Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Kesempatan?


__ADS_3


Tasya terbangun dari tidurnya, rupanya semalaman dia tertidur di pelukan Radit. Tubuhnya sangat lemas karena semalaman menangis. Tidak hanya itu, sepertinya dia demam hari ini.


"Abaang," panggil Tasya dengan suara paraunya.


Radit mengerjapkan matanya dan langsung memeriksa keadaan adiknya. "Kenapa? Sakit ya? Lu demam loh. Bentar biar gua panggilin dokter."


Radit mencari meraba sisi sampingnya untuk mencari ponsel, namun Tasya menahannya dan menggeleng. "Gapapa cuma demam biasa, gue ada bye bye fever," ucap Tasya sambil tersenyum tipis.


"Beneran gapapa? Panggilin aja ya, Abang khawatir kalau belum ditanganin dokter," ucapnya mencoba meyakinkan.


"Iya, Abang gapapa. Makasih ya udah temenin gue semaleman. Gue ngerepotin banyak orang ya semalem?" Tasya terkekeh.


"Jangan bilang gitu, gimana perasaan lu sekarang?" Tanya Radit sembari mengelus pipi Tasya dengan lembut.


"Gak tau tapi gue gapapa, gue bahagia punya Abang kaya lo," jawab Tasya. Dia sebenarnya tidak tau sedang merasakan apa. Semuanya begitu campur aduk tapi seperti kosong.


"Yaudah, Abang mau mandi. Lu jangan mandi, ganti baju aja. Semaleman masih pake baju ini, jangan lupa pake kompresannya," peringat Radit.


Tasya mengangguk, dia memilih untuk menurut saja walaupun sebenarnya dia tidak ingin melakukan apa-apa hari ini. Dia harus pulih besok dari semua kekacauan nya, besok sudah mulai hari produktif.


Radit mencium puncak kepala adiknya itu dan langsung berlalu pergi meninggalkan kamar Tasya. Tasya bergeming, ternyata semalam itu bukan mimpi, buktinya sekarang dia terbangun dengan perasaan hampa begini.


Mulai sekarang dia harus terbiasa tanpa hadirnya Viko. Ralat, memang kehadirannya tidak pernah ada. Lebih tepatnya sekarang dia harus menerima kenyataan kalau Viko bukan bagian dari hidupnya lagi, begitu pun sebaliknya.


Beberapa menit berlalu, Tasya pun masih mematung di kasurnya. Dia benar-benar butuh mengumpulkan kesadarannya sekarang. Sudah dirasa cukup, Tasya mengambil baju kaos oversize dan celana jeans pendek untuk dia pakai hari ini. Tubuhnya demam sekali, jadi dia mengambil bye bye fever dari lacinya lalu menempelkannya dikening. Ah sialnya demam ini tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.


Baru saja dia akan kembali berbaring, tiba-tiba suara bell rumah berbunyi beberapa kali. Tasya menunggu suara itu berhenti, tapi sepertinya tantenya sedang tidak ada dan Radit sedang membersihkan dirinya.


Dengan langkah lemas, akhirnya dia terpaksa turun ke bawah untuk membukakan pintu. "Siapa sih, ganggu aja."

__ADS_1


Tasya menarik napasnya, menerima tamu juga butuh tenaga dan mood yang baik, apalagi dia sedang dalam mood yang buruk hari ini. Setelah cukup, akhirnya dia membuka pintunya perlahan.


Terlihat sosok yang tidak dia inginkan kehadirannya kini ada di depan matanya. Dia nampak begitu kacau, sepertinya dia kurang tidur. Wajahnya penuh memar, sepertinya dia habis berkelahi. Dengan segera, Tasya menutup kembali pintunya. Namun Viko berhasil menahannya.


"Sya biarin aku bicara dulu sama kamu," pintanya sendu.


Tasya memalingkan wajahnya, dia tidak akan bisa tega jika melihat sorot mata yang menatapnya seperti itu. Tasya masih sekuat tenaga untuk menutup pintunya, namun usahanya itu sia-sia.


Tasya menghela napasnya, dia mengalah dan membiarkan pintu itu terbuka lebar. "Kenapa?"


Viko menggenggam kedua tangan Tasya dengan lembut, mencoba membangun suasana magis diantara keduanya agar bisa bicara baik-baik. Namun Tasya lagi-lagi memalingkan wajahnya. Ingat, dia tidak boleh menangis apalagi terlihat lemah di hadapan Viko.


"Jangan diem aja. Kalau kamu mau marah, marah aja. Pukul aku sekarang, atau tampar aku yang penting kamu luapin semuanya sekarang sama aku." Viko membimbing tangan Tasya untuk melakukan apapun yang dia inginkan, namun Tasya menahannya.


Dia tentu akan menangis jika melakukannya lagi, sama seperti tadi malam saat Al memintanya. Dia tidak boleh terlihat lemah.


"Tatap aku, Sya. Aku lebih suka kamu marah dibandingkan kamu diemin aku kaya gini. Aku lebih suka kamu ngomel dan marah besar daripada kamu cuekin kaya gini," ucap pria itu parau.


Satu kalimat yang berhasil Tasya ucapkan mampu membuat Viko benar-benar hancur kali ini. Seorang yang sangat mencintainya kini membencinya. "Sya tolong jangan bilang kaya gitu, aku sayang sama ka-"


"Tasya, aku cuma cinta sama kamu! Tolong kasih aku kesempatan kedua buat buktiin itu semuanya kalau cuma kamu yang aku sayang," pinta Viko dengan sungguh.


Tasya mengangkat tangannya. "Cukup, aku lagi sakit. Mau istirahat."


Entah ada dorongan apa Viko malah bersimpuh di hadapan Tasya dan kembali menggenggam kedua tangan itu. Dia dapat melihat kini Viko mengeluarkan air matanya dan itu mampu merusak benteng pertahanannya. Setetes air mata turun di pipinya.


"Jangan tinggalin aku, Sya," suara itu berubah menjadi lirih. Tasya sangat membenci perasaan sensitifnya ini yang selalu muncul di saat yang tidak dia inginkan.


Tiba-tiba Radit datang dan melepaskan genggaman tangan Viko pada adiknya. Radi menyuruh Tasya mundur agar dia yang menghadapi pria tidak tau malu itu.


Viko berdiri menatap Radit, dia tau kalau Radit marah besar padanya. Dia sudah siap apapun konsekuensinya jika harus berakhir babak belur seperti tadi malam.

__ADS_1


"Bang, gua mohon izinin gua bicara sama Tasya," pinta Viko.


Bugh ....


Satu pukulan berhasil mendarat di pipi Viko. Tasya kaget melihat itu semua. Tapi dia tidak dapat menahan Radit untuk sekarang. Tasya masuk dan bersender di tembok dekat pintu. Dia menangis, dia benci perasaannya saat ini.


Bugh ....


Lagi-lagi suara itu terdengar di telinga Tasya. Dia takut, dia membayangkan Viko yang terluka akibat pukulan itu.


Radit mengatur napasnya melihat Viko yang masih belum ada perlawanan. Dia sadar, ini akan melukai Tasya. Akhirnya Radit hanya mengepalkan tangannya erat. Bisa saja dia membunuhnya detik itu juga, tapi Radit tidak sekeji itu.


"Pergi. Sampai kapan pun gua gak akan pernah izinin lu buat ketemu Tasya lagi!"


"Bang, gu-"


"PERGI!" Bentak Radit.


Dengan satu hentakan Radit masuk ke rumah dan membanting pintu dengan keras. Dilihatnya Tasya yang masih menangis dan menutup telinganya rapat-rapat. Radit memeluk Tasya dengan erat. Tapi dia melakukan ini karena terlalu menyayangi Tasya. Dia tidak mungkin hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa saat adiknya disakiti.


"Abang minta maaf, tapi gua lakuin ini karena sayang sama lu. Gua gak bisa liat lu nangis buat cowok yang gak pantes buat lu tangisin."


"Gue benci banget sama dia, Abang," ucap Tasya lirih.


"Kenapa dia buat seolah gue yang jahat di sini? Kenapa gue yang jadi ngerasa bersalah karena keadaan dia sekarang?"


"Kenapa-"


"Lu gak salah, jangan bilang kaya gitu. Dia kaya gitu cuma ingin mempermainkan emosi lu biar kembali nerima dia lagi. Jangan lemah, lu harus buktiin sama dia kalau lu bisa tanpa dia!"


"Apa gue bisa? Gue aja mikirin itu berkali kali di otak gue. Apa gue bisa tanpa Viko?" Tangisnya semakin deras, jujur dia tidak sanggup memikirkan itu semua sekarang.

__ADS_1


Radit mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada Tasya Mulai detik ini dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Tasya. Dia yakin kalau suatu saat Tasya akan pulih dari rasa patah hati pertamanya. Dia hanya memerlukan waktu untuk menerima semuanya.


__ADS_2