
Hari ini, Tasya diperbolehkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Akhirnya, setelah 1 minggu bertarung dengan bau obat-obatan, kini Tasya bisa bernapas lega. Dia sudah bosan hanya berbaring, Tasya anaknya cukup aktif sehingga dia tidak betah jika tidak melakukan apa-apa.
"Bang," panggil Tasya pada Radit. Tasya juga memasang muka lemas untuk memperkuat dramanya.
"Apaan?" Sahut Radit yang sedang sibuk merapikan baju Tasya.
"Gue kayaknya gak kuat jalan." Tasya mengulurkan tangannya seolah kode untuk minta digendong. Sangat gemas seperti anak kecil.
"Terus?" Radit sebenarnya paham, tapi dia tidak mau dan memilih untuk berpura-pura tidak peka. Bukan apa-apa, menurutnya sekarang Tasya sudah bisa disandingkan dengan berat anak gajah.
"Lo gendong gue sampe ke mobil ya?" Pinta Tasya sambil menaik-naikan alisnya, Tasya memasang wajah memohon kepada Abangnya itu agar keinginannya dituruti.
"Ah ogah, walaupun badan lu kecil begini, lu itu berat. Sama kaya beban hidup," ceplos Radit yang masih tidak ingin menggendong Tasya. Sehingga dihadiahi bibir cemberut adeknya itu.
"Yeeeuu, malah curhat. Lagian yah, gue abis sakit." Tasya bicara lembut agar Radit meluluh.
"Terus kalau lu abis sakit ngapa? Ada ngaruhnya?" Radit berdiri di depan Tasya sambil menatapnya.
"Ada lah!"
"Apaan?"
"Kan berat badan gue ngurangin, jadi gak berat," terang Tasya dengan bangganya.
"Paling turun se–ons doang, gak usah manja. Jalan aja sediri, masih punya kaki juga." Radit kembali fokus memasukan baju dan barang milik Tasya ke koper.
"Ih abang mah, gak perhatian banget sama adeknya." Tasya cemberut, salah satu cara yang memang sangat efektif untuk membujuk Radit.
"Pake kursi roda aja, gimana? Nanti gua ambilin," tawar Radit yang tak tega melihat adiknya cemberut seperti itu.
"Ogah, dikata gue ibu-ibu stroke yang pake kursi roda," protes Tasya.
"Emang yang pake kursi roda ibu-ibu stroke doang? Ck," decak Radit frustrasi.
"Ya enggak, tapi kalau gue liat di sinetron-sinetron kan kebanyakan ibu-ibu stroke yang pake kursi roda," ungkap Tasya.
"Dasar, korban sinet lu," ketus Radit.
"Dih, apaan."
"Gak apa-apaan."
"CEPAD GENDONG AKU ABANG RADIT!" Tasya pun akhirnya berteriak membuat Radit spontan menutup telinganya.
"Berisik anjir, yaudah iya iya. Bawel amat." Radit yang pasrah pun menundukkan sedikit punggungnya untuk Tasya naiki.
"Nah gitu dong, ayokkk cepatt cepatt!" Tasya pun menaiki punggung Radit dengan senyum kemenangan.
...~ • ~...
Mereka pun sampai di rumah. Punggung Radit rasanya pegal karena menggendong anak gajah yang selalu merengek ingin digendong.
"Gara-gara lu, gua gak kuliah seminggu," kata Radit.
"Kan gue udah suruh lo kuliah, lonya aja yang yang gak mau," bela Tasya.
"Ya mana tega gua tinggalin adek gua sendirian di rumah sakit, mikir!" Kesal Radit.
"Ya intinya salah siapa?"
"Ya gua sih," ucap Radit pasrah.
"Yowess, jangan salahin gue lagi," ledek Tasya yang merasa menang.
"Ya udah, ke kamar aja lu. Istirahat. Malah nangkring di sofa gini," ucap Radit.
"Nanti ah, gue males di kamar," kata Tasya.
"Yaudah. By the way, lu sama Viko mulai deket?" tanya Radit.
"Temenan doang," jawab Tasya.
"Kok bisa? Bukannya lu sama dia kaya anjing sama tikus?" tanya Radit lagi.
"Ya bisa, ternyata dia bijak. Mario Teguh aja kalah kalau dia lagi bijak," jawab Tasya.
"Cuma karena bijak aja? Gak ada yang lain?"
"Ya enggak, dia juga asik ternyata," kata Tasya.
"Awas jatuh cinta lu sama dia," kata Radit.
"Enggak, mana ada jatuh cinta. Gue sama dia temenan, kok," kata Tasya.
"Iya lu gak bisa jamin dan Viko pun gak bisa jamin," kata Radit.
"Kita temenan doang. Dia pun juga mikir kaya gitu. Gak lebih."
__ADS_1
"Kan semua itu berawal dari temenan. Emang dulu, gua sama pacar gua apa? Tante sama ponakan? Kagak, 'kan? Ya pasti temenan dulu," kata Radit.
"Emang lo ada pacar? Lo kan jones lumutan," kata Tasya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sialan lu, Dek. Gue juga salah ngomong pula. Oke lanjut, semua berawal dari temenan," kata Radit.
"Gak lah, gak semua yang temenan itu taken. Lo mah terlalu hanyut dalam sinetron tau gak," kata Tasya.
"Bukan gitu, cuma pasti rata-rata emang kaya gitu," kekeh Radit.
"Dan gue gak masuk ke dalam rata-rata itu."
"Ngeles mulu lu, Dat," kesal Radit.
"Dat? Dat apaan?"
"Bodat."
"Bodat apaan?"
"Monyet!"
"Najongin lo, Bang. Adeknya sendiri dibilang bodat!"
"Suka-suka gua, kan gua yang bilang," kata Radit.
"Sesuka lo dah, gue ke kamar," kata Tasya.
"Istirahat lu, jangan chattan sama Viko," peringat Radit.
"Damat."
...~ • ~...
Tasya membantingkan tubuhnya di kasur. Badannya sudah tidak lemas lagi sekarang. Perlahan, dia membuka galeri di ponselnya. Merlihat photo pria itu. Rasanya sudah beberapa tahun mereka terpisah.
"Al, gue kangen sama lo," gumam Tasya.
Tak lama kemudian, ponsel Tasya berbunyi. Betapa kagetnya dia, baru saja dia merindukan orang itu, kini orang itu sudah menelfonya.
"Halo, Aldooooooooo!!" teriak Tasya.
"Halo, Sya. Kata abang lu, lu sakit lagi?" tanyanya dari seberang sana.
"Udah sembuh kok gue," kata Tasya.
"Atjiaaa gapapa deh, yang penting lo balik. Kapan lo balik?"
"Nanti paling, kalau liburan," kata aldo.
"Ahh lama," kata Tasya sambil cemberut. Walaupun jelas Aldo tak dapat melihat ekspresinya sekarang.
"Kenapa? Lu kangen gua ya?" tanya Aldo sambil terkekeh.
"Menurut ngana? Ya kangen lah, makanya lo cepet balik."
"Tumben amat Tasya Aurell gak gengsian bilang kangen sama gua," kata Aldo.
"Bodo amat, Al. Yang penting lo balik," kata Tasya kekeh.
"Iya-iya. Ada saatnya gua balik nanti," kata Aldo.
"Janji ya lo sama gue," kata Tasya.
"Iya janji."
"Lo lagi ngapain?" tanya Tasya.
"Lagi apa ya, gua lagi telfon lu lah."
"Oh iya, kok gue bego ya," kata Tasya.
"Ya emang, btw salam dari Ibu gua. Katanya kangen sama lu."
"Salam balik buat Ibu lo ya," kata Tasya.
"Iya-iya."
"Al..."
"Apaa?"
"Nyanyi dong, udah lama lo gak nyanyiin gue," pinta Tasya.
"Kangen suara gua ya lu?"
"Iyain ajaa. Nyanyi weh."
"Gak ada gitar, males ambil."
__ADS_1
"Gak usah pake gitar, nyanyi aja," kata Tasya.
"Nyanyi apa?"
"Lo nyanyi apa pun, gue dengerin kok," kata Tasya.
"Ya kalau kagak didengerin awas aja loh."
"Iya ih, cepet," kata Tasya.
"Oke. Ekhemm. Cek sound."
"Alay lo."
Waktu tlah tiba
Aku kan meninggalkan
Tinggalkan kamu
Tuk sementara
Suara ini, suara yang selalu Tasya rindukan. Membuat darahnya berdesir saat mendengarnya.
Kau dekap aku
Kau bilang jangan pergi
Tapi ku hanya dapat berkata
Tasya tak dapat membendung tangisannya, sungguh. Dia merindukan pria itu. Dia butuh pria itu di sampingnya sekarang.
Aku hanya pergi, tuk sementara
Bukan tuk meninggalkanmu, selamanya
Aku pasti kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali
Kau peluk aku
Kau ciumi pipiku
Kau bilang janganlah ku pergi
Bujuk rayumu
Buat hatiku sedih
Tapi ku hanya dapat berkata
Aku hanya pergi, tuk sementara
Bukan tuk meninggalkanmu, selamanya
Aku pasti kan kembali pada dirimu
Tapi kau jangan nakal
Aku pasti kembali
"Gue kangen sama lo, banget," kata Tasya dalam isakannya.
"Ah lu mah malah mewek, jangan mewek elah."
"Kangen gue sama lo tau," kata Tasya.
"Kan gua ubilang nanti balik."
"Udah beberapa tahun lo gak balik, nanti lo bohong lagi," kata Tasya.
"Kagak bohong elah, bener."
"Pokoknya awas kalau lo gak balik."
"Yaudah gua tutup ya. Gua masih di sekolah. Mau masuk."
"Selamat belajar, bye," kata Tasya.
"Bye, Sya."
Rasanya rindunya terobati sedikit. Mendengar suaranya dengan keadaan baik-baik saja membuat Tasya tenang.
"Cepet balik ya," kata Tasya yang melihat photo mereka sekejap.
Tasya pun tertidur setelah habis menangis.
__ADS_1