
HAII!!
Aku mau berbagi kebahagiaan dulu, aku seneng banget novelku dapet kontrak guys. Ini semua berkat dukungan dari kalian pembaca setia aku. Aku jadi semangat buat update dan belajar lebih giat dari menulis.
Makasih banget ya buat kalian pembaca setia kehidupan Tasya. Jangan lupa juga baca karya-karyaku yang lain. I love you guys~ ❤️❤️
Setelah perjalanan pesawat 20 jam, akhirnya Viko sudah sampai di Amerika Serikat. Negara dan kota ini begitu asing baginya, dia belum mengenal siapapun. Untung saja supir suruhan ayahnya bisa menemukan Viko lebih cepat, kalau tidak Viko sepertinya akan tersesat di tengah luasnya Bandara.
Hidup sebagai warga asing dan menjadi minoritas ditambah perubahan suhu yang dia alami membuatnya sedikit ragu, apakah dia bisa menyesuaikan diri di tempat barunya ini?
Tapi dia berusaha menepis semua perasaan itu. Yang ada dipikirannya sekarang adalah dia harus bisa sukses agar bisa secepatnya kembali ke Indonesia. Memang sedikit sulit, apalagi konsep Negara Amerika yang individualis dalam artian siapa yang kuat, dia yang berhak berkuasa. Secara tidak langsung membuat warganya berlomba-lomba untuk menjadi yang terhebat. Viko tentu harus mengejar beberapa ketertinggalannya.
Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, akhirnya Viko pun sampai di sebuah apartemen mewah di sana.
"Iya, Ma. Ini Abang lagi di lift mau ke kamar. Baru sampe apartemen," ucap Viko.
"..."
"Iya nanti Abang kabarin lagi. I love you, Ma." Viko tersenyum dan mematikan ponselnya, baru beberapa jam meninggalkan Indonesia, Ibunya sudah sangat khawatir padanya.
Tanpa Viko sadari kalau sedari tadi sepasangan mata menatap ke arahnya. Lift berhenti, Viko keluar dan diikuti oleh wanita dibelakangnya.
"Ekhm orang Indonesia juga?" Tanya perempuan itu sedikit ragu.
Viko berbalik ke arah sumber suara. "Iya, kenapa?"
"Oh engga nanya aja, saya baru soalnya di sini," jawab wanita itu.
"Oh sama, gua juga baru di sini. Maaf ya gak bisa formal."
"O-ohh gapapa, tadi juga mau gak formal tapi takut risih. Gue Bella," ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Viko.
"Viko." Viko tersenyum dan membalas uluran tangan Bella.
"Lo tinggal di kamar berapa?" Tanya Bella.
Viko memperlihatkan access cardnya. "302."
"Oh kita sebelahan, gue 303. Boleh bareng?" Tanya Bella lagi.
__ADS_1
"Of course," jawab Viko ramah.
Mereka pun sedikit berbincang sembari menuju kamar masing-masing. Entah karena jarak kampus yang dekat dengan apartemen ini atau memang kebetulan, ternyata mereka di satu kampus dan jurusan yang sama.
"Kebetulan banget gak sih kita satu kampus, satu jurusan lagi. Gue jadi sedikit lega karena ada temen satu kampung," ucap Bella terkekeh.
"Hahaha mungkin udah jalannya lu ketemu gua, ya anggap aja temen pertama."
"Oh kalau gitu kita bisa jadi temen dong sekarang?" Tanya Bella sambil terkekeh.
"Boleh, lagian juga gua belum ada temen," jawab Viko santai.
"Ouuh okee hahaha, kalau gitu gue masuk dulu. Mau beresin barang-barang. Nice too meet you, Vik," ucap Bella sambil tersenyum.
"Okee nice to meet you too, Bell." Viko pun masuk ke ruangan miliknya.
Ruangannya mewah, sebenarnya Viko ingin tinggal di tempat yang biasa saja, namun orang tuanya sangat rewel dan ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Ditambah Viko sudah diberi tanggung jawab untuk bekerja di salah satu kolega ayahnya, Ibunya semakin cemas jika Viko kecapean atau makan makanan yang tidak terjamin. Jadi Viko hanya menurut saja, toh sekarang dia juga ada di sini karena sudah diatur oleh kedua orang tuanya.
Viko merenggangkan otot-ototnya, semalaman dalam perjalanan membuat badannya terasa pegal-pegal. Tadinya dia ingin menghubungi kekasihnya, tapi sepertinya mata sulit untuk diajak bekerja sama, jadi Viko memutuskan akan menghubunginya nanti setelah dia bangun tidur.
...~ • ~...
Al mengaduk buburnya, Tasya yang melihat itu menyergitkan dahinya. "Kok ada sih orang yang makan buburnya diaduk kaya lo?"
"Loh enak, jadi bumbunya kecampur rata. Apa enaknya coba makan bubur kaya lu begitu, udah gak diaduk, kecapnya kebanyakan, gak pake kacang. Sekte aneh itu bubur gak diaduk," kata Al.
"Justru kalau diaduk gitu rasanya jadi samar-samar, antara kuah sama kecapnya. Aneh. Tampilannya juga gak cantik," ledek Tasya.
"Gak boleh menilai sesuatu dari tampilannya, kebiasaan jelek." Al menarik pipi Tasya gemas.
"Btw gua liat-liat daritadi lu ngecek hp terus, kenapa sih?" Tanya Al.
"Bandung - Amerika berapa jam sih? Kemarin Viko jam 8 udah pergi tapi sampe sekarang gak ngabarin gue," jawab Tasya sambil memakan bubur miliknya.
"18 sama 22 jam, dia baru sampe kali atau dia lagi istirahat. Kasih rehat dulu lah, Sya. Kasian kan anak orang tepar semalaman di perjalanan," nasehat Al.
"Ya iyasih, cuma guenya aja yang khawatir. Tau sendiri gue orangnya parnoan," balas Tasya.
"Positif aja, udah. Kalau lu banyak parnoan justru gak baik buat hubungan kalian. Bukan soal ini aja, tapi kedepannya lu bakalan parno sama hal-hal kecil," kata Al lalu memakan buburnya lagi.
__ADS_1
"Hmmm iya sih, yaudalah. Gue harus bisa positif thinking, yang ada ntar gue stress."
"Pinter, jangan pikirin hal-hal yang gak perlu. Percaya aja sama dia, nanti kalau dia senggang juga hubungin. Biar dia fokus sama pelajarannya di sana, lu juga," kata Al lalu mengusap rambut Tasya lembut.
Setelah selesai makan bubur, mereka pun lanjut bersepeda dan pulang ke rumah. Di perjalanan Tasya teringat sesuatu. Dia belum menceritakannya pada Al.
"Al, lo tau gak kemarin gue ketemu seseorang di kampus," ucap Tasya yang melajukan sepedanya beriringan dengan Al.
"Siapa? Temen lu di Bandung?" Tanya Al sambil melirik ke arah Tasya.
"Gak, jadi waktu di cafe gue tuh tabrakan sama orang pas dari toilet. Cowok. Terus ternyata dia di kampus itu juga dan ngenalin gue," jawab Tasya ragu.
"Terus gimana? Dia ngapain?" Tanya Al lagi.
"Dia bilang namanya Dafa, nanti kita ketemu diospek. Gitu katanya, serem gak sih? Gue mikir dia kating deh, tapi ngeri aja dia bilang gitu. Apa gue ditandain ya gara-gara nabrak dia? Kok gue overthinking," kata Tasya cepat.
Dafa? Nama yang tidak asing di telinga Al. tapi siapa ya? Ingatannya samar-samar, atau mungkin itu Dafa yang berbeda?
"Yaudah jangan dipikirin, kalau lu di apa-apain juga gua gak tinggal diem, apalagi kalau berlebihan," ucap Al mencoba memberikan pikiran positif pada Tasya.
"Iya sih, yaudah deh gak penting juga. Gue gak kenal juga." Tasya mengangguk dan fokus menggowes sepedanya.
Saat sampai, Tasya tidak pulang ke rumahnya. Melainkan dia mengikuti Al pulang. Seperti saat ini, dia sedang bersantai di sebuah ayunan rotan kamar Al.
Tasya mengambil salah satu bingkai photo, selain banyaknya wajah Tasya di kamar Al. Di sana juga banyak photo kebersamaan Al dengan teman-temannya.
Namun ada yang aneh. "Al."
"Apa?" Sahut Al yang sedang berlatih kettlebell untuk kekuatan tangan-tangannya.
"Kok gue gak pernah liat temen lo yang ini?" Tunjuk Tasya pada salah satu photo dan memperlihatkannya pada Al.
Al mendekat ke arah Tasya, sekilas Al mengangguk-angguk kecil. "Oh itu Abella."
"Kok gue gak pernah liat dia kumpul sama kalian? Dia kemana?" Tanya Tasya penasaran.
"Udah lama gua gak berkabar sama dia, ada sedikit masalah dan setelah itu dia menghindar dari kita semua. Terakhir waktu gua pindah ke Bandung, dia juga pindah dari sekolah gua dan lost contact," jelas Al.
"Masalah apa?" Tanya Tasya.
"Gak penting juga, gak usah dibahas," jawab Al santai.
__ADS_1
Tasya pun hanya mengangguk paham, lagi pula urusan mereka dengan Abella buka urusannya, bukan? Jadi Tasya tidak bertanya lebih lanjut soal itu.