Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Tentang Abella


__ADS_3


"Gue suka sama lo, Al. Perhatiannya lo, kepedulian lo sama gue, apa gak ada artinya?" Tanya wanita yang ada di hadapannya.


"Lo jangan salah paham, Bel. Gua emang memperlakukan semua temen-temen gua kaya gitu. Kita sahabat, right?"


"Gak bisa, gue gak bisa terus mendem ini semua. Gue udah cape mendem sendirian, gue gak salah kan kalau ungkapin ini sama lo?"


"Gak salah, gak ada yang bilang lu salah, Bel. Gua gak menyalahkan perasaan lu, tapi maaf gua gak akan pernah bisa bales perasaan lu," ucap Al mencoba memberi pengertian pada gadis itu.


"Kenapa? Karena Tasya? Tasya Tasya Tasya terus yang lo pikirin, dia gak akan pernah sadar sama perasaan lo, Al. Kenapa lo mengabaikan semua orang demi orang yang gak bisa bales perasaan lo? Kalian temen, sahabat, dan kan kaya gitu seterusnya, sadar." Kini gadis itu sudah larut dalam emosinya, memendam perasan cukup lama membuatnya muak sendiri.


"Gua emang gak bisa milikin dia, tapi soal perasan gua gak ada yang bisa atur itu, Bel. Seperti gua menghargai perasan lu, gua juga menghargai perasan gua sendiri. Maaf kalau gua bikin lu kecewa."


Bella tersenyum miris, bagaimana pun caranya, siapapun orangnya, Al tidak akan pernah membalas perasaan siapapun terkecuali Tasya. Seharusnya dia sadar akan hal itu, tapi bodohnya dia malah nekad menyatakan perasaannya ini pada Al.


Bella mulai menangis, sedangkan Al hanya bisa menghela napasnya kasar. Dia tidak pernah menginginkan ini terjadi pada hubungan persahabatannya, tapi Bella menyatakan rasa padanya.


"Al gue mohon, jadi milik gue. Gue bisa buat lo bahagia." Bella menggenggam tangan Al sambil memohon, tangisnya pecah dan membuat Al merasa sangat bersalah melihatnya.


Monik yang geram melihat itu dari balik pintu pun langsung menemui mereka. Meskipun Belva, Angkasa dan Yoda melarangnya tapi Monik tidak peduli.


"Bella! Lo kenapa sih? Apa yang terjadi sama lo hah? Kita sahabatan udah lama, tolong jangan rusak itu karena keegoisan lo sendiri!" Bentak Monik.


"Egois lo bilang? Di mana letak egoisnya, Mon? Gue nahan perasaan gue dari lama dan baru sekarang gue berani bilang. Tapi kenapa lo mojokin gue? Gue kemarin diem karena ngehargain persahabatan kita!" Balas Bella membentak.


"Tapi lo salah! Lo udah tau konsekuensinya, lo juga udah tau bakalan ditolak dan bahkan lo udah tau alasan kenapa Al selama ini gak pernah deket sama cewek mana pun dan lo maksa dia?"

__ADS_1


Tangis Bella semakin pecah, Belva mencoba menenangkan keduanya. Sementara Angkasa dan Yoda mereka bingung dan malah uring-uringan sendiri.


"Bel, lu gak bisa kaya gitu. Al menghargai perasaan lu tapi dia gak bisa. Lu pikir dia gak sedih liat lu kaya gini? Ngemis di depan dia kaya gitu? Gua paham sama lu, tapi lu gak bisa memaksakan perasaan sama seseorang," ucap Angkasa mencoba menasehati Bella.


"Kita lupain ini ya, jangan sampai kita pecah belah karena ini," pinta Yoda pada Bella.


"Lo semua emang gak pernah ngertiin gue ya?! Kenapa kalian gak liat dari sudut gue juga? Kalian liat kan se-gimana deketnya gue sama Al? Apa gue bisa hanya anggap dia sebatas temen?" Bentak Bella pada Angkasa dan Yoda.


"Lo yang gak pernah mau ngerti! Lo yang terlalu bawa perasaan! Lo selalu menganggap Al menspesialkan lo padahal nyatanya dia emang baik! Stop, Bell. Gue gak mau berdebat sama lo, kalau lo mau stop ini sekarang gue gak akan bahas ini lagi," ucap Belva yang sudah terbawa emosi.


"Males gue sama kalian, gue gak mau sahabatan lagi sama orang yang gak bisa ngertiin perasaan gue. Kita cut off." Bella keluar dari kelas itu sambil menangis, dia benar-benar akan memutuskan hubungan dengan mereka dan akan meminta pindah sekolah dari sini.


Al menghela napasnya kasar, kejadian itu kembali memutar di kepalanya. Dia tidak pernah berniat untuk menyakiti Bella, tapi dia juga tidak bisa menerima perasaan gadis itu. Sekarang, Al hanya berharap di mana pun Bella, dia akan selau baik-baik saja.


...~ • ~...


Tasya sedikit lega saat Viko bilang kalau dia baik-baik saja dan sudah sampai di sana. Walaupun tidak bisa video call karena Viko harus keluar menemui kolega ayahnya. Tapi tidak apa-apa, yang terpenting baginya adalah Viko memberi kabar padanya agar tidak khawatir lagi.


"Dek, besok gua udah mulai ke kantor sama tante Amara. Lu baik-baik ya di rumah. Kalau bosen rusuhin Al aja ke rumahnya," ucap Radit.


"Gue emangnya gak boleh ikut ya ke sana? Ayoklah Abang ajak gue. Kan keren kayanya ikut lo ke kantor. Tasya, adeknya CEO. Kaya di novel-novel," kata Tasya sembari mengembangkan khayalannya.


"Jangan gila, itu kantor bukan taman bermain. Dikira gua mau ngasuh apa ya?" Cibir Radit.


"Lo kira gue anak kecil apa?" Kesal Tasya sambil cemberut.


"Udah, lu di rumah aja ya. Hari pertama soalnya dan gua mau meeting. Nanti kapan-kapan baru gua ajak ke kantor kalau senggang. Oke?" Tawar Radit.

__ADS_1


"Yaudah, janji ya?" Tanya Tasya memastikan.


"Iya-iya janji. Gimana kemarin kampusnya? Nyaman?" Tanya Radit pada adiknya itu.


Tasya mengangguk, dia memang sangat nyaman dengan kampusnya. "Nyaman, tempatnya luas banget. Ada danau juga di sana sebelum ke kampus. Kayanya gue bakalan betah."


"Baguslah kalau gitu. Kan jaraknya cukup jauh, lu mau Abang beliin apa? Mobil atau motor?" Tawar Radit.


"Ih gak usah Abang, gue gak mau apa-apa kok. Lagian kan gue bisa pergi bareng Al atau sama lo, yakan?"


"Iya tapi kan gak selamanya kalian bareng. Bisa beda kelas, beda jadwal, Gua juga kan kerja sekarang, ngampus juga. Jadi gua mikirin soal ini," kata Radit.


"Emmm apa ya, bagusnya gue pake apa? Tapi gue bisa keduanya sih, terserah lo mau beliiin gue apa aja. Gue juga gak ngerti spek mobil atau motor, walaupun gak butuh-butuh banget tapi ada benernya juga," ucap Tasya.


"Yaudah nanti gua minta bantuan Ayah Haris soal ini. Biar semangat juga ke kampusnya adek Abang." Radit pun memeluk adiknya gemas. Dia senang melihat Tasya bahagia seperti ini. Dia jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Abang ... "


"Hmm? Kenapa?" Tanya Radit menatap adiknya itu tanpa melepaskan pelukannya.


"Makasih ya lo udah rawat dan sayang banget sama gue. Walaupun papa udah gak ada, tapi gue masih punya lo. Walaupun lo suka nyebelin, suka bikin gue kesel, tapi lo itu segala-galanya buat gue," ucap Tasya.


"Hmm terus? Kenapa tiba-tiba bilang gini ke gua?" Tanya Radit yang sedikit tersenyum karena perkataannya Tasya.


"Ya gapapa gue mau bilang aja. Gue tuh gak bisa ungkapin perasaan sayang sama orang, lo tau sendiri. Tapi gue pingin aja bilang ini sama lo. Gue beruntung banget punya Abang yang selalu sama gue di saat apapun, pas gue sedih, seneng selalu ada. Gak tau deh jadinya kalau Abang gue bukan Raditya Putra," ucap Tasya sambil terkekeh.


"Gak boleh bilang gitu, mau siapapun orang pasti bakalan sayang sama lu. Gua juga beruntung punya adek kaya Tasya Aurell, walaupun bandel tapi gua sayang banget sama dia. Sehat-sehat terus ya, Sya?" Radit mengeratkan pelukannya pada Tasya.

__ADS_1


Tasya tersenyum dan mengangguk. "I love you, Abang."


"I love you more, Adek Abang," balas Radit sambil tersenyum.


__ADS_2