
Karena khawatir, Sherli, Sarah dan Niken memutuskan untuk ke rumah Tasya malam ini. Mereka sengaja menginap agar bisa tau apa yang terjadi pada Tasya. Pasalnya mereka tidak bisa menunda sampai besok, takut-takut terjadi hal yang tidak-tidak pada sahabatnya itu.
Setelah pulang sekolah Tasya tidak bicara dengan Radit maupun Al, apalagi mengangkat panggilan dari Viko. Dia lebih memilih untuk mengurung diri di kamar. Seperti saat ini, mereka semua berkumpul di kamar Tasya dan memperhatikan Tasya dengan wajah kusutnya.
"Lo berantem sama Viko?" Tanya Niken memberanikan diri karena lelah sama-sama berdiam diri.
"Sebelum gue cerita ada yang pingin gue bilang dulu sama kalian, tadinya gue mau bilang di sekolah tapi mood gue keburu habis," ucap Tasya pelan.
Tasya harus bicarakan ini kepada teman-temannya, dia tidak mau kalau mereka sampai tau dari orang lain atau terlaku lama menutupi hal ini. Karena dia tau rasanya tidak enak jika seseorang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Apa?" Tanya Sherli yang penasaran.
"Lulus sekolah kayanya gue bakalan pindah ke Surabaya," cicitnya.
"HAHH, KENAPA?" Teriak mereka berbarengan.
"Jadi kemarin Al kasih tau gue kalau sebenernya bokap gue udah siapin rumah dan perusahaan di sana. Bang Radit dikasih tanggung jawab di sana. Jadi mau gak mau harus pindah ke sana. Entah gue keterima PTN atau engga," jelasnya dengan Ragu.
"Yahh terus kita bakalan jauh dong," kata Sarah dengan nada kecewa.
"Ya mau gimana lagi, gue ngerasa belum bisa bahagiain bokap gue. Ini jalan satu-satunya gak sih bikin bokap gue seneng?" Tanya Tasya.
Sherli memeluk Tasya, dia tidak bisa membayangkan harus jauh dari sahabatnya ini. "Kan kita janji mau satu kampus, ya maksud gue minimal kita masih bisa ketemu, kan?"
"Gamaauu, jangan pindah dong. Kita kan harus bareng-bareng terus sampe tua," kata Niken yang kini sudah menangis.
"Aaaaaaaaa gue jadi ikut nangis." Sarah memeluk Tasya juga. Mereka terlalu sensitif jika membahas tentang perpisahan dan masa depan karena mereka beberapa tahun ini menghabiskan waktu bersama.
"Jangan pada nangis dong, gue jadi makin gak mau ninggalin kalian," ucap Tasya yang ikut menangis.
"Jangan ke Surabaya ya, Sya. Kita sama-sama di sini. Kita bakalan tetep bareng-bareng," pinta Sherli.
Tasya tidak bisa berkata-kata, bahkan mereka kini sama-sama menangis. Mereka tetap pada posisinya mungkin sekitar 30 menit. Mereka memikirkan hal-hal yang akan mungkin terjadi di masa depan. membayangkan mereka akan menjadi orang asing saja sudah bergidik ngeri.
__ADS_1
Sarah melepaskan pelukannya pelan, sejenak dia menghela napasnya. "Tapi setelah gue pikir-pikir kita bakalan ada masanya kaya gini gak sih?"
"Gimana?" Tanya Niken seraya menyeka air matanya.
"Kita aja sekarang punya jurusan impian yang berbeda-beda. Semisalnya kita satu kampus pun kita beda jadwal. Kaya kita pasti punya kesibukan masing-masing. Walaupun sama jurusan tapi bisa juga beda kelas. Kaya gini tuh udah pasti bakalan terjadi," kata Sarah.
"Ya bener sih gue sempet mikirin itu juga. Karena ada masanya kita emang harus berjuang sendirian buat gapai impian kita masing-masing," timpal Sherli.
"Bener, tapi kalau satu kota maksud gue kan kita masih bisa kumpul," ucap Niken sambil tertunduk.
"Iyaa gue paham. Itu kenapa gue berat banget ninggalin kalian. Gak mudah buat dapetin temen sekarang apalagi sahabat. Tapi gue masih ada waktu buat berpikir," kata Tasya.
"Menurut gue lo ambil aja kesempatan yang ada. Bukan cuma tentang lo, ini juga tentang bang Radit. Gue sedih harus pisah sama lo, tapi gak mungkin juga menghalangi cita-cita lo. Nanti ketika kita udah sama-sama sukses, kita bisa kumpul lagi." Sarah tersenyum ke arah Tasya.
"Emmm bener sih, kita juga harus mikirin masa depan dan karir kita kedepannya. Selagi kita gak putus komunikasi kita bakalan terus sama-sama," ucap Sherli.
"Tapi gue sedihhhhh," rengek Niken.
"Yaudah-yaudah jangan dulu dibahas. Entah gimana nanti keputusannya, kita bakalan selalu baik-baik aja. Bakalan sering komunikasi dan gue akan sesekali pulang ke Bandung buat ketemuan sama kalian," ucap Tasya.
"Gue juga sayang sama kalian, cup cup cup kasian jadi pada nangis." Tasya mengelus-elus punggung sahabatnya itu.
"Ya lo tau kan kalau masalah ginian tuh pasti sensitif," kata Sherli.
"Namanya juga perpisahan pasti bakalan sedih tapi percaya kalau persahabatan kita itu lebih kuat dari jarak," ucap Sarah meyakinkan.
"Benerr!!" Udah pasti kaya gitu," timpal Niken.
"Eh tapi jadi lo marahan sama Viko gara-gara lo mau pindah ke Surabaya?" Tanya Sherli.
Tasya menggelengkan kepalanya. "Bukan, tapi karena gue kesel sama dia. Lo tau gak? Gue apa-apa selalu bilang sama dia, tapi dia buat keputusan penting aja gak bilang sama gue."
"Hah, emang dia ngambil keputusan apa sampai lo kesel gitu?" Tanya Niken.
"Dia mau kuliah di Amerika. Udah daftar juga, ya maksudnya tuh gue nih penting gak sih buat dia? Gue pasti suport dia tapi kenapa dia nutupin dari gue bahkan dia nutupin dari awal pacaran?"
__ADS_1
"Gue paham sih, dia pasti ga mau bikin lo kepikiran. Tapi kalau dia nutupin selama itu juga gak bagus, apalagi kalian punya komitmen," gumam Sarah.
"Bener banget, lagian kenapa dia main daftar-daftar aja, padahal lo mau pindah pun bilang dulu sama dia," timpal Niken.
"Gue gak masalah dia mau daftar atau gimana, cuma gue tuh gak suka aja kalau dia nutup-nutupin sesuatu," kesal Tasya.
"Yaudah kalau lo mau marah ya marah aja, tapi inget jangan berlarut larut. Ibaratnya lo sama dia masih punya waktu buat quality time sebelum kalian menata hidup masing-masing. Entah kalian putus atau LDR. Jadi pergunakan sebaik mungkin," nasehat Sherli.
"Lo bener sih, tapi gue belum bisa bicara sama dia. Gue masih kesel banget," ucap Tasya.
"Yaudah gapapa, itu kan bentuk luapan emosi. Jangan ditahan-tahan, gak akan baik. Yang terpenting sambil lo marah, lo pikirin ke depannya kalian mau kaya gimana, biar pas baikan bisa di diskusiin sama-sama."
Tasya pun mengangguk dan memeluk teman-temannya itu. Dia semakin berat harus meninggalkan mereka. Siapa lagi yang bisa diajak cerita selain mereka. Memang Al adalah tempat berbagi apapun, tapi ada hal yang terkadang tidak bisa Tasya ceritakan pada Al, namun bisa diceritakan kepada teman-temannya ini.
...~ • ~...
Pagi ini Tasya mengajak ketiga temannya pergi lebih awal, dia tidak membalas pesan Viko dari kemarin. Dan takut kalau Viko menjemputnya ke rumah. Saat sedang asik berbincang dengan ketiga sahabatnya, Viko tiba-tiba masuk ke kelas bersama ketiga sahabatnya.
Tasya tak menghiraukan kedatangan pria itu, meskipun wajah Tasya terlihat biasa saja, tapi Viko tau kalau Tasya masih marah padanya. Viko jadi sedikit serba salah saat ini. Jika dia aja bicara takut kalau Tasya marah dan jika tidak makan akan semakin marah.
Dengan memberanikan diri, Viko pun menghampiri Tasya. "Masih marah ya?"
Tasya melirik Viko sebentar, dia sedang tidak ingin bicara. Jadi dia kembali mengalihkan pandangannya pada buku yang sedang dia pegang.
Sherli, Sarah dan Niken pun merasa awkward berada diantara peperangan kedua sejoli ini. Akhirnya mereka memfokuskan diri pada ponsel masing-masing.
"Yaudah marah dulu aja, nanti kalau udah gak marah kita bicara ya," ucap Viki sambil mengusap puncak kepal Tasya lembut. Ternyata diabaikan Tasya membuatnya galau setengah mati dan akhirnya memutuskan untuk bolos kelas dan naik ke rooftop.
Tasya menghela napasnya, dia tidak bisa bicara dengan Viko dalam keadaan yang masih ingin marah seperti ini. Jadi dia tidak mengejar atau menemui Viko sampai bisa mengendalikan dirinya sendiri.
"Yah galau tuh dia, Sya," celetuk Arka.
Sherli menatap tajam ke arah Arka seolah berkata, "Diam atau akan kubunuh!"
Arka pun bergidik ngeri melihat tatapan Sherli, akhirnya dia memilih mengajak kedua temannya untuk menyusul Viko ke rooftop. Lebih asik membolos kelas saat pelajaran PKN. Daripada tertidur di kelas karena pasal-pasal, lebih baik tertidur di atap sekolah.
__ADS_1