Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Menyatakan Perasaan


__ADS_3


Viko melihat Tasya yang sedang asik dengan rutinitasnya. Hari ini dia akan melakukan hal yang seharusnya dia lakukan. Dia tidak bisa terus menjadi pengecut dengan hanya berdiam diri di zona amannya. Dia harus menyatakan perasaannya.


"Tunggu apa lagi weh, tinggal jedor doang." Reza berucap sambil berapi-api. Sedari tadi dia searching apa saja yang harus dilakukan saat akan menyatakan perasaan, lalu memberikannya pada Viko.


"Lu kira gampang, apa! Pertama kali gua kayak gini ke cewek!" Viko dibuat frustrasi oleh teman-temannya itu. Padahal perutnya terasa mulas, keringat dingin bermunculan, dan banyak sekali yang dia rasakan sekarang.


"Kesempatan anjir, mumpung dia lagi sendirian di DPR," paksa Bagus.


DPR itu Di Bawah Pohon Rindang, tempat nongkrong anak SMAVEN di bawah pohon dengan bentuk cinta. Mereka mempercayai kalau siapa pun yang menyatakan perasaannya di sana, katanya akan langgeng.


"Gua harus gimana?" Tanya Viko lagi, padahal daritadi teman-temannya sudah memberikan arahan yang jelas, namun dia lupa lagi.


"Ya lu bawa bunga ini, sama coklatnya. Terus lu bilang pake kata-kata manis," kesal Arka yang sudah geregetan karena Viko banyak sekali bertanya.


"Bilang apaan?" Sepertinya Viko memang bukan ahlinya dalam bidang ini. Dia mendadak bodoh saat akam melakukannya.


"Bilang, kalau lu suka sama dia, bangsat!" Arka semakin gemas dan frustrasi dibuatnya. Kenapa ada orang buta percintaan diantara teman-temannya ini?


"Masa gitu doang, Ka. Gak kreatif banget lu kasih saran, gak mau yang mainstream gua, dia kan cewek spesial di hati gua," tolak Viko.


"Ingin rasanya gua berkata bangsat!" Rutuk Arka, dia hanya berharap semoga kesabarannya hari ini tidak semakin menipis.


"Sabar, Ka. Maklumin jomblo dari lahir." Reza mengusap-usap punggung Arka. Arka pun menarik napasnya dalam, Reza benar dia harus sabar menghadapi si jomblo ini.


"Sabar, Ka. Biarkan jomblo berekspresi," sambung Bagus.


"Kesel nih, esmosi gua tuh esmosi, prend! Udah jomblo banyak mau juga si bangsat ini," ucap Arka dramatis.


"Kok lu malah emosi, Ka. Ini gua gimana?" tanya Viko yang stress sendiri. Teman-temannya membuat dia semakin depresi saja.


"Udah lu samperin aja itu si Tasya, terus jedor. Ungkapin aja apa yang ada di hati lu, nyet!" Reza bersuara. Viko pun mengangguk, entah apa yang akan dia lakukan, lakukan saja dengan percaya diri.


Viko menyelipkan bunga dan coklat di saku belakang celananya. Dengan langkah yang berat, Viko pun menghampiri Tasya yang sedang duduk sambil membaca itu.


Satu langkah ....


Dua langkah ....


Tiga langkah ....


Dua puluh langkah ....


Viko sampai di hadapan Tasya. Tasya pun mengadahkan kepalanya ke arah si pemilik langkah tersebut. Sudah pasti Viko, dia sangat mengenali sepatunya yang selalu dia sita karena Viko terus memakainya berulang kali.


"Viko, ngapain lo ke sini?" tanya Tasya pada Viko dengan tatapan bingung.


"Gua mau ngomong sama lu," jawab Viko dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Meskipun gugup, Viko mampu menyamarkannya dengan wajah cool nya. Ya secemen-cemennya orang cool, tetap saja terlihat cool.


"Tinggal ngomong, basa-basi banget lo. Biasanya juga langsung ngomonh." kata Tasya sambil berdiri.


"Gua nggak tau ini sejak kapan, yang jelas gua–"


"Lo apa?" potong Tasya.


"Gua itu sebenernya su–"


"Sebenernya apa?" potong Tasya lagi.

__ADS_1


"Anjirr! Gua mau ngomong, Sya. Jangan dipotong dulu kenapa!" kesal Viko yang lebih tepatnya terlihat frustrasi.


"Ehehe, sorry-sorry. Abis lama amat mau ngomong," ucap Tasya enteng.


'Bego! Ya jelas lah, orang gua mau nembak anak orang. Ya pasti gugup!' batin Viko.


"Gua awalnya mikir, lu adalah manusia cerewet pengganggu hidup gua dan bikin rusak hari-hari gua." Viko berhenti sejenak.


"Gua juga pernah mikir, kalau lu itu nyebelin dan gua gak suka," lanjutnya.


"Terus?" tanya Tasya.


"Tapi, setelah gua sama lu temenan dan kita mulai deket, itu ngubah semua pikiran gua," lanjut Viko.


"Ya iyalah, makanya jangan menilai orang kalau belum kenal bener, kebiasaan orang adalah melihat dari sampulnya doang," sambar Tasya.


"Anjir, gua udah bilang jangan dipotong, Tasya Aurell!" Viko semakin frustrasi dibuatnya.


"Maaf, maaf khilaf. Oke lanjut jadi inti dari point percakapan ini apa?" Tanya Tasya to the point.


"Iya, intinya lu mau ga–"


Suara ponsel Tasya berbunyi. Tertera nama Ayu di sana.


"Bentar ya," ucap Tasya pada Viko.


Tasya pun mengangkat panggilannya, sementara Viko gemas dibuatnya. Sedikit lagi dia hampir selesai. Tapi dia harus sabar.


"Halo, Ay. Ada apa?" tanya Tasya saat mengangkat panggilannya.


"Halo, Sya. Maaf ganggu, ini Ayu disuruh Chandra. Katanya Tasya ditunggu di ruang OSIS sekarang," jawab Ayu.


"Hah? Mau ngapain? Kan nggak ada jadwal rutin?"


"Ayu lagi di mana sekarang?" tanya Tasya.


"Ayu lagi di jalan, udah ya, Sya. Ayu cuma mau bilang itu doang."


"Oh oke deh. Makasih ya, Ay."


"Iya, sama-sama."


Tasya pun mengakhiri panggilannya. Dia bingung, ada hal terlewatkan hari ini? Atau Chandra ingin membicarakan hal penting?


"Ada apa?" tanya Viko.


"Gue ditungguin Chandra di ruang osis," jawab Tasya.


"Yaudah samperin dulu gih."


"Tadi lo mau ngomong apaan btw?" tanya Tasya penasaran.


"Bukan apa-apa. Gak terlalu penting. Udah sana kali aja ada kerjaan mendadak, 'kan?" perintah Viko.


"Oke, bye ya," kata Tasya dan langsung menuju ke ruang osis.


Penoton pun kecewa. Chandra ini merusak moment saja.


...~ • ~...


Tak selang beberapa lama, Viko pun penasaran. Sebenarnya kenapa Chandra memanggil Tasya ke ruangan OSIS. Viko pun memutuskan untuk menyusul Tasya ke ruang OSIS. Namun, raut wajahnya berubah ketika sampai di depan ruang OSIS.

__ADS_1


Chandra sedang menembak Tasya. Terlihat dari boneka dan bunga yang dia pegang saat ini. Viko sadar diri, Tasya pasti lebih memilih bersama Chandra. Chandra adalah orang yang dia sukai selama ini. Sekarang terwujudlah impian Tasya.


"Udah nggak ada harapan lagi buat gua," gumam Viko.


Viko pun meninggalkan tempat itu. Dia mengambil tasnya dan beranjak pulang.


"Lu kenapa, Ko?" tanya Bagus.


"Gak, capek gua. Mau istirahat. Gua balik duluan ya," pamit Viko yang mukanya sudah terlihat sangat kusut


"Kenapa sih lu?" tanya Arka tak mengerti. Dia heran moodnya Viki gampang berubah.


"Gua cabut!"


Viko pun segera menuju parkiran dan segera pulang. Ini pertama kalinya dia merasakan patah hati. Padahal, baru kali ini dia bisa mencintai seseorang.


'Dia gak cinta sama lu, Ko. Lu nya aja yang terlalu percaya diri,' batinnya.


Dia bertekad untuk melupakan Tasya mulai dari sekarang. Apa dia harus menjauh? Mungkin iya, karena jika terus bersama seperti biasanya, itu akan sangat sulit melupakan rasa cintanya kepada Tasya.


Di sini lain. Tasya kebingungan harus menjawab apa. Dia bingung, padahal ini adalah hal yang dia tunggu-tunggu sejak lama, iya pernyataan cinta dari Chandra.


"Jadi gimana?" tanya chandra sekali lagi.


"G-gue bingung."


"Kenapa? Bukannya lu suka sama gua juga?" tanya Chandra.


"Dulu iya, tapi lo gak ada perjuangan buat yakinin gue sih. Perlahan gue berusaha buat gak berharap sama lo. Sampai akhirnya dan sampe hari ini, gue udah biasa aja sama lo."


"Perasaan gak mungkin kan, hilang secepat itu?"


"Bisa, ketika ada orang yang bisa bikin nyaman, kenapa enggak?"


"Jadi udah ada yang bikin lu nyaman?"


"Lo gak perlu tau, intinya gue gak bisa nerima lo, Chan. Maaf."


"Siapa orangnya? Viko?" ketus Chandra.


"Mau Viko atau pun bukan, yang jelas jawabannya gue udah gue kasih," kata Tasya.


"Makasih buat penolakan lu," kata Chandra dan pergi meninggalkan Tasya.


Tasya bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang. Bukan maksud untuk menyakiti orang, tapi Tasya memang benar-benar sudah tak mencintai Chandra lagi.


Ralat :


Dia tak tau dengan perasaannya, yang pasti rasanya sudah berbeda. Beda antara dulu dengan sekarang. Tak ada debaran saat dekat Chandra lagi, tak ada rasa senang ketika Chandra besikap baik lagi, semuanya sudah hambar.


Labil kembali mendatangi pikirannya. Sebenarnya dia kenapa? Dia tak bisa menentukan siapa yang dia suka.


Viko? Apa benar dia mencintai Viko.


Sejenak, dia berpikir tentang Viko yang ingin berbicara padanya.


"Tadi Viko mau bilang apa ya," gumamnya.


Tanpa basa-basi Tasya pun mengambil ponselnya. Dia langsung menghubungi Viko. Namun, tak kunjung diangkatnya.


"Oke, udah pulang kali ya itu orang," gumamnya.

__ADS_1


Daripada berpusing-pusing akibat kejadian hari ini, Tasya pun kembali ke DPR dan mengambil Tasnya yang tertinggal di sana.


__ADS_2