
Sudah 10 menit Tasya dan Al saling terdiam, mereka masih memikirkan apa yang harus mereka mulai. Tasya yang pegal kini menaruh kepalanya di paha Al dengan posisi kaki yang satunya ditekuk menjadi sandaran iPad. Karena sudah terbiasa Al jadi membiarkannya.
Tasya mengambil ponselnya dan mengetikan beberapa kalimat di sana. "Apa saja yang harus dilakukan untuk merencanakan pernikahan." Setelah selesai dia menunggu sesaat dan memijit salah satu link.
"Aku dapet! Cepet kamu tulis!" Ucap Tasya senang.
Al melirik ke bawah, menatap calon istrinya itu dengan lekat. Ya kenapa mereka tidak sejak tadi mencari di google? Benar-benar kolot sekali.
"Oke apa yang pertama?" Tanya Al mengeluarkan pen pada iPadnya.
"Tanggal pernikahan," ucap Tasya.
"Kamu maunya kapan?" Tanya Al berbalik.
"Emm gimana kalau kan ada waktu 4 bulan tuh, persiapan 2 bulan kayanya terlalu mepet. Jadi kita ambil 3 bulan, nah 1 bulannya kita masih bisa habisin waktu buat liburan-"
"Honeymoon," ralat Al.
"Humm iya itu maksudnya, jadi kita ambil bulan segini gimana?" Tanya Tasya sambil mengacungkan beberapa jari tangannya.
"Tanggal?" Tanya Al berbalik.
"Ulang tahun aku kan 12, ulang tahun kamu tanggal 11 kita gabungin jadi 23, gimana?"
Al membuka kalendar pada ponselnya, mencari tanggal dan bulan yang Tasya usulkan. "Hari minggu, pas. Kita ambil ya?"
Tasya mengangguk dan kembali menatap ponselnya. Al kembali menunduk menatap Tasya. "Terus apa lagi?"
"Konsep. Kamu mau kaya gimana?" Tanya Tasya berbalik.
"Tradisional?"
"Boleh sih aku mau pake siger sunda. Tapi aku mau pernikahan modern gitu. Yang aku pakai gaun putih cantik, pake mahkota kecil, terus ada pesta dansanya," ucap Tasya sambil senyam-senyum.
"Pesta dansa? Yakin mau ada pesta dansa?" Tanya Al.
"Emang kenapa? Kamu gak bisa dansa ya?"
"Bisa, cuma. Ya oke kita adain pesta dansa. Aku ada ide, karena kita pakai adat juga, gimana kalau konsep dekor juga gaya klasik indoor?"
__ADS_1
"Boleh, yang serba broken white gitu, kan? Aku mau, aku suka!" Kata Tasya antusias.
"Terus apalagi yang harus disiapin?" Tanya Al.
"Medical Check up, itu kita kaya test buta warna gitu gak sih, Al?" Tanya Tasya.
"Ya engga, Sayang. Masa test buta warna, mau nikah apa mau test masuk sekolah? Itu kaya semacam test golongan darah, ada kemandulan atau engga, vaksin TORCH, USG ginekologi, test penyakit menuluar ***. Kaya gitu," jelas Al.
"Oh aku pernah baca, jadi perlu ya?" Tanya Tasya.
"Perlu, biar gak ada kesalahpahaman juga nanti setelah menikah. Terus apa lagi?" Tanya Al sambil menggerakkan pen di iPadnya.
Tasya mengangguk paham. "Persiapan administrasi buat ke KUA, Photo buat pas photonya juga," kata Tasya melanjutkan mendikte pada Al.
"Terus?"
"Bimbingan pra nikah, itu kaya gimana?" Tanya Tasya.
"Aku gak tau, tapi nanti kita cari tau." Al kembali menuliskan beberapa kata di sana.
"Oke lanjut."
"Udah segini? Atau ada lagi yang mau ditambah?" Tanya Tasya.
Tasya menggeleng, namun sebuah pesan masuk ke ponsel Tasya dan membuat Tasya menyerngitkan dahinya. "Kenapa?" Tanya Al penasaran.
"Kata Yoda tambahan buat pernikahan beli fiesta, ngapain kita beli nugget? Emang itu perlu ya?"
Al merutuki Yoda dalam hatinya, kenapa dia harus meracuni gadis polosnya? Masalahnya Tasya pasti akan banyak bertanya setelah ini.
"Kamu kenapa?"
"Sebentar, aku telfon Yoda." Al mencari kontak Al dan segera saja dia menghubungi teman tidak ada akhlaknya itu.
"BABI!" Makinya saat Yoda mengangkat telfonnya, bisa dia dengar kalau di sana ada Angkasa.
"Hahahaha anjir ngakak, jangan lupa beli, Sya!" Teriak mereka dari jauh sana.
Al buru-buru mematikannya, akan semakin parah jika terus dilanjutkan. "Kamu kenapa sih? Kan bagus kalau dibantu sama yang lain, katanya juga tips terakhir itu mintalah bantuan teman atau orang terdekat."
Al hanya menghela napasnya kasar, kenapa Tasya begitu polos? Dia jadi salah tingkah sendiri kalau seperti ini.
__ADS_1
...~ • ~...
Hari ini Tasya, Al, Monik, Belva, Angkasa dan Yoda berbagi tugas. Monik dan Angka pergi menyiapkan souvenir, Yoda dan Belva mengurus membantu mencari beberapa sample undangan dan juga photographer terbaik, Tasya dan Al pergi medical check up, pergi ke butik, dan mengurus beberapa berkas ke KUA.
Ya pagi-pagi sekali mereka sudah diminta berkumpul di rumah Al dan tentu mereka semangat untuk membantu persiapan pernikahan Tasya.
Tasya jadi senyum-senyum sendiri saat tadi photo untuk buku pernikahan mereka. Biasanya orang akan memposting itu dan akan mendapat ucapan 'Semoga lancar sampai hari H'. Iya itu juga yang Tasya lakukan, ada kesenangan tersendiri baginya. Apalagi banyak sekali yang menyambut dengan baik pernikahan mereka terutama shipper mereka di sosial media.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" Tanya Al keheranan.
"Emangnya gak boleh kah aku senyum-senyum?" Tanya Tasya berbalik sambil melirik Al yang tengah fokus menyetir mobilnya.
"Ya boleh, tapi kalau senyum-senyum tanpa dasar kan takut juga, Sya," jawab Al.
"Gapapa aku seneng aja kita udah sampai di tahap ini," kata Tasya.
"Aku juga seneng."
"Tapi ada satu hal yang aku pikirin sebenernya," ucap Tasya tiba-tiba.
"Apa? Apa yang kamu pikirin?" Tanya Al yang sesekali melirik ke arah calon istrinya.
"Kalau misalnya kita nanti intership dan beda wahana gimana? Maksud aku kalau kita ikut seleksi nasional kan di luar provinsi pasti kan? Masa kita LDR?"
Al berpikir sejenak, dia belum ada kepikiran ke sana. Namun ini juga bukan masalah sepele, jika berbeda provinsi selama 1 tahun dalam menjalani intership pasti akan sangat sulit bagi mereka yang baru menikah nantinya. Tapi, Al mencoba bijak. Kalau dia panik sekarang apa jadinya dengan Tasya.
Dengan pelan Al menarik napasnya dan tersenyum. "Nanti kita pikirin biar tetep sama-sama. Jangan dipikirin, kamu pasti juga udah stress mikirin pernikahan kita yang emang ngebut karena intership. Apapun nanti, kita sama-sama lewatin ya?" Al menggenggam tangan Tasya dengan satu tangannya dan menaruh di dadanya. Tasya yang mendekat pun kini menatap Al.
"Aku gak mau pisah sama kamu, aku gak mau kita jauh-jauh. Kita harus usahain bareng-bareng biar satu wahana ya? Atau minimal satu daerah aja biar gak harus pisah," ucap Tasya merajuk.
"Kenapa jadi gemes banget, gak mau aku tinggal ya?" Goda Al.
"Gak! Aku gak mau, aku gak suka long distance. Aku butuh kamu setiap hari, mana bisa ditinggal Al. Apalagi setahun loh," kata Tasya.
"Iya-iya, yaudah jangan dipikirin sekarang. Kamu tau kan aku bakalan berjuang apapun demi kamu? Jadi jangan khawatir, kamu yakin aja kalau aku bakalan berusaha semaksimal mungkin untuk itu. Sekarang kita fokus ke pernikahan dulu, itu yang terpenting. Siapin juga mental kamu, karena menikah itu hal seumur hidup. Kedepannya kita bakalan lakuin sudah seneng bareng, masalah juga pasti bakalan ada. Kita pacaran sama kita menikah itu bakalan banyak banget perubahan yang signifikan. Jadi jangan pikirin hal lain dulu."
"Emang kalau nikah apa aja yang berubah?" Tanya Tasya.
"Salah satunya, kita harus mandiri. Kita bakalan tinggal di rumah kita sendiri. Kita menjalani kehidupan rumah tangga kita dan pisah sama orang tua dan abang kamu."
"Aku udah persiapin rumah buat kita, kamu mau kan tinggal sama aku di sana?" Tanya Al lembut.
__ADS_1