Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Arti Pernikahan


__ADS_3


Setelah satu bulan berlalu akhirnya pernikahan Zea dan Fadil di laksanakan. Acara yang meriah membuat siapapun merasakan kebahagiaan dari sana. Padahal mereka tidak tau saja, kalau kedua pengantin itu sudah membuat kesepakatan untuk menjalankan ini dengan jalan mereka dan dipenuhi oleh pencitraan semata.


Mereka berdua benar-benar akan menjalankan kehidupan sendiri tanpa ikut campur satu sama lain. Benar-benar sebuah pernikahan hanya untuk menyenangkan kedua orang tua.


Zea dan Fadil menginap di hotel, sementara yang lainnya akan sibuk sampai besok untuk menyelesaikan dan menuntaskan pasca pernikahan. Termasuk keluarga Tasya. Akhirnya mau tidak mau Tasya dan Al pulang ke rumah. Kali ini Abangnya meminta Tasya untuk menginap di rumah Al saja agar dia tidak khawatir.


Tasya keluar dari kamar Al menggunakan kaos putih kebesaran milik Al dan juga hotpants hitam yang tenggelam karena bajunya. Rambutnya yang dicepol asal membuatnya lucu di mata Al. Al suka dengan penampilan Tasya yang seperti ini.


"Aku lapar," rengek Tasya pada Al.


"Ayok cari makanan di dapur," ajak Al.


Tasya mengangguk dan mengikuti Al ke bawah, lebih tepatnya ke dapur. Al melihat bahan-bahan yang ada di sana, ya apalagi yang bisa mereka masak kalau bukan mie?


Lagi pula Tasya dan Al sama-sama tidak jago memasak, jadi yasudah makan saja yang ada. Tasya dan Al bekerja sama, Tasya yang memotong bahan-bahan dan Al yang memanaskan air di panci.


"Awww." Tasya meringis, entah karena kurang fokus atau ngantuk jarinya teriris pisau.


Al yang panik mematikan kompornya dan langsung melihat jari Tasya, perlahan dia mengemut jari Tasya untuk menghentikan pendarahan. "Kok bisa keiris? Hati-hati, Sayang."


Tasya hanya menatap Al, sementara Al menarik Tasya ke wastafel dan mencuci jari Tasya. Setelah selesai Al mencari plester di lemari sampingnya dan memasangkannya ke jari mungil Tasya.


"Masih sakit?" Tanya Al sembari menatap Tasya.


Tasya menggeleng lalu tersenyum kecil, mereka pun kembali ke ke posisi masing-masing dan kembali memasak.

__ADS_1


"Al, kamu masih yakin kah mau nikah sama aku?" Tanya Tasya tiba-tiba.


"Heh apaan ngomongnya kok gitu? Kenapa gak yakin coba?" Tanya Al berbalik.


"Aku tuh gak jago masak, aku bisa masak cuma aku gak bisa masak macem-macem gitu loh. Biasanya kan cowok sukanya sama yang pinter masak, apalagi kalau buat dijadiin istri, iya kan? Motong-motong aja keiris barusan, kau nanti mau aku kasih makan apa coba, mana Bunda masaknya jago banget," ucap Tasya insecure.


Sebenarnya dia juga tidak tau kenapa sampai berpikir ke sana, hanya saja dia merasa tidak pantas. Tadi Al dengan sigap membantu Tasya, tapi dia memasak saja tidak bisa. Hidup bersama Radit membuat membuat dia terbiasa dimanjakan. Kalau Radit tidak memasak ya beli, lalu setelahnya ada Amara yang memasak di rumah dan lagi sekarang bertambah dengan Amanda. Dia baru sadar kalau dia tidak bisa apa-apa.


Al mengerti sih dengan kecemasan Tasya. Dengan lembut dia menghadapkan Tasya padanya dan memegang kedua bahunya. "Tasya, jadi seorang istri itu emang harus serba bisa. Bisa masak, bisa bersih-bersih, dandan, mengurus anak. Tapi, gak harus langsung bisa."


Tasya menatap ke arah Al.


"Menurut aku menikah itu awalnya belajar membangun rumah tangga, kan? Yang namanya belajar apalagi dalam pernikahan itu dilakukan oleh dua orang. Jadi kita sama-sama belajar, kamu belajar jadi istri yang baik dan aku belajar jadi suami yang baik. Kamu belajar masak, aku belajar cari uang, kamu belajar bersih-bersih aku belajar jadi suami yang mengerti dan membantu istrinya juga."


"Aku gak akan nuntut kamu ini itu, karena kamu juga pasti mau jadi wanita karier. Kecuali mungkin nanti ada saatnya aku minta kamu buat rehat dari pekerjaan demi anak kita di masa depan. Jadi, kita belajar sama-sama ya? Jangan insecure kaya gitu aku gak suka," ucap Al pengertian.


"Ya aku tuh cuma gak mau gitu kamu nantinya nyesel atau gimana," cicit Tasya.


Tasya terkekeh, memang benar sih. Seharusnya dia tidak khawatir, kan? Tapi ya mungkin itu adalah perasaan yang kerap kali di rasakan oleh wanita jadi ya wajar saja.


.


.


.


Setelah selesai makan, Tasya tidur di kamar Al dan Al tidur di kamar tamu yang berada di sebelah kamar Al. Kenapa? Karena alasan konyol Al yang bilang kalau ingin kasurnya wangi tubuh Tasya. Memang aneh-aneh saja dan sekarang Tasya sudah duduk di kasur untuk bersiap-siap tidur.

__ADS_1


Al mengusap puncak kepala Tasya dengan lembut. "Obatnya udah kamu minum? Vitamin? Kamu beberapa hari ini kurang tidur karena bantuin pernikahan Zea."


Tasya tersenyum dan mengangguk. "Udah semuanya, Sayang. Jangan khawatirin apapun, kayanya aku butuh istirahat. Kalau besok aku ngebo gapapa ya?" Tasya memeluk Al yang berdiri di depannya.


"Iya gapapa." Al kembali mengusap rambut Tasya, ahh gadis ini benar-benar menggemaskan.


Tasya mengadahkan kepalanya pada Al. "Kamu gak mau kaya di drama-drama Korea gitu?" Tanya Tasya.


"Apa?"


Tasya memajukan bibirnya pada Al. Al tertawa melihatnya dan menarik hidung Tasya. "Heh bayi, gak boleh. Nanti ya, kalau udah sah. Udah dewasa ternyata si bayi ini minta dicium."


Tasya cemberut mendengar perkataan Al. Dia juga tidak tau kenapa malah minta dicium, tapi ya ingin saja. Lagi pula Al pernah mengambil first kiss-nya.


"Udah aku bilang jangan sering-sering." Al menutup bibir Tasya dengan tangannya dan perlahan dia mencium punggung tangannya sendiri. "Gini aja ya, soalnya takut khilaf."


Tasya tersenyum karena perlakuan Al, pipinya saja sudah bersemu merah. Al terkekeh melihatnya. "Yaudah aku ke kamar dulu, kamu langsung tidur ya."


Tasya mengangguk. "Iya-iya, good night calon suami."


"Good night too calon istri." Al mengelus pipi Tasya dan setelah itu keluar dari kamar. Bisa-bisa kalau semakin malam bersama Tasya suasananya berbeda, apalagi mereka berdua di rumah. Al tidak mau itu terjadi, karena Radit sudah percaya padanya.


Tasya menarik selimutnya, untuk kamar ukuran lelaki seperti Al ini cukup rapi. Al memang bukan type orang yang sembarangan dalam menata apapun, cita-citanya menjadi dokter juga membuatnya menjadi orang yang lebih tertata rapi.


Di meja seberang kasur, banyak bingkai photo Al bersama Tasya. Sama seperti kamar Tasya, kamar Al pun penuh dengan wajah Tasya. Rasanya dia salting sendiri kalau begini. Apalagi melihat photo pertunangan mereka yang terpampang jelas di pajang di sana.


"Kok gue salting sendiri ya? Kenapa Al tuh selalu lakuin sesuatu yang gak pernah gue duga sebelumnya, kenapa Al selalu bikin gue jatuh cinta setiap hari? Kaya gak ada bosennya gitu." Gumam Tasya.

__ADS_1


Mungkin itu penggambaran yang tepat menurut Tasya. Katanya anggur yang dibiarkan semakin lama, akan semakin manis rasanya. Dan ya itu terjadi di hubungan mereka, apa karena mereka teman masa kecil? Jadi mereka sudah paham satu sama lainnya.


Tasya memeluk guling dan menciumi selimut Al, wangi khas Al yang selalu Tasya sukai juga menempel di sana. Membuat dia merasa sedang dipeluk Al. Apa jadinya kalau nanti mereka menikah ya? Tasya jadi membayangkan itu semua. Daripada larut dalam khayalannya Tasya pun memejamkan matanya, dia harus tidak sekarang.


__ADS_2