
Setelah selesai makan, Tasya dan Al langsung saja pulang ke rumah. Sementara Zea dan Fadil katanya masih ada urusan, padahal sebenarnya Zea sudah malas bersama pria itu.
Di sinilah mereka berdua berada, menikmati hiruk pikuk kota Surabaya dari atas gedung mall ini. Suasana malam serta keheningan dari pria dingin itu membuat Zea semakin tenggelam dalam kesunyian.
"Saya tau kita menerima perjodohan ini karena sama-sama ingin membahagiakan orang tua."
Suara Fadil tiba-tiba memecahkan kesunyian, membuat Zea mengalihkan pandangannya pada Fadil. "Lalu?"
"Saya tidak suka menutupi apapun, saya sekarang mencintai seseorang dan kamu harus tau tentang itu," ucap Fadil.
Zea menyerngitkan dahinya, dia tau siapa yang Fadil maksud. Tapi haruskah dia bicarakan juga dengan Zea yang notabenenya akan menjadi calon istrinya? Bukan dia cemburu atau bagaimana, tapi untuk apa juga dibicarakan.
"Kenapa kamu kaget? Saya yakin kamu mengetahui siapa orang yang saya maksud?" Tanya Fadil.
"Tau, tapi untuk apa?" Tanya Zea berbalik.
"Untuk apa bagaimana?"
"Untuk apa kamu bilang sama saya? Bukankah lebih baik kita sama-sama menyimpannya sendiri? Privasi kamu, urusan kamu, silahkan urus sendiri. Toh saya juga gak akan ikut campur, terkecuali kalau kamu mengganggu hubungan adik saya."
"Untuk memulai suatu hubungan, saya tidak ingin memulainya dengan kebohongan. Kita sudah dewasa, kan? Kamu tau apa yang saya maksud."
Zea melipat tangannya di dada dan menatap pria yang ada di hadapannya ini dengan tajam. "Saya tanya, mau kamu jujur atau engga sekali pun pengaruhnya apa? Saya yakin kamu juga tidak benar-benar niat menjalankan pernikahan kita."
"Memang tidak berniat, tapi bukan berarti bermain-main, kan?"
"Maksud kamu tidak akan bermain-main tapi tidak ada niat menjalankan rumah tangga itu gimana? Kita menikah, lalu setelahnya kita urus hidup masing-masing dan bebas melakukan apapun tanpa mengusik privasi. Apakah itu bukan suatu permainan dalam pernikahan, Tuan Fadil?"
"Ya kita memang akan menjalani seperti itu kalau kita jadi menikah, tapi tetap pada satu ikatan kan? Ikatan dilandasi oleh kejujuran dan kepercayaan. Itu sebabnya saya memulai."
Zea menghela napasnya, entah dia yang bodoh atau Fadil yang memang memiliki pemikiran di luar nalar. Dia sama sekali tidak mengerti dengan semua jalan pikiran pria yang akan dinikahinya itu.
"Terserah. Jadi pointnya apa? Kamu mau membatalkan pernikahan ini? Ya bagus, saya justru senang dan tidak perlu bersusah payah menolak dan membuat orang tua saya sedih."
__ADS_1
"Saya tidak ada niat membatalkan apapun, Zea. Hanya memberitahu perasaan saya. Karena saya rasa kamu perlu tahu itu sebelum memulai hubungan dengan saya."
"Perasaan kamu itu gak penting buat saya, mau kamu mencintai siapapun saya tidak akan pernah peduli. Jadi jangan pernah bicara apapun sama saya apalagi dilandasi oleh kepercayaan, kejujuran, pernikahan atau apapun itu. Saya muak!"
Zea beranjak meninggalkan Fadil, namun langkahnya terhenti dan kembali kepada pria itu. "Cuma mau kasih tau, tolong jaga sikap. Apapun perasaan kamu sama Tasya, jangan mengusik kehidupan dia dan adik saya!"
Zea meninggalkan Fadil di sana, tidak peduli apa yang akan dia lakukan. Harinya sudah terlalu buruk untuk meladeni Fadil sekarang. Namun, tanpa diduga Fadil menarik lengan Zea agar pulang bersamanya.
"Lepasin!" Zea berusaha melepaskan tangannya dari Fadil yang kini sudah berjalan di depannya.
"Kamu pergi dengan saya, makan saya harus mengantar kamu pulang dengan selamat."
"Saya bisa pulang sendiri, jadi lepasin!"
Fadil tidak mengindahkan permintaan Zea, dia terus menarik tangan Zea dan memasukannya ke mobil. Meskipun gadis itu terus berontak, tapi Fadil tentu lebih kuat darinya. Zea tidak akan melupakan hari ini, dia akan benar-benar membenci seorang Fadil selamanya.
...~ • ~...
Tasya memasuki kamarnya, setelah selesai melakukan misi bersama Al ternyata tubuhnya lelah juga. Ya untung saja besok hari Minggu, jadi dia bisa beristirahat seharian.
"Sarah sama Bagus tunangan?" Gumamnya.
Tasya terdiam, dia menatap photo itu sambil berusaha mencerna semuanya. Dia mencoba untuk berpikir positif, perahan dia membuka direct message, whatsapp, sampai Imess. Tapi ternyata tidak ada pesan apapun yang dikirimkan Sarah untuknya.
Tasya kembali menatap photo itu, di sana ada Sherli, Sarah, Viko, Bagus dan juga Reza. Apa mereka benar-benar asing sekarang. Tasya berusaha menarik napasnya, tidak. Dia tidak boleh menangis sekarang.
Iya dia tau kalau sekarang dia sedang sedih, tapi dia tidak boleh membuang air matanya hanya demi orang-orang yang tidak ingin menjalin hubungan baik dengannya.
Tasya menaruh ponselnya dan memilih untuk membuat susu saja ke bawah. Tasya melihat Amanda di dapur, langsung saja dia menghampiri kakaknya.
"Kamu belum tidur, Sya?" Tanya Amanda.
"Belum, Kak. Ini aku mau buat susu dulu," jawab Tasya.
"Mau sekalian kakak buatin?" Tanya Amanda yang terlihat memang sedang meminum susu hamilnya.
__ADS_1
"Engga usah, Kak. Aku bisa bikin sendiri kok." Tasya tersenyum lalu mengambil gelas. Pelan-pelan dia menaruh susu dan air hangat pada gelasnya.
"Hari ini sama Al darimana? Kok tumben pulangnya malam?" Tanya Amanda lagi.
Tasya membawa susunya dan duduk bersama Amanda di meja makan. Ya biasalah, pembicaraan adik dan kakak ipar di malam hari memang kerap terjadi.
"Kita tuh ngikutin kak Zea sama calon suaminya tadi, ternyata dokter Fadil itu cowok kaku loh, Kak. Masa dia ajak jalan cewek tapi diem-dieman," cibir Tasya.
"Isshh gak boleh gitu, bisa aja mereka lagi masa penyesuaian. Apalagi mereka dijodohkan, kan cinta itu bisa tumbuh seiring waktu," nasehat Amanda.
"Yaiya sih, Kak bisa jadi. Cuma ya aku takut aja kalau kak Zea gak bahagia. Mau gimana pun aku udah anggap kak Zea itu kaya kak Amanda sama bang Radit."
"Pasti bahagia, kamu tau gak? Mama Kaka pernah bilang gini. Cinta itu datang karena terbiasa, apalagi mereka bakalan tinggal satu rumah, satu kamar, itu bisa bangun suasana magis diantara keduanya. Nah itu yang bikin mereka terbiasa dan lama-lama saling mencintai, walaupun butuh proses."
"Iya sih, tapi masalahnya tuh mereka punya orang yang mereka suka juga," ucap Tasya.
"Siapa?" Tanya Amanda penasaran. Ghibah bersama adik ipar tidak masalah, kan?
"Kak Daffa itu mantannya kak Zea," kata Tasya.
"Serius kamu? Jadi Zea dijodohin sama kakak mantannya?" Tanya Amanda lagi. Semetara Tasya Tasya mengangguk.
"Hmmm agak sulit ya," gumam Amanda. "Terus kalau dokter Fadil? Kamu tau dia suka sama siapa? Pasti dokter di rumah sakit sana ya?"
Tasya gelagapan. "Y-ya ada yang dia suka gitu, aku tau cuma ya aku gak bisa kasih tau ke Kakak."
"Kenapa gak bisa kasih tau? Orangnya kamu sendiri ya?" Tebak Amanda asal, namun tepat.
"Engga, Kak. Kok aku, bukan."
"Kakak tau kali, kamu lupa kalau kakak jurusan psikolog? Kita diajarkan buat mengamati seseorang, termasuk kakak yang mengamati dia waktu makan malam kemarin. Tatapannya itu tulus ke kamu, jadi kakak simpulkan kalau dia punya perasaan sama kamu."
"Susah emang bohongin anak psikolog, ya gitu. Dia bilang sama aku, kadang aku risih tau kak. Cuma aku gak bisa bilang aja. Apalagi kalau diliatin, terus dokter Fadil itu orangnya to the point. Emang orang dewasa begitu kah?"
"Rata-rata gitu, tapi kakak yakin dia gak akan berbuat lebih. Dia juga pasti memikirkan matang-matang. Kamu gak perlu melarang orang suka sama kamu. Tapi kamu bisa membatasi diri dari dia. Itu pointnya."
__ADS_1
Tasya mengangguk, memang benar sih. Tapi dia tida terlalu memikirkan ini sih. Dia hanya merasa risih saja, karena tentunya dia ingin hubungannya dengan Al baik-baik saja. Ya semoga benar kata Amanda, kalau cinta tumbuh karena terbiasa. Jadi perlahan Fadil bisa melupakan Tasya.