
Sherli tiba di rumah Tasya, terlihat Viko yang kebingungan sambil mengipas-ngipas bukunya pada wajah Tasya. Sudah hampir setengah jam namun Tasya tidak bangun. Viko tadinya panik dan berniat membawa Tasya ke rumah sakit, namun untung Sherli datang.
"Vik, gimana?" tanya Sherli panik dan langsung menghampiri Tasya sembari mengelus rambutnya.
"Gua gak tau caranya bangunin pingsan anjir."
"Kenapa gak nanya di telfon tadi!"
"Kan gua panik ah elah." Viko mengacak rambutnya frustrasi.
Sherli pun mengambil kayu putih dari tasnya, mencoba mendekatkannya pada hidung Tasya. Berharap kalau caranya ini ampuh.
"Gak bangun," celetuk Viko.
"Belum elah sabar, lagian kenapa Tasya bisa pingsan gini deh?"
"Bang Radit pergi dari rumah."
"Pergi kemana? Ke Alfamart kali, kok bisa dia pingsan?"
"Engga bego, dia minggat dari rumah. Jadi Tasya histeris."
"Bang Radit kenapa anjir, Tasya pasti down banget kalau kaya gini." Sherli terus mengoleskan minyak kayu putih ke dekat hidung Tasya.
Tasya mengerjapkan matanya berkali-kali, dia merasa mencium aroma kayu putih di dekat hidungnya. Terlihat ada Sherli dan Viko yang menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Gue mimpi kan? Bang Radit mana? Dia gak ninggalin gue kan?" Tasya langsung memastikan kejadian apa yang dia alami.
Sherli memeluk Tasya dengan erat, mengelus lengan Tasya berkali-kali agar membuatnya tenang.
"Jangan dipikirin dulu, Sya. Gue janji bakalan bawa bang Radit pulang. Lo tenang dulu, kalau lo sakit nanti gimana kita mau pikirin jalan keluarnya?"
Tasya terpaku, dia bahkan rasanya tidak bisa menangis saat ini. Seperti mati rasa, terlalu banyak yang dia rasakan saat ini, sampai dia tidak tau mana yang dia rasakan.
"Syaa, heyy jangan ngelamun," ucap Viko sembari mengelus pipi Tasya perlahan.
Tiba-tiba seseorang memasuki rumah Tasya, membawa kopernya dan langsung memeluk Tasya.
"Tasya cantikk, maaf ya Tante baru datang hari ini. Tiket baru ada hari ini dari Singapore, are you okay?"
Amara, dia adalah tante Tasya yang sekarang tinggal di Singapore untuk mengurus bisnisnya. Adik dari Jonathan— ayahnya Tasya.
"Tante Amara." Tasya membalas pelukan Tantenya dengan erat. Seseorang yang sangat dia rindukan dan sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Iya sayang Tante di sini, Radit yang suruh Tante buat jaga kamu," ucap Amara.
"Tapi kenapa? Abang benci banget kah sama Tasya?" Tasya menatap Amara dengan tatapan yang membuat Amara terhenyuk.
"Biarkan abang kamu ambil waktu ya sayang. Tante yakin nanti Radit gak akan marah lagi sama Tasya. Sama seperti kamu, Radit juga sedang belajar menerima keadaan. Kau kasih dia ruang dulu ya. Dia pasti pulang, gak mungkin dong ninggalin adik kesayangannya ini."
Tasya terdiam, mencoba mencerna kata-kata Amara. Seketika dia terkekeh, lalu tersenyum. Tidak tau kenapa, dia tidak bisa mengekspresikan dirinya sendiri.
"Heemm oke, oh iya gue gak apa-apa. Makasih kalian udah ada buat gue, Tasya menepuk pundak Viko dan Sherli. Gue kayanya butuh istirahat." Tasya berdiri dan mengambil tas sekolahnya.
"Gue ke kamar dulu ya, kalian bicara aja sama Tante. Tan, Tasya ke kamar ya," lanjutnya sambil terus mengembangkan senyumnya.
Tasya pun langsung berjalan ke menaiki tangga. Mereka merasa aneh melihat perilaku Tasya. Apalagi Viko yang kini menatap Tasya dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Viko, kenapa perasaan gue gak enak ya?" Bisik Sherli pada Viko.
"Gua juga, gua takut Tasya kenapa-kenapa."
"Gapapa, biar Tante yang jagain. Kalian ini siapa ya?"
"Oh saya Viko, Tan. Temen sekelasnya Tasya," ucap Viko sambil bersalaman.
"Aku Sherli, sahabatnya Tasya. Tante makasih ya udah datang kesini. Jadi Sherli tenang kalau ada yang jagain Tasya."
"Iya, lagian Tante juga punya tanggung jawab untuk Tasya. Nanti kalau Tante butuh apa-apa boleh hubungin kalian?" tanya Amara.
"Oh boleh Tante dengan senang hati." Viko langsung memberikan nomor teleponnya pada Amara, begitu juga dengan Sherli.
"Nanti kabarin aja Tante. Kita 24/7 ada buat Tasya kok," ucap Sherli ambil tersenyum.
"Yaudah kita izin pulang dulu ya, Tan. Udah sore," ucap Viko kembali bersalaman dengan Amara.
"Iya Tante, Sherli juga pamit ya," ucap Sherli yang bersalaman juga.
"Iya hati-hati kalian."
"Iya Tante, assalamualaikum," ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam."
...~ • ~...
Setelah selesai makan malam, Tasya tadi langsung tertidur. Mungkin jam setengah 9 malam. Sekarang dia terbangun dan waktu menunjukan hampir tengah malam. Tasya melihat ke sekitar kamarnya, dia mungkin harus menyelesaikan catatan susulan nya, karena belum beres semuanya.
Akhirnya Tasya beranjak dari kasurnya. Tapi dia tampak bingung, kepalanya juga masih terasa pusing. Seketika dia berjalan ke arah cermin, matanya terasa berat sekali.
Hey
Tasya mendengar seseorang memanggilnya.
"S-siapa?"
Tasya berjalan mundur dan mencoba mencari sumber suara.
Kamu Tasya kan? Anak paling pintar di sekolah?
Kamu juga cantik deh.
Percuma pinter dan cantik, dia pembunuh!
Tasya semakin ketakutan, jantungnya berdebar kencang. Dia mencoba menutup telinganya, tapi tak bisa. Justru suara itu semakin terdengar dengan jelas.
"Berhenti!! Kalian berisik!" Tasya mencoba menghalau suara suara itu.
Semua ini gara-gara kamu Tasya!
Iya, kamu yang udah buat papamu meninggal!
Bukan, Sya. Udah dibilangin itu takdir!
Hahaha takdir apa? Kalau dia gak keras kepala gak akan terjadi kaya gini lah!
INI SEMUA SALAH KAMU!
__ADS_1
KAMU GAK PANTES HIDUP!
"AAAA BERHENTI! DIEM KALIAN SEMUA!" Tasya menutup telinganya sambil bersandar di samping kasurnya.
"Gue mohon berhenti!" Tasya menangis, suara-suara itu sungguh mengganggunya. Suara-suara itu terus terdengar dan membuat kepalanya ingin pecah.
Diam? Kenapa? Kamu gak mau disalahkan!
Dasar anak gak tau diri!
Mending mati aja sih!
Ahahaha liat dia ketakutan!
MATI! MATI! MATI!
Suara itu seakan semakin banyak, dia mengambil vas bunga di atas meja kecilnya dan melemparkannya sembarang arah.
"CUKUP!" Napasnya terengah-engah, Tasya merasakan takut yang amat besar.
Amara yang langsung menuju kamar Tasya kaget melihat Tasya yang sudah berantakan, kaki dan tangannya terdapat beberapa bercak darah akibat pecahan vas.
"TASYA!" Amara langsung menghampiri Tasya dengan perlahan, mencoba membantu keponakannya itu bangkit dan duduk di kasur.
Amara memeluk Tasya erat, berusaha menenangkannya. Tasya seperti dilanda ketakutan yang sangat hebat dan Amara bingung sekali harus berbuat apa.
"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa bisa begini?" Amara mencoba mengambil P3K di meja, perlahan Amara mengobati beberapa luka pada tubuh Tasya.
Tidak ada jawaban dari Tasya.
Amara mengambil kapas dan alkohol, lalu membersihkan darah yang keluar dari luka Tasya. Tidak ada protes dari Tasya, dia hanya menatap kosong ke depan
"Sya, lain kalo hati-hati yaa. Untung lukanya gak besar, jadi kamu gak kenapa-kenapa."
Tasya hanya terdiam. Suara-suara itu membuatnya ingin membenturkan kepalanya berkali-kali. Membuatnya hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong.
"Sya? Jawab Tante dong, Tante khawatir." Amara mulai menatap mata Tasya.
"Tasya gapapa kok, Tan. Mereka berisik jadi aku kebangun." Tasya tersenyum kepada.
"Mereka?" tanya Amara perlahan.
Tasya hanya mengangguk. Amara pun mencoba memahami maksud Tasya, mungkin keponakannya ini sedang banyak pikiran sehingga berhalusinasi.
"Yaudah Tasya besok jangan sekolah dulu ya?"
"Tapi kenapa? Besok ada acara kumpul OSIS."
"Gapapa, nurut sama Tante ya. Kan bisa diwakilin yang lain dulu buat kumpul. Nanti biar Tante yang kasih surat izinnya."
Amara pun menidurkan Tasya, mengelus rambut Tasya perlahan agar bisa tidur dengan nyenyak.
"Tasya tidur ya sekarang, biar Tante siapin rambutnya," ucap Amara sambil menaikan selimut Tasya.
"Iya Tante, makasih ya." Tasya pun mulai memejamkan matanya perlahan, mencoba tidur dan melupakan apa yang dia rasakan.
Amara menatap Tasya dengan sendu, dia semakin membenci Lidya. Dia merasa semua penyebab kejadian ini adalah Lidya, iya mantan kakak iparnya yang belasan tahun lalu pergi meninggalkan kakak dan keponakannya demi lelaki kaya imipiannya.
"Sya, seharusnya Tante bilang dari awal kalau mama kamu itu bukan orang baik. Kalau aja Tante bicarakan ini dari awal, kamu gak akan seperti ini." Air mata Amara pun lolos, melihat Tasya seperti ini dia merasa bersalah. Dia hanya bisa berharap kalau Tasya akan baik-baik saja kedepannya. Semoga.
__ADS_1