Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Akur


__ADS_3


Jam pulang sekolah telah tiba, tapi tidak untuk Tasya. Karena dia harus mengurus proposal untuk kegiatan yang akan dia laksanakan. Menjadi perfeksionis membuat Tasya harus selalu turun, meskipun semuanya bisa mengerjakan masing-masing tapi Tasya harus tetap mengontrol semuanya agar tidak miskom.


"Lo kumpul OSIS, Sya?" Tanya Sarah yang sudah hafal dengan kegiatan Sahabatnya itu.


"Ya lo tau lah," jawab Tasya santai seraya tersenyum. Sebenarnya kalau boleh bilang, Tasya sedikit tidak enak badan tapi dia tidak bisa menunda-nunda pekerjaan.


"Rajinnya, semangat," ucap Niken menyemangati.


"Jangan balik sore-sore. Jangan telat makan, jangan kecapean. Lo kebiasaan soalnya kalau sibuk suka lupa segalanya," nasehat Sherli.


"Iya, kalau udah sore pasti langsung balik kok," kata Tasya mengiyakan ucapan-ucapan sahabatnya. Dia senang memiliki teman-teman yang baik dan juga perhatian seperti mereka. Tasya sangat beruntung, mempunyai sahabat seperti mereka.


"Sip, kita duluan ya," kata Niken sambil melambaikan tangannya.


"Hati-hati!" Teriak Tasyaa.


Setelah selesai dengan teman-temannya, Tasya langsung menuju ruang OSIS. Ternyata mereka sudah berkumpul di sana dan sibuk dengan tugas masing-masing.


"Maaf, gue baru selesai piket," kata Tasya saat memasuki ruangan itu.


"Gak apa-apa, periksa proposal," ucap Chandra seraya memperlihatkan laptopnya. Tasya langsung menuju ke laptop yang ada di mejanya. Dengan teliti dia melihat setiap ketikan di sana.


"Btw, ini dananya gak kurang?" Tanya Tasya.


"Emang gak cukup? Kalau gua udah sesuaikan kayaknya cukupm Ada yang kurang?" Tanya Chandra sambil mendekat ke arah Tasya.


"Iya tau cukup, cuma kan kita gak tau kalau nanti ada pengeluaran mendadak, Apalagi kepala sekolah agak gimana, 'kan?" cicit Tasya.


"Iya sih, terus gimana?" Tanya Viko yang tak mengerti maksud dari ucapan Tasya.


"Mending setiap kategori biaya di tambahin sedikit, jadi kalau dicoret dan diperkecil gak terlalu jauh," jelas Tasya.


"Terus tambahin juga biaya tak terduga 300 ribu. Jadi kalau dicoretnya terlalu jauh, kita masih bisa dapet dari yang ini," lanjut Tasya.


Chandra menatap Tasya, sedangkan Tasya hanya fokus pada laptop untuk menghilangkan rasa gugupnya. Jarak mereka sangat dekat sekarang, sampai-sampai Tasya bisa merasakan hembusan napas Chandra.


"Aduh, kok gue deg-degan lagi. Gue kan udah gak suka sama Chandra," batin Tasya.


"Gua kok seneng, bisa deket sama lu kaya gini," batin Chandra.


"O-oke." Chandra langsung beralih tatapan menatap laptop.


"Hm, buat proposal ini udah 99% selesai, jadi bisa langsung print aja ya. Gak usah pake jilid gitu. Pake map yang udah gue bikin covernya di laci sana ya, Van. Terus sambil nungguin gue sama Chandra ke kantor Kepala sekolah, kalian bikin susunan jaga pos to pos. Bisa?"


"Bisa, Sya. Nanti sama Ayu dikondisikan," jawab Ayu menyanggupi.


"Oke, terus apa lagi ya. Oh iya, Van jadwal kegiatan print ya sesuai anggota. Biar dipelajari," kata Tasya.


"Sip," singkat Ivan.


Setelah selesai menandatangani proposal, Chandra dan Tasya langsung menuju ke ruang guru untuk meminta tanda-tangan dari Pembina OSIS dan Kesiswaan.


"Hai, Sya." Seseorang memanggilnya saat memasuki ruangan.


"Eh, Kak Gibran."


Gibran ini adalah ketua OSIS tahun lalu. Sekarang dia menjabat sebagai ketua MPK. Ya, sistem di sekolahku adalah, setelah terlepas dari jabatan OSIS akan langsung menjabat sebagai MPK.

__ADS_1


"Proposal?" Tanya Gibran.


"Iya, hehe," jawab Tasya.


"Semangat ya."


"Pasti, makasih ya kak. Jangan lupa juga nanti ada rapat antara OSIS sama MPK," peringat Tasya yang dihadiahi oleh Ghibran.


Tasya langsung menghampiri Pak Taufik."Pak, ini proposal yang kemarin Tasya janjiin," ucap Tasya sebari menyerahkan proposal ke hadapan pembinanya itu.


"Udah di cek semuanya?" Tanya Pak Taufik memastikan.


"Udah, Pak," jawab Tasya.


Pak Taufik pun membaca proposal yang sudah jadi itu. Untungnya, Pak Taufik ini orangnya tidak terlalu serius. Jadi mereka tidak begitu tegang. "Ini dananya dipas-pasin atau dilebihin? Tau kan, Kepala Sekolah seperti apa."


"Dananya udah dilebihin, Pak. Terus kita juga udah tambahin biaya tak terduga. Jadi, kalau dicoret terlalu jauh bisa di ambil dari biaya itu," jelas Chandra.


Pak Taufik hanya menganggukan kepalanya. Dan tanpa basa-basi langsung menandatangani proposal.


"Ini, langsung dibawa ke Pak Jaya aja, setelah kesiswaan baru ke kepala sekolah" kata Pak Taufik.


"Terima kasih, Pak," ucap Tasya.


"Sama-sama."


...~ • ~...


Setelah mendapatkan tanda tangan dari Kesiswaan, kini Tasya sudah berada di depan ruang Kepala Sekolah. Chandra tidak bisa ikut memasuki ruangan itu, karena hanya Ketua OSIS saja yang boleh berhadapan dengan Kepala Sekolah saat mengajukan proposal.


"Do'ain gue," kata Tasya pada Chandra.


"Waalaikumsalam, duduk," kata Pak Herawan.


Tasya pun memasuki ruangan itu lalu salim dan duduk di depan Pak Herawan.


"Ada apa kamu ke ruangan saya?" tanya Pak Herawan.


"Jadi bengini, Pak. Setiap tahun sekolah kita kan mengadakan camping dan pelantikan OSIS. Oleh karena itu, OSIS mau mengajukan proposal untuk kegiatan tersebut," kata Tasya sambil menaruh proposal di meja.


Pak Herawan langsung membaca isi Proposal itu.


"Dua minggu lagi acaranya?" tanya Pak Herawan tanpa melepas pandangannya dari proposal.


"Iya, Pak. Rencananya itu dua minggu lagi," jawab Tasya.


"Ini fasilitasnya sudah apa saja?"


"Fasilitasnya, kita dapat block yang luas di sana, Pak. Dari dana yang sudah ditetapkan, siswa sudah mendapatkan fasilitas tenda, sleeping bag, sama outbound yang sudah tersedia di sana," jelas Tasya.


"Untuk transportasi, menggunakan apa?"


"Rencananya kami akan menggunakan bus atau truck, Pak. Karena memang jaraknya cukup jauh."


Terlihat Pak Herawan sedang mencoret dan mengganti beberapa kategori dalam biaya. Itu pemandangan yang sudah biasa bagi Tasya. Lalu Pak Herawan menandatangani proposal tanda Acc.


Senang, itu yang ada di benak Tasya.


"Satu pesan saya, jadikan moment camping ini berkesan. Jangan seperti tahun kemarin," kata Pak Herawan sambil menyerahkan kembali proposal pada Tasya.

__ADS_1


"Siap, Pak. Kami akan membuat acara sukses semaksimal mungkin," Tasya menerima proposal yang sudah ditanda tangani itu.


"Keuangan, bisa langsung ke ruang tata usaha," kata Pak Herawan.


"Terima kasih, Pak. Saya pamit dulu. Assalamualaikum," kata Tasya sambil salim ke Pak Herawan.


Tasya keluar dari ruangan itu. Tasya kira Chandra sedang menunggunya. Ternyata tidak.


Tasya segera berlari ke ruang OSIS. Bahagianya terpancar dari raut wajahnya. Ketika sampai di ruangan OSIS langsung menghampiri Chandra.


"Gimana?" Tanya Chandra.


"DI ACC," teriak Tasya sambil memeluk Chandra dengan spontan, Chandra pun membalas pelukan Tasya yang melompat-lompat karena kegirangan. Anggota lain pun tak kalah senang mendengar kabar bahagia itu. Benar-benar jum'at berkah.


"Ciee akur," ucap mereka serempak.


"Bah, hehehe," kata Tasya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Oh iya, Vio ke ruang tata usaha ya. Pencairan uang, kalian kan spesialis penyimpanan duit," perintah Tasya pada Vio.


"Soalnya duit mah cepet. Ayok, Ul," kata Vio yang semangat mengajak Aul ke ruang tata usaha.


"Btw ini proposalnya gak akan di bawa?" Tanya Tasya.


"Aduh lupa, saking senengnya ini, Sya," kata Aul sambil tertawa, saking semangatnya mereka melupakan bukti terpenting untuk pencarian uang.


"Bah."


Namun, kejadian itu tak berlangsung lama. Tasya melihat ada kejanggalan di ruangan ini. "VIKO, REZA, ARKA, BAGUS? NGAPAIN KALIAN DI SINI?" Teriak Tasya kaget.


Sementara yang dipanggil hanya diam membisu. Lalu, Tasya menatap Chandra seolah meminta penjelasan.


"Tadi Pak Taufik, nyuruh mereka buat jadi bagian dari kita," jelas Chandra.


"Hah? Kok gak paham?" Tanya Tasya.


"Ya kan kita kurang anggota."


"Maksudnya?"


Chandra sudah mulai frustasi, jika lemotnya Tasya kambuh. Viko yang gatal melihat adegan itu, langung menuju ke Tasya.


"Gini, Ibu Ketua OSIS yang terhormat. Jadi, gua sama temen-temen gua lagi di atas. Pak Taufik datang, nyuruh gua bantuin anak-anak OSIS pas camping. Jadi, gua disuruh jadi panitia. Paham?"


"Oh gitu, terus lo jadi apa?" Tanya Tasya.


"Jadi Ketua Pelaksana," kata Viko mulai frustrasi.


"Lah, kan Ketua Pelaksananya gue. Gimana sih Pak Taufik? Tasya Menatap bingung ke arah Chandra.


"Yaampun, tobat gua." Chandra hanya menghela napasnya panjang, Tasya jika kambuh lemotnya memang membuatnya sedikit geram dan emosi.


Eta terangkanlah~


Dung tak dung dung tak dung


Eta terangkanlah~


Dung tak dung dung tak dung

__ADS_1


Reza, Arka, dan Bagus bersenandung. Sementara Tasya pasrah saja dan menyerahkan semua urusan mereka dengan Viko kepada Chandra. Jujur saja dia malas jika berurusan dengan Viko, bisa-bisa dia naik darah.


__ADS_2