Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Belajar Memaafkan


__ADS_3


Tasya membolak-balikan hasil kotretannya. Sesekali dia menggigit ujung pensilnya, dia tampak bingung mengerjakan soal matematika yang dari tadi dia kerjakan namun hasilnya selalu beda dengan Al. Padahal dia sudah mengingat rumus dan caranya yang sudah diajarkan Al minggu lalu.


"Al, ini kenapa limitnya 4? Kok gue hitung malah dua? Gimana caranya?" Tanya Tasya sambil melirik kertas milik Al.


Al berdecak, bagaimana bisa Tasya melupakan hal yang minggu lalu dia ajarkan. "Ck, baru juga minggu lalu masa udah lupa."


"Ya lupaa, gimana? Janji gue inget-inget."


"Lu subsitusiin dulu dekatan x-nya," kata Al.


"Bentar-bentar. Dekatan x-nya kan 4, jadi 4  dikurang 4 per akar 4 dikurangi 2. Jadi 0 per 0. Gini?" Tanya Tasya memastikan.


Al mengangguk. "Nah ini kan namanya bentuk akar tak tentu, jadi nilai limitnya lu cari pake pemfaktoran."


"Ohh iya iya jadi kan x bisa di tulis akar x kuadrat terus dikurang 4 atau 2 pangkat dua, penyebutnya tetap tuh, terus di faktorin pembilangnya?"


Al mengangguk dan memperhatikan jawaban Tasya.


"Yang ini coret, coret. Terus akar x ditambah 2 sama dengan akar 4 ditambah 2, jadi 2 ditambah 2 sama dengan 4. Oh iya 4 hehehe." Tasya cengengesan.


"Pelupa, inget-inget. Jangan sampe nilai lu jelek karena soal limit," ucap Al lalu menarik hidung Tasya dan Tasya mengeluarkan pout andalannya.


"Iya-iya, makasih ya. Sumpah gue bingung banget, gini nih enaknya punya temen pinter," ucap Tasya sambil tertawa.


"Bukan untung-untung, tapi belajar Tasya Aurell."


"Iya kan ini belajar juga, Al. Btw bantu gue minta izin ke abang," pinta Tasya.


"Izin apaa?" Tanya Al bingung.


"Izin buat ikut study tour. Lo juga ikut, kan? Nanti gue temenin ke TU. Please gue mau ikut." Tasya memasang wajah melasnya sembari memegang lengan Al.


"Emm gimana ya?" Al menimbang-nimbang, seraya menggoda Tasya agar lebih merengek.


"Al, ihh pleasee. Masa iya gue gak ikut, mau ikutt. Tapi abang pasti gak izinin kalau gue bilang sendiri."


"Boleh tapi ada syaratnya." Al menatap gadis itu dengan tatapan tegas.

__ADS_1


"Apa syaratnya?"


"Lu janji harus minum obat tepat waktu, makan teratur, harus mau terapi jangan males-malesan, jangan gadang juga. Gimana?" Tawar Al.


Al ini benar-benar menyebalkan, persyaratan macam apa yang dia tawarkan. Tapi, jika tidak begitu Tasya pasti tidak dibantu olehnya. Jadi Tasya mengangguk saja.


"Yaudah iya, padahal gue males banget kalau ngelakuinnya tanpa debat dulu. Tapi demi bisa pergi gue lakuin. Semuanya gue lakuin, gue janji," ucap Tasya.


Al mengangguk lalu beranjak dari tempatnya. "Ayok."


Tasya kegirangan dan langsung mengikuti Al ke kamar Radit. Al membuka pintu perlahan setelah mengetuknya. Dilihatnya Radit sedang fokus mengerjakan tugas-tugasnya.


"Kenapa?" Tanya Radit tanpa berpaling dari laptopnya.


Al mendekati Radit, dan Tasya berdiri di belakangnya. Seperti anak kucing yang sedang ketakutan, menggemaskan.


"Minggu depan sekolah adain study tour ke Pangandaran. Tasya boleh ikut, kan?" Tanya Al.


"Gak," singkatnya sembari menatap ke arah Al dan Tasya.


"Gua janji bakalan jagain dia, lu bisa percaya sama gua. Cuma 3 hari, dia juga janji bakalan minum obat tepat waktu, makannya juga," bela Al.


Radit menarik napasnya panjang, bukan apa-apa, tapi dia takut kalau Tasya kambuh di sana dan dia tidak ada.


"Yaudah boleh, tapi gua sama tante Amara ikut," kata Radit.


"Apaan kaya anak TK aja sekeluarga ikut, gak boleh," protes Tasya.


"Sya, Abang gak mau nanti lu kambuh terus Abang gak ada di sana. Iya bakalan jaga kesehatan sama minum obat, tapi kan gak tau apa yang bakalan terjadi ke depannya," jelas Radit mencoba membuat Tasya mengerti.


"Gini dah gini, lu sama tante ikut tapi pake mobil sendiri. Jadi lu bisa pesen di hotel yang sama tapi gak ikut rombongan biar Tasya gak ngerasa diawasin. Gimana?" Usul Al.


"Nah iya gitu aja, gimana?" Tawar Tasya.


"Yaudah, deal. Tapi lu harus jagain dia ya. Sampe kenapa-kenapa awas," ancam Radit pada Al.


"Iyaaa, lu bisa percaya gua di bilang," kata Al santai. Dia paham kalau Radit menyayangi Tasya dan tida ingin sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya.


...~ • ~...

__ADS_1


Tasya memasuki ruang OSIS. Dia harus membuat planning untuk pemilihan Ketua OSIS baru yang akan datang, karena sebentar lagi dia sudah kelas 12 dan tidak boleh mengikuti kegiatan ekstrakulikuler atau organisasi lagi. Dia hanya akan memegang jabatan sebagai Ketua MPK karena tradisi yang menjadikan ketua OSIS akan otomatis menjadi Ketua MPK saat kelas 12.


Suara derap langkah terdengar memasuki ruangan tersebut. Memperhatikan Tasya yang sedang sibuk dengan planner book nya.


"Sya ..."


Tasya menoleh dan melihat ke arah Chandra. Selama satu bulan ini Chandra baru berani untuk menemui Tasya. Dia takut kejadian serupa akan terulang, jadi dia selalu absen saat perkumpulan OSIS.


"Chan ... Kemana aja?" Tanya Tasya yang beranjak dari tempatnya dan menghampiri Chandra.


Chandra menarik napasnya. Dia malu, benar-benar malu. Dia juga menyesal karena tidak pernah melihat posisi Tasya kemarin-kemarin dan mempercayai ibu tirinya itu.


"Sya, gua tau ini telat banget. Tapi gua bakalan terus ngerasa bersalah kalau gua gak bilang." Chandra menggantungkan omongannya.


"Sya, gua minta maaf karena gak percaya sama lu. Gua juga minta maaf karena gak ada di pihak lu waktu lu bener-bener down. Gua salah, seharusnya gua bisa paham posisi lu waktu itu. Gua bener-bener minta maaf," ucap Chandra tulus.


"Chan, kenapa minta maaf? Gue gak pernah marah sama lo. Lo juga gak salah, mama gue jadi mama lo juga kan bukan keinginan lo dan lagi lo gak tau siapa dia sebenernya, kan?"


"Tapi gua tetep salah karena gak ada di saat lu butuh orang buat bantuin lu bangkit. Gua bener-bener nyesel."


"Udah gue maafin. Kata siapa lo gak bantuin gue bangkit. Game balon itu lo yang usulin, kan? Kejutan-kejutan yang OSIS lakuin juga ide lo, kan? Gue tau Chandra dan makasih untuk itu. Gue gak mau lo ngehindar lagi, karena gue gak pernah ngerasa gimana-gimana sama lo."


Chandra terdiam, dia tidak tau siapa yang memberitahu Tasya soal rencana-rencana yang dia buat. Dia memang melakukannya di belakang Tasya karena ingin membuat Tasya tersenyum.


"Chan, ayok jadi temen gue lagi. Temen yang selalu dengerin cerita gue dan berbagi apapun kaya dulu. Kaya Viko sama Al," ucap Tasya.


Chandra tersenyum, dia tidak menyangka kalau dia bisa mendapatkan maaf dari Tasya. Lebih tidak menyangka karena Tasya menerimanya dengan baik.


Chandra mengangguk dan tersenyum."Iya, Sya. Gua mau. Makasihhh banget lu mau terima gua lagi."


Anak-anak OSIS yang melihat kejadian itu pun langsung berhamburan masuk ke ruangan itu dan memeluk mereka berdua. Tasya dan Chandra kaget ternyata sedari tadi mereka mengintip.


"Nah gitu dong, akurr. Maaf ya kita nguping tapi gue seneng banget," kata Viko yang mengeratkan peluknya.


"Iyaaa kita jalanin organisasi sama-sama lagi yaa sebagai MPK. Pokoknya kita harus selalu kompakk!" Ucap Riana.


"We love you Buketos da pak Waketos," ucap mereka bersamaan.


"I love you too," ucap Tasya pelan sembari membalas pelukan mer

__ADS_1


Tasya senang bisa melakukannya. Dia sadar membenci atau menyimpan rasa dendam itu tidak ada gunanya. Perlahan dia mulai memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya meskipun orang itu tidak meminta.


Dia akan belajar untuk merelakan dan mengikhlaskan apapun yang terjadi padanya agar bisa terus melangkah pada tujuannya tanpa dihalangi beban pikiran.


__ADS_2