Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Di Balik Keputusan Zea


__ADS_3


Acara makan malam pun dimulai. Al dan Tasya saling melirik, karena beradu kaki di bawah. Hal yang sering mereka lakukan jika bersebelahan seperti ini. Mereka berdua terkekeh saat saling menatap.


"Kamu besok harus beliin aku boba," ucap Tasya setengah berbisik.


"Dih kamu yang kalah juga, tapi gapapa aku kabulin permintaannya. Untung sayang." Al mengusap rambut Tasya lembut, membuat Fadil sedikit menelan ludahnya melihat itu semua.


"Ssstt kebiasaan kalau makan suka bercanda," peringat Radit.


"Iyaa, Abang sensi banget," kata Tasya sembari kembali fokus pada makanannya, tapi kegiatan mereka tentunya tidak terhenti di bawah meja sana.


"Jadi Aldo dan Tasya ini sudah lebih dulu bertunangan ya?" Tanya Sinta.


"Hehe iya, Tan udah mau 2 tahun," jawab Tasya.


"Tasya ini anaknya Alm. Jonathan loh, Sin. Kami sepakat menjodohkan anak kami saat mereka dewasa. Kebetulan juga Al dan Tasya berteman sejak kecil," ucap Diana.


"Ohh Jonathan? Bisa-bisanya aku gak mengenali, padahal dulu kami sempat akan meminta anak perempuan Jo untuk berjodoh dengan Daffa," ucap Sinta.


"Serius, Ma?" Tanya Daffa.


"Iya serius, karena mama sempat melihat Tasya waktu kecil. Jadi sepertinya lucu kalau jadi menantu," jawab Sinta antusias.


"Padahal jadiin, Daffa pernah sempat suka Tasya waktu pertama kali dia masuk UNAIR," jawab Daffa jujur.


Tasya menelan ludahnya kasar, sementara Al menatap Daffa tajam seolah mengintimidasi mangsanya.


"Bercanda, lagian gua ga berani deketin karena lu protect dia sejak awal. Chill man," ucap Daffa santai.


Semua orang tertawa mendengarnya, memang tidak salah jika Tasya disukai banyak orang. Selain cantik dia juga pintar. Kini sepertinya malah Fadil yang kaget mendengar penuturan adiknya. Memang pesona Tasya sekuat itu.


Zea menatap ke arah calon suaminya yang sejak tadi memperhatikan Tasya. Jadi ini rupanya dokter menyebalkan yang sering Al ceritakan. Apa dia benar-benar harus menikahi pria itu? Bahkan sepertinya dia lebih tertarik pada calon adik iparnya sendiri.


"Tuh kalian selalu bilang kalau akan menikah setelah Zea menikah, jadi sekarang harus sudah dipikirkan ya?" Ucap Haris pada Tasya dan Al.

__ADS_1


"Kalau Al sekarang juga jadi, gak tau Tasyanya," jawab Al asal.


Tasya memukul lengan Al, bisa-bisanya dia asal bicara seperti itu. "Sekarang-sekarang, koas dulu!"


"Oh gak jadi Dr dulu? Oke dipercepat!" kata Al kegirangan.


"Maksudnya dokter dulu," ralat Tasya.


"Tapi kalian sudah cukup umur loh kalau selesai koass, jangan terlalu lama juga, gak baik. Harus disegerakan," ucap Haris.


"Denger," kata Al pada Tasya.


"Iya ih denger."


"Jadi kapan kita nikahnya?" Tanya Al pada Tasya.


"Ya engga sekarang juga dibahasnya, Aldo Prayoga," jawab Tasya pasrah. Memang Al ini tidak sabaran.


"Kalian ribut terus, gimana kalau nikah?" Tanya Radit.


"Ya kalau nikah ribut juga, kita gak suka kedamaian," jawab Tasya spontan.


Tasya menatap Al sekaligus mencibir, memang apa yang salah dari perkataannya, memang pekerjaan mereka berdua selalu ribut dan cari masalah satu sama lain. Sementara yang lainnya malah tertawa geli melihat pasangan muda itu.


"Jadi kalian dijodohkan? Tapi terlihat seperti tidak dijodohkan ya? Apa karena berteman sejak kecil?" Tanya Sinta.


"Kami sudah saling mencintai sebelum tau perjodohan ini, jadi kami menerimanya karena memang ingin," jawab Al dengan penekanan. Sengaja saja dia bicara seperti itu karena Fadil sedari tadi memperhatikan Tasya terus menerus.


"Iya, Al ini keras kepala awalnya karena tidak mau Tasya mengetahui perjodohan ini. Ingin membuat Tasya jatuh cinta dulu katanya. Sampai akhirnya dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan, setelah itu mereka barulah bertunangan," ucap Diana.


"Ohh begitu rupanya, bagus Al. Tante suka cowok yang seperti itu," ucap Sinta.


Al pun merasa bangga pada dirinya sendiri. "Bangga gak kamu punya aku?" Tanya Al setengah berbisik.


"Binggi gi kimi pinyi iki," ledek Tasya.

__ADS_1


"Ngeledek, awas kamu nanti aku peluk gak akan dilepas-lepasin," peringat Al.


"Ngancem, udah ih lanjut makannya," kesal Tasya.


...~ • ~...


Semua keluarga sedang sibuk membicarakan pernikahan Zea. Sesuai kesepakatan Al langsung mengajak Zea ke kamarnya untuk bicara, dia tau pasti kalau kakaknya ini tidak setuju dengan perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya.


"Gua tau lu gak mau dijodohin sama dokter Fadil," ucap Al to the point.


"Emang."


"Terus kenapa lu malah menerima perjodohan ini kalau gak mau? Lu juga bisa liat sendiri kalau dokter Fadil emang tertarik sama Tasya. Bukannya gua pernah cerita? Apa yang mau lu harapkan dari pernikahan ini?"


"Gak ada, gue gak mengharapkan apa-apa. Gue cuma mau bikin Ayah sama Bunda seneng. Itu aja," ucap Zea.


"Tapi gak gini caranya, kalau lu nolak juga Ayah sama Bunda gak akan maksa lu. Kenapa lu gegabah dalam memutuskan masa depan sih? Lu gak mikir?" Kesal Al yang kini sudah dikuasai emosi.


"Gue tau Al, gue tau kalau Fadil tertarik sama Tasya. Gue tau juga dia nerima perjodohan ini karena terpaksa, gue juga tau kalau perasaan gue nolak ini semua. Tapi bukan cuma lo yang mau bikin Ayah sama Bunda bahagia, Al. Gue juga mau."


"Emang lu pikir dengan semua prestasi lu kemarin gak bikin mereka bahagia? Mereka bahagia, Ze! Justru mereka gak akan bahagia ketika mereka tau kalau anaknya terpaksa menjalankan perjodohan yang mereka buat!" Bentak Al tanpa sadar.


"Gue tanya, apa sih yang gue harapkan sama diri gue sendiri? Gue bahkan udah gak percaya komitmen, gue masih terjebak di masa lalu gue sama Daffa tapi dia minta gue nerima Abangnya. Jadi apalagi selain nerima perjodohan ini? Apa gue harus bilang sama mereka kalau anaknya ini udah gak percaya komitmen dan gak mau menikah?!"


Al menghela napasnya. "Ze umur lu ini masih 25, sekarang kita bukan di zaman dulu yang umur segitu harus udah menikah. Lu masih bisa berkarier sambil nunggu orang yang bisa lu cintai."


"Gak bisa, emang lo pikir gue gak pernah mencoba? Gue selalu coba tapi gue gak pernah bisa. Udah ya, ini juga demi kebaikan lo sama Tasya. Kalian gak akan menikah sebelum gue menikah, kan? Jadi biar gue lakuin ini."


"Gua mau menikah sama Tasya, tapi bukan berarti gua mau korbanin kebahagiaan lu, Zea! Lu paham gak sih? Itu cuma bercandaan aja biar lo termotivasi buat berkomitmen, kalau mau pun gua bisa menikah sama Tasya sekarang tanpa nunggu lu."


"Tetep aja, Al. Gue gak mau lo ngelangkahin gue, ada pamali sama mitosnya juga. Stop bicara ini itu lagi, gue yang udah nyerahin hidup gue sama Ayah dan Bunda. Biarin gue nerima perjodohan ini," tegas Zea.


Al menghela napasnya, Zea ini begitu keras kepala. Padahal Al hanya ingin dia bahagia, bukan hidup dalam perjodohan yang sebenarnya tidak dia inginkan. Tapi Zea sudah memilih jalan hidupnya sendiri, mau tidak mau Al harus menerimanya. Apalagi yang harus dia lakukan selain mensuport kakaknya?


"Yaudah, tapi gua harap lu bakalan mencoba yang terbaik untuk hubungan lu sama dia kedepannya. Gak mungkin selamanya kalian hidup berdua tanpa ada rasa," nasehat Al.

__ADS_1


"Gue lebih tua dari lo, gue tau apa yang harus gue lakuin. Lo jangan banyak khawatir, fokus sama tujuan hidup lo. Gue bakalan selalu baik-baik aja, jangan jadi beban pikiran," ucap Zea bijak.


Al mengangguk lalu memeluk kakaknya, sejujurnya dia sedih melihat Zea seperti ini. Andai dia bisa membantunya pasti Al akan melakukan yang terbaik untuk Zea.


__ADS_2