
Al menghentikan mobilnya, dia beralih menatap Tasya yang masih berkutat dengan pikirannya. Tapi sebenarnya Al tau kalau yang Tasya butuhkan adalah ketenangan. Al menggenggam tangan Tasya dan mengelus punggung tangannya perlahan.
"Maaf ya, karena mood gue kita malah rusakin kebahagiaan hari ini," ucap Tasya.
"No problem, gua gak permasalahin itu. Gua malah bangga kalau cewek gua bisa hadapin masalahnya tanpa lari terlebih dahulu," ucap Al sambil tersenyum.
Sesaat Tasya ikut tersenyum ketika melihat senyuman Al yang menghangatkan hatinya. Entahlah, perasaaan yang tadinya campur aduk kini seakan berganti dengan rasa tenang.
"Al kok gue ngerasa puas waktu lo kasih undangan pertunangan kita ke Viko. Lo beneran marah ya di sana?" Tanya Tasya sambil terkekeh.
"Iyalah, main peluk-peluk cewek orang sembarangan, gak sopan," jawab Al sedikit kesal.
"Ketawa banget," kata Tasya sambil tertawa.
"Tapi gapapa, anggap aja perpisahan. Karena kalau lu udah jadi milik gua, gak akan ada yang bisa nyentuh seujung jari pun. Gak akan gua izinin," balas Al.
"Dih, gak boleh pelit!"
"Gua gak pelit, Sya. Gua akan berbagi apapun sama orang asalkan itu bukan Tasya Aurell," tegas Al.
"Posesif."
"Baru tau ya gua posesif?" Tanya Al sembari menarik hidung Tasya.
Tasya tertawa. "Gapapa sih gue suka diposesifin, itu artinya gue berharga buat lo. Iyakan?"
"Banget, yaudah ayok. Masih banyak persiapan yang harus kita kerjain. Ternyata tunangan itu ribetnya kaya nikah, tau gitu langsung nikah aja," ucap Al asal.
"Jangan ngaco, nanti kita gak bisa S.ked." Tasya memukul lengan Al pelan sambil tertawa.
"Bercanda. Yaudah ayok," ajak Al.
Mereka berdua pun turun dan memasuki rumah Tasya. Terlihat mereka sedang memeriksa beberapa persiapan untuk pertunangan Tasya. Ya memang mereka turut andil di sini, karena Tasya dan Al terlalu cuek, malah mereka yang antusias.
Tasya menghampiri Belva dan Monik, dia memeluknya erat. Semua rasa kekecewaannya pada Sherli, Sarah dan Niken seolah terobati karena dia masih memiliki mereka dalam hidupnya.
"Kenapa lo tiba-tiba meluk? Rada creepy," ucap Belva sembari melirik ke arah Tasya bingung.
__ADS_1
"Iya pasti ada maunya," timpal Monik.
"Engga, gue cuma beruntung aja punya kalian di hidup gue. Makasih yaa udah bantuin gue sama Al handle persiapan. Kalau gak ada kalian kita pasti keteteran. Love you love you," ucap Tasya menciumi kedua pipi gadis itu.
"Stress, lo apain ini anak sih, Al? Kepentok apa gimana?" Tanya Monik.
Al terkekeh, dia paham sih Tasya kenapa. Tapi lebih baik untuk tidak membicarakan ini kepada mereka dulu, karena mereka juga pasti sedang sibuk dan pusing memikirkan acara pertunangan Al dan Tasya. "Gak tau, biarin aja suka-sukanya."
"Sya minum obat yuk, gua khawatir lu kenapa kenapa," ucap Yoda.
"Dia emang agak-agak, biarin aja. Cape gua liat Tasya," timpal Angkasa.
"Oh lo mau gue ciumin juga kaya Belva sama Monik ya Baby Asa," goda Tasya.
"Jangan macem-macem, gua pegang gunting ya, Sya. Al urus cewek lu," kata Angkasa bergidik ngeri.
Tasya tertawa, mengganggu Angkasa sudah menjadi rutinitasnya. Pria yang awalnya dia pikir cool dan dingin ternyata adalah orang yang membuatnya tertawa. Meskipun mereka sering bertengkar, Angkasa adalah orang yang bisa dia andalkan setelah Al.
...~ • ~...
Tasya menatap ponselnya, ada beberapa panggilan dari Niken. Namun dia abaikan, dia tidak ingin bicara apa-apa. Mungkin dia akan memaafkan, tapi tidak untuk sekarang. Dia butuh waktu seharian untuk melupakan itu.
Tiba-tiba Monik membuka pintu kamar Tasya dan gadis itu langsung menoleh. "Apa, Mon? Mau tidur sama gue? Sini."
"Siapa?" Tanya Tasya.
"Gak tau, Al lagi beli nasgor jadi gue gak tau," jawab Monik.
Tasya pun langsung menghampiri Monik sambil memeluknya. "Ayok."
"Manja bener lo, udah mau tunangan masih menelin gue," cibir Monik.
"Loh biarin, kan lo sama Al beda. Lagian juga mau gue nikah atau apapun bakalan tetep sama. Soalnya gue sayang lo banyak-banyak," ucap Tasya.
"Kesambet, buruan itu temen lo nungguin!" Monik pun mendorong tubuh Tasya pelan agar berjalan
Tasya tertawa, mereka pun turun dari tangga. Tasya berjalan ke arah pintu dan mendapati Sarah sudah ada di sana. "Sarah."
Sarah berbalik lalu memeluk Tasya, Tasya terdiam. Tidak berniat lebih jauh atau membalas pelukannya. Sejujurnya dia merindukan Sarah tapi dia masih berkutat dengan pikirannya.
__ADS_1
"Gue kangen sama lo," ucap Sarah sembari melepas pelukan mereka.
"Kalau kangen kenapa lo gak bales imess gue?" Tanya Tasya to the point.
Sarah terdiam, ia mengajak Tasya duduk di kursi taman depan rumah Tasya. Tasya pun tidak memilih bertanya lagi, dia hanya menunggu jawaban dari Sarah.
"Gue sama Bagus jadian," ucap Sarah.
Tasya tidak menjawab, bukan itu yang dia tanyakan. Lalu untuk apa membalas ucapan Sarah.
"Lo pasti mikir kenapa tiba-tiba, kita milih lost contact sama lo?" Tanya Sarah.
"Oh jadi emang direncanain ya? Badut banget gue." Tasya terkekeh.
"Gue sama yang lainnya tau hubungan Viko sama Bella di saat dia masih sama lo."
"Bagus yang kasih tau gue," ucap Sarah lagi.
Sebuah pengakuan yang membuat Tasya merasa miris. Lalu mereka hanya diam begitu? Di sini yang sahabat mereka itu siapa?
"Kita gak ada wewenang buat kasih tau ke lo, Sya. Karena kita tau secinta apa lo sama Viko, begitu juga sebaliknya. Itu kenapa kita ngerasa gak bener bener pantes jadi temen lo."
"Udah? Gue udah maafin kalian. Kalau gak ada lagi gue mau masuk," ucap Tasya sembari beranjak dari tempatnya.
"Viko butuh lo," ucap Sarah dengan cepat.
Tasya menatap Sarah dengan lekat. "Lo kesini mau minta gue buat Viko doang? Emang salah ya berharap sama kalian. Gue ini temen kalian loh?"
"Viko kena serangan paranoid, dia bisa melukai siapa aja bahkan dirinya sendiri. Sesayang itu dia sama lo, gue gak bela Viko tapi kalau dia ada di saat lo butuh dia waktu itu, kenapa lo gak bisa sebaliknya setelah tau ini?"
"Lo mikir gak sih sebelum bilang ini sama gue, Sar? Dia selingkuhin gue, dia tidur sama cewek lain, dia udah nikah sama cewek lain! Lo gak pantes bilang gitu sama gue!" Tanpa sadar Tasya meninggikan suaranya.
"Tapi dia terpaksa, dia cintanya sama lo. Jadi gue harap lo gak lanjutin ini sama Al. Gue tau lo sama Viko masih saling sayang. Sya, lo gak tau kondisi Viko gimana."
"Gue, sayang sama Al. Bahkan lebih dari perasaan gue sama Viko. Gue kira lo tau banyak soal gue, gue kira kalian semua ngerti sama perasaan gue. Kalau lo bilang kalian ngerasa gak pantes buat jadi temen gue, gue katakan sekarang. Kalian emang gak pantes!"
Sarah mematung dengan ucapan Tasya. Dia merasa mengenali perasaan Tasya, namun yang Tasya ucapkan malah berbanding terbalik terbalik dengan ekspetasinya.
Al juga memperlambat langkahnya, dia mendengar kalimat terakhir yang Tasya ucapkan. Dia hanya tidak ingin ikut campur saja.
__ADS_1
"Gue gak marah meskipun lo bilang kaya gitu, gue masih berharap kalian datang. Tapi kalau gak juga gapapa. Udah malem, ada baiknya lo pulang." Tasya menghampiri Al dan langsung menggandengnya masuk ke rumah.
Dia tidak mau memperpanjang masalah, Tasya yang sekarang bukan Tasya yang lemah dan mudah goyah. Dia akan melakukan apa yang dia ingin lakukan tanpa campur tangan orang lain.