laksanakan. Gak akan lupa apa-apa. Kamu juga jangan lupa apapun, oke?"


Tasya mengangguk dan tersenyum manis kepada pria itu. "Iyaa, yaudah kamu makan dulu gih sana. Aku juga mau tidur, nanti besok kalau luang kita bicara lagi."


"Iya sayang, yaudah. Jaga kesehatan yaa, aku sayang kamu," ucap Viko.


"Aku juga sayang kamu," balas Tasya.


Tasya mematikan sambungannya. Entah kenapa dia malah menangis sekarang, apa dia orang yang sangat sensitif ya? Padahal mungkin pertemanan di sana wajar melakukan itu?


Kenapa dia lebih sering overthingking sekarang? Kenapa dia cemburu dengan hal-hal yang kecil? Apa karena dia baru pertama kali pacaran? Atau ini yang dinamakan hubungan jarak jauh dan katanya 99% berat?


Dia ingin berhenti menangis namun tidak bisa, dia merasa kesepian sekarang. Dia ingin memeluk Radit, dia merindukan abangnya. Meski tak pernah menceritakan tentang hubungannya, tapi Tasya akan lega ketika sudah memeluk Radit.

__ADS_1


__ADS_2