Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Rasa Haru


__ADS_3


Di sinilah Tasya berada, di kota Surabaya yang menjadi saksi bahwa seorang kakak kini harus melepaskan seorang adik yang dia jaga mati-matian untuk seorang pria yang akan menemaninya seumur hidup.


Setelah pengajian selesai, Tasya tentu mengikuti prosesi adat dengan baik. Di mana sekarang Radit menggendongnya dengan sebuah kain bak bayi yang baru lahir dan membawa sebuah lilin pelita. Radit diharuskan meniup lilin yang dia pegang, pertanda kalau mulai hari ini dia menyerahkan adiknya untuk Al jaga.


Biasanya prosesi adat ini dilakukan oleh kedua orang tua, tapi sekarang Radit lah yang menggantikan posisi orang tuanya menjalani itu. Dia jadi mengingat dulu ketika Tasya kecil selalu digendong olehnya yang masih lumayan kecil juga. Kebencian Tasya yang pernah ada untuk ayahnya membuat Radit menjadi sosok orang tua tunggal. Sebenarnya Amara ikut serta, tapi Amara merasa kalau Radit lebih berhak.


Kini Tasya bersimpuh di hadapan Radit, dengan posisi Radit yang duduk di sebuah sofa besar di hadapannya. Iringan musik khas sunda dan juga wejangan dari sang pemandu acara membuat Tasya rasanya terharu sekaligus sedih.


Tasya dipersilahkan mengutarakan isi hatinya kepada sang kakak. Dia sebenarnya tidak menyiapkan teks apapun, dia mengingat apa yang Al katakan. Kalau ungkapan spontan itu jauh lebih bermakna.


Tasya duduk dan menatap Radit dengan lekat. Sejenak dia menarik napasnya dalam karena merasa ada sebuah tangisan yang dia tahan detik ini juga. "Abang Radit yang Tasya hormati."


Baru satu kalimat, tapi kenapa air matanya ini sudah mengalir tanpa aba-aba. Radit pun merasakannya, sungguh berat memang ternyata melepaskan sang adik untuk menjalani bahtera rumah tangga.


"Abang, terima kasih karena telah merawat Tasya dari kecil sampai hari ini. Atas semua perjalanan Tasya dan orang tua kita. Tasya tidak pernah kekurangan kasih sayang karena Abang selalu memberikannya pada Tasya. Terima kasih karena merangkap untuk menjadi apapun dalam hidup Tasya. Tasya sangat mencintai Abang melebihi dari siapapun di dunia ini terkecuali papa."


Tasya kembali menarik napasnya. "Abang, hari ini izinkan Tasya meminta restu kepada Abang untuk menikah dengan lelaki pilihan Tasya."


"Seseorang yang sangat Tasya cintai dan mampu membuat Tasya yakin untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius."


"Semoga Al bisa menjadi imam yang baik untuk Tasya, bisa menjaga dan melindungi Tasya sebaik yang Abang lakukan pada Tasya dari kecil sampai detik ini."


"Silahkan dibalas atuh, Abang ungkapan dari sang adik tercinta."


Radit menghela napasnya, dia mengelus air mata di pipi adiknya dengan lembut menggunakan tangan kananya. "Tasya Aurell, adik kesayangan Abang Raditya Putra."

__ADS_1


"Hari ini, detik ini juga, Abang merestui hubungan kamu dengan lelaki yang sudah kamu pilih untuk menjadi pendamping hidup. Abang ikhlas melepas kamu untuk menikah dengan Aldo Prayoga."


"Abang berharap, semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu dikelilingi oleh kebahagiaan. Semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah mawaddah warahmah."


Tasya langsung berhamburan memeluk Radit, begitupun dengan Radit. Mereka berdua sama-sama terisak, rasa bahagia, haru dan juga sedih bercampur menjadi satu.


Seorang ayah akan sulit melepaskan anak gadisnya dan itu yang dirasakan Radit sekarang. Perasaan baru kemarin Tasya memanggilnya Abang, sekarang dia sudah akan menjadi istri orang lain, itu sangat berat namun harus tetap berusaha ikhlas.


Setelah menjalankan prosesi adat dan bersalaman dengan para tamu, kini waktunya Tasya melakukan siraman. Amara dan Radit membawa Tasya ke halaman rumah. Tasya nampak ayu dengan kain batik yang dijadikan kemben lalu berkalungkan dan berbando melati. Semua orang tentu memuji kecantikannya, ditambah kulit seputih susu yang membuatnya benar-benar menjadi pusat di acara ini.


Untuk siraman pertama, semua sepakat memberikan haknya untuk Radit. Radit tersenyum dan mengambil satu siuk air bunga dan menyiram perlahan ke tubuh Tasya. Tasya menampungnya dengan kedua tangan, katanya air itu juga berisi doa dari setiap orang yang nanti melakukannya, jadi Tasya juga membasuh mukanya dengan air itu sambil tersenyum.


Radit mengecup kedua pipi adiknya dan menatapnya dengan lamat. "Adek Abang udah gede. Harus jadi semakin dewasa, semakin kuat, semakin bijak dan nurut sama suaminya ya?".


"Iya, makasih ya Abang. I love you," ucap Tasya.


"I love you too, Princess Abang." Radit kembali mengecup pipi adiknya dan kembali memeluk Tasya dengan erat.


.


.


.


Tasya sudah tertidur, berbeda dengan Al yang sudah hampir jam 1 ini tapi masih belum mengantuk. Tubuhnya tidak karuan saat ini. Dibilang panas tapi dingin, dibilang dingin tapi panas, jantungnya berdegup kencang dan sesekali melafalkan ijab qobul agar tidak lupa.


"Udah kangen, takut salah ijab, gak bisa tidur, ini kapan dah ayam berkokok?" Gumam Al frustrasi.

__ADS_1


Dia bangkit dari kasur dan sesekali mondar-mandir, Al sudab tidak tahan akhirnya dia menghubungi Tasya saja. Siapa tau mendengar suara Tasya bisa membuatnya terlelap.


Untuk beberapa saat Al terdiam menunggu Tasya mengangkatnya, dia yakin kalau Tasya juga tidak bisa tidur. Dan benar saja ... Diangkat!


"Sya, aku kangen."


"Ekhm, kesempatan lu ya hubungin adek gua. Dia udah tidur! Sabar, besok juga ketemu," maki Radit dari seberang sana.


"Arghhtt, berharap denger suara calon istri malah suara bapak-bapak," geram Al.


"Gak akan gua bawa calon istri lu ke gedung ya besok!" Ancam Radit.


"Etss bahaya ini kalau udah ngacem, ampun," jawab Al frustrasi.


"Tidur lu, gak sabaran amat. Gua matiin, ni anak monyetnya malah lagi pelukin Abangnya nyenyak, kasian gak dipeluk," ledek Radit sembari menutup panggilan.


Al semakin frustrasi dibuatnya. Dia yang tidak bisa tidur, tapi Radit yang dipeluk. Bagaimana bisa gadisnya itu tertidur lelap sementara katanya calon pengantin akan sulit tidur saat akan menjelang pernikahannya. Benar-benar Tasya ini anak ajaib.


Di sisi lain, Radit terkekeh. Tepat sekali, Radit lah yang menjadi alasan Tasya tertidur. Tadinya Tasya juga tidak bisa tidur karena pikirannya terganggu. Tapi Radit paham dan menemui Tasya di kamar.


Tentulah Radit mempunyai pengalaman yang sama seperti mereka berdua, namun Radit tidak ingin kalau adiknya ini kurang tidur. Besok acara yang akan sangat melelahkan untuk Tasya. Kalau sampai dia kurang tidur yang ada setelah menikah dia malah jatuh sakit. Meskipun dia sudah menjadi seorang dokter, tapi dia juga tetaplah manusia.


Selain itu Tasya meminta Radit untuk memeluknya malam ini, dia bahkan sampai izin pada Amanda. Ya tentu Amanda tidak keberatan. Pasti moment-moment seperti itu akan dirindukan oleh keduanya. Jadi Amanda membiarkan mereka berdua untuk quality time.


Radit memeluk Adik yang berada di dekapannya, mungkin ini adalah terakhir kalinya Radit bisa memeluk adiknya saat tertidur. Besok-besok tugasnya sudah diambil alih oleh Al.


"Adek kecil gua besok udah mau menikah, bisa jadi kecil lagi gak? Abang masih mau liat lu manja gini ke Abang soalnya," gumam Radit sembari merapikan helaian rambut Tasya.

__ADS_1


"Papa pasti seneng liat lu nikah sama Al. Gua cuma berharap Al bisa memahami lu lebih baik lagi, begitu juga sebaliknya. Abang emang terlalu gengsi untuk bilang sayang ke lu, Dek. Tapi percaya, Abang sayang banget sama adek kecil Abang. Besok tugas terakhir Abang ya, menikahkan adek abang ke lelaki pilihannya."


"Gua sayang banget sama lu, Dek." Radit mengeratkan pelukannya, membuat sang adik merasa sedikit terusik namun tetap terlelap karena nyaman dipelukan sang kakak.


__ADS_2