
Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama, mereka sampai di Ciwangun Indah Camp.
Saat sampai di sana, para peserta sedang diurusi oleh guru-guru dan panitia bersiap-siap untuk pembangunan tenda dan upacara apel.
"Yang ngerasa laki, bantu gua diriin tenda utama," kata Chandra.
Viko, Bagus, Reza, Arka, Ivan, dan Yudhis langsung menghampiri Chandra.
Sementara Chandra mengurus tenda, Tasya menyuruh panitia perempuan untuk membangun tenda panitia.
"Gue ke bawah dulu, siapin peserta," kata Tasya pada yang lain.
"Oke, Sya."
Tasya langsung menghampiri peserta. Guru di sana hanya Pak Jaya dan Pak Taufik. Karena guru lainnya pasti menyusul sore atau pada malam hari.
"Permisi, Pak. Saya ada pengumuman sebentar," kata Tasya meminta izin pada Pak jaya.
"Silakan," kata pak Jaya mempersilakan.
"Oke, saya mau kalian berbaris sesuai kelompoknya. Satu .... "
Tasya menghitung mundur untuk menumbuhkan rasa disiplin pada mereka.
"2 .... "
Semua peserta mulai berbaris sesuai kelompoknya.
"3 .... "
Mereka sudah rapi.
"Untuk peserta lainnya kalian boleh langsung memasuki arena, untuk anggota OSIS dan ekstrakulikuler, kalian tetap di sini," kata Tasya.
Ya karena ini acara camping sekolah. Seruruh siswa kelas sepuluh diwajibkan untuk ikut semua. Sedangkan siswa kelas 11 dan 12 tidak ikut dalam acara LDKS dan LDKO ini. Sementara anggota ekstrakulikuler kelas sebelas sebagian ada yang direkrut untuk acara pos to pos malam.
"Saya ingatkan kepada kalian, ini acara LDKS & LDKO. Kalian harus menjaga sikap kalian sebaik mungkin. Terutama untuk calon OSIS, saya minta agar pita merah putih kalian dipakai di lengan sebelah kanan."
"Siap, Kak," ucap mereka serempak.
"Karena kalian adalah calon dari anggota OSIS dan ekstrakulikuler lainnya, kalian akan melewati rintangan untuk pelantikan setelah acara ini selesai. Saya minta, setelah kalian naik ke atas. Kalian segera membangun tenda kalian masing-masing. Siap?"
"Siap," ucap mereka serempak.
"Oke, kalian boleh langsung ke atas sekarang."
Tanpa disadari Viko sudah berada di sana.
"Ngapain lo di sini? Bukannya bangun tenda?" tanya Tasya.
"Gua kan dokumentasi, makanya gua disuruh ke sini," katanya.
"Oh yaudah ke atas lagi," udah selesai.
Acara membangun tenda pun sudah dimulai. Waktu menunjukkan pukul 9.00 dan pembangunan tenda harus selesai pada jam 10.00 tepat.
"Sya, sampe jam sepuluh." Chandra mengingatkan Tasya.
"Nanti kalau udah lo tiup aja peluitnya, supaya mereka berhenti," kata Tasya.
__ADS_1
Tasya berkeliling memeriksa satu persatu tenda yang akan dididirikan.
"Kak," panggil salah satu peserta.
"Ini patoknya susah menancap," katanya.
Tasya hanya menggelengkan kepala. Masalah sepele seperti itu saja tidak bisa. Jika mereka ada di posisi angkatan Tasya mungkin mereka sudah habis oleh Arga.
'Bener-bener butuh bintal ekstra ini,' batin Tasya.
Tasya memasang patoknya dan ternyata itu sangat mudah.
"Kalian kaya gini aja gak bisa? Apa kemarin saya kurang ngasih kalian materi? Ini sepele loh, gak usah manja. Saya di sini senior, kalian mau saya juga yang ngerjain tempat tidur kalian?"
Mereka hanya terdiam. Pasalnya Tasya jika masuk materi untuk OSIS selalu terlihat kalem, tapi sekarang seperti singa kelaparan.
"Ma-maaf, Kak," kata salah satu dari mereka.
"Lanjutkan," perintah Tasya.
"Si-siap, Kak," kata mereka serempak.
"Gak usah galak kali, kasian," kata Viko.
"Ini tuh gak seberapa, lo tau? Angkatan gue lebih parah dari ini. Setiap saat langsung bentak. Ini masih lumayan gak parah," kata Tasya.
"Curhat amat lu," kata Viko sambil memotret kanan dan kirinya.
"Bukan curhat, lo liat aja nanti. Arga Putra Mahesa. Wakil ketua OSIS angkat bang Radit. Dia galaknya minta ampun. Kemarin aja gue diospek abis-abisan. Terus kak Ghibran, ketua MPK sekarang."
"Mereka datang?" tanya Viko.
"Malem paling," jawab Tasya.
"Jelas, karena lo bukan OSIS," kata Tasya.
"Tapi kan gua panitia juga otomatis kalau kalian kena ya gua ikut kena juga," katanya.
"Iya sih, tapi beda rasanya."
"Liat aja nanti," kata Viko.
...~ • ~...
Setelah memberi sambutan pada acara apel. Tasya keluar lapangan untuk mengecek P3K.
"Ada yang sakit?" tanya Tasya pada petugas di sana.
"Ada, tapi gue gak bisa obatin. Anak PMR kelas sebelas belum dateng, nanti nyusul katanya," kata Riana.
"Bukannya gue udah ajarin cara nanganin kaya gini? Kenapa kalian gak lakuin?"
"Ini asma, Sya. Gue takut salah." Sinta mulai bersuara.
"Astagfirullah, kalian tuh ya."
Tasya langsung menghampiri peserta yang pingsan itu. Dia mulai melepas sepatu dan melonggarkan ikat pinggang pada siswa itu.
"Ambil selimut yang itu," kata Tasya menunjuk selimut pada Riana.
Setelah itu menaruhnya di punggung untuk menahannya.
__ADS_1
"Ambil tabung oksigen," kata Tasya.
"Di mana?" Itu di tenda utama, cepet!"
Sinta berlari mengambil tabung dan langsung kembali. Tasya mulai memutar tabungnya agar bekerja. Mencoba mengecek denyut nadinya. Setelah selesai Tasya membiarkannya agar segera siuman.
"Apa yang sakit?" tanya Tasya setelah dia sadar.
"Sesak, Kak," katanya.
Tasya menambah besarnya oksigen lagi.
"Segini cukup?" tanyanya.
Dia hanya mengangguk. Tasya pun bersyukur karena tak harus sampai masuk rumah sakit.
Viko takjub melihat adegan itu. Meskipun tadi Tasya bilang tak akan bekerja apapun, nyatanya dia orang yang paling sibuk sekarang.
"Gue gak mau kejadian ini ke ulang lagi, kalian sebagai petugas harusnya sigap. Kalau dia kehilangan nyawa gimana? Kalian mau tanggung jawab?" tanya Tasya pada Riana dan Sinta.
"Maaf, Sya," kata mereka bersamaan.
"Gue gak butuh maaf, gue butuh aksi kalian. Kalau sampe keulang lagi. Kalian gue hukum ikut peserta pos to pos juga besok malam," tegas Tasya.
Mereka hanya terdiam. Mereka sama sekali tak kesal jika Tasya marah, karena mereka sadar. Kalau mereka melakukan kesalahan dan Tasya tak akan memarahi mereka tanpa alasan.
Tasya langsung menuju ke bawah untuk mengontrol konsumsi panitia dan peserta. Karena, Chandra juga sedang sibuk mengatur urusan lapangan. Peserta untuk hari ini diberi konsumsi, karena jadwal kegiatan tak memungkinkan untuk mereka memasak terlebih dahulu.
"Ini udah semua?" tanya Tasya pada Ivan dan Yudhis.
"Udah kayaknya," kata Ivan.
"Oh oke deh, mulai angkatin aja ke atas."
"Oke," kata Yudhis.
Tasya juga tak tinggal diam, dia ikut mengangkat dus berisi makanan itu.
"Lu kok angkatin makanan?" tanya seseorang.
"Viko?"
"Sini gua aja, ga pantes dan gak etis cewek angkat beginian," kata Viko.
"Gue juga gak ada kerjaan. Gue gak lemah," kata Tasya yang tetap mengangangkat dus itu.
Lagi-lagi Viko dibuat kagum oleh Tasya. Viko pun ikut mengangkat dus-dus lainnya.
"Gua gak paham sama lu, lu udah enak tinggal diem. Eh lu malah mondar-mandir kaya gini," kata Viko.
"Karena dalam organisasi gak ada kata kaya gitu. Selama kita gak ada tugas, kalau masih ada yang dikerjain walaupun bukan tugas kita, ya lakuin. Biar apa? Biar cepet selesai."
"Ya heran aja gua."
"Gak usah heran, mungkin lo mikir gue caper atau gimana. Tapi yang jelas gue lakuin ini buat kebaikan bersama juga," kata Tasya.
"Gua gak mikir gitu."
"Ya kali aja, pikiran orang kan gak ada yang tau. Intinya di sini kita team. Kita harus kerja sama. Jadi kita gak boleh debat dulu sekarang," kata Tasya.
"Siapa juga yang mau debat sama lu," kata Viko sambil mengangkat kembali dus yang masih tersisa.
__ADS_1
"Hehe, thanks." Tasya pun kembali mengangkat dus lainnya.
Viko hanya tersenyum. Entah sejak kapan mereka akrab seperti ini. Mungkin ini adalah untuk menghindari perdebatan seperti apa yang dikatakan Tasya, kalau mereka adalah team untuk sekarang.