
Titik Sendu Cafe adalah tempat yang pas untuk hari ini. Tempatnya yang santai dan instagram able, membuat tempat ini semakin menarik. Apalagi menjelang sore hari, udara di sini semakin sejuk, itulah kenapa Al lebih menyukai kota Bandung dibandingkan dengan Surabaya.
Tasya dan Al memilih untuk duduk di dekat kaca, sambil melihat orang yang berlalu lalang menelusuri Jalan Braga. Kini mereka berdua sedang asik ber-selfie. Terlalu lama berpisah, membuat mereka melewatkan banyak moment kebersamaan. Itulah kenapa mereka senang mengabadikannya. Mungkin sudah ada ribuan photo yang mereka simpan dalam ponsel atau laptop masing-masing.
"Ahahahaha jelek ahh hapusss, jelek banget tau gue nya," ucap Tasya merajuk.
"Ih bagus, gua posting yang ini aja kali ya? Ahahaha."
"Jangan ihh, masa itu manyun gituu. Jangan-jangan. Yang ini aja," kata Tasya sambil menslide ponsel milik Al.
"Aneh orang udah cantik masih aja insecure."
"Insecure lah, temen-temen lo di Surabaya itu cantik-cantik. Kalau gue keliatan jelek tar gue dihujat gimana?"
"Heyy, udah gua bilang lu paling cantikk." Al gemas dan menarik kedua pipi Tasya.
"Awwww sakittt, Al!" pekik Tasya.
"Salah sendiri lu gemesin, pingin gua makan pipinya."
"Hehh, ini pipi bukan bakpao," kesal Tasya yang sudah memajukan bibirnya.
"Loh pipi? Gua kira bakpao ahahaha."
"Ihh nyebelin. Tapi serius deh gue penasaran sama temen-temen lo."
"Kenapa penasaran?"
"Ya pingin tau aja temen-temen lo yang oke itu."
"Ahahaha temen gua sedikit, selebihnya cuma sebatas kenal aja kok."
"Masaa??"
"Asli, bisa diitung jari malahan."
Viko menatap tak suka di balik menu yang dia jadikan tameng untuk bersembunyi. Iya Viko, dia penasaran kenapa akhir-akhir ini Tasya lebih senang menghabiskan waktu dengan Al, jadi setelah pulang sekolah dia bertekad untuk mengikuti Tasya dan Al. Dasar stalker.
"Aishh mereka berdua beneran pacaran apa gimana dah?" gumam Viko.
"Deket banget anjirr, pake pegang-pegang segala," lanjutnya sambil memakan pasta pesanannya.
Viko bingung, Tasya dan Al dibilang pacaran seperti tidak pacaran. Tapi jika dibilang tidak pacaran tidak begitu juga. Seperti kata orang tua : Malu bertanya sesat di jalan. Viko tidak berani menanyakannya pada Tasya makanya dia terjebak dengan rasa penasarannya sendiri.
Viko melihat Tasya bersandar di dada Al yang sedang memperlihatkan ponselnya. Viko semakin panas melihat hal itu dan langsung meminum milkshake miliknya.
"Hadehhh gimana caranya gua positif thinking kalau gini?" Viko menekan-nekan garpu nya ke piring.
__ADS_1
Sementara itu Al sedang memperkenalkan teman-temannya kepada Tasya. Tasya selalu ingin tahu tentang Al, begitu juga orang-orang terdekatnya.
"Ini namanya Monica, dia itu temen nongkrong gua, beda sekolah tapi kita satu tongkrongan," jelas Al sambil memperlihatkan akun Monica di ponselnya kepada Tasya.
"Cantikk, dia baik?" tanya Tasya.
"Baik, tapi dia salah satu buaya betina di tongkrongan gua. Anaknya rada galak, mirip sama lu, tapi galakan lu sih," kata Al sambil nyengir.
"Ishh, terus-terus mana lagi?"
"Nah kalau ini namanya Belva, dia itu satu kelas sama gua. Tempat berbagi contekan karena dia anak unggulan sekolah," ucap Al sambil tertawa.
"Hmm cantik jugaaa. Lo kalau satu sekolah sama gue juga bisa berbagi contekan kok, gue gak kalah pinter."
Al menarik pipi Tasya gemas, dia paham kalau Tasya tidak ingin merasa tersaingi oleh siapapun. Al pernah berjanji kalau Tasya kan menjadi tahtah tertinggi setelah keluarganya.
"Ahahahaha iya iya bawel, nah oke kalau ini namanya Abella, dia—"
"Ini temen lo cewek semua kah?" Tasya mengerutkan bibirnya.
"Oke-oke kita pindah haluan, ini namanya Angkasa. Gua sama dia satu kelas, satu tongkrongan. Dia ini anaknya cool gitu, tapi care. Pokoknya sohib gua banget," jelas Al.
"Ih ganteng, kenalin dong," kata Tasya sambil menaik-naikan alisnya.
"Yeuu giliran yang ganteng gercep lu," sahut Al sambil mengelus wajah Tasya perlahan.
"Ahahah ya ganteng, masa harus dilewatin. Oke terus siapa lagi?"
"Kenapa ngeliat temen-temen lo gue ngerasa mereka waw gitu, kenapa di sekolah gue gak ada yang begitu?"
"Eh dongdong, di mana-mana kalau kita liat sekolah atau kelas lain itu pasti waw, karena kita gak liat setiap hari. Kalau udah liat setiap hari pasti jadi biasa aja. Gua waktu jemput lu juga begitu, tanggapan gua buat anak-anak sekolah lu itu famous, pinter, kharismatik, dll."
"Iya sihhh, tapi tapi kalau lo sekolah di sekolah gue pasti paling waw sih," kata Tasya.
"Mau banget ya satu sekolah sama gua?" tanya Al menggoda.
"Ya gakk, emang lo gak kangen apa ngerjain pr bareng gue, pulang bareng, kerkom bareng, ekskul bareng. Rasanya udah beberapa tahun kita gak ngelakuin itu."
"Iya-iya, nanti gua pikirin. Yang terpenting sekarang adalah, lu harus semangat buat sembuh, bibir lu ini harus sering senyum. Jangan sedih-sedih lagi."
Tasya pun mengangguk, dia berjanji akan semangat untuk sembuh. Bukan untuk dirinya saja tapi karena banyaknya orang yang mencintai dia seperti Al.
Sejenak dia berpikir tentang Viko. Akhir-akhir ini rasanya Viko tidak menjadi tokoh dalam bab ceritanya. Dia mengingat kejadian tadi di sekolah, saat Viko memberinya satu kotak susu membuat Tasya tersenyum kecil. Sudah lama dia tidak menghabiskan waktu bersama Viko.
"Kenapa lu senyum-senyum gitu?" tanya Al.
"Engga, gapapa. Gue seneng aja bisa habisin waktu bareng lo lagi. Setiap hari bakalan kaya dulu lagi. I'm so lucky," ucap Tasya senang.
"Paling bisa emang. Gua mau jalan-jalan sekitaran Braga. Mau atau langsung pulang?" tanya Al.
__ADS_1
"Mauuu."
"Yaudah gua bayar dulu habis itu kita jalan."
Al pun membayar bill, setelah selesai dia dan Tasya pun keluar dari cafe. Viko pun segera menyusul mereka, takutnya dia kehilangan jejak.
Viko keluar dari cafe dengan satu cup matcha latte. Dia sudah menghabiskan 3 minuman dingin saking panasnya cuaca kota Bandung. Cuaca atau hati? Sepertinya hati.
Dilihatnya Tasya dan Al yang berjalan beriringan menikmati sore hari kota Bandung. Sesekali mereka berhenti untuk mengambil beberapa photo. Sementara Viko mengamati mereka dari jauh dengan hati tak karuan.
"Al lama-lama gua gaplok juga lu," kesal Viko.
"Bisa-bisanya mereka begitu, padahal ada gua. Lu gak peka apa, Sya? Bego banget lu Viko, orang lu diem-diem gak munculin diri, gimana si Tasya ngeliat lu." Viko berdebat dengan dirinya sendiri.
Takut semakin panas, akhirnya Viko memilih untuk mengakhiri investigasinya hari ini. Dia yakin kalau Tasya akan pulang dengan selamat bersama Al. Dia bertekad kalau tidak akan mundur sebelum Tasya sendirilah yang menyatakan kalau Al adalah pacarnya.
"Kalau mereka pacaran inget : Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa tikung menikung," gumam Viko sembari meninggalkan Tasya dan Al.
Viko pun menuju ke motornya dan berlalu pergi. Bukannya apa-apa, dia sudah ada janji bersama mamanya akan mengantar arisan. Jika mama sudah bertindak, uang jajan pun jadi mangsanya.
"Lo tau gak, udah lama kayanya gue gak kesini," ucap Tasya.
"Kenapa? Padahal deket," tanya Al.
"Karena temen-temen gue gak pernah ajak kesini. Kita lebih sering ngumpul di rumah, atau nongkrong ke mall."
"Cewek-cewek emang kelakuannya kaya gitu ya?"
"Engga, kalau gue kan anak tengahan. Mau diajak kemana ayok, mau diajak diem di rumah juga ayok. Semuanya suka gue lakuin."
"Kalau gua sih lebih suka di luar rumah, mumet kalau diem di rumah mulu."
"Gak heran, mana ada kadal darat kaya lo betah di rumah. Cuci mata lah liat cewek-cewek keluar, cih," decih Tasya.
"Oh jelas, lu emang paling mengerti gua," kata Al sambil tertawa.
"Kok oh jelas, jadi bener?" lirik Tasya sinis.
"Ahahaha gakk, bercanda. Gua keluar paling nongkrong, balapan, atau main PS di rumah temen gua sampe pagi."
"Lama banget, cowok kalau nongkrong biasanya ngomongin apa sih?"
"Random, tapi gua lebih sering ngomongin lu sih," kata Al jujur.
"Bohong."
"Bener, kapan-kapan gua ajak VC sama temen-temen gua deh, mereka pasti tau banyak tentang lu."
"Karena sering lo ceritain?"
__ADS_1
Al pun mengangguk, Tasya pun tersenyum senang. Beda halnya dengan Tasya, dia sepertinya tidak pernah menceritakan tentang Al kepada siapa pun.
Entah kenapa, semua hal pasti akan Tasya ceritakan kepada teman-temannya tapi tidak dengan Al.