Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Kebejatan Viko


__ADS_3


Setelah acara selesai, Tasya mengganti pakaiannya menjadi lebih santai. Setelah itu dia berjalan di lorong untuk ke tempat make up Al. Sepertinya Al masih di sana.


Tasya melirik ponselnya, masih belum ada balasan dari Al. Namun tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dengan sapu tangan dan semuanya menjadi gelap.


30 menit berlalu, Tasya mengerjapkan matanya. Dia melihat ke sekeliling ternyata ada di sebuah kamar hotel. Tasya pun mengubah posisinya menjadi duduk, kepalanya pusing sekali. Sesekali dia mengedarkan pandangan dan sekarang mendapati Viko yang berjalan ke arahnya.


"Kamu udah bangun?" Tanya Viko sambil tersenyum lembut ke arah Tasya.


Tasya menjauh saat Viko duduk di tepi ranjang. "Kamu ngapain bawa aku ke sini?!"


"Hey, kenapa suara kamu kaya gitu? Aku cuma ingin sama kamu, Tasya." Viko mencoba menggenggam tangan Tasya namun Tasya menepisnya.


"Kamu jangan gila, pergi!" Tasya turun dari ranjang dan mencoba untuk lari dari sana. Namun Viko menahannya, Viko menyudutkannya di tembok dan mengunci pergerakan gadis itu.


"Kenapa kamu mau lari dari aku? KENAPA? Aku gak akan nyakitin kamu, Sya. Aku cuma mau sama kamu," ucap Viko melemah.


Jantung Tasya berdebar, pria itu benar-benar nekad melakukan ini padanya. "Aku gak mau sama kamu! Aku mau pulang sama Al! Lepasin!" Tasya mencoba memberontak.


Viko mengangkat dagu Tasya dan menatap matanya tajam. "JANGAN SEBUT NAMA DIA AKU GAK SUKA, KAMU MILIK AKU!"


"AKU SAMA KAMU UDAH GAK ADA HUBUNGAN VIKO DAN SEKARANG AKU SAYANG SAMA AL, AKU UDAH BAHAGIA SAMA DIA. AKU SAMA DIA BAKALAN MENIKAH! JANGAN GILA!" Balas Tasya membentak. Dia ketakutan sekarang, dia takut Viko akan semakin nekad.


"Kamu cinta sama dia? Apa udah gak ada lagi perasaan kamu buat aku, Sya?" Tanya Viko.


Tasya menangis, bukan karena dia mencintai pria itu. Dia takut sekarang, dia membutuhkan Al. "Sebelum kamu tanya kaya gitu kamu mikir! Kamu selingkuhin aku, kamu bohongin aku selama ini, kamu tidur sama wanita itu lalu menikah dan terakhir apa? Kamu rebut semua perhatian temen-temen aku?! Apa itu gak cukup buat kamu? ATAS SEMUA YANG AKU ALAMI SELAMA SAMA KAMU, APA ITU GAK CUKUP BUAT KAMU HAH? KA-"


"CUKUP TASYA CUKUP!" Viko geram, dia menarik lengan Tasya dan mendorong gadis itu ke ranjang. Perlahan dia mengukung gadis itu di bawahnya. Tangis Tasya semakin kencang, dia takutt. Apa yang akan Viko lakukan padanya?


"Al tolong aku, aku takut. Aku butuh kamu sekarang tolong aku," batinnya.


...~ • ~...


Al kini sama seperti Tasya. Dia juga mencari keberadaan gadis itu. Dia memasuki ruang make up namun tidak menemui Tasya di sana. Al juga mencoba menghubungi Tasya tapi tidak dijawab.


Perlahan Al berjalan menelusuri lorong, dia menemukan ponsel Tasya tergeletak begitu saja di sana. Perasaannya mulai tidak enak. Akhirnya dia menghubungi yang lainnya dan menghampiri mereka yang masih sibuk di balroom.


"Tasya mana?" Tanya Al saat sampai di sana.

__ADS_1


"Dia kan masih di ruang make up? Kenapa sih kok panik?" Tanya Monik panik.


"Gak ada, gua nemu ponselnya jatuh gitu aja di lorong." Al mulai panik.


"Kita mencar, tetep stay komunikasi. Paling dia gak jauh, coba yang cewek ke toilet," perintah Yoda.


Semua pun mengikuti arahan Yoda. Mereka berpencar keliling hotel untuk mencari keberadaan Tasya. Al tidak mau nething, tapi saat Tasya dalam bahaya dia selalu merasakan perasaan yang tidak enak. Semoga gadis itu baik-baik saja.


Sudah hampir setengah jam, mereka belum menemukan Tasya. Al langsung bergegas ke ruang CCTV dan mencari keberadaan Tasya dari sana. Tidak lupa juga dia menghubungi Angkasa dan Yoda agar menyusulnya.


Sesampainya di ruangan itu Al langsung meminta petugas mengecek tempat terakhir di mana ponsel Tasya ditemukan. Tangannya mengepal saat melihat Viko yang membekap mulut Tasya dan membawanya entah kemana.


"Anjing, Viko bawa Tasya kemana?!" Geram Al.


Angkasa melihat ke arah monitor. "Ini sekitar 30 menit yang lalu. Coba ikutin dari CCTV yang lain, Pak."


Angkasa dan Yoda memperhatikan dengan seksama, begitu juga dengan Al. Ternyata Viko membawa Tasya ke salah satu kamar yang berada di lantai 5.


"Kita ke sana sekarang!" Al dikuasain emosi, kalau sampai terjadi sesuatu pada Tasya, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.


Mereka bertiga dengan cepat menuju lift, mereka pun ternyata bertemu degan Monik, Belva, Arka dan Niken. "Tasya udah ketemu?" Tanya Monik panik.


"Anjing!" Umpat Arka.


Dengan cepat mereka memasuki lift dan menekan tombol lantai 5. Al cemas, dia takut sekali rasanya. Seharusnya tadi dia tidak membiarkan Tasya sendiri. Ah Al bodoh sekali, pikirnya.


Di sisi lain Tasya berusaha melepaskan diri dari Viko, namun Viko mengunci pergerakan tangannya. "Tolong jangan macem-macem, Vik. Lepasin akuuu." Kini Tasya melembut, dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kalau kamu gak bisa balik sama aku dengan cara baik-baik, biar aku jadiin kamu milik aku secara paksa!" Mata Viko tertuju pada leher jenjang Tasya dan perlahan menciumi leher Tasya dengan agresif.


Tangis Tasya semakin pecah, apa dia akan kehilangan harga dirinya malam ini juga? Tidak, dia tidak mau semua mimpinya hancur. Tasya meronta dan berteriak namun Viko membekap mulut Tasya dengan satu tangannya.


Kaki Tasya pun tidak tinggal diam, namun kedua lutut Viko berhasil mengunci pergerakannya. Perlahan Viko menjauhkan wajahnya dari leher Tasya dan membuka satu persatu kancing bajunya.


Tasya merasa ada celah dan mencoba untuk bangkit, namun Viko mencekik leher Tasya dan kembali mendorongnya pelan agar Tasya tidak bisa kemana-mana. Tasya menggeleng. "Jangan, Vik. Jangan lakuin itu sama aku. VIKOO!"


"KAMU YANG MAKSA AKU KAYA GINI, SYA. KAMU HARUS JADI MILIK AKU SEKARANG JUGA!" Bentak Viko.


Tasya menciut jika sudah seperti ini. Dia terus melafalkan doa dalam hatinya dan masih berharap kalau Al akan datang menemuinya. Setelah berhasil membuka kemejanya, Viko langsung menarik cardigan yang Tasya kenakan dan hanya menyisakan tank top hitam di sana.

__ADS_1


Tasya semakin berontak, inilah caranya untuk mempertahankan kehormatannya. Dia harus bisa meskipun harus sampai terluka atau dia akan menyesalinya seumur hidup. Namun sia-sia, tenaga Viko lebih kuat darinya.


Kesusahan karena Tasya meronta, akhirnya Viko merobek bagian samping baju yang tersisa dari tubuh Tasya.


"ALLLL TOLONG!" Tasya berteriak dan histeris, namun lagi-lagi Viko membungkam mulut Tasya dengan tangannya.


Saat sedikit lagi baju itu terlepas tiba-tiba.


BRUKKK ....


Pintu kamar berhasil didobrak oleh Al dan Arka. Al sangat geram melihat apa yang sedang dilakukan oleh Viko pada Tasya. Al berlari dan langsung menarik tubuh Viko menjauh dari Tasya.


Al mendorong dan melayangkan pukulan pada perut pria itu. Bughh ... Bugh ... Bugh. "ANJING, SEKALI LAGI LU SENTUH TUNANGAN GUA, HABIS LU DI TANGAN GUA!"


Tidak ada ampun bagi Viko, bahkan keduanya kini beradu pukul satu sama lain. Monik dengan berani masuk dan membantu Tasya yang masih di sana sambil menangis. Bajunya sudah tidak beraturan, entah apa yang akan terjadi padanya jika Al terlambat datang.


Monik melepaskan jaketnya dan memakaikan pada Tasya. "Jangan takut, sekarang lo aman. " Monik membawa Tasya keluar dari kamar itu dan setelahnya Tasya tidak lepas memeluk Monik dengan erat.


"Dia mau hancurin gue," ucap Tasya parau.


"Emang anjing ya si Viko." Belva ikut memeluk Tasya bersama Niken dan mengelus punggung gadis itu.


"Tapi Viko belum sempet ngapa-ngapain lo, kan?" Tanya Niken.


Tasya mengangguk, kini pandangannya pada Viko semakin berubah. Pria itu begitu menjijikan. Dia benci sekali pada Viko.


Bugh ...


Satu pukulan terakhir berhasil melumpuhkan Viko. Jangan salahkan Al kalau Viko babak belur untuk kedua kali di tangannya.


"Cara main lu murahan! Urus," ucap Al pada Angkasa, Yoda dan Arka.


Arka melayangkan pukulan pada Viko. Kali ini pukulan yang sangat menyakitkan karena datang dari seseorang yang Viko anggap sahabat. "Gua gak nyangka lu bisa sejauh ini, anjing!"


Al membiarkan mereka mengurus bajingan itu sementara dia menghampiri Tasya dan menariknya lembut dari pelukan Monik. Al memeluk Tasya erat. "Maafin aku, maafin aku tadi gak jagain kamu."


Tasya mengeratkan pelukannya pada Al. Dia benar-benar merasa kalau Al adalah malaikat pelindungnya. Al datang di saat dia memanggil namanya. "Aku mau pulang." Ucap Tasya dengan tangis yang masih tersenggal-senggal.


Al mengangguk, dia pun menggendong Tasya ala brydal dan membiarkan Tasya memeluk lehernya dan membenamkan wajah di dada Al. Al tau gadis itu masih perlu menangis. Jadi dia menggendongnya.

__ADS_1


__ADS_2