
Setelah selesai mandi, Tasya langsung membanting kan tubuhnya di kasur. Badannya terasa remuk sekarang setelah pulang dari perkemahan. Kurang tidur dan kecapean lebih tepatnya. Jam menunjukkan 12 siang. Tasya menarik selimutnya dan tidur untuk mengurangi rasa lelahnya.
Radit perlahan memasuki kamar Tasya. Dia membawakan air minum dengan obat dan vitamin yang harus Tasya minum setelah terbangun nanti.
Radit duduk di pinggiran kasur Tasya. Menatap adiknya lekat-lekat. Tak dipungkiri, adiknya sangat lucu jika tertidur seperti ini.
"Lu itu, bandel, keras kepala! Tapi gua sayang sama lu, gua juga bangga punya adik kaya lu," kata Radit seraya mengusap rambut Tasya.
Dia sangat menyayangi adik satu-satunya ini. Meskipun keras kepala, Radit tetap menyayanginya. Karena Tasya prioritasnya untuk sekarang. Radit tidak suka jika Tasya sakit, makanya dia sebisa mungkin menjaga Tasya. Memastikan makanannya, jam tidurnya, istirahatnya, serta obat untuk Tasya.
Tiba-tiba pintu rumah pun berbunyi, Radit langsung menuju ke bawah untuk membukakan pintu.
"Viko? Ada apa?" tanya Radit saat membukakan pintu.
"Gua mau nganterin ini, punya Tasya," kata Viko sambil memberikan jaket.
"Oh iya, thanks ya."
"Tasyanya mana, Bang?" tanya Viko.
"Ngapa lu cari Tasya? Jangan-jangan lu suka ya sama adek gua," kata Radit menyelidik jahil.
"Kagak anjirr, siapa juga yang suka sama macan kelaparan," elak Viko.
"Terus kenapa lu repot-repot ke sini buat ngasihin jaket?"
"Ya karena gua yang liat dan gua yang tau kalau itu punya Tasya."
"Tau amat lu tentang adek gua," kata Radit setengah menggoda.
"Lah, kagak anjirr. Gua cuma mau ngasihin ini kok. Lu malah mikir yang macem-macem."
"Amasa?"
"Iya, Bang. Yaampun, percaya sama gua."
"Tapi kok lu nanyain Tasya?"
"Ya-ya, yakan itu punya Tasya."
"Amasaa?" tanya Radit lagi.
"Udah ah, gak bener gua ngomong sama lu. Gua balik ya, assalamualaikum," pamit Viko.
"Waalaikumsalam, gak bener ini orang. Datang gak ucap salam, baliknya ngucap," kata Radit sambil menggelengkan kepalanya.
...~ • ~...
Viko sampai di rumah, hanya sedikit rasa lelah yang dia rasakan. Tasya, sosok yang menghantui pikirannya sekarang. Beberapa hari bersama Tasya membuay dia mengenal sisi lain dari Tasya yang membuat dia kagum.
"Sebenernya kalau dia bersikap kaya kemarin terus, asik sih. Cuma ya sayang, sikapnya sama gua di sekolah lain lagi. Buas," gumam Viko.
Tiba-tiba, pintu kamar Viko terbuka. Rena menatap putra sulungnya yang sedang terdiam entah memikirkan apa. Rena pun menghampiri putranya.
"Bang, gimana campingnya? Tanya Rena seraya memasuki kamar anaknya itu.
"Baik."
"Yaudah Abang mandi, gih. Mamah udah siapin air hangat buat Abang mandi," kata Rena penuh perhatian.
"Makasih, Ma."
"Kenapa itu mukanya, kaya orang kebingungan aja."
"Abang bingung, Ma."
"Bingung kenapa?"
"Bingung sama cewek, sama pikiran juga."
"Abang suka sama ceweknya?"
"Enggak! Dia galak, mana mau. Abang punya cewek kaya gitu. Tiap hari kerjaannya razia terus dan abang jadi sasaran empuknya, marah-marah, ngomel mulu, Ma."
__ADS_1
"Dia anak OSIS?"
"Lebih tepatnya Ketua OSIS, Ma," kata Viko.
"Kapan dibawa ke sini?"
"Lah, itu bukan pacar Abang, Ma."
"Makanya jadiin pacar," goda Rena.
"Udah, Abang mau mandi."
Daripada berlama-lama dengan semua ini, Viko memilih untuk mandi dan menyegarkan pikirannya. Viko kalau di rumah memang dekat dengan mamanya, sehingga apapun yang dirasakan Viko, mamanya bisa tau.
...~ • ~...
Viko membantingkan tubuhnya di kasur, sebenarnya dia bingung mau apa dan kemana. Dia adalah salah satu anak kurang kerjaan jika berada di rumah, ditambah ini sudah malam hari. Dia bukan anak rumahan yang bisa tahan diam di rumah lebih lama.
Tiba-tiba notif ponsel Viko berbunyi.
Tertera nama Tasya Aurel di sana.
...Tasya Aurel...
Tasya Aurell : Vik, makasih ya udah bantuin panitia untuk 3 hari 2 malam ini. Makasih juga udah anterin jaket gue.
^^^Sama-sama, Tan.^^^
Tasya Aurel : Tan?
^^^Tante :v^^^
Tasya Aurel : heh sekata-kata lo ngomong. Baru aja gue bilang makasih.
^^^Apa hubungannya sama makasih?^^^
Tasya Aurel : ya gak ada sih, cuma lo bisa kan bersikap baik. -_-
^^^Suka-suka yang ngetik.^^^
^^^Dih apaan gua kodok.^^^
Tasya Aurel : cocok sama nama lo. Viko kodok.
^^^Dasar lu Syapi^^^
Tasya Aurel : ishhh, manada Syapi. Maksa amat ya lo.
^^^Lu juga maksa.^^^
Tasya Aurel : ya suka-suka gue, dong. Kan gue yang ngetik.
^^^Yaudah, berarti suka-suka gua juga. Kan gua yang ngetik.^^^
Tasya Aurel : Fix lo fans gue.
^^^Gua masih suka Raisa. Masa iya gua ngefans sama Syapi.^^^
Tasya Aurel : MTJL!
^^^MTJL apa?^^^
Tasya Aurel : MaTiJaLo
^^^AMS?^^^
^^^BDMT^^^
Tasya Aurel : hah itu paan?
^^^AhMaSa^^^
Tasya Aurel : BDMTnya apaan?
^^^BoDoAmat!^^^
__ADS_1
Tasya Aurel : NAJONG!
Viko terkekeh melihat balasan Tasya. Tapi dia berpikir sejenak, kenapa dia chatting dengan Tasya, ya?
^^^Udah, lu gak akan menang debat sama gua^^^
Tasya Aurel : heh, gak ada istilahnya gue kalah ya. Liat aja lo!
^^^Ngapain lu liatin gue? Naksir?^^^
Tasya Aurel : mending gue suka sama Mimi Peri daripada sama lo tau gak.
^^^Bener? Kalau gua besok bawain Mimi Peri lu mau ajak dia taken?^^^
Tasya Aurel : eh, emang lo kenal sama MiPer?
^^^Tetangga gua :v^^^
Tasya Aurel : Ogah!
^^^Makanya jangan sekata-kata lu. Lagian lu mudah amat diculik. :v^^^
Tasya Aurel : dasar cowok urakan nyebelin! Emot lo juga nyebelin!
^^^Awas lu nanti suka sama gua.^^^
Tasya Aurel : gak ya gak! Btw kenapa gue jadi chat sama lo.
^^^Anti banget lu sama gua.^^^
Tasya Aurel : makanya, jangan nyebelin!
^^^Emang gua nyebelin?^^^
Tasya Aurel : Banget!
^^^Lu juga nyebelin.^^^
Tasya Aurel : mana ada gue nyebelin.
^^^Ada!^^^
Tasya Aurel :Udah ah, gue off. Bay upil kuda!
^^^Bay ketombe beras. ^^^
Tasya Aurel : Najong.
Lagi-lagi Viko terkekeh melihat chat dari Tasya. Entahlah, Tasya sangat lucu menurutnya.
"Gua kok nyaman ya, apa gua suka sama dia?" gumamnya.
Viko menggaruk kepalanya frustrasi. Dia bingung dengan perasaannya sekarang.
"Masa gua suka sama orang kaya dia, gak mungkin!"
Lagi-lagi Viko kebingungan. Pasalnya orang yang sedang menghantui pikirannya adalah, orang yang selama ini paling dihindarinya. Tasya Aurel si cewek mirip mak lampir dan nyebelin.
...~ • ~...
Di sisi lain, Tasya juga bingung. Dia merasa nyaman bisa chat bersama Viko. Orang yang selama ini selalu membuatnya jengkel dan ingin memakinya jika bertemu.
"Gue suka sama Chandra dan bukan Viko," tegasnya.
"Tapi, kenapa gue deg-degan gini ya. Yaampun kenapa gue dilema kaya gini," gumamnya frustrasi.
"Terus masa iya gue suka sama Viko?" lagi-lagi dia berkicau.
"Pokonya gue gak boleh suka sama cowok urakan kaya dia! Mending Chandra ke mana-mana kali, Sya. Dia anak organisasi, walaupun dia keras kepala tapi kan dia juga kadang dewasa, satu frekuensi lagi sama lo yakan, Tasya?"
"Eh tapi, gantengan Viko. Eh, kok gue malah muji Viko, sih? Ihh kok gue aneh banget!" gumamnya lebih frustrasi.
Tasya melirik obat yang disediakan Radit. Sebenarnya dia sangat tidak suka meminumnya. Tapi karena penyakit magh dan daya tubuhnya yang kurang, terpaksa Tasya meminum obat itu.
Setelah itu, dia membereskan isi tas yang dia bawa tadi. Cucian baju menumpuk untuk besok.
__ADS_1
Jangan berpikir bahwa Tasya mencuci baju sendiri. Dia sangat pemalas dan mageran. Tentunya dia memilih membawanya ke laundry.