Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Melanjutkan Hidup


__ADS_3


Minggu pertama pikirannya masih dipenuhi oleh Viko. Dari mulai merindukannya, mengingat perlakuan manis dan buruknya, sampai mengingat kembali kejadian terakhir yang mereka berdua hadapi.


Minggu kedua Tasya semakin menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya dan sesekali dia berkumpul bersama teman-temannya untuk menghilangkan kejenuhan.


Minggu ketiga dia mulai bisa membalas beberapa pesan yang masuk padanya. Melihat Tasya menjomblo membuat satu persatu pria mulai melakukan pendekatan melalui whatsapp Tasya yang bisa didapatkan dengan mudah dari grup angkatan. Tapi Tasya hanya sekedarnya, karena dia tidak tertarik.


Minggu ke empat akhirnya dia bisa mulai menjalani hari-harinya seperti biasa. Sudah sedikit bisa membuatnya lupa dengan Viko. Meskipun tidak benar-benar lupa tapi dia mulai menikmati kesendirianya. Lagi pula sepertinya Viko benar-benar menghilang dari jangkauannya. Entah di mana dia sekarang.


Hingga sampai saat ini tepat 8 bulan setelah kejadian itu berlalu. Tasya menatap foto-foto mereka yang masih belum mau Tasya singkirkan sebenarnya.


Tasya menghela napasnya. "Harus bisa, sampai kapan lo mau stuck di sini?"


Perlahan Tasya mulai melepas satu persatu polaroid yang selama ini menjadi tempatnya menyalurkan rindu. Tasya sudah sangat jarang sekali menangis, tapi kalau rindu dia sangat sering merasakannya.


Pintu kamar Tasya yang terbuka membuat Al bisa melihat apa yang sedang di lakukan oleh gadis itu. Al melangkahkan kakinya untuk menghampiri Tasya.


"Ngapain? Bukannya lu pernah bilang kalau ini satu-satunya tempat yang bikin rasa kangen lu berkurang sama dia?" Tanya Al.


Tasya terkekeh dan tetap melakukan aktivitasnya. "Emang bener, tapi gue gak bisa stuck di sini-sini aja. Kehidupan dia berjalan dan kehidupan gue juga harus tetap berjalan. Meskipun belum bisa lupain dia, tapi setidaknya gue naik ke satu tahap lagi, kan?"


Al mengusap puncak kepala Tasya dengan lembut. "Oh sekarang udah dewasa ya my baby."


Tasya terkekeh, "Apasiihh gue tuh emang udah dewasa, makanya gue harus bisa ambil sikap." Setelah selesai Tasya memasukan foto-foto itu ke sebuah kotak kecil, lalu membiarkannya menyatu bersama kenangan lainnya di satu kontainer besar.


Al membantu Tasya mendorong kotak besar itu ke bawah kasurnya. Tasya tersenyum, sekiranya di dalam sana semua kenangan itu perlahan-lahan akan terlupakan olehnya, sama seperti barang-barang yang sering Tasya lupakan ketika dia sudah menyimpannya di gudang.


"Mau jalan-jalan?" Tanya Al sembari mengulurkan tangannya.


Tasya menatap ke arah Al. "Mau kemana?"


"Anywhere. Nanti kita pikirin di jalan," jawab Al sambil tersenyum.

__ADS_1


Tasya mengambil sling bag miliknya dan menerima uluran tangan Al. Sepertinya perasaannya akan jauh lebih baik jika mengiyakan ajakan Al setelah melakukan hal berat. Mereka berdua turun ke bawah dan sudah dihadiahi tatapan oleh Radit.


"Mau kemana udah gandengan-gandengan segala, pasti lu mau ajak adek gua main jauh-jauh," tuduh Radit.


"Bentar, nanti juga dibalikin," jawab Al santai.


"Apasih abang, orang mainnya sama Al doang kok. Suntuk seminggu kemarin praktek sama bikin laprak terus," ucap Tasya sembari memeluk Abangnya itu dengan manja.


"Al yakin lu mau bawa Tasya? Liat kelakuannya udah kaya bayi monyet gini. Udah mau 21 tahun, Syaa," peringat Radit.


"Malu sebenernya, dia juga begitu sama gua. Kaya anak koala nempel terus. Kadang tangan gua sampe keram," ucap Al meledek.


"Biarin daripada gue jadi anak ilang nanti lo ketar-ketir," balas Tasya meledek.


Jangankan Tasya menghilang, Tasya menangis saja Al sudah ketar-ketir. Gadis itu memang paling bisa membuatnya skakmat.


"Terus gue gak mau jadi besar kalau sama Abang. Nanti kalau cepet besar Abang nikahnya juga cepet, nanti ninggalin gue lagi."


Radit menelan ludahnya kasar. Padahal sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan pada Tasya. Tapi setelah mendengar itu dia mengurungkan niatnya.


Tasya tertawa dan mencium pipi Radit. "Yaudah gue mau main, dadahh." Tasya lebih dulu keluar meninggalkan Al, dia nampak antusias hari ini.


Radit menepuk bahu Al dan di hadiahi acungan jempol berserta anggukan kalau dia pasti akan menjaga Tasya dengan baik. Radit sekarang memang lebih ketat menjaga Tasya. Selain tida ingin Tasya terluka, dia juga tidak ingin Tasya kenapa-kenapa.


...~ • ~...


Tasya melihat ke sekitarnya, setelah hampir 1 jam perjalanan dia baru berpikir kenapa Al mengajaknya ke tempat seperti ini? Tempatnya seperti tempat mistis, dia curiga kalau Al akan mengajaknya wisata horror.


"Al kita mau kemana deh?" Tasya Tasya tak mengerti.


"Kalau Bandung punya banyak kebun teh, kalau Surabaya punya hutan lindung," jawab Al sembari menggenggam tangan Tasya dan berjalan untuk membeli tiket.


"Mana hutannya? Ini pendopo gak sih? Lo mau ajak gue wisata religi atau wisata horror?" Tasya malah berjalan semakin mepet ke arah Al.

__ADS_1


Al tertawa melihat reaksi Tasya. Beginilah kalau kelamaan di Bandung. Dia hanya akan dimanjakan oleh wisata alam yang tidak jauh-jauh dari perkebunan asri. Jarang sekali ditemui danau, bendungan, hutan. Memang ada tapi jauh.


"Ada, ikut aja," jawab Al santai.


"Al jangan main-main. Masa iya lo bawa gue ke hutan, ngaco. Pulang aja yukk?" Pinta Tasya.


Al menggeleng pelan, tentu dia tidak akan mengikuti kemauan Tasya. Dia harus menunjukkan tempat itu karena dia tau kalau Tasya akan menyukainya. Tasya hanya menghela napasnya, memang Al ini terkadang suka aneh-aneh. Tapi dia sudah di sini sekarang, jadi mau tidak mau harus mengikuti kemana pun Al pergi.


Setelah membeli tiket Al membawa Tasya ke sebuah dermaga, di sana sudah terlihat ada sebuah perahu untuk menyeberang ke tempat yang mereka tuju.


Al memakaikan pelampung pada Tasya dan memastikan semuanya agar aman. Tasya hanya menurut saja, karena minta pulang pun pasti Al tidak akan mengikuti kemauannya. Al lebih dulu turun ke perahu. Setelah itu dia mengulurkan tangan pada Tasya agar dia tidak terjatuh.


"Ayokk, ini aman," ucap Al meyakinkan.


Tasya menerima uluran tangannya dan perlahan turun ke perahu. Perahu yang goyang-goyang membuat jantungnya berdegup kencang. Namun Al merangkul pinggangnya dan terus memegangi Tasya sampai akhirnya mereka berdua bisa duduk.


"Al ini sebenernya kita mau ke hutan apa wisata air Amazon. Tiba-tiba ada buaya aja kan kita bisa di makan. Mau mati muda?" Tanya Tasya.


"Dari sini kita bakalan menuju ke tempat yang gua maksud. Udah jangan khawatir, lu pergi sama gua elah gak akan kenapa-kenapa. Gak akan gua culik juga, rugi makannya banyak," ledek Al.


Tasya memukul lengan Al dan malah membuat pria itu tertawa. " Yakali aja lo jual gue ke duda yang ada di desa-desa soalnya kan gue cantik."


"Gak ada yang mau, orang galak. Udah diem aja, mingkem."


Perahu pun melaju, Tasya kini sedang asik dengan kamera ponselnya dan mengajak Al untuk ber-selfie. Lagi-lagi yang bisa diajak menghabiskan waktu selain teman-temanya adalah Al. Bahkan sepertinya Al memang selalu ada di mana pun.


"Al kita udah mulai KKN kan semester depan. Katanya juga gak sistem acak. Gue sama lo aja ya?" Ucap Tasya tiba-tiba.


"Kenapa tiba-tiba bahas KKN?" Tanya Al menatap gadis itu.


"Ya gapapa, walaupun gue udah gak cengeng tapi ternyata gue masih penakut. Kan gak ada syarat harus semua fakultas ada. Mau anak FK berapapun kan boleh asal 12. Gak tau kenapa kalau sama lo gue gak akan ngerasa takut, gimana sih gue bilangnya?"


"Gimana, coba jelasin," kata Al mencoba memfokuskan diri menatap Tasya.

__ADS_1


"Maksudnya gue bakalan ngerasa baik-baik aja kalau menghadapi apapun asal ada lo. Dari kita kecil sampe sekarang, lo itu kaya membiasakan gue buat selalu butuh lo. Kaya misalnya gue sedih, takut, saat gue patah hati juga. Jadi ya gue takut aja kalau KKN sama orang yang gak gue kenal," kata Tasya jujur.


Al tersenyum entah kenapa dia seperti mendapat pengakuan cinta dari Tasya. Padahal maksud Tasya bukan seperti itu. "Lu gak boleh bergantung sama gua, tapi kalau lu butuh gua pasti bakalan selalu gua usahain."


__ADS_2