Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Motor Bebek Jadul


__ADS_3


Al kembali ke mess menggunakan motor. Ya, kali ini dia mendapat pinjaman dari kepala dusun karena tadi ada keperluan berkeliling Desa. Tasya menatap kagum dengan apa yang Al bawa.


"Waaahhh gue udah lama gak liat motor bebek jadul kaya gini, lucu," ucap Tasya sambil tertawa.


"Lucu apanya?" Tanya Belva tak mengerti dengan jalan pikiran Tasya yang terkadang abnormal.


"Ya lucu aja, gue belum pernah tau naik motor kaya gini. Al kita cari bakso yuk tapi pake motor ini?" Pinta Tasya.


"Baru juga pulang, gak ah gua cape. Pergi sendiri gih, mau?" Tanya Al.


"Ishh yaudah gak jadi," ucap Tasya kecewa.


"Udah sihh nanti dia mewek, udah tau ini anak kalau ngidam harus keturutin dan gak bisa tidur. Buru, masa iya mau tunangan tapi gak peka," ucap Yoda menyindir Al.


Mereka semua memang sudah tau, Al dan Tasya sudah menceritakan semuanya pada mereka. Tentu mereka sangat senang, akhirnya sebuah penantian berlabuh juga pada akhirnya.


"Yaudah ayok, ngambekan ni bocil," kata Al sembari mengacak-acak rambut Tasya.


Wajah Tasya langsung sumringah mendengarnya, sudah dia perkirakan kalau Al tidak akan tega padanya jika sudah memasang wajah memelasnya itu. Al langsung memutar balikan arah motornya dan menaikinya. Tasya gemas sekali melihat motor itu, sampai-sampai dia memukul lengan Al.


"Aaww, kenapa malah mukul?" Tanya Al sembari mengelus-elus lengannya.


Tasya terkekeh. "Hehehehe gemes sama motornya, biasanya lo boncengin gue pake motor sport tiba-tiba pake ini kan lucu."


"Ada-ada aja ya Allah kelakuannya," ucap Al pasrah.


Tasya tertawa dan langsung menaiki motornya, tidak lupa juga dia memeluk Al agar tidak terjatuh. Setelah di rasa aman Al pun melajukan motornya.


Sepanjang jalan Tasya hanya tertawa, dia senang bisa merasakan naik motor bebek seperti ini. Yang biasanya Al ngebut sat set kini nampak lebih kalem karena motornya memang lambat, ditambah motornya goyang-goyang karena knalpotnya.


Tasya sempat merekam saat mereka di jalan, jadi saat sampai di tukang bakso yang kebetulan dekat dengan wifi kantor desa, Tasya bisa meng-upload storynya di instagram.

__ADS_1


Tapi tak selang beberapa lama dia melihat kalau Sarah, Sherli dan Niken melihat insta storynya, namun tidak membalas apapun. Bahkan kini bertambah dengan Arka, Bagus dan Reza. Memang benar ya, kalau suatu saat mereka akan menjadi asing pada waktunya. Chat ucapan selamat ulang tahun di grup saja tidak mereka balas, entah apa yang terjadi pada hubungan pertemanan mereka.


Namun tidak apa-apa, dia harus tetap tersenyum. Yang terpenting adalah Tasya tidak pernah melupakan mereka mekipun tidak pernah ada tanggapan.


Al memperhatikan raut wajah Tasya yang terlihat semang sekali hari ini. Lebih cantik jika dia tersenyum seperti itu. "Seneng ya?"


Tasya mengangguk sambil menatap Al. "Seneng banget, mau peluk boleh?"


Tanpa perlu menjawab Al pun memeluk Tasya, gadis itu memang suka dipeluk. Menurutnya akan terasanya nyaman saja dalam keadaan apapun jika dipeluk seseorang. Sejujurnya dia sangat sedih sekarang, tapi tidak sedih yang sampai membuatnya ingin menangis."Al, don't leave me alone, okay?"


"Kenapa tiba-tiba bilang gitu hm?" Tanya Al.


"Gapapa, cuma mau bilang aja, gue terlalu takut sebenernya buat jatuh cinta atau memulai hubungan lagi. Bukan karena lo gak baik, cuma takut aja," ucap Tasya perlahan.


"Iyaa, gua paham. Udah ah jangan ngomong macem-macem, gua gak akan janji tapi gua akan berusaha nepatin. You know me, right?"


"Yes I know you very well, that's why I choose you," ucap Tasya sambil tersenyum.


"I love you," bisik Al.


"Apasihhhh, emang gak romantis. Masa bilangnya di tukang bakso," ucap Tasya sambil terkekeh.


"Loh ini romantis lah, mana ada yang bilang cinta di tukang bakso kaya gua? Baru gua, biasanya yang melakukan pertama kali itu romantis," balas Al.


"Gakk, romantis itu lo manjat patung Surabaya terus bilang cinta sama gue," kata Tasya.


"Yang ada kita batal tunangan duluan karena gua meninggal jatuh dari patung. Ngada-ngada lu, gak usah jadi bilang ajalah gua," ucap Al.


"Ih ngambekan, hahahaha gemes deh. Gak boleh ngambek, Al. Nanti yang ada gue ngambekin balik," ancam Tasya.


"Iya iya iya, mana bisa gua ngambek sama lu sih? Ada aja emang tingkahnya. Jangan gitu mukanya jelek." Al menarik sudut bibir Tasya agar dia tersenyum.


Tiba-tiba ponsel Tasya berbunyi. Tertera nomor tidak di kenal di sana. Tasya memperlihatkan ponselnya pada Al dan Al hanya mengangguk pertanda untuk Tasya mengangkatnya saja. Dia bingung itu siapa, tapi yasudah dia angkat.

__ADS_1


"Halo, Sya."


Degh ....


Suara itu, Tasya mengenali suara itu. Suara yang sudah lama tidak dia dengar di telinganya. Tapi tau dari mana? Tasya hanya memberikan nomornya kepada teman-temannya. Apa mungkin Sherli, Sarah dan Niken? Tasya menggeleng, tidak mungkin juga kalau mereka tidak tau kabar putusnya dia bersama Viko. Meskipun tidak pernah memberitahu mereka tapi mereka pasti sadar. Iya itu adalah Viko.


"I miss you soo much, bisa kita bicara sebentar?" Lanjut pria itu dari seberang sana.


Tasya hanya terdiam dan tidak berniat membalasnya, dia memang sudah biasa saja pada Viko. Tapi bukan berarti dia ingin bicara dengan pria itu.


Al menatap Tasya bertanya-tanya. Tasya hanya memberikan ponselnya pada Al. Pria itu bingung, tapi dia mengambil dan mencoba mendengar panggilan itu.


"Sya, kenapa gak bicara?"


Al menghela napasnya, rupanya pria brengsek itu kembali menghubungi Tasya. "Kenapa?"


"Tasya mana? Gua mau bicara sama Tasya," ucap Viko dari seberang sana.


"Dia gak mau bicara sama lu, udah gua bilang jangan hubungi dia lagi. Kurang ngerti? Jangan ganggu Tasya lagi!" Al mematikan sambungan itu dan memberikan ponselnya kembali pada Tasya.


"Lo heran gak sih kenapa dia bisa tau nomor gue?" Tanya Tasya yang tiba-tiba berpikir.


"Lu kasih nomor ini ke siapa aja?" Tanya Al


"Ya gak ada, cuma temen kampus, temen tongkrongan, kalian, samaa ... temen-temen gue di Bandung? Tapi gak mungkin sih mereka kasih ke Viko, masa mereka gak tau kalau gue putus? Gue juga bilang di grup walaupun mereka gak bales," ucap Tasya.


"Aneh, yaudah jangan dipikirin. Are you oke?" Tanya Al memastikan.


Tasya tersenyum. "I'm oke. Gue gak kenapa-kenapa, kaget doang karena Viko tau nomor gue. Just it."


"Sure?"


Tasya mengangguk dan tersenyum. "Really sure, udah jangan dipikirin. Nanti gue ganti kartu lagi atau engga biarin aja. Gak penting ini."

__ADS_1


Al lega mendengarnya, yang dia pikirkan hanya Tasya. Takut kalau gadis itu mendadak sedih atau galau. Untungnya saja tidak. Sementara Tasya sedang bermain cocoklogi dengan pikirannya. Dimulai dari Sherli, Sarah dan Niken yang melihat storynya, lalu Arka, Bagus dan Reza yang menyusul, sekarang bertambah dengan Viko menghubunginya. Apa Viko sekarang ada di Bandung?


Tasya memutuskan untuk menghentikan pikirannya dan naik ke motor, daripada memikirkan hal yang tidak jelas lebih baik dia segera pulang dan makan bakso dengan yang lainnya. Kehidupannya sudah berjalan lancar selama ini, dia tidak mau mengancurkannya lagi.


__ADS_2