Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Hampir Gila


__ADS_3


Al menarik napasnya kasar, dia benar-benar panik sekarang. Dia tidak menemukan Tasya di mana pun. "Argghtt, kamu kemana sih, Sya?!" Al bingung, dia tau kalau Tasya sering kali membuat dia gila, kenapa dia membiarkan gadis itu sendirian?


Tiba-tiba ponsel Al berbunyi. Tertera kontak ayahnya di sana, jadi Al segera mengangkatnya. "Ada apa, Yah?"


"Kamu ini gimana, sudah dikasih tanggung jawab malah lalai. Apa Tasya sudah ketemu?" Tanya Haris dari seberang sana.


Al seketika menahan napasnya. "Belum, ini Al masih cari." Al mendengar isak tangis Amara di sana, ah mereka semua nampak panik, Al semakin merasa bersalah kalau seperti ini.


"Pulang sekarang! Sudah larut malam, ayah sudah mengirim orang untuk mencari Tasya. Kita harus bicara."


"Tapi, Yah Al harus cari Tasya-"


"Pulang! Bikin malu kamu!"


Jujur saja Al sudah menciut kalau ayahnya seperti itu, tapi dia memang harus mempertanggungjawabkannya, kan? Setelah mematikan sambungan dengan ayahnya, Al kembali menghubungi Tasya. Namun nihil.


Pikirannya sekarang berkecamuk, antara marah, kesal, khawatir, menyesal dan semua perasaan yang ada menjadi satu. Mau tidak mau dia harus pulang walau masih ingin mencari keberadaan gadisnya itu.


Tapi Al adalah Aldo Prayoga, tujuannya memang pulang ke rumah tapi dia tetap mencari keberadaan Tasya di sepanjang jalan, bahkan dia mencari sampai melewati jalan terjauh menuju rumah. Ini sudah tepat tengah malam, dia tidak akan bisa tenang begitu saja.


Setengah jam berlalu, dia masih belum menemukan Tasya. Pikirannya sudah kacau, dengan pasrah dia pulang ke rumah pukul setengah 1 malam.


Terlihat lampu ruangan masih menyala dari luar, pertanda kalau keluarga Tasya masih di sana. Al menarik napas dan mempersiapkan mentalnya, dia tentu harus menerima konsekuensinya karena telah lalai menjaga tunangannya.


Perlahan Al membuka pintu rumahnya.


"SURPRISE!!" Teriak semua orang saat Al membuka pintu.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday happy birthday


Happy birthday to you

__ADS_1


Semua orang bersorak, memang semuanya bersekongkol bersama Tasya. Tidak bermaksud membuat Al cemas, tapj berhubung Tasya sedang marah saat itu jadi ya sekalian saja mereka kerjai. Al mematung dia memang terkejut, tak lama dia memegang kedua lututnya. "Argghtt, Syaa! Kamu buat aku jantungan."


Semua orang terkekeh, Al menatap Tasya yang kini nampak meledeknya. Memang Tasya ini selalu saja membuatnya gila. Al sudah cemas tapi gadis itu nampak senang melihat Al yang kelimpungan.


Tasya terkekeh. "Salah sendiri cuekin aku."


"Sorry, bro. Kita bantuin Tasya doang," ucap Angkasa.


"Gila mukanya panik," ledek Monik.


"Diem!" Kesal Al.


Yang lain hanya tertawa melihat tingkah laku anak-anak muda itu.


"Emosian, udah ayok tiup lilinnya," ucap Belva.


Al pun mendekat ke arah Tasya yang memegang kuenya. Namun saat Al akan meniup lilinya Tasya menghentikan Al. "Don't you make a wish?"


Al menatap Tasya lalu tersenyum, benar juga. Dia belum mengucapkan permohonan. Perlahan Al menutup matanya. Permintaannya kali ini tidak banyak, dia hanya berharap : Semoga dia bisa menjadi manusia yang lebih baik, bisa membahagiakan kedua orang tuanya dan terakhir adalah membahagiakan Tasya.


Setelah selesai mengucapkan permohonannya, Al meniup lilin pada kuenya. Tasya tersenyum melihat Al. Setelah memotong kue dan menyuapkan kue pada orang-orang. Seperti biasa akan asa acara. Iya mereka sudah menyiapkan acara kemah di taman belakang Al yang luas.


"Aku pikir aku gagal jaga kamu lagi."


Tasya tersenyum mendengar ucapan Al. Tapi ada rasa sedikit bersalah juga karena telah mengerjai Al. Tasya pun akhirnya membalas pelukan Al. "Maaf ya, habisnya aku gak tau lagi gimana cara kerjain kamu."


Al semakin mendekap Tasya dengan erat dan perlahan menciumi puncak kepala Tasya. "Jangan buat aku khawatir lagi. Aku bisa gila kalau kamu hilang kaya gitu."


"Iya-iya, kasian sayangku khawatir," ucap Tasya manis.


"Jangan iya-iya aja."


"Iyaa, Al. Gak akan lagi, oh iya aku punya satu hadiah lagi buat kamu," kata Tasya.


"Hadiah apa?" Tanya Al.


Tasya melepaskan pelukan Al dengan perlahan, setelah itu dia menggenggam tangan Al dan menariknya ke taman belakang. Tasya mengambil sebuah paper bag besar, mereka tidak menemui yang lainnya yang sekarang tengah sibuk, tapi dia mengajak Al duduk di tepi kolam renang, di samping perkemahan kecil mereka.

__ADS_1


Al dan Tasya duduk berhadapan dan Tasya dengan antusias mengeluarkan sebuah kotak besar dari dalam paper bagnya. "Nih, buka lah."


Al menyerngitkan dahinya, sebesar ini? Apa isinya, itu yang dipikirkan Al sekarang. Tangan Al terulur dan mengambil kotak dari tangan Tasya. Dia meletakan kotak itu di bawah dan perlahan membukannya.


Isinya masih tertutup kertas doorslag, namun di atasnya ada sebuah greeting card, Al dapat mengenali kalau itu adalah tulisan Tasya sendiri.


Happy birthday my dearest.


Sebelum kamu buka hadiahnya aku punya peraturan. Di sini ada 3 kotak dan udah aku kasih nomor, jadi kamu harus buka dari nomor 1. - Tasya Aurell


Al menatap ke arah Tasya yang kini mengeluarkan cengiran khasnya, kenapa gadisnya mendadak jadi romantis seperti ini?


"Oke aku ikutin." Perlahan Al membuka kertas doorslag dan mengambil hadiah pertama sesuai petunjuk. Pelan-pelan sekali dia membukanya. Karena Tasya pasti membungkusnya dengan sepenuh hati.


Setelah susah payah membukanya terlihat sebuah kotak berisi jam tangan dan juga parfum yang sering Al gunakan. Al tersenyum sambil melirik Tasya tak percaya. "Aku suka kamu pake parfum itu, tapi bulan ini kayanya ganti ya? Jadi kalau kamu gak suka ya simpen aja."


"Oh jadi kamu suka aku pake parfum yang ini? Ya udah, aku pake yang ini lagi mulai sekarang. Aku suka," jawab Al simpel. Baginya tidak masalah kalau hanya soal selera parfum.


Tasya mengangguk senang, sekarang Al membuka kotak kedua. Terlihat isinya adalah sebuah Ipad keluaran terbaru yang Tasya berikan. "Aku tau Ipad kamu rusak, jadi aku beliin yang baru. Biar kamu juga semangat koassnya. Aku belinya pake uang aku, hasil nulis di beberapa pf online, jadi jangan khawatir aku minta sama abang."


Mungkin untuk ukuran Al, sebuah Ipad ini bisa dia beli kapan saja. Ya memang belum ada waktu saja. Tapi ini rasanya berbeda karena Tasya menggunakan uangnya sendiri untuk membelikan Al Ipad. "Harusnya kamu tabung uangnya, kenapa malah beliin aku hm?"


"Gapapa, lagian aku belinya buat kamu gunain ke hal yang bermanfaat. Bukan buat foya-foya, kan?"


"Makasih, buat aku ini berharga banget. Karena ada hasil jerih payah kamu di sini."


Tasya tersenyum dan mengangguk. Dia senang kalau Al menyukai hadiahnya. "Sama-sama, Sayang. Itu ada satu lagi kotaknya," peringat Tasya.


"Oh iya." Al mengambil kotak terkahir, kotak yang paling kecil. Entah apa itu isinya.


Perlahan Al membukanya dan mendapat sebuah gulungan yang berisikan : 2 Permintaan.


Al kembali menatap Tasya. "Anything?"


Tasya menganggguk. "Of course."


Al tidak perlu berpikir soal ini, dia sudah tau apa yang akan dia pinta dari Tasya. Al menyingkirkan sebentar kotak yang ada di hadapan mereka dan mendekat ke arah Tasya.

__ADS_1


"Apa? Kamu mau minta apa? Tapi maksudnya yang gak aneh-aneh juga," ralat Tasya.


"Sya aku mau .... "


__ADS_2