
Tasya, Al dan Angkasa bertugas si posyandu. Sementara yang lainnya di pecah, ada yang bertugas di balai desa dan ada juga yang bertugas di sekolah-sekolah.
Sambil tersenyum mereka membantu para lansia untuk memeriksa kesehatan mereka. Tasya sedikit kesulitan dengan bahasa yang digunakan, namun perlahan dia mulai terbiasa karena warga di sana bisa diajak kerja sama.
Tasya melepaskan manset ukur dari lengan pasiennya. Lalu tersenyum. "Ibu tekanan darahnya tinggi sekali. Mulai sekarang pola makannya di atur ya, Bu. Perbanyak olahraga ringan dan hindari makanan yang mengandung banyak garam ya. Ibu ada kebiasaan mengopi?"
Tasya mengambil blood lancet dan menusukkannya perlahan ke jari sang pasien. Setelah itu dia cek menggunakan GCU meter untuk memeriksa kadang gula darah dan asam urat. Ini penting karena warga di sini tidak pernah memeriksakan diri ke dokter.
"Saya rutin 3 kali sehari, Dok minum kopi," jawab Ibu itu.
"Oh begitu, mungkin menghilangkan kebiasaan memang sudah ya, Bu. Tapi perlahan-lahan aja, yang tadinya 3 kali, bisa jadi 2 kali, setelah bisa baru dipangkas sampai seminimal mungkin," ucap Tasya yang menjelaskannya dengan ramah.
"Baik, Dok. Selain itu apalagi yang harus dilakukan?"
"Di usia Ibu ini memang rentan cape ya, Bu. Mungkin bisa melakukan olahraga ringan saja, jangan yang terlalu berat. Hindari stress berlebihan, sama istirahat yang cukup dan tidak boleh begadang."
"Untuk gula darah dan asam uratnya normal ya, Bu. Ada yang ingin ditanyakan lagi?" Tanya Tasya.
"Tidak ada, Dok terima kasih atas penjelasannya."
"Iya, sama-sama Ibu," jawab Tasya sambil bersalaman dengan pasiennya.
Tasya merenggangkan ototnya, akhirnya pekerjaannya selesai. Al bersama Angkasa pun menghampiri Tasya dan memeriksa laporan kesehatan warga yang Tasya buat. Dia mengangguk-ngangguk kecil setelah puas dengan hasil kerjanya. Meskipun melelahkan tapi mereka senang bisa membantu warga di sini mendapat pelayanan kesehatan.
"Gila cape banget ternyata." Angkasa ikut merenggangkan otot-ototnya. Lumayan juga seharian duduk membuat pinggangnya encok.
Al memeluk Tasya yang kini duduk sambil memeluk pinggangnya. Dia mengelus rambut Tasya dengan lembut sambil tersenyum karena tingkahnya. Benar-benar seperti anak koala. "Cape ya?"
"Yaudah, sekarang kita balik ke mess. Hari ini cukup segini dulu, good job," ucap Al mengapresiasi.
Tasya mengangguk dan terkekeh saat melihat Angkasa melirik mereka berdua dengan tatapan sinis. "Apa mau pelukan juga? Sini-sini Baby Asa."
__ADS_1
"Apasih, Sya. Geli." Angkasa bergidik ngeri.
"Yaudah lo gendong gue aja kalau gitu, mau gak? Sebagai temen yang baik, ayokk bantuin gue," pinta Tasya.
"Ogah, sama Al aja sana. Dia mah pasti mau-mau aja, gua sih ogah. Sadar diri, lu kecil-kecil begitu juga berat banget ya," tolak Angkasa.
"Maunya sama lo, masa nyuruh Al sih. Parah Baby Asa gak sayang aku lagi," kata Tasya mendramatisir.
"Al kayanya dia kepentok sama batu apa gimana, coba lu periksa dah. Ampun gua, tobat sama kelakuan si Tasya." Al menggusak rambutnya frustrasi.
"Baby Asa kok gitu, ayokk nurut sama Taca, cepettt endong akuuuuuu," rengek Tasya.
"Gila."
"Berantem terus kalau disatuin heran, yaudah ayok pulang," ajak Al.
Tasya menurut, walaupun dia masih ledek-ledekan bersama Angkasa. Al hanya tertawa saja melihat tingkah mereka berdua yang keliatannya sangat lucu. Hal itu rutin mereka lakukan dan terkadang membuat yang lainnya pusing sendiri.
Tasya senang hari ini, entah kenapa jika sudah melakukan pekerjaan sosial dia akan merasa lebih senang. Tadinya dia ingin sekali mengikuti BEM. Tapi ternyata jadwalnya padat untuk ujian modul, praktikum dan lain sebagainya.
"Aaaaaaaaaaa," rengek Tasya saat mendapati dirinya menginjak yang hangat-hangat, ditambah Tasya hanya memakai sandal.
Al dan Angkasa tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa Tasya begitu ceroboh dengan menginjak tumpukan kotoran kuda di jalanan. Mereka tidak habis pikir dengan Tasya. Sementara Tasya menertawai kebodohannya sendiri, tapi dia juga ingin menangis. Apalagi sekarang dia hanya diam mematung.
"Huaaaaa bantuin gueeeee!!!! Ini gimanaaa?" Rengek Tasya.
"Berusaha sendiri, ayok tinggalin dah Al," ajak Angkasa pada Al. Al pun menurut dan mengikuti Angkasa meninggalkan Tasya.
"AAAAAAAA KALIAN KOK JAHAT, INI GIMANAA??! AAAAA ABANG," rengeknya semakin keras dan sukses membuat keduanya semakin tertawa mendengar rengekan Tasya.
Angkasa dan Al terus berjalan tanpa mempedulikan Tasya yang masih merengek, ingin rasanya Tasya melemparkan sendalnya kepada mereka berdua detik ini juga.
"ALDO PRAYOGA, ANGKASA MAHESA! BANTUINNN, JAHAT BANGETTT." Rengekan Tasya semakin kencang dan terasa semakin menggelitik perut, tidak salah kalau mereka memanggil Tasya bocil. Memang dia tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri jika saat-saat seperti ini.
__ADS_1
"Udah udah, gak tega gua," ucap Al sambil berbalik.
Perlahan dia membantu Tasya berjalan dan akhirnya Angkasa ikut memapah gadis itu meskipun masih tertawa sangat keras yang sukses membuat Tasya kesal padanya.
"Kuda gila, kesel banget. Kenapa harus eek di tengah jalan sih?! Kesel bangettt, mana anget-anget lembek gitu. Hueekkk bau," keluh Tasya.
"Kudanya gak salah, lu nya yang ceroboh gak liat-liat jalanan," balas Al.
Al dan Angkasa membawanya ke pinggir sawah, di sana ada air di pinggirannya yang bisa digunakan untuk membersihkan kaki Tasya. Al mengambil sabun kertas instan pada sakunya. Dia memang selalu membawanya agar tetap steril.
Perlahan dengan lembut dia membantu membersihkan sandal dan kaki Tasya dari kotoran. Dia masih tertawa memang, bagaimana tidak? Tasya tidak pernah berubah dengan kecerobohannya. Apalagi dia sangat menggemaskan saat merengek seperti tadi.
Al jadi ingat, sewaktu mereka kecil, Tasya sering sekali merengek seperti itu. Entah karena masuk got, jatuh dari sepeda, nyangkut di atas pohon karena tidak bisa turun, atau hal kecil lainnya.
"Bau banget, lagian kenapa coba naro eek kuda di tengah jalan gitu," kesal Tasya.
"Heh bego, itu dia eek sendiri mana ada ditaro. Elunya yang gak hati-hati. Ceroboh sih jadi anak, gini kan jadinya," ucap Angkasa yang masih bertahan menertawakan Tasya.
"Tau ahhh, malah ketawa ini kaki gue bau. Hueeee," rengek Tasya.
Al masih fokus membersihkan kaki Tasya dengan sabun. Setelah itu membilasnya. Tasya tersenyum saat Al melakukannya, kenapa dia mau melakukan itu? Tasya semakin larut dengan tatapannya pada Al. KKN ini membuatnya semakin dekat dengan Al, apa ini perasaan hanya karena dia sedang bergantung pada Al?
Sementara Angkasa tersenyum tipis, entah kenapa dia merasa kalau Tasya pasti akan jatuh cinta pada Al atau sebenarnya dia sudah mencintai Al tapi masih belum menyadarinya?
"Bocil-bocil, udah gua bilang jangan ceroboh." Al berdiri setelah memasangkan sandal pada kaki Tasya.
"Gue tuh gak liat, bukan ceroboh tau."
"Sama aja itu ceroboh, awas pulangnya liat-liat. Jangan sampe nginjek yang aneh-aneh lagi," ajak Al sembari menggenggam tangan Tasya. Kali ini dia sendiri yang akan memastikan Tasya aman dari apapun.
Tasya menurut, tapi jauh di dalam hatinya dia masih memikirkan kejadian barusan. Kenapa dia tidak mencintai orang seperti Al saja ya? Kenapa dulu dia malah terjebak bersama Viko?
Tasya menggelengkan kepalanya pelan. "Gak, gak boleh menyesali apapun."
__ADS_1
Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dan pulang ke mess. Angkasa tentunya sudah siap menceritakan kecerobohan Tasya hari ini kepada teman-temannya yang lain, sementara Tasya harus bersiap-siap menanggung malu karena kelakuan Angkasa.