
Perang dingin itu berlanjut hingga satu minggu, Tasya masih setia diam dan tak ingin bicara pada Viko. Sebenarnya dia tidak tega membiarkan Viko yang terlihat uring-uringan karena dia diamkan, tapi kebiasaan Tasnya memang seperti itu, dia akan terus marah entah sampai kapan.
Viko mondar-mandir tidak jelas di kamarnya, dia tidak bisa bertahan seperti ini. Malam ini juga dia harus menyelesaikan semuanya. Dengan modal tekad Viko pun pergi ke rumah Tasya menggunakan mobilnya, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Setelah sampai dia pun mengetuk pintu rumah Tasya. Dia sedikit ragu, tapi jika bukan sekarang sudah pasti Tasya akan lebih lama marah padanya. Tak selang beberapa lama Radit muncul dari balik pintu dan menatap Viko keheranan. Aneh, ada apa dia ke rumah ini malam-malam. Ditambah wajahnya yang terlihat seperti orang panik.
"Weh ada apa lu malem-malem kesini?" Tanya Radit heran.
"Anu ... Lu tau kan gua lagi marahan sama Tasya?" Tanya Viko.
Radi mengangguk. "Tau, terus?" Radit mengetahui semua ceritanya dari tantenya. Karena Tasya melakukan hal yang serupa padanya dan Al karena masalah kemarin. Baru saja tadi sore mereka bertiga berbaikan. Jadi tidak heran kalau dia juga marah pada Viko.
"Gua gak bisa gini terus, gua mau selesain masalahnya malam ini juga. Jadi boleh gak gua ketemu Tasya? Gua mau bicarain masalah ini setuntas-tuntasnya," Kata Viko.
"Boleh aja kalau dianya mau, dia kalau ngambek suka lama. Jadi butuh keterampilan handal buat bujuknya," ucap Radit.
"Bujukin lah, Bang. Lu kan udah berpengalaman dalam bidang permusuhan sama Tasya. Gua uring-uringan mulu udah 1 minggu coba bujuk dia tapi masih ngambek. Serba salah jadinya. Tolong bantuin gua," pinta Viko.
"Bidang musuhan, lu kata apaan anjir. Yaudah bentar, gua panggilin. Gak mau masuk dulu?" Tanya Radit.
"Gakk, gua di sini aja," kata Viko.
Radit hanya mengangguk kecil dan menaiki tangga ke kamar Tasya. Radit membuka pintu kamar Tasya perlahan. Dia melihat adiknya itu tengah terdiam di depan layar laptopnya.
"Dek," panggil Radit pelan.
Tasya menoleh dan mendapati kakaknya sudah ada di depan pintu kamarnya. Tidak biasanya Radit menemuinya malam-malam begini.
"Kenapa, Bang?" Tanya Tasya yang mengadahkan kepalanya saat Radit sampai di hadapannya.
"Di depan ada Viko, temuin gih. Sampai kapan coba lu mau marahan sama dia?" Tanya Radit seraya mengelus rambut adiknya itu.
"Ngapain Viko kesini?" Tanya Tasya.
"Apel kali, temuin aja dulu sana," perintah Radit.
"Gak mau, ngapain? Gue masih marah sama dia, lo aja yang temuin. Gue gak mau," tolaknya.
__ADS_1
"Yang pacaran itu elu, Dek. Masa yang nemenin gua. Gak baik marah lama-lama, dia udah redain ego tuh buat bicara sama lu. Sekarang tinggal giliran lu huat redam ego lu demi hubungan kalian," nasehat Radit.
Tasya berdecak. "Ck harus banget ini teh nemuin?"
"Harus, udah ayokk sana turun. Dia nunggu di luar tuh," kata Radit yang membantu adiknya beranjak dari tempat duduknya.
Tasya pun menghela napasnya, meskipun dia sebenarnya masih betah berlama-lama marah. Dia pun menuruni tangga, dilihatnya Viko sedang bersandar pada mobilnya di luar sana.
Tasya menutup pintu dan menghampiri Viko. "Ekhm."
"Sya," ucap Viko sambil mendekat ke arah Tasya.
"Ngapain kamu malem-malem kesini? Gak bisa besok aja? Mau ngapain?" Tanya Tasya datar.
"Gak bisa, harus sekarang. Aku gak bisa terus-terusan dicuekin sama kamu. Ayok kita selesesain," ajaknya.
"Putus?" Tanya Tasya.
"Engga, bukan. Kok putus sih? Gak gitu, maksud aku kita selesain masalah di antara kita, Sayang," ucapnya lembut sembari memegang kedua lengan Tasya lembut.
"Emang apa yang mau diselesain? Kayanya gak ada masalah. Kamu juga udah daftar, terus apalagi? Aku cuma masih marah aja sama kamu karena nutupin sesuatu dari aku," kata Tasya melepaskan tangan Viko dari lengannya pelan dan berseder di mobil Viko.
"Emang kamu salah, kemarin waktu kita bicara kamu bilang sama aku kalau gak boleh ada yang ditutupin, lalu sepersekian menit berikutnya kamu bilang kamu nutupin ini dari lama. Wajar kan aku marah?" Tanya Tasya gemetar.
"Iyaa, aku minta maaf soal itu. Sya, aku bener-bener nyesel. Jangan marah lagi. Sekarang kamu maunya gimana hm?" Viko menggengam kedua tangan Tasya, menatap gadis itu dengan tatapan penuh penyesalan.
Tasya menghela napasnya pelan. "Yaudah aku maafin. Tapi jangan kaya gitu lagi, aku gak suka."
"Iya, aku janji gak akan ngelakuin hal itu lagi. Ini terakhir kalinya," ucap Viko sungguh.
"Jadi, hubungan kita bakalan baik-baik aja, kan?" Tanya Viko.
"Aku mau ambil keputusan buat tinggal di Surabaya. Aku belum daftar PTN di sana tapi keputusan buat tinggak di sana bakalan aku ambil walaupun semisalnya aku gak lulus," jawab Tasya pelan.
"Seperti yang kamu bilang, kalau kamu bakalan selalu suport aku, aku juga gitu. Apapun keputusan kamu, aku bakalan suport kamu. Sya, mau kan kita tetep jalanin hubungan ini meskipun terhalang jarak?" Tanya Viko lagi.
Tasya terdiam, ini pertama kalinya dia berhubungan dengan seseorang dan harus menjalani hubungan jarak jauh, apa dia yakin bisa melakukannya?
"Aku gak mau janji apapun, tapi kita jalanin aja ya?" Ucap Tasya sambil menatap mata Viko.
__ADS_1
Viko mengangguk, dia senang Tasya sudah memaafkannya dan langsung memeluk gadis itu erat. Viko sangat menyayangi Tasya, tidak bisa dibayangkan jika Tasya memilih untuk mengakhiri hubungan mereka sekarang.
"Makasih ya kamu udah maafin aku," ucap Viko.
Tasya pun mengangguk. Perlahan Viko melepaskan pelukannya, memberi sedikit ruang bagi mereka, ditatapnya gadis itu dengan lembut. Tasya pun membalas tatapan Viko dengan lembut dan menyandarkan dirinya di mobil milik Viko. Melirik bibir gadis itu membuat Viko menelan air liurnya sendiri dan memiringkan kepala seraya mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
Entah apa yang terjadi pada Tasya, dia justru memejamkan matanya seolah tau apa yang akan terjadi sepersekian detik kedepan.
"Ekhm," deham Radit yang sontak membuat mereka berdua kaget.
Belum saja menempel, Tasya langsung mendorong tubuh Viko untuk menjauh darinya. Mereka seperti orang kepergok akan berbuat yang iya-iya oleh Radit dan menjadi salah tingkah sendiri.
"Ohh yaudahh, k-kamu pulang aja," kata Tasya sambil terkekeh.
Viko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hah, i-iya kalau gitu aku pulang dulu ya. Woi, Bang gua balik dulu." Pamit Viko melambaikan tangannya pada Radit.
Radit mengangguk seraya menatapnya tajam. Tangannya yang dilipat di dada membuat Tasya dan Viko bergidik ngeri melihat Radit.
Viko pun memasuki mobilnya dan tersenyum dari balik kaca mobilnya yang dapat terlihat oleh Tasya.
"Hati-hati," ucap Tasya dan dihadiahi anggukan oleh Viko.
Tasya mengepalkan tangannya erat, bagaimana bisa Radit melihat itu? Sekarang dia merasa malu sendiri meskipun ciuman itu tidak terjadi.
Tasya membalikkan tubuhnya ragu, dia cengengesan ke sambil menatap abangnya yang masih menatapnya dari tadi.
"Dek ...."
"Hehehehe, anu gue ada tugas. Gue mau ngerjain tugas." Tasya yang terkekeh pun langsung berlari memasuki rumahnya, dengan secepat kilat dia kembali ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.
"Aaaaaaaaaaaaaa gue malu!" Teriaknya pelan.
Tasya meremas bajunya membayangkan kejadian beberapa menit lalu. Kenapa dia bisa melakukan hal bodoh itu sih?
"Tadi kenapa gue kaya kaku, aduh ngapain juga lo merem gitu sih, Tasya. Ah pikiran lo ini kenapa sih?! Huhh hahhh gue tuh kenapa sekarang?!!" Dia ingin menangis tapi ingin tertawa, dia merasa senang namun dia juga merasa malu. Ada apa dengan perasaannya malam ini?
"Gimana gue bisa hadapin Viko besok ya?" Gumam Tasya.
Tasya pun berlari ke kasurnya dan langsung masuk kedalam selimut, dari pada berkutat dengan perasaannya lebih baik dia tidur.
__ADS_1