Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Curhat


__ADS_3


Mereka duduk di atas sebuah gedung menatap langit sore, sambil menunggu senja datang. Viko sangat senang berada di sini, jauh dari keramaian dan dia bisa menumpahkan semua keluh kesahnya di sini. Hal yang sering dia lakukan ketika sedang merasa tidak baik-baik saja. Itu sebabnya dia mengajak Tasya ke sini.


"Vik, gue mau tanya deh sama lo," ucap Tasya yang memulai pembicaraan.


"Tanya apaan?" Viko menatap Tasya bingung.


"Lo suka tawuran ya?" tanya Tasya.


"Kagak lah, denger ini baik-baik. Gua emang bad boy. Tapi se bad boy-bad boy nya gua, gua gak pernah tawuran. Gua cuma bolos, langar aturan, bantah guru, ngerokok, itu doang," jelas Viko santai.


"Ohhh." Tasya pun hanya ber-oh ria.


"Gua kalau dibandingin sama siswa sekolah lain ya pasti gua baling baik. Berhubung gua sekolah di SMA Veteran, gua yang paling bad di antara kalian," kata Viko.


Tasya terdiam sebenarnya dia hanya mencari topik untuk mengalihkan pikirannya yang sangat tidak karuan. Dia sulit mengendalikan emosinya meskipun dia tau kalau itu salah. Tak jarang Tasya menyesali beberapa prilakunya yang dirasa berlebihan.


"Btw, lu kenapa?" tanya Viko sambil menatap ke arah Tasya yang terlihat kosong.


Tasya terdiam, dia bingung, apakah dia harus bercerita atau tidak. Tapi Viko pasti paham dengan apa yang terjadi, dia harus meluruskan beberapanya saja.


"Gua tau, mungkin lu gak bisa terbuka sama gua. Cuma kalau lu cerita, mungkin gua bisa bantu saran," kata Viko.


"Gue bingung, harus cerita dari mana," ucap Tasya yang masih menatap lurus ke depan.


"Dari apa yang lu rasain," kata Viko.


"Gue gak ngerasain apa pun, Vik. Semuanya kaya mati rasa. Lebih baik, lo tanya apa yang pingin lo tau. Baru gue jawab pertanyaan lo," kata Tasya yang tak merubah posisinya.


"Oke gua boleh tanya sesuatu? Apa pun?" tanya Viko memastikan.


Tasya pun hanya menganggukan kepalanya.


"Nyokap lu di mana?" tanya Viko perlahan.


Tasya menarik napasnya pelan. Dia mencoba sebisa mungkin menjawab pertanyaan ini, pertanyaan yang selalu dia hindari.


"Gue juga gatau di mana Nyokap gue, Vik," jawab Tasya perlahan.


"Nyokap lu kabur atau udah .... " kaget Viko.


"Gak, dari kecil emang gue gak tau di mana dia, mukanya seperti apa, gue juga gak tau," ucap Tasya yang perlahan menundukan kepalanya.


"Maaf, gua gak maksud," kata Viko.

__ADS_1


"Gak apa. Gue udah biasa dari kecil ditanya kaya gitu. Cuma gue berani jawab sama orang yang gue percaya. Sekarang lo udah gue percayain, makanya gue jawab pertanyaan lo," kata Tasya.


"Nyokap lu kenapa bisa pergi?"


"Semuanya gara-gara Papah. Dia yang buat Mamah gue pergi. Dia nyakitin Mamah gue dan buat Mamah ninggalim gue," ucap Tasya penuh kebencian.


"Jadi, itu alasan lu bersikap kaya tadi sama Bokap lu?"


Tasya mengangguk pelan.


"Apa pun keadaannya, dia itu tetep Bokap lu, orang tua lu, Sya. Jadi lu harus hormatin dia," nasehat Viko.


"Gak tau, Vik. Setiap gue liat Bokap, gue gak bisa nahan emosi gue. Semuanya gue luapin, gue seakan gak bisa mikir lagi kedepannya bakalan kaya gimana. Meskipun lo nasehatin gue beberapa kali, semuanya gak akan berubah. Bang Radit aja udah nyerah buat nasehatin gue," kata Tasya.


"Gua gak akan nasehatin lu, kok. Gua tau, pasti lu sedih banget, 'kan?"


"Gue gak sedih, gue cuma pingin aja gitu kaya orang lain. Bisa curhat apa pun sama Mamahnya, bisa ngerasain pelukan Mamahnya, bisa ngerasain suapan dari tangan Mamahnya. Jujur, gue selalu iri sama Sherli, Sarah, dan Niken. Mereka jauh lebih beruntung dari gue. Ketika mereka pulang telat udah ditelfon dan dicariin Mamahnya, sedangkan gue?" satu tetes air mata, berhasil lolos dari kelopak mata indah Tasya.


"Lu kan masih ada Bang Radit," kata Viko.


"Beda, Vik. Lo mungkin mengenal orang yang ngelahirin lo. Gue gak kenal sama sekali. Gue bahkan gak tau, Mamah gue masih ada di dunia ini atau enggak."


"Gua emang gak pernah ngalamin apa yang lu alami. Tapi, gua ngerti perasaan lu. Kalau mau nangis ya nangis aja. Biasanya, cewek selalu lega kalau udah nangis," kata Viko.


Viko pun perlahan menuntun kepala Tasya untuk bersandar pada bahunya.


"Kalau lu butuh sandaran, gua bisa jadi sandaran lu sekarang," kata Viko.


Entah kenapa dia menjadi begitu care sekarang pada Tasya. Yang dia tau sekarang adalah, dia melakukan hal yang benar untuk menjadi sandaran Tasya.


Sudah beberapa menit Tasya meluapkan tangisannya di bahu Viko. Dia pun segera menjauh karena merasa tak enak telah menumpang pada bahu Viko.


"Ma-maaf, Vik," ucap Tasya.


"Santai aja. Mulai sekarang, kalau lu butuh gua, gua pasti ada kok," kata Viko spontan tanpa dia sadari.


"Makasih ya, Vik. Lo mau jadi temen gue?" tanya Tasya smabil mengulurkan jari kelingkingnya.


"Emang selama ini kita belum temenan? Setahun sama gua lu anggap gua apaan, njirr," kata Viko setengah bercanda.


"Ya kan lo rese, sekarang enggak, makanya gue ajak lo temenan, mau gak?" tawar Tasya sambil sedikit melontarkan tawanya.


"Mau deh. Mayan temenan sama Ketos," kata Viko sambil menautkan Jari kelingkingnya.


"Bukan berarti, lo bebas dari omelan gue ya, Vik," kata Tasya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Iya iya bu Ketos," kata Viko.


Tiba-tiba Tasya memegangi perutnya. Rasanya sakit, seperti ditusuk-tusuk.


"Lu kenapa, Sya," tanya Viko panik.


"Aww, kayaknya magh gue kambuh," jawab Tasya.


"Terus gua harus kaya gimana?" tanya Viko panik.


Tasya tak kuat menahan rasa sakitnya. Hingga akhirnya dia jatuh pingsan.


Viko yang bingung harus apa, lalu membawa Tasya ke rumah sakit.


...~ • ~...


"Tasya kenapa, Dok?" tanya Radit.


"Seperti yang saya bilang sebelumnya. Tasya harus menghindari stress. Jika dia terus dalam masa stress nya, kondisinya akan down. Tasya juga terlalu kecapek-an, sebaiknya dia di rawat untuk beberapa hari," kata Dokter.


"Baik terima kasih, Dok," kata Radit.


Dokter pun keluar dari kamar inap ini.


"Makasih ya, Vik. Lu udah bawa adik gua ke rumah sakit," kata Radit.


"Sama-sama, kebetulan aja tadi gua lagi sama dia," kata Viko.


"Tasya sering kaya gini?" tanya Viko lagi.


"Iya, dia anaknya bandel. Jadi langganan masuk sini," kata Radit tersenyum miris.


"Gua baru tau, soalnya selama di Sekolah. Kalau dia sakit, pasti kita taunya demam doang," kata Viko.


"Tasya gak mau bikin cemas, makanya dia bilang kaya gitu," kata Radit.


"Ohh gitu."


"Dia punya asma sama magh. Kalau dia stress pasti gak mau makan, ya terus drop badannya. Dari kecil, daya tahan tubuh Tasya emang lemah. Jadi harus dijaga baik-baik," tutur Radit.


"Tapi lu izinin dia ikutan organisasi, itu kan bikin capek, Bang," kata Viko.


"Biar dia bisa lupa sama masalahnya di rumah. Cuma ikutan itu yang bikin dia seneng, gua gak bisa larang," kata Radit.


"Gak nyangka gua, dibalik tangguhnya ketua osis. Ternyata dia sembunyiin ini," kata Viko.

__ADS_1


__ADS_2