Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Salah Paham


__ADS_3


Dari hari ke hari, tak ada perubahan dari Viko. Dia justru kembali ke sikap awalnya. Pembangkang. Seperti saat ini, Tasya sedang ceramah di hadapan para kaum pria itu.


Bagaimana tidak diceramahi, mereka sekarang tidak kelas, atribut tidak lengkap dan membuat onar. Selain mengganggu Pak Jaya, Viko dan teman-temannya membolos di kantin. Menguji kesabaran saja.


"Ini masih jam pelajaran ya, Vik. Lo masuk kelas, atau gue bilangin sama kesiswaan!" perintah Tasya sembari melioat kedua tangannya di dada.


"Jam kosong juga, gua lapar. Ya suka-suka gua mau ke kantin atau nggak, gak usah ribet bisa gak? Ribet banget jadi cewek," ketus Viko sambil melempar kulit kacang ke sembarang arah.


"Kok lo jadi nyebelin sih, Vik! Kemarin-kemarin lo kayanya udah mulai tobat. Lo kenapa sih!? Kalau kenapa-kenapa tih coba bilang gitu. Emag enak dicuekin?!" Kesal Tasya.


Tanpa membalas ucapan Tasya, Viko langsung berdiri dan meninggalkan teman-temannya. Dia benar-benar bertekad untuk melupakan Tasya dan perasaannya.


"Heh, temen lo kenapa sih. Sensi banget sama gue. Gue salah apa coba. Kok dia jadi nyebelin lagi, salah gue? Gue aja ga tau salah gue apa. Kaya cewe tau gak marah tanpa ada alasan yang jelas. Gue jadi mikir apa gue salah ngomong apa gimana. Sejak terakhir ketemu sama gue dia jadi gitu. GUE KESEL TAU GAK?!" Omel Tasya pada ketiga bujangan itu.


"Masa lu gak peka sih, Sya. Biasanya cowok loh yang gak peka, ini malah ceweknya, hadehhh," celetuk Bagus.


"Hah? Peka apaan, sih? Kalian bahas apa? Gue gak paham apa-apa?" Tanya Tasya tak mengerti.


"Gua bingung gimana jelasinya, lu terlau asdfghjkl," gemas Reza.


"Ahh tau ah, nggak Viko, nggak Chandra. Semua aja marah sama gue semua! Dasar cowok itu makhluk Tuhan yang paling nyebelin di muka bumi ini," kesal Tasya.


"Lah, Chandra ngapa marah sama lu, Sya? Baru jadian udah marahan aja, gak baik bu ketos. Galak sih jadi cewek," frontal Arka.


"Hah? Jadian pala lo peyang. Mana ada jadian, sotoy lo pada!" Sanggah Tasya. Lagi pula mereka dapat gosip darimana coba?


"Lah, jadi lu gak jadian sama si Chandra?" tanya Bagus kaget.


"Ya enggak lah, dapet kabar burung dari mana kalian? Makanya gak usah jadi bigos sekolah." Ucap Tasya dengan nada yang tak terima.


"Fix ini salah paham," kata Reza penuh penekanan.


"Salah paham? Apa sih? Gak nyambung ngomong sama kalian mah ah, bisa gak sih ngomong pake bahasa manusia gitu, biar gue paham," geram Tasya.


"Bukan apa-apa. Kepo lo jadi ketos doang. Lo pikir kita bicara bahasa apa anjir, bahasa planet?!" celetuk Arka.


"NAJONG!"


"Biasa aja mba, jangan ngegas," kata Reza dengan nada yang dibuat kaget.


"Udah balik-balik kalian ke kelas. Kalau nggak, gue catet nama kalian dan gue laporin ke kesiswaan!" Perintah Tasya.


"NAJONG!" kata mereka serempak dan meninggalkan kantin.


Tasya pun dibuat frustasi oleh ketiganya. Tasya tidak mengerti dengan semua ini. Sikap Viko, ucapan Arka, Bagus dan Reza, sikap Chandra. Semuanya membuat Tasya ingin maki-maki saja.


"Dasarr NYEBELIN!!!!!!" gerutunya.

__ADS_1


...~ • ~...


Tasya memilih untuk di ruang OSIS. Memang tak ada pelajaran hari ini, bukan berarti Tasya membolos, Tasya mengerjakan beberapa hal juga di sana. Daripada di kelas, dia tidak bisa fokus berkonsentrasi membaca novel atau mengerjakan pekerjaan osis. Mereka sungguh sangat berisik.


Tiba-tiba seseorang hendak masuk ke ruangan itu. Namun, dia mengurungkan niatnya dan kembali menuju kelas


"Heh, kenapa balik lagi?" teriak Tasya dari dalam ruangan.


Namun, tak ada jawaban dari Chandra. Dia hanya kembali melanjutkan perjalanannya tanpa mempedulikan teriakan Tasya. Sepertinya dia masih butuh waktu untuk menerima penolakan Tasya kemarin.


"Apa cara gue nolak dia itu salah, ya?" gumamnya.


Sementara itu Bagus, Reza, dan Arka kembali ke kelas. Setelah puas bersembunyi di kamar mandi, akhirnya mereka memilih masuk ke kelas.


Namun, tak terlihat Viko dan Tasya di sana. Demi kebaikan bersama, Bagus menghampiri Sarah untuk mengajaknya diskusi.


"Tasya kemana?" tanya Bagus pada Sarah.


"Ga tau, di ruang OSIS kali. Galau dia kayaknya, temen lo tuh jutekin dia tanpa alasan. Kenapa sih dia?" jawab Sarah Asal.


"Mereka salah paham ini mah kalau kata gua," kata Reza.


"Lah emang mereka siapa?" tanya Niken tak mengerti.


"Itu si Viko sama Tasya," sambung Arka.


"Gini, Viko jauhin Tasya gara-gara ngiranya Tasya jadian sama Chandra," jelas Bagus.


"Tuh kan bener! Eh, bentar. Jadi Viko beneran suka sama Tasya?" kaget Sarah.


"Yeuuu dasar lemot," nyinyir Arka.


Mereka pun sibuk memikirkan cara, agar Tasya dan Viko berbaikan. Mereka sangat ingin melihat keduanya akur dan jadian. Jadi mereka sebisa mungkin mengatur rencana.


...~ • ~...


Tasya pun memilih berjalan kaki untuk pulang. Entahlah, dia merasa tidak mood hari ini.


"Viko kenapa sih jadi nyebelin lagi?" gerutunya.


Tasya tak sadar, bahwa sedari tadi ada seorang pria yang mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan Viko. Sebenarnya Viko ingin sekali menyapa Tasya, tapi dia tak berani.


"Lo cantik, Sya. Tapi sayang, udah punya orang," gumam Viko pelan.


Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Tasya dengan sigap mencari payung yang ada di tasnya, namun nihil. Ternyata dia lupa membawa payung.


"Aduhh, pake lupa segala lagi gue bawa payung." Tasya pun kebingungan, sementara hujan semakin deras turun.


Sebuah jaket memayungin kepala Tasya. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Viko Narendra.

__ADS_1


"Vi-ko?" ucap Tasya tak percaya.


"Udah jangan banyak ngomong, hujan makin gede," kata Viko sambil mulai melangkah.


Tasya pun mengikuti Viko sambil menatapnya lekat-lekat.


"Vik, lo pake aja jaket lo. Lo kehujanan," kata Tasya.


"Terus gua biarin lu kehujanan? Lu mau gua dicap pecundang? Udah gausah banyak ngomong."


"Tapi, Vik-"


"Cepet lari," perintah Viko sambil berlari.


Namun, Tasya menahan tangan Viko.


"Vik."


Viko pun berbalik dan menghadap ke Tasya.


"Apa? Ini hujan nona keras kepala!"


"Kenapa sih lo jauhin gue?" Tanya Tasya.


"Ini bukan waktunya buat ngomongin itu. Ini hujan lu harus pulang sampe rumah sekarang juga," ucap Viko.


"Ga, Vik. Gue ngerasa lo kaya ngejauhin gue. Salah gue apa coba sama lo?" Tanya Tasya lagi.


"Sya! Ini di jalan."


"Gue mau jawabannya sekarang kalau ga gue bakalan tetep di sini sampe hujan berhenti."


"Karena lu udah jadian sama Chandra dan gua gak bisa deket-deket sama lu. Nanti Chandra marah sama lu," jelas Viko.


"Hah? Jadian sama Chandra? Gue bahkan ga nerima dia. Lo salah paham." Jelas Tasya.


Viko pun langsung menarik lengan Tasya, mengajaknya berlari menelusuri hujan. Tasya pun hanya bisa mengikuti Viko.


'Ternyata Viko masih peduli ya sama gue.' gumamnya dalam hati.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah Tasya.


"Masuk dulu," ucap Tasya pada Viko.


Viko pun terdiam sejenak, dia masih merasa tak enak dengan perlakuannya kemarin terhadap Tasya.


"Sya, maafin gua ya," ucap Viko tulus sambil tersenyum.


Tasya pun tersenyum mendengar ucapan Viko.

__ADS_1


__ADS_2