
Tasya terbangun dan yang dia lihat pertama kali adalah wajah Abangnya, kalau begini rasanya dia terbangun seperti seorang anak kecil, bukan seorang Tasya yang sebentar lagi akan menikah.
Setelah selesai mandi, tidak lupa dia memakai wewangian. Takut-takut di jalan dia malah kembali berkeringat dan sekarang dia sudah sampai di salah satu ruangan, di belakang gedung untuk di dandani.
Jujur saja perasaannya sekarang tidak karuan, jantungnya berdebar sangat kencang seperti ada perasaan yang ingin ditumpahkan detik itu juga. Para asisten kini dengan telaten memainkan kuasnya di wajah Tasya. Membuat gadis itu memperhatikan transformasi dirinya sebelum dan setelah di make up.
Setelah selesai dengan make up, para asisten itu memasangkan siger khas sunda di kepala Tasya, Konon katanya siger ini memiliki makna. Mahkota siger pada adat Sunda ini melambangkan kesempurnaan dari wanita Sunda yang terinspirasi dari tokoh Subardha dan Srikandi yang mempunyai sifat pemberani, anggun, cantik, dan disukai oleh rakyatnya. Sama halnya seperti sang pengantin yang akan menjadi ratu satu hari di acara pernikahannya.
Tasya tersenyum saat siger itu berhasil terpasang di kepalanya, bukan hanya sekedar mahkota, ini juga menandakan kalau sebentar lagi Tasya mempunyai tugas baru dalam kehidupannya yaitu menjaga rasa hormat, kearifan dan kebijaksanaan dalam suatu pernikahan yang harus dijadikan sebagai prioritas dan harus dijunjung tinggi di masa depan.
Tasya semakin cantik setelah dibalut oleh kebaya putih dan juga kain batik putih hitam yang akan senada dengan beskap yang Al gunakan nanti.
Sambil menunggu dipersilahkan keluar dia melakukan beberapa pemotretan di sebuah kamar yang dihias sebagai kamar pengantin, ya meskipun hari ini dia dan Al tetap akan tetap pulang ke rumah Al karena nantinya akan langsung pergi ke lombok pada keesokan harinya.
Tasya yang cantik, dipadukan dengan gaya anggun kharismatik membuat dia benar-benar menjadi ratu di pernikahannya hari ini. Para photographer antusias sekali dengan mencoba berbagai pose agar banyak juga yang bisa mereka sajikan nanti dalam bentuk dokumentasi.
Di sisi lain, keluarga besar Al sudah datang di depan Gedung. Mereka membentuk sebuah barisan pengantar seserahan dengan Al yang sudah berada di tengah orang tuanya. Tidak jauh dari dan, di depan Al juga sudah dipersiapkan acara penyambutan mempelai pria yang dilakukan oleh Radit dan Amara.
Ngabageakeun, itulah nama prosesi yang sedang dia jalankan. disambut oleh drama dari kakek tua dan tarian merak lalu pihak mempelai wanita memasangkan kalung bunga sebagai tanda penerimaan.
Radit dan Amara kini mengambil alih posisi Diana dan Haris untuk membawa Al ke dalam gedung sebagai bentuk kalau mereka menerima kedatangan dan niat baik Al.
Jantung Al berdegup kencang, dia mencari keberadaan Tasya tapi tidak ada di sana. Sampai rasanya dia digoda habis-habisan oleh kakek sang pemimpin adat karena terlihat tidak sabar menunggu pasangannya.
Setelah wejangan yang menguras waktu dan acara penyerahan seserahan. Kini Al dipersilahkan duduk di tempat ijab, jantungnya semakin kencang tak kala melihat Tasya yang kini sudah dituntun ke arahnya oleh Monik dan Belva yang sudah memakai kebaya selaras.
__ADS_1
Al berdiri, terpaku melihat Tasya yang sudah berbalut kebaya dan siger sunda. Rasa rindu, cinta, sayang, kagum, bahagia semuanya menjadi satu. Sepuluh hari tidak bertemu dan hari ini dia menemui Tasya sebagai pengantinnya. Harus bagaimana Al mengungkapkan kalau Tasya begitu cantik hari ini?
"Leres ieu neng geulisna Aa Aldo Prayoga? (Bener ini pasangannya?)" Tanya sang kakek pemimpin adat setengah menggoda Al sambil mendekatkannya mik ke arahnya.
"Leres (Bener)" jawab Al lantang dan menatap Tasya yang kini nampak malu-malu.
"Geulis?(Cantik?)"
"Geulis, Ki. (Cantik, Kek)"
"Nyaah ka anjeunna? (Sayang sama dia?)"
"Muhun, Ki nyaah pisan. (Iya, Kek sayang banget.)"
"Meunang keur Aki? (Boleh buat kakek?)"
Semua orang tertawa melihat interaksi keduanya, termasuk Tasya. Ya begitulah jika mengikuti adat, mereka pasti akan digoda habis-habisan oleh para orang tua, namun itulah yang membuat prosesi ini menjadi lebih menyenangkan.
Kini Tasya dan Al duduk berdampingan di depan penghulu, Radit dan juga beberapa saksi. Tangan Tasya di bawah sudah berkeringat dingin, begitu juga dengan Al. Namun dengan perhatian Al di bawah sana menggenggam tangan Tasya agar dia lebih tenang.
"Tenang," ucap Al sambil tersenyum, ya jujur saja itu sedikit membuat dia sedikit tenang meskipun perasaannya masih tidak karuan. Mendadak mulas dan sakit perut tapi tidak ingin buang air.
Memang banyak sekali prosesnya sebelum akad, dari mulai menandatangani beberapa berkas, prosesi permintaan adik yang meminta dinikahkan dan beberapa hal yang lainnya. Sekarang Radit sudah siap menikahkan adiknya dengan mulai berjabat tangan dengan Al.
Radit menarik napas panjang. "Aldo Prayoga, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik kandung saya, Tasya Aurell binti Jonathan Adibawa dengan mas kawin cincin 22 gram beserta uang 100 juta rupiah dan rumah senilai 3 Milyar rupiah dibayar tunai."
Radit menghentakan tangannya dan dibalas siap oleh Al. "Saya terima nikah dan kawinnya Tasya Aurell binti Jonathan Adibawa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Ucap Al dengan lantang dan satu tarikan napas.
__ADS_1
"Bagaimana para saksi?" Tanya penghulu.
"SAHHHHH!!!" Semua orang bersorak, terlebih teman-teman mereka yang nampak bahagia melihat proses ijab berdua.
Akhirnya, setelah sekian lama penantian dan melewati perjalanan panjang Tasya dan Al resmi menjadi sepasang suami istri. Tasya yang semula gelisah mendadak di angkat semua bebannya dan seketika menjadi rasa bahagia yang memuncak.
Detik ini, dia resmi menjadi istri dari seorang Aldo Prayoga. Orang yang telah ada bersamanya sejak kecil dan akan terus ada sampai akhir khayatnya. Dia tidak bisa membendung tangisannya dan mencoba menyeka beberapa kali dengan tissue yang tersedia di sana.
Doa yang saling bersautan membuat pernikahan ini rasanya dilimpahi oleh banyak cinta dan suasana magis yang tercipta secara alamiah.
Kini Al memasangkan cincin di jari manis Tasya dan begitu juga sebaliknya. Setelah itu Tasya menyalami punggung tangan suaminya dan dibalas oleh kecupan Al di keningnya. Tasya dan Al saling menatap dan tersenyum bahagia.
"Halo istriku," ucap Al lembut dan membuat Tasya malu-malu dibuatnya.
"Halo juga suamiku," balas Tasya lembut.
Tanpa sadar kini mereka malah berpelukan, membuat yang ada di sana bertepuk tangan merasakan kebahagiaan yang terpancar dari keduanya.
Ini baru akad, setelah ini mereka kembali menjalankan prosesi adat seperti sungkeman yang dipenuhi rasa haru. Saweran yang menyimbolkan kejayaan dan manisnya kehidupan berumah tangga.
Mereka juga membakar sebuah harupat. Tasya membakar batang harupat yang dipegang mempelai Al dengan lilin sampai menyala. Sesudah itu, batang harupat yang Al pegang dimasukkan ke dalam kendi berisi air yang dipegang oleh Tasya. Batang harupat diangkat kembali dan dipatahkan lalu dibuang.
Prosesi ini memiliki makna bahwa kedua mempelai diharapkan senantiasa memecahkan persoalan rumah tangga bersama-sama. Tasya yang memegang kendi berisi air menggambarkan peran Tasya yang berperan mendinginkan setiap persoalan yang membebani hati dan pikiran Al.
Kalau Tasya pikir-pikir ini lucu juga, memang semuanya selain menyimbolkan beberapa hal, itu juga membuat Tasya belajar untuk menghadapi pernikahannya bersama Al kelak.
Masih banyak sebenarnya prosesi yang mereka lakukan sampai siang nanti dan malamnya akan diadakan resepsi beserta pesta dansa yang mereka idam-idamkan.
__ADS_1
P.s. Aku saranin kalian langsung baca ke bab "Titik bahagia."