Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
HOLIYAY


__ADS_3

Aku mau bilang kalau sekarang mau update 1 part dulu ya, karena aku masih diluar huhu. Nanti agak maleman aku up lagi, ini buat update minimum aja.


Happy Reanding ~



Setelah satu Minggu berkutat dengan kertas ujian, akhirnya sekarang mereka bisa liburan. Memang sih judulnya study tour, tapi pasti akan lebih banyak mainnya dibandingkan belajar.


Tasya duduk bersama Sherli, Sarah bersama Niken, Al bersama Arka. Sedangkan Viko duduk bertiga dengan Bagus dan Reza.


Sepanjang perjalanan Tasya dan Sherli sibuk mengambil photo selfie, begitu juga dengan Sarah dan Niken. Sementara para pria sepertinya sibuk membicarakan issue dunia.


"Sya, gimana akhirnya lo bisa dapet izin bang Radit terus dia gak jadi ikut?" Tanya Sherli.


"Al sama Viko yang izin, Abang gue juga sibuk UTS. Dia ikut karena khawatir aja sama gue, secara gue gak boleh lupa minum obat," kata Tasya sambil meminum susu kotaknya.


"Bagus sih, gue yakin juga kalau lo gak akan bebas semisal bang Radit ikut," ucap Sherli terkekeh.


"Iyaa udah pasti, makanya kemarin-kemarin gue berusaha buat yakin abang gue."


Sherli melihat ke arah Arka yang sibuk berbicang dengan Al. Sepertinya mereka sudah sangat dekat. Secara Al adalah anak motor jadi Arka senang jika membahas tentang genk motor bersama Al.


"Al lu tau, gua dari dulu pingin masuk genk motor tapi gak pernah kesampain," kata Arka.


"Kenapa? Genk motor gak seburuk itu, selagi lu dapet komunitas yang tepat," ucap Al.


"Itu masalahnya, gua terlalu ansos. Gak pernah keluar dari SMAVEN."


"Nanti kapan-kapan gua ajak ke Surabaya dah, biar lu bisa ikut genk motor." Al merangkul pundak Arka, dia merasa Arka yang paling satu frekuensi dengannya sama seperti Angkasa dan Yoda.


Awal perjalanan memang masih bersemangat ditambah pagi yang fresh, namun ketika menjelang sore mereka sudah mulai lemas dan bahkan ada yang sampai mabok. Salah satunya adalah Sherli.


"Eh sumpahh, kapan nyampenya sih gue mual banget," kata Sherli yang mengelus-ngelus dadanya. Rasanya asa sesuatu yang ingin dia keluarkan tapi sulit.


Tasya mengambil kayu putih dalam Tas dan mengusapkannya pada leher belakang Sherli sambil sesekali memijatnya. Sherli memang tidak kuat jika berlama-lama dalam perjalanan, apalagi jalan ke Pangandaran yag menanjak dan berkelok-kelok, yang tidak kuat sudah pasti mabok kendaraan.


"Muntah aja muntah, mau keresek?" Tanya Tasya mengulurkan satu buah keresek.


"Uuuueekkkk ... Ueeekkkkk."


Semua mata tertuju pada Sherli, Arka menepuk jidatnya melihat Sherli yang muntah-muntah. Dia membayangkan bagaimana jika nanti dia menikah dengan Sherli tapi dia tidak kuat perjalanan jauh. Sementara kampung halaman Arka di Jawa Timur.

__ADS_1


Arka pun turun tangan dan meminta bertukar tempat, Tasya menurut dan pindah di sebelah Al. Namun tatapannya tak lepas dari Sheli yang terus memuntahkan isi perutnya, Tasya jadi tidak tega melihat Sherli seperti itu.


"Lu mah malu-maluin masa baru setengah jalan udah muntah," kesal Arka sambil mengoleskan minyak pada leher Sherli.


"Bodo amat mual banget, lagian malu maluin apa sih? Yaudah cut off ajalah kita," balas Sherli tak kalah kesal.


"Bercanda elahh main ngancem mulu, untuk cantikk." Arka tetap melakukan tugasnya meskipun mereka tidak henti-hentinya beradu mulut.


Memang pasangan bar-bar, tapi membuat mereka terlihat lucu, pdkt dengan sensasi baru. Tasya tertawa melihat kelakuan Sherli dan Arka. Detik selanjutnya dia melihat ke arah Al. Al yang sudah paham langsung tertawa.


"Hahahaha, ini waktunya!" Kata Al sambil mengeluarkan ponselnya.


Tidak akan afdol kalau mereka tidak mengambil photo bersama. Bahkan bisa ratusan photo yang mereka ambil degan berbagai macam gaya.


"Ehhh ini bagus loh hahaha," ucap Tasya sambil tertawa.


"Jelek-jelek mata gua kaya juling, ulang-ulang hahaha," kata Al sambil mengarahkan kameranya lagi.


Viko menggelengkan kepalanya, Al dan Tasya sangat lucu. Seperti anak-anak yang sedang berebut permen. Dia memang sudah terbiasa melihat kedekatan mereka karena Viko memandang Al sebagai sahabat Tasya dan bukan pesaingnya.


Viko menghampiri kursi mereka berdua. "Berdua doang, gua ikut."


"Ayokk sini sini," kata Tasya yang menggeser duduknya.


"Sumpah ini bagus," kata Al.


"Mau gua post di Instagram, tar kirim ya bro," ucap Viko.


Tasya menatap ke arah Viko, wangi parfumnya membuat Tasya nyaman dan tanpa sadar membuat Tasya tersenyum. Viko pun balas menatap Tasya. Ingin rasanya mengunyel-unyel pipi Tasya. Ekspresinya sangat menggemaskan.


"Gemes." Viko mengusak rambut Tasya lembut dan kembali ke kursinya.


Jantung Tasya berdetak 2 kali lipat dari biasanya. Mungkin pipinya sudah bersemu merah.


"Malu-malu kucing padahal seneng," goda Al.


"Apasih diem jangan godain gue," kata Tasya sambil memukul lengan Al dan seketika mereka tertawa bersama.


...~ • ~...


Beberapa jam berlalu akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Setelah absen, mereka langsung dipersilahkan mengambil kamar masing-masing di hotel yang cukup bagus.

__ADS_1


Kamarnya cukup luas bisa diisi 4 sampai 6 orang. Al sengaja mengambil kamar yang bersebelahan dengan Tasya. Agar dia dan Viko benar-benar menepati janjinya untuk menjaga Tasya.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore, mereka mempunyai waktu sampai jam 7 malam untuk beristirahat. Namun Tasya sangat ingin melihat matahari terbenam dan kebetulan ada Viko di loby hotel. Jadi mereka memutuskan untuk pergi ke pantai bersama.


Berjalan menikmati udara sore hari, membuat pikiran Tasya tenang. Dia memang sangat menyukai pantai dan jika dianalogikan Tasya itu seperti air laut. Terlihat tenang, indah, tapi jika sudah marah bisa memporak-porandakan sekitarnya.


Tasya mengambil beberapa photo di sana. Lumayan skill nya ternyata bagus juga dalam memegang kamera.


"Viko tolong photoin gue, bentar lagi sunset nya keliatan," pinta Tasya sambil menyerahkan kameranya.


Viko dengan senang hati mengambil kamera itu dan mulai mengambil beberapa jepretan. Tasya terlihat cantik mengenakan dress simpel dan cardigannya.


"Dapet, cantik," puji Viko dan mengembalikan kamera milik Tasya.


"Iya bagus, Makasih yaaaa," ucap Tasya.


"Lu suka banget sama pantai ya?" Tanya Viko sambil menatap Tasya yang fokus pada kameranya.


"Iyaa, gue suka banget. Kaya damai aja gitu jalan kaya gini, nikmatin gemercik air dan rasain pasir di jari-jari kaki kita. Sayangnya di Bandung gak ada pantai, kayanya kalau ada gue bakalan ke sana setiap hari," jawab Tasya antusias.


"Iya sih. Oh iya, Sya ... " Panggil Viko ragu.


Tasya menoleh ke arah Viko yang menghentikan langkahnya. "Kenapa?"


"Gua suka sama lu," ucap Viko.


Tubuh Tasya mendadak kaku, entah apa yang dia rasakan sekarang. Yang pasti dia tidak berkata-kata. Viko melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Tasya. Dia tersenyum seraya merapikan helaian rambut di pipi Tasya yang sedikit berantakan akibat hembusan angin.


"Gua selalu menyangkal, tapi semakin gua menyangkal perasaan itu malah semakin nyata. Gak tau sejak kapan, tapi gua bener-bener menikmati perasaan gua ke lu." Perlahan Viko memegang kedua tangan Tasya dengan lembut dan juga menatapnya dengan hangat. Membuat Tasya hanyut akan tatapannya.


"Gua sayang sama lu, gua mau selalu ada si samping lu dalam keadaan apapun. Gua emang bukan cowok romantis seperti novel yang selalu lu baca. Tapi gua Viko, yang akan selalu bersama Tasya Aurell dan sayang sama dia."


"Vik ... "


"Sya, would you be mine? Boleh gak kalau gua jadi salah satu pengisi tempat special di hati lu? Gua janji, bakalan bikin lu bahagia semaksimal yang gua bisa," ucap Viko dengan sungguh.


Tasya tersenyum, perasaan yang benar-benar tidak bisa digambarkan dengan apapun dan perlahan dia meganggukkan kepalanya.


"Yes!" Viko spontan memeluk Tasya dengan erat.


"Makasih, Sya. Makasih karena lu mau terima gua. Gua gak akan pernah kecewain lu, gua akan pastikan itu."

__ADS_1


"Iya, Viko." Tasya pun membalas pelukan Viko. Detik ini, dia resmi menjadi pacar dari Viko Narendra.


Tanpa sadar seseorang mengabadikan moment mereka dalam kameranya. Dia melengkungkan senyumnya sembari melihat hasilnya. "Be happy."


__ADS_2