Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Diamnya Viko


__ADS_3


Hari ini Tasya heran dengan sikap Viko. Dia sepertinya sedang badmood. Tasya berusaha untuk berbicara pada Viko, tapi Viko menghindar. Seperti sekarang, pulang sekolah Tasya langsung pamit kepada teman-temannya dan mengikuti Viko.


Tasya mencoba memanggil Viko beberapa kali namun tidak ada respon. Jujur saja itu membuatnya sedikit kesal, pasalnya kemarin dia pergi tanpa alasan yang jelas, Tasya jadi merasa kalau Viko marah padanya.


"Vik, lo kenapa sih? Jangan badmood elah. Lo marah sama gue kah? Kemarin lo kenapa langsung pulang? Tunggu elah, cape inii," ucap Tasya beruntun yang masih mengikuti langkah kaki Viko.


"Gak apa-apa, gua cuma lagi gak mood aja, jangan ikutin gua!" Ketus Viko tanpa menghentikan langkahnya.


"Yakkk!! kalau mau ngomong berhenti dulu kek, capek nih gue ngejar lo," kesal Tasya yang napasnya kini mulai tersenggal-senggal. Viko itu tinggi, langkahnya sudah pasti lebih panjang dari Tasya yang pendek.


Viko pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke hadapan Tasya. Dia menatao gadis itu datar sedatar-datarnya. Tasya melihatnya sedikit ngeri.


"Gua gak apa-apa, jelas?" Viko langsung berbalik lagi dan kembali melanjutkan jalannya. Namun, dengan sigap Tasya menarik tas Viko dan menahannya kuat-kuat.


"Waitttt!!!" perintah Tasya.


Viko kembali membalikkan tubuhnya ke hadapan gadis itu dan menatapnya dengan tatapan dingin.


"Kenapa? Ada apa?" ketusnya.


"Kemarin lo mau ngomong apa?" tanya Tasya to the point.


"Gak jadi, bukan apa-apa," jawab Viko.


"Dih, kan gue kepo. Kok lo rese sih? Gue ada salah sama lo kah? Lo kaya gini jadi bikin gue mikir apa gue ada salah sama lo atau engga. Apalagi kemarin lo langsung pergi gitu aja."


Viko berpikir sejenak, namun dia tidak bisa bertahan lama-lama bersama Tasya. Pertahanannya bisa runtuh nanti.


"Gua emang rese, kenapa?" Udah, gua mau balik. Nyokap gua udah nunggu dan jangan ikutin gua!"


"Yaudah, hati-hati ya Vikoooooo," ucap Tasya setengah berteriak dia berusaha memahami keadaan Viko. Meskipun dia merasa sedikit sedih karena Viko mengacuhkannya.


Tanpa menjawab, Viko berbalik dan meninggalkan Tasya. Setelahnya dia menarik napas panjang. Bertahan seperti tadi rasanya tidak enak.


'Badmoodan banget kaya cewek, kan gue jadi gak karuan.'


"Sya, bukannya lo mau balik bareng Viko?" tanya Niken yang entah sejak kapan datang.


"Tau ah, kesel gue sama dia. Badmood lampiasinnya ke semua orang. Gue tuh gak suka kalau dicuekin."


"Lo ada masalah sama dia?" tanya Sherli.


"Atau dia ngambek kali sama lo," sambung Sarah.


"Kemarin biasa-biasa aja kok, cuma .... "


"Cuma apa?" tanya mereka berbarengan.


"Cuma kemarin tuh dia mau ngomong, tapi gak jadi. Soalnya Chandra manggil gue ke ruang OSIS. Yaudah jadi gue tinggalin dia kan. Terus pas gue balik dia ilang deh."


"Fixx lo harus cerita sama kita," kata Sarah dan menarik Tasya menuju kelas.


Sesampainya di kelas, ketiga temannya sudah menatap Tasya intens. Seperti menatap mangsanya mereka bertiga pun mulai mengintrogasi Tasya. Mereka penasaran, apa yang terjadi sebenarnya antara Viko dan Tasya.


"Please deh, ini kalian duduk bertiga dan gue sendirian. Berasa tersangka aja gue," ucap Tasya tak terima.

__ADS_1


"Gak usah banyak berkumandang, Sya. Jadi kemaren kaya gimana kejadiannya? Jelasin secara rinci dan jelas untuk dipahami." tanya Sherli to the point.


"Hooh kaya gimana? Viko ngomong apa sama lo?" sambung Niken.


"Dia bicara penting atau gimana, Sya?" tanya Sarah.


"Elah satu-satu atuh. Gue bingung jawabnya nih ah kalian mah," kesal Tasya.


"Oke sekarang jawab," kata Sarah.


"Jadi gini, kemaren kan gue duduk di DPR."


"Terus?" ucap mereka bertiga berbarengan.


"Nah tiba-tiba si Viko dateng tuh nyamperin gue. Terus dia bilang apa ya." Tasya mulai berpikir, mencoba mengingat kembali kejadian kemarin.


"Dia bilang apa?" tanya Niken tak sabaran.


"Dia bilang kalau pandangan dia sama gue itu ternyata salah. Dia mikir gue nyebelin dan dia pernah mikir gak suka sama cewek kaya gue. Terus dia bilang mau gak-"


"Mau gak apa?" potong Sherli.


"Nah itu justru masalahnya."


"Masalah gimana, Sya?" tanya Sarah dengan gemas.


"Dari situ, tiba-tiba Ayu anak OSIS telfon gue. Katanya Chandra nunggu gue di ruang OSIS."


"Anjirr!! Ganggu banget nih si Chandra brengsek itu! Terus?" Sherli gemas dibuatnya.


"Terus gue tanya deh sama Viko mau ngomong apa. Tapi dia gak jawab, katanya gak terlalu penting. Terus gue disuruh samperin Chandra."


"Iya, terus dari situ gue samperin Chandra deh ke ruang OSIS."


"Terus Viko gimana?" tanya Sarah.


"Viko ya di lapangan itu lah gue tinggalin," jawab Tasya polos dan membuat ketiga temannya harus ekstra sabar menghadapi kepolosan nyebelinnya Tasya.


"Terus lo samperin si Chandra kan? Nah, si Chandra ngomong apaan? Mau ngapain dia manggil lo ke ruang OSIS segala? Emang setan gak ada adabnya." Tanya Sherli panjang lebar sambil berapi-api.


"Gue harus cerita juga nih? tanya Tasya ragu.


"Ya iyalah," jawab mereka berbarengan, sambil menggebrak meja.


Tasya pun kaget dibuatnya. Dia merasa seperti tersangka yang sedang diintrogasi habis-habisan oleh ketiga temannya itu. Mereka selalu ingin tahu detail apa yang terjadi pada Tasya dan Tasya pun mengerti. Karena tentunya dia akan melakukan hal yang sama jika di posisi mereka.


"Astagfirullah, gue kaget tau," ucap Tasya pelan.


"Yaudah cerita cepet, no kecot," kata Sherli tegas.


"Chandra em i-itu a-anu," ucap Tasya gugup.


"Anu apaan?" tanya Sarah.


"Anuin lo?" tanya Niken.


"Bukan."

__ADS_1


"Terus? Anu anuan?" tanya mereka serempak.


"Dia nembak gue."


"HAH? CHANDRA NEMBAK LO?" Kaget mereka dengan kompak.


Tasya pun mengangguk pelan. Dia bingung harus bicara seperti apa lagi sekarang.


"Terus lo terima?" tanya Niken.


"Enggak."


"Lah, bukannya lo suka sama Chandra, 'kan?" tanya Sarah.


"Pasti labilnya kambuh nih anak kemarin. Pasti sekarang lo nyesel kan, ga nerima Chandra?" kesal Sherli.


"Enggak, biasa aja. Kemaren emang gue bingung mau jawab apa. Tapi yang gue rasain emang udah beda, gue gak ngerasain apa pun lagi sama Chandra. Makanya gue tuh nolak dia."


"Jangan-jangan lo suka sama Viko lagi," tebak Sarah dengan spontan.


"Hah? Viko? Enggak deh kayaknya. Gue kaya temen aja sama dia tuh jadi mana mungkin gue suka sama dia heh," elak Tasya.


"Tapi lo bisa ilang rasa sama Chandra semenjak lo sama Viko deket bener kan kata gue? Lo juga pasti ngerasa," sambung Niken.


"Nah bener. Fix lo suka sama Viko ini mah cuma gak sadar aja. Terus, si Viko gimana kemarin?" tanya Sherli.


"Terus udah dari ruang OSIS, gue ke DPR lagi, ngambil tas. Tapi Viko udah gak ada," jelas Tasya.


"Apa jangan-jangan, dia liat lo ditembak sama Chandra? Terus dia nyangka lo jadian sama Chandra?" tebak Sarah.


"Nggak mungkin, orang kemarin sepi kok."


"Terus si Viko tadi kenapa? Kayaknya dia gabut atau bete gitu," kata Niken.


"Mungkin dia marah omongannya kepototong. Atau mungkin emang bener, kalau dia lagi gak mood dan dia lagi tungguin Mamanya di rumah," jelas Tasya.


"Ya bisa jadi sih," kata Sherli.


Mereka pun akhirnya bergosip ria hingga lupa waktu.


...~ • ~...


Di satu sisi, Viko sedang termenung di kamarnya. Dia seperti orang yang ditolak cinta. Padahal nembak juga belum tapi udah ketolak duluan, kaya sadboy aja.


"Ini kali ya, yang namanya patah hati," gumam Viko.


Viko membuka ponselnya. Terlihat beberapa pesan LINE dari Tasya Aurel. Sebenarnya, Dia sangat penasaran dengan pesan dari cewek bawel itu. Tapi, mengingat dia sedang patah hati, jadi dia urungkan untuk membaca pesannya.


Namun, tiba-tiba ponselnya pun berdering. Satu panggilan dari Tasya Aurel.


"Kenapa lagi coba dia hubungin gua. Udah ada Chandra juga. Dia gak peka apa, kalau gua patah hati," kesal Viko.


Viko pun tak mengangkat telfonnya. Dia memilih untuk mandi dan menyegarkan pikirannya. Sementara Tasya keheranan. Dia bertanya-tanya tentang Sikap Viko.


"Lo kenapa sih, Vik. Bohong banget kalau jam segini lo gak megang handphone," gerutu Tasya.


Tasya bingung, harus dengan cara apa lagi untuk menghubungi Viko. Tapi yang jelas, kenapa dia begitu cemas saat ini? Sampai-sampai dia menulis puisi seperti orang galau.

__ADS_1


"Kalau dipikir-pikir, kok tulisan gue kaya orang galau gini ya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Tasya heran dengan tulisannya sendiri. Apakah diamnya Viko, segitu berpengaruhnya kepada Tasya? Tak tau, karena hanya author yang tau.


__ADS_2