Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Siapa Yang Ngedate?


__ADS_3


Hari ini adalah hari libur, Tasya dan Al sedang melakukan misi untuk memata-matai kencan pertama Zea dan Fadil. Sudah lebih dari 1 jam mereka menunggu di dalam mobil, lebih tepatnya di dekat toko antik yang Zea dan Fadil masuki satu jam yang lalu.


Tasya meminum es kopinya. "Emang kalau orang dewasa kencannya kaya gini ya, Al? Ngapain coba ke toko barang antik."


"Kita juga udah dewasa, Sya. Cuma emang anak 90-an lebih suka main ke sini. Agak unik juga," jawab Al keheranan.


"Iya kan? Maksudnya tuh kalau museum date ya masih bisa dicerna sama akal gitu. Ini ke toko barang antik, bosen banget. Apa juga yang mereka cari? Apalagi kencan pertama itu harus berkesan."


"Kamu kalau aku aja ke sana mau gak?" Tanya Al sembari melirik ke arah Tasya.


"Ck, ngada-ngada. Aku kalau diajak kemana pun pasti mau, Al. Cuma kalau ke toko barang antik mau ngapain? Toh kita gak ada yang hobi atau kolektor barang antik, kan?" Jawab Tasya logis.


"Ya liat-liat aja, anggap aja museum."


"Tetep aja menurut aku aneh, lebih baik kita museum date atau monumen date gitu, lebih seru kayanya," balas Tasya sambil tersenyum membayangkannya.


"Oke, mending jawab ini aja. Kencan impian kamu yang belum pernah kita lakuin ke mana?" Tanya Al yang mendekatkan wajahnya pada Tasya.


Tasya menatap Al sembari berpikir. "Emm apa ya?Camping? Tapi berdua aja gitu, kan kalau camping sama yang lain udah pernah. Aku pernah liat ada pasangan yang camp berdua, itu kayanya romantis gitu."


"Kamu lebih aneh, emang gak takut naik gunung berdua doang sama aku?" Tanya Al.


"Engga lah, sejak kapan aku penakut. Cuma pasti gak dibolehin aja sih sama Abang. Tapi gak tau kalau kamu yang izin. Soalnya kamu ajaib, bisa hipnotis orang kayanya," kata Tasya sambil terkekeh.


"Ehh ehhh itu mereka keluar, Al. Ayok kita ikutin lagi," potong Tasya saat Al ingin bicara.


Al melirik ke arah Zea dan Fadil yang sudah menaiki mobil di depan sana. Sebelum dia melajukan mobil, Al menyempatkan diri untuk mencium pipi tunangannya itu.


Tasya melirik ke arah Al. "Kamu suka banget cium-cium aku ih," protes Tasya.

__ADS_1


Al tertawa sambil melajukan mobil, rupanya gadis kecilnya itu sudah bisa protes sekarang. "Suka aja, daripada aku ciumnya di bibir lagi?"


"Emang kenapa kalau di bibir?" Tanya Tasya tak mengerti.


"Oh jadi maunya di bibir?" Tanya Al setengah menggoda.


"Ihh m-maksudnya gak gitu. Maksud aku tuh ... Ah udahlah kamu nih otaknya nyebelin," kesal Tasya sambil memajukan bibirnya gemas.


"Hahahaha, iya iya paham. Gak boleh lah di bibir, nanti aja kalau udah sah. Gak akan aku lewatin sehari pun buat ciumnya," ucap Al asal, dia tidak tau saja kalau itu membuat efek tidak jelas pada Tasya.


...~ • ~...


Bioskop, adalah tempat kedua yang Zea dan Fadil kunjungi. Romantis sih, tapi tetap saja mereka seperti dua orang asing yang berjalan berdampingan. Al dan Tasya menggunakan masker dan juga topinya agar tidak di kenali.


Setelah membeli tiket dan makanan ringan Al menggenggam tangan Tasya dan kembali mengikuti Zea dan juga Fadil masuk ke teater.


Al dan Tasya berjalan cepat saat melewati jajaran kursi Fadil dan Zea. Tentunya Al memilih di belakang pasangan itu. Ya hanya terlewat dua baris saja mungkin agar tidak terlalu dekat. Cukup lama mereka menunggu iklan, membuat Tasya bosan. Jadi akhirnya dia memilih untuk ber-selfie bersama Al.


"Al aku gak suka genre ini," ucap Tasya pada Al.


"Oiya juga, yaudahlah nonton aja." Tasya pun berusaha menikmati film bergenre action tersebut. Padahal Tasya lebih suka menonton film romance. Karena menurutnya jauh lebih seru saja dibandingkan harus melihat adegan tembak-tembakan.


Zea dan Fadil fokus menonton, tidak terjadi apa-apa pada mereka. Bahkan mengobrol saja tidak, memang benar-benar aneh. Tasya menyerngitkan dahinya, mereka tidak ada romantis-romantisnya. Biasanya Tasya kalau di bioskop bersama Al ya seperti sekarang. Bersender di lengan Al sambil memakan popcorn dan sesekali Al yang meciumi puncak kepalanya.


Kalau begini rasanya seperti mereka berdua yang sedang berkencan. Pasalnya kedua pasangan dewasa itu bertahan untuk saling diam dan fokus pada dunianya masing-masing. Membosankan sekali menurut Tasya.


"Itu Kak Zea gak bosen apa ya jalan sama cowok kaya dokter Fadil?" Tanya Tasya pada Al.


"Emang kenapa?" Tanya Al berbalik seraya menatap ke arah gadisnya yang sedari tadi menempel pada lengannya.


"Kaku banget, orang mah kalau jalan digandeng kek. Atau minimal kalau masih canggung ya ajak bicara gitu, perasaan dari tadi diem-diem aja. Kaya beneran keliatan dijodohin, atau kaya atasan sama bawahan. Kalau aku sih bosen, kamu tau sendiri aku banyak bicara," kata Tasya.

__ADS_1


"Emang cowok harus kaya gitu duluan? Zeanya aja kaku," cibir Al.


"Yaiyalah, biar aku kasih tau kamu sesuatu. Cewek itu di awal-awal dia bakalan memperlakukan cowoknya sesuai apa yang mereka dapatkan dari si cowok. Selebihnya dia bisa bucin banget, bisa sayang banget, bisa jadi malah lebih effort buat sayang sama cowoknya," ucap Tasya gemas.


"Berarti kamu sekarang udah bucin sama aku?" Tanya Al.


"Kamu jangan nanya aku bisa gak?" Protes Tasya.


"Ya aku cuma mau membuktikan teori kamu bener atau engga, kan kita udah lama. Jadi aku butuh pembuktiannya, biar percaya," ucap Al sambil terkekeh.


Tasya hanya menaikan bahunya, dia tidak mau menjawab. Tentulah si ratu gengsi itu akan sulit untuk mengakuinya. Tapi meskipun dia tidak bilang, Al juga tau kok kalau Tasya benar-benar mencintainya sekarang, dia hanya senang saja menggoda gadisnya.


"Itu cowoknya romantis banget," gumam Tasya.


"Kalau menurut kamu, aku romantis gak?" Tanya Al sembari melirik ke arah Tasya yang sedang fokus menonton sambil memakan popcorn.


"Engga, kamu itu gak romantis menurut aku."


"Kamu itu orang yang melakukan apapun dengan sederhana, tapi bermakna buat aku. Jadi jauh lebih dari kata romantis," lanjut Tasya.


Al sebenarnya salting tapi dia lebih terkejut saat melihat film adegan dewasa di hadapannya. Al langsung menutup mata Tasya dengan tangannya.


Tasya yang merasa keheranan pun mencoba melepaskan tangan Al. "Aku salah bicara kah sampai matanya ditutup gini? Kenapa ditutup kan aku mau nonton."


"Nanti, anak kecil gak boleh liat," ucap Al.


"Hah apasih? Kok gak boleh liat? Aku udah cukup umur tau, kenapa gak boleh liat?" Tanya Tasya.


"Gak boleh, gak bagus juga buat kamu. Nanti aja kalau udah waktunya aku yang ajarin," jawab Al asal.


Tasya memukul lengan Al, sementara Al hanya terkekeh. "Mesum banget ah, kamu."

__ADS_1


Al melepaskan tangannya dari mata Tasya lalu mendekat ke arahnya. "Bukan mesum, tapi realistis. Kamu gak boleh liat kaya gitu dulu, imbasnya gak akan baik. Jadi nurut aja ya, Sayang."


Tasya tidak bisa menahan senyumnya saat ditatap seperti itu. Bagaimana dia tidak salting kalau begini caranya? Tasya memalingkan wajahnya dan kembali menonton. Entah kenapa Al selalu membuatnya jatuh cinta berulang kali seperti ini. Perasaan yang baru pertama kali Tasya rasakan, bahkan sepertinya pada saat dengan Viko dia tidak merasakan seperti ini.


__ADS_2