
Tasya menatap langit-langit kamarnya, perasaannya tidak karuan sekarang. Bagaimana bisa dia pergi jauh meninggalkan orang-orang tersayangnya? Apalagi dia dan teman-temannya berjanji akan mendaftar di kampus yang sama, bahkan jika tidak satu kampus pun mereka akan selalu bersama-sama.
Sejenak dia melepas kalung liontin berbentuk hati yang selalu dia pakai semenjak kematian Ayahnya. Kalung yang sudah lama Tasya simpan karena tidak ingin memakainya.
"Pa, pasti papa ngelakuin ini buat Tasya sama Abang ya? Tasya bingung, sebenernya Tasya gak mau kemana-mana. Mau di sini. Tapi .... "
Tasya terdiam, dia merasa selama ini belum bisa membahagiakan ayahnya. Apa mengikuti permintaannya akan bisa menebus masa lalu?
"Masih ada waktu 1 minggu lagi sebelum pendaftaran, gue harus pikirin baik-baik," tekad Tasya
Amara memasuki kamar Tasya dan menaruh air yang sengaja dia bawa karena sudah waktunya Tasya minum obat.
"Sya, minum obat dulu yuk. Jangan sampe telat nanti kamu dimarahin dokter Anna," peringat Amara.
Tasya pun bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang. Amara dengan telaten membuka satu persatu obat yang harus Tasya minum.
"Tante," panggil Tasya perlahan.
"Apa sayang, kenapa? Ada yang mau kamu makan hari ini?" Tanya Amara lembut.
"Tante apa kalau Tasya ngikutin kemauan papa untuk tinggal di Surabaya bakalan bisa nebus masa lalu yang belum sempet Tasya kasih ke papa?" Tanya Tasya pelan.
Amara tau, pasti Tasya akan membicarakan hal ini. Dia juga memang sengaja datang agar Tasya bisa meluapkan emosinya.
"Sya, pindah ke Surabaya dan bikin papamu bahagia itu dua hal yang berbeda. Kamu berhak loh buat menentukan masa depan kamu sendiri. Tante juga tau kalau Tasya bisa membedakan mana yang baik dan engga," ucap Amara sambil tersenyum.
"Hmm emang beda, Tante. Tasya juga paham, cuma Tasya berpikir kalau misalnya Tasya ikutin kemauan papa, pasti bakalan bikin Tasya ngerasa seneng juga, sekiranya Tasya bisa lakuin sesuatu buat papa," kata Tasya.
"Semua pilihannya ada di tangan kamu, masih ada waktu buat memikirkan semuanya. Yang jelas, apapun keputusan kamu, Tante dan abangmu pasti bakalan suport terus." Amara tersenyum seraya memberikan obat yang harus Tasya minum.
Tasya pun menganggukan kepalanya dan segera meminum obatnya, sekiranya dia tau kalau ini bukan paksaan. Tinggal bagaimana cara dia mengambil keputusan sekarang.
__ADS_1
...~ • ~...
Viko dan Tasya sedang berada di rooftop sekolah. Tasya ingin menceritakan semuanya pada Viko secepat mungkin agar dia bisa memastikan hubungannya dengan Viko.
"Aku ... " Ucap Tasya menggantung.
"Kenapa hm? Ada yang ganggu pikiran kamu?" Tanya Viko seraya mengelus punggung tangan Tasya lembut.
"Ada, tapi kalau aku bilang kayanya bakalan nambah beban kamu juga," cicit Tasya.
"Gapapa, cerita aja sekiranya kita bisa pikirin bareng-bareng. Bukannya kita janji ya jangan pernah mutupin apapun?" Tanya Viko.
Tasya mengangguk dan menghela napasnya. "Sebelum papaku meninggal, dia bilang sama orang tuanya Al kalau udah mempersiapkan rumah dan perusahaan buat aku sama bang Radit."
"Terus kenapa? Bagus dong. Artinya papa kamu mempersiapkan masa depan kalian dengan baik, lalu apa masalahnya?" Tanya Viko.
"Tapi di Surabaya. Yang otomatis setelah lulus aku harus kuliah dan tinggal di sana," ucap Tasya ragu.
Viko terdiam dia memang kaget mengetahui Tasya akan pindah ke Surabaya tapi dia jadi memikirkan tentang kuliahnya di Amerika dan juga harus meninggalkan Tasya.
"Sya, terkadang kita perlu melanjutkan hidup meskipun keluar dari zona nyaman. Jadi, lakukan selagi kamu punya kesempatan buat bisa bikin papa kamu bahagia," ucap Viko yang mengingat kata-kata Ibunya.
"Tapi temen-temen aku gimana, kamu juga?" Tanya Tasya sembari menatap Viko.
"Sya, sebenernya juga ada yang mau aku bilang sama kamu." Viko menghela napasnya panjang. Apa ini saat yang tepat untuk memberi tahu Tasya?
"Apa?" Tanya Tasya yah sedikit merasa tidak enak hati dengan apa yang ingin Viko sampaikan.
"Papa aku udah suruh kuliah di Amerika sejak aku kelas 11 lalu dan kemarin aku udah apply data dan formulirnya ke sana."
Tasya terdiam, bagaimana bisa Viko menyembunyikan ini darinya? Bahkan sudah mendaftar di saat Tasya masih memikirkan dia.
Tasya tersenyum kecewa lalu bangkit dari duduknya sambil mencoba agar tidak menangis. "Aku pikir kamu bener-bener lakuin ucapan kamu yang bilang jangan pernah nutupin apapun loh, ini?"
__ADS_1
Viko memegang kedua bahu Tasya dan sedikit menundukkan kepalanya menatap mata Tasya. "Sya aku lakuin ini karena aku mikirin kamu, aku berusaha yakinin papa aku buat gak sekolahin aku di sana tapi gak bisa. Beberapa bulan ini aku berjuang tapi sia-sia."
"Viko aku gak permasalahin soal usaha kamu buat batalin or something like that. Kamu tau gak, aku aja kepikiran buat putusin kaya gini dan bilang ke kamu dulu. Tapi kamu malah nutupin semuanya dari aku dan daftar gitu aja."
"Sya-"
"Aku ngerti dan bakalan berusaha ngertiin apapun yang bakalan jadi keputusan kamu. Tapi kalau kamu nutupin semuanya dari aku kaya gini, artinya kamu langgar semua kepercayaan aku, Viko!" ucap Tasya tegas.
"Aku lakuin semuanya biar kamu gak kepikiran, biar kamu gak sedih. Biar kamu bahagia juga, Sya."
"Iya, semua orang emang selalu bilang gitu. Demi aku bahagia dengan menutupi kenyataan yang nantinya bakalan aku hadapin juga. Kamu pikir aku bakalan gak kaget? Aku aja masih kaget karena abang sama Al nutupin hal ini, sekarang kamu. Siapa lagi coba yang nutupin sesuatu dari aku?"
"Kali ini aku bener-bener ngelakuin itu buat kamu, Tasya. Buat kita juga, aku cuma cari waktu yang tepat buat jelasin sama kamu. Oke aku minta maaf, aku salah karena sembunyiin sesuatu, aku minta maaf," ucap Viko menyesal.
"Terserah kamu aja, lakuin apapun tanpa perlu melibatkan aku di dalamnya. Aku udah kasih kepercayaan buat urus masa depan kamu. Jadi aku gak berhak apa-apa lagi." Tasya melepaskan tangan Viko perlahan dan dia pun pergi dari sana meninggalkan Viko yang masih mematung.
"Argghttt kenapa jadi kaya gini sih?! Bego lu, Vik. Udah gua bilang harusnya lu lebih cepet bicara soal ini," rutuknya pada diri sendiri.
Tasya turun dari rooftop dan kembali ke kelas. Di sana masih ada teman-temannya dan teman-temannya Viko. Wajahnya tidak bisa berbohong kalau dia sedang emosi dan menahan tangisnya.
"Sya lo kenapa?" Tanya Sarah saat Tasya sampai di bangkunya.
"Nanti gue jelasin, gue pulang duluan ya. Dadahh," jawab Tasya sambil mengambil tasnya dan pulang.
"Syaa, Sya!" Sherli berusaha mengejar namun Arka menahannya.
"Biarin dulu, mungkin Tasya butuh waktu sendiri. Kita tunggu aja penjelasan dari Viko," ucap Arka.
"Dia berantem sama Viko gak sih?" Tanya Niken.
"Kayanya sih, tadi mereka mau bicara berdua gitu setau gua," kata Bagus.
"Tapi kenapa? Baru kali ini gue liat mereka berantem. Selama mereka pacaran perasaan aman-aman aja," ucap Sarah.
__ADS_1
"Ya namanya juga hubungan, gak selamanya mulus-mulus aja. Itu kenapa kita memilih untuk tidak berkomitmen, karena repot," celetuk Reza.
Benar sih, itu sebabnya kenapa selama ini mereka masih belum ada yang jadian, karena terlalu nyaman di zona nyaman tanpa komitmen.