
Tasya dan Al sengaja dijauhkan oleh kedua keluarga dan teman-temannya. Mereka tidak boleh dekat-dekat karena hari ini adalah acara pertunangan. Acara mereka akan diselenggarakan pada siang hari, karena sekarang berfokus pada pernikahan Radit.
Tasya memakaikan selendang putih untuk akad kepada kedua mempelai. "Abang semangattt!!" Bisik Tasya.
Radit pun mengusap pipi Tasya lembut seraya mengangguk. Saat akan kembali duduk Tasya mencari-cari keberadaan Al. Belva dan Monik yang melihat itu pun langsung menarik tangan Tasya.
"Pasti lo mau curi-curi kesempatan liat Al? Gak boleh!" Larang Monik.
"Apasihhh lagian kenapa gak boleh?!" Ucap Tasya sambil memberenggut.
"Harus meminimalisir ketemu, pokoknya lo jangan cari-cari kesempatan!" Kata Belva mutlak.
Mereka nampak cantik menjadi pager ayu, dengan gaun berwana lilac gelap sesuai dengan konsep pernikahan dan juga pertunangan. Melihat kakak iparnya sangat cantik membuat Tasya tidak sabar ingin memakai kebaya pertunangannya.
Dari jauh sana Niken sudah hadir bersama yang lainnya terkecuali Viko, mereka juga mengenal Radit dan pasti akan mengikuti acara pernikahan ini dari awal. Mata Niken tertuju pada Tasya yang sedang bersenda gurau dengan kedua temannya, dia jadi merindukan masa-masa SMA mereka dulu. Andai saja dia tidak ikut-ikutan, pasti dia bisa bersama Tasya dan menjadi pengiringnya nanti.
Acara di sana semakin khusuk, lantunan doa-doa juga mulai mengalun. Semua orang seperti harap-harap cemas namun disertai bahagia.
"Saya terima nikah dan kawinnya Amanda Viaza Farasya binti bapak Furqon Atmaja dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Tegas Radit.
"Bagaimana para saksi, Sah?" Tanya penghulu.
"SAHH!" Semua orang menyuarakan kata sah.
"Alhamdulillah."
Tasya terharu melihat itu semua, abangnya kini resmi menjadi seorang suami. Yang dulu hanya ada Tasya di hidupnya, kini bertambah lagi satu orang wanita yang akan menemani hidupnya.
Setelah ijab kabul selesai dilanjutkan dengan doa-doa dan serangkaian upacara adat dan setelahnya acara resepsi. Hotel ini begitu megah, karena ada dua rangkaian acara mereka sudah menyiapkan fasilitas terbaik agar memadai sampai sore nanti.
Banyak dari alumni SMAVEN datang ke sana. Secara Radit dan Tasya adalah mantan ketua OSIS. Mereka pasti menyempatkan datang di hari liburnya untuk datang ke sini.
__ADS_1
Tasya berlari ke panggung resepsi dan dia memeluk kakak iparnya seraya tersenyum. "Welcome kakak ipar."
Amanda mengusap pipi gadis itu dengan lembut. "Kamu ternyata lebih gemes daripada di video call ya."
"Makasihhh lohhh, kakak juga jauh lebih cantik dari pada di foto. Kita harus jadi tim yang baik ya kak, kita tim recokin hidup abang!" Seru Tasya.
Amanda terkekeh. "Oh itu haruss."
"Ck, gak adik gak istri sama aja," keluh Radit. Mereka pun tertawa. Setelah itu ada seruan untuk foto keluarga. Tasya memang meminta untuk dirinya sendiri bersama kedua mempelai.
Setelah itu di susul oleh Amara dan Tasya. Lanjut ke keluarga Al yang mengikut sertakan Tasya. Tasya juga mengajak teman-temannya dan sekalian untuk modus saling mencuri pandang dengan Al. Mereka sangat lucu.
"Jaga pandangan, bentar lagi tunangan juga!" Peringat Angkasa.
"Au ya, tinggal nunggu jam. Gimana kalau nikah, kalian harus dipingit," ucap Yoda.
"Bacot!"
Setelah puas berfoto dan ber-selfie dengan teman-temannya, Tasya berkeliling, niatnya mencari Al tapi tidak ada. Acara di sini semakin ramai didatangi banyak orang. Hingga kini waktunya Tasya harus menyusul Monik dan Belva ke ruang make up untuk mempersiapkan acara pertunangan.
Tasya buru-buru namun tertahan oleh sapaan Rena dan Beni. "Tasya."
Tasya menoleh dan tersenyum ke arah keduanya serta tidak lupa bersalaman. "Eh, Om, Tante. Kalian juga. Makasih loh udah menyempatkan hadir." Ucap Tasya sembari sekilas saja menatap Viko dan Bella.
"Sama-sama, kamu terlihat cantik loh hari ini. Semoga lancar ya, tante akan di sini sampai acara kamu selesai," ucap Rena sembari mengelus pipi Tasya.
"Iya benar, Om juga ingin lihat pria mana yang beruntung mendapatkan kamu untuk pendampingnya kelak. Om ikut senang. Semoga lancar," lanjut Beni.
"Aamiin, makasih doa baiknya ya Om, Tante."
Viko dan Bella sedari tadi menatap ke arah Tasya. Harus diakui Tasya sangat cantik sekali hari ini. Viko meratapi hatinya sedangkan Bella merasa sedikit iri karena Tasya memang selalu lebih unggul darinya. Tidak ada kebencian, hanya saja dia merasa kalau dia memang tidak bisa disandingkan dengan Tasya.
"Oh iya, Tasya harus make up dulu. Tasya tinggal ya, semoga kalian menikmati acaranya," ucap Tasya dengan terburu-buru namun tak melupakan sopan santunnya untuk berpamitan.
__ADS_1
Viko mengepalkan tangannya erat. Kalau begini rasanya dia ingin melampiaskan amarah pada Bella sekarang juga. Bella menyadari raut wajah Viko yang berubah. Dia jadi takut di tengah pencitraan keluarganya ini akan terjadi keributan.
Tasya melewati lorong untuk menuju ruang make up, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Tasya kaget dan menatap ke arah orang itu.
"Niken? Arka?" Tasya bergumam seraya melepaskan tangan Arka dari lengannya.
"Kalau kalian mau buat gue tinggalin acara ini sama kaya Sarah. Gue gak punya cukup waktu buat ladenin kalian, karena gue gak akan tinggalin Al buat temen kalian!" Ucap Tasya tegas.
"Gakk, Syaa. Gua sama Niken itu cuma ngikut arus aja karena mau gimana pun mereka temen kita. Keputusan lu, ya udah itu hak lu. Gua cuma kasian karena Niken beneran se-sayang itu sama lu. Dia kangen," jelas Arka.
"Sya, maafin gue. Gue selalu mencoba buat nasehatin mereka tapi mereka punya pandangan sendiri. Begitu pun juga gue, gue seneng lo sekarang sama Al. Karena gue gak suka lo disakitin."
Tasya menatap Niken, memang dia juga bersalah sih tidak menjawab panggilan gadis itu. Niken pun memeluk Tasya dengan erat. "Gue kangen lo, sejujurnya gue mau bilang itu waktu di rumah Viko."
Tasya membalas pelukan Niken, dia memang sangat polos sejak dulu sehingga membuatnya hanya ikut-ikut saja. "Sebenernya gue marah, tapi gue juga kangen lo."
Niken melepas pelukannya. Dia mengulurkan paper bag untuk hadiah pertunangan Tasya. "Buat lo-"
Tasya melirik ponselnya. "Gak ada waktu, ikut gue."
Tasya menarik Niken dan Arka untuk ikut bersamanya, dia membawa mereka ke ruang make up. Monik dan Belva menatap ke arah Tasya seolah meminta penjelasan.
"Bawa gaun yang udah gue siapin kemarin atas nama Niken, terus bawa dia ke MUA, suruh Angkasa sama Yoda urus Arka," ucap Tasya sembari menerima kebaya miliknya dari Monik.
Tasya memang menyiapkannya untuk Sarah, Sherli dan Niken. Tapi dia tidak jadi memberikannya karena merasa mereka tidak akan mau. Jadi dia hanya memaksa Niken saja sebagai perwakilan. Setidaknya ada sahabat Tasya di sini yang menjadi pengiringnya.
"Bukannya?" Omongan Belva tergantung.
"Gak, mereka ... Aduh nanti gue jelasin. Akur-akur ya kalian, jangan diapa-apain si Niken. Dia softie," ucap Tasya.
Mereka pun mengangguk. Tasya memakai kebaya pertunangannya, dia tersenyum. Pokoknya dia harus terlihat cantik hari ini. Jantungnya berdegup kencang, kenapa mendadak dia grogi seperti ini.
"Syaa,tenang. Ini baru pertunangan apalagi pernikahan? Semuanya akan berjalan lancar," ucapnya pada diri sendiri.
__ADS_1