Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Goodbye Bandung


__ADS_3

Hai-hai, bosen sama latarnya yang disitu-situ aja? Aku bawa latar baru nih. Dengan kota yang berbeda, penambahan tokoh baru dan juga konflik baru. Semoga kalian suka ya. Happy Reading~



Tidak ada yang pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. Entah itu pertemanan atau percintaan. Semuanya mengalir bagaikan air. Seperti Tasya dan teman-temannya yang kini memiliki jalan masing-masing dan juga impian mereka masing-masing.


Akhir-akhir ini mereka sibuk memulai awal dewasa. Tasya dan Al diterima sebagai mahasiswa kedokteran UNAIR, Viko diterima sebagai mahasiswa BA- Economic Universitas of Alaska, Sherli dan Bagus diterima sebagai mahasiswa hukum UNPAD, Arka diterima sebagai mahasiswa HI UNPAD, Niken dan Sarah diterima sebagai mahasiswa manajemen UPI, dan Reza diterima sebagai mahasiswa seni rupa UPI.


Mereka sadar kalau masing-masing mempunyai kemampuan dan cita-cita yang berbeda. Jadi, seharusnya mereka senang jika Tasya bisa mengejar cita-citanya walaupun jauh dari mereka.


📍Bandara Internasional Husein Sastra Negara.


Pagi ini Tasya sudah ada di Bandara, ditemani oleh sang pacar juga teman-temannya. Bahkan mereka bersemangat sejak tadi pagi menemani Tasya di sana.


"Sya, lo hati-hati ya di sana. Lo harus selalu jaga kesehatan, jangan bandel apalagi kenapa-kenapa. Lo juga Al, lo harus bisa jagain Tasya, lo juga harus jaga diri lo sendiri. Walaupun kita kenal baru setahun ini, tapi gue seneng bisa ketemu sama lo," ucap Sherli.


"Iyaa, pokoknya jangan sungkan kalau mau hubungin kita, apalagi kalau mau ke Bandung harus bilang-bilang ya kalian," kata Niken.


"Inget, kalian harus terus kontakan sama kita, jangan sombong-sombong. Pokoknya komunikasi itu nomor 1, gak mau tau!" Peringat Sarah.


"Ahhh gua baru aja ketemu temen se frekuensi soal motor, gua juga daftar UNAIR, tapi keterimanya di UNPAD ya bukan rezekinya. Kapan-kapan gua main ke sana ya, titip ini kesayangan boss kita," kata Arka seraya beradu tos dengan Al.


"Al lu juga jangan lupa sering kabarin kita, pokoknya lu juga bagian dari begundals. Bu ketos, jangan sampe kenapa-kenapa ye di sana. Awas jangan galak-galak tar yang ada lu banyak musuh," peringat Bagus.


"Betuls pokoknya kalian jaga kesehatan jangan lupain kita. Kapan-kapan kalau ada waktu atau mau nonkrong bareng kabarin aja," ucap Reza sembari menepuk bahu Al.


"Iya makasih ya kalian, gue pasti bakalan kangen banget sama kalian semua. Gue bakalan inget pesan kalian, gue juga bakalan sering-sering komunikasi," kata Tasya sembari memeluk teman-temannya.


"Iya, gua juga pasti bakalan inget kalian terus. Selagi kontakan aman lah, kalau Tasya mah gak usah dijagain. Yang orangnya aja takut sekali liat dia." Al pun terkekeh.


"Bener juga lu, hahahaha," sahut Arka.


Viko kini memeluk gadisnya itu erat. Minggu depan juga dia harus bersiap berangkat ke Amerika. Menatap gadis itu dan merelakan dia pergi terasa berat. Tapi Viko berusaha biasa saja agar Tasya tidak kepikiran.

__ADS_1


Viko menangkup kedua pipi Tasya. "Semuanya udah diingetin. Tapi aku cuma mau bilang, yang paling utama kamu jangan lupa atur pola hidup sama pola makannya. Jangan banyak pikiran, enjoy di sana. Oke? Aku pasti bakalan kangen sama kamu."


"Iyaa-iyaa, nanti sampai sana aku kabarin. Kamu juga kesehatan, semangat buat minggu depan. Hati-hati juga, yang serius juga di sana," peringat Tasya.


Viko mengangguk dan menciumi puncak kepala Tasya. Rasanya mereka ingin lama-lama seperti ini.


Amara dan Radit pun datang. "Gimana udah siap berangkat sekarang?" Tanya Amara.


"Udah, Tan. Yaudah guys gue pamit yaaa. Makasih kalian udah nemenin di bandara dari tadi pagi. Nanti kalau udah sampai sana gue kabarin," ucap Tasya yang sekali lagi memeluk teman-temanya.


"Iya, hati hati ya, Sya, Al, Tante, Bang Radit," ucap Sherli.


"Iyaa, thank ya kalian emang temen adek gua yang terbaik. Vik, sukses yo buat BA-nya," ucap Radit.


"Yoi, Bang thanks. Titip pacar gua jangan sampe nakal," kata Viko.


"Kalem." Radit pun terkekeh.


"Yaudah kita berangkat ya, sukses buat kalian. Tante doakan kalian bisa menggapai impian masing-masing dengan sukses. Nanti kita ketemu lagi," ucap Amara.


Tasya tersenyum dan melambaikan tangan. Meskipun berat, dia harus tetap kuat. Dia tidak mau teman-temannya ikut menangis jika dia menangis. Setelah Tasya dan yang lainnya sudah memasuki pintu keberangkatan, dia tidak tau kalau teman-temannya mulai menangis di sana. Bagaimana tidak? Melepaskan seseorang yang setiap harinya selalu bersama-sama pasti akan sulit.


"Goodbye, Bandung," ucap Tasya.


...~ • ~...


Tasya dan Al duduk bersebelahan, Tasya suka melihat awan dari ketinggian seperti ini, walaupun sebenarnya dia takut akan ketinggian.


"Al, lo tau gak gue sedih sebenernya hari ini," ucap Tasya perlahan.


"Kenapa sedih?" Tanya Al seraya melirik ke arah Tasya.


"Ya sedih aja gitu. Gue kan dari lahir di Bandung. Kayanya gue bakalan ngalamin culture shock gak sih di sana?"

__ADS_1


"Ya pasti, awal gua pindah ke Surabaya juga gua ngalamin itu. Tapi lama-lama gua terbiasa. Tergantung kita jalaninnya sih, Sya. Kalau kitanya stuck di sana dan gak ada keinginan ya bakalan susah," ucap Al.


"Iya sih, ah gak tau pokoknya gue sedih. Tapi gue seneng juga soalnya cita-cita gue kesampaian ke Surabaya," kata Tasya senang.


"Cita-cita apaan ke Surabaya? Ketemu gua?" Tanya Al percaya diri.


"Iya waktu itu salah satunya itu, tapi cita-cita utama gue itu pingin berenang di bawah patung buaya yang ikon kota Surabaya itu loh, Al," jawab Tasya kegirangan.


"Jangan gila, yang bener aja lu mau berenang di sana. Gak bisa lah dodol," pekik Al sembari menjaga kestabilan suaranya agar tidak mengganggu penumpang lain.


"Kenapa sih? Emang gak boleh? Bolehin lah, gue jauh-jauh dari Bandung masa gak boleh," protes Tasya.


"Gak boleh anjir yang ada lu dirazia. Yang lain aja kenapa, bisa-bisa gue malu nganternya, Sya."


"Gak mau tau, kalau lo gak nemenin gue bakalan ngambek seabad. Lo tau gak gue sampe kebawa mimpi berenang di sana."


Al berdecak. "Gak waras."


Tasya pun tertawa melihat reaksi Al. Tapi sebenarnya Tasya memang bersungguh-sungguh akan ucapannya. Menurutnya pasti asik jika impiannya itu terwujud.


"Menurut lo gue bisa gak ya jalanin LDR?" Tanya Tasya pada Al.


Al pun mengangguk. "Bisa, kenapa gak bisa? Selagi hubungan kalian kuat gak akan terjadi apa-apa. Kuncinya cuma satu, kepercayaan. Biasanya orang LDR terlalu curigaan, itu kenapa sering berantem."


"Iya sih, bener juga. Bahkan gue aja takut Viko nemu cewek lain di sana, secara orang bule cantik-cantik," ucap Tasya.


"Iya, seksi lagi," kata Al yang mula menjahili Tasya.


"Ihhh lo, mah. Jangan bilang kaya gitu kenapa, tapi emang bener sih. Tapinya lagi kayanya Viko bucin sama gue, jadi aman," ucap Tasya percaya diri.


"Iyalah bucin, lo nya aja bucin," ledek Al sembari tertawa pelan.


Perjalanan masih 4 jam lagi, selain makan mereka berdua sibuk mengambil gambar mereka berdua. Al akan memberikan kejutan kepada teman-temannya. Terutama Angkasa dan Yoda.

__ADS_1


Al belum memberitahu mereka soal kepulangannya. Mereka hanya tau Al lulus di UNAIR karena mereka pun lulus di universitas yang sama dan jurusan yang sama.


Tasya mengantuk jadi dia tertidur di pesawat dan Al yang menjadi sasaran empuknya karena kepala Tasya yang bersandar di bahunya. Untung saja Al menyanyangi Tasya, jadi rela dia pegal agar Tasya bisa tidur nyaman.


__ADS_2