Life As Ketua Osis

Life As Ketua Osis
Sebuah Test Konyol


__ADS_3


Diana menarik lengan Tasya lembut, begitu juga Amara. Mereka harus memastikan kalau Tasya memang hamil atau tidak. Bukan hanya itu, karena mereka terus mengelak jadi Tasya juga harus di test keperawanannya oleh Dokter Laras. Sejujurnya Tasya tidak mau, mendengarnya saja sudah bergidik ngeri. Tapi ini agar mereka semua percaya kalau Tasya dan Al tidak aneh-aneh.


Tasya disuruh masuk ke kamar Amara dan yang lainnya menunggu di luar. Tasya sekilas menatap ke arah Al karena takut, tapi Al hanya berusaha tersenyum memberikannya semangat. Meskipun ini nampak terlihat konyol. Al cemas, takut Tasya kesakitan, karena dia pernah tau test seperti itu menyakitkan.


Setelah memberikan cairan urine pada dokter, Tasya berbaring di kasur, jantungnya berdegup sangat kencang. Jujur dia tidak tau akan diapakan. Dokter Laras mencelupkan testpack lalu menaruhnya di atas tissue. Setelah itu melakukan pengecekan lainnya.


Dokter Laras yang biasa menangani Tasya sedikit terkekeh melihat raut wajah pasiennya kali ini. Sambil memeriksa tekanan darah menggunakan alat tensi, Dokter Laras pun menatap ke arah Tasya. "Kamu kenapa bisa disangka hamil loh, Sya?"


"Aku gak tau, Dok. Aku mau izin tunangan malah dikira hamil. Soalnya kita baru pulang KKN terus aku juga mual sih tadi siang. Tapi emangnya kalau deketan doang bisa bikin hamil?" Tasya tau itu pertanyaan konyol tapi dia malah jadi berpikir seperti itu karena dituduh hamil.


Dokter Laras semakin terkekeh, tentu jawabannya adalah tidak. "Yaudah jangan khawatir. Test ini bisa membuktikan kamu tidak hamil kok, ya terkecuali kalau masih belum percaya bisa test USG nanti ke klinik ya. Saya singkap dulu bajunya boleh?" Tanya Dokter Laras.


Tasya sebenarnya malu, apalagi dia memakai dress sekarang. Ah sudahlah dia pasrah saja dan akhirnya mengangguk.


Dokter Laras menyingkap baju pasiennya ke atas, memeriksanya dengan stetoskop lalu menekan beberapa bagian. Tidak hanya itu Dokter Laras pun memeriksa denyut nadi. Biasanya seseorang yang hamil jika perutnya ditekan akan terasa sakit, dilihat juga dari perubahan bentuk perut yang bengkak atau membuncit dan biasanya ibu hamil denyut jantungnya meningkat.


Dokter Laras mengambil testpack dan melihat hasilnya. "Kalau pemeriksaan dasar sih kamu gak hamil ya, Sya. Sudah saya periksa baik hasil testpack atau test fisik."


"Tuh kan, berarti udah beres, kan?" Tanya Tasya.


"Belum, saya harus memastikan keperawanan kamu dulu," jawab dokter Laras sedikit ragu dengan reaksi pasiennya.


"Hahhh itu diapain? Serius, Dokter aku gak ngapa-ngapain sama Al," ucap Tasya sedikit panik.


"Itu test untuk memastikan selaput dara kamu masih utuh atau tidak. Memang agak sedikit menyakitkan, tapi kamu relax ya. Saya akan melakukannya dengan hati-hati." Dokter Laras berusaha meyakinkan sembari mengeluarkan alat spekulum.

__ADS_1


Tasya hanya pasrah saja, dia juga tidak bisa membantah. Tasya menekuk kedua lututnya, memposisikan seperti orang akan melahirkan. Dokter Laras meminta izin untuk menurunkan dalaman yang Tasya gunakan. Tasya takut melihat alat itu, entah untuk apa tapi Tasya takut sekali. Meskipun harus relax tapi tetap saja dia tegang.


Perlahan Dokter Laras memasukan alat itu ke dalam bagian inti Tasya. Cara kerja alat itu adalah dimasukan ke bagian dalam inti dan membuka bibirnya, dengan itu dokter dapat melihat selaput tipis atau bisa disebut selaput dara. Tasya memejamkan matanya erat, jujur itu sakit apalagi dilakukan cukup lama. Bahkan dia menangis menahan sakitnya. Kalau ditest begini saja sudah sakit apalagi jika malam pertama ya? Tasya jadi takut.


"Sakit, Dokk," ucap Tasya sambil terisak.


"Oke-oke tahan ya, ini sudah selesai."


Dokter Laras membantu menaikan dalaman milik Tasya, setelah itu Tasya baru boleh duduk. Bagian bawahnya terasa masih sakit, memang benar-benar tega keluarganya membuat Tasya merasakan ini, dia jadi kesal sendiri.


"Sudah jangan menangis, sakitnya hanya beberapa jam. Nanti akan pulih kembali. Kamu tenang aja, setelah ini mereka pasti percaya," ucap Dokter Laras menenangkan.


Setelah selesai, mereka berdua pun keluar dari kamar. Al sangat cemas karena melihat Tasya yang menangis saat keluar kamar. Tasya menatap Radit dengan kesal, dia memilih untuk menghampiri Al dengan jalan yang tidak bisa normal karena sakit.


Tasya duduk di sebelah Al lalu memeluk pria itu sambil menangis. Al membalas pelukannya sembari mengusap-usap lengan Tasya. "Kenapa? Diapain di dalem? Kok nangis?" Tanya Al setengah berbisik.


"Itunya, apasih anunya, ihhh gimana sih bilangnya. Ya itunya dimasukin alat gitu sakit," jawab Tasya yang semakin deras air matanya dan membenamkan wajahnya di dada Al.


Dokter Laras duduk, sedikit berdeham dan mengambil atensi yang lainnya. Sementara Tasya tidak beranjak dari posisinya dan tetap menangis di pelukan Al.


"Jadi gimana, Dok keponakan saya? Dia hamil? Kondisinya gimana?" Tanya Amara.


"Iya, Dok. Calon cucu saya juga gimana?" Tanya Diana.


Laras mengeluarkan testpack. "Sepertinya ada kesalah pahaman antara Tasya dan Keluarga. Untuk test dasar pemeriksaan kehamilan tidak menunjukkan ciri-ciri kehamilan, lalu hasil testpack juga membuktikan kalau Tasya tidak hamil. Hanya masuk angin saja. Mungkin jika masih belum yakin bisa datang ke klinik untuk USG."


"Alhamdulillah, lalu hasil test lainnya?" Tanya Amara.

__ADS_1


"Maaf jika kurang nyaman. Saya sudah melakukan pemeriksaan keperawanan menggunakan spekulum dan metode dua jari. Meskipun test ini tidak bisa membuktikan keperawanan yang akurat, tapi saya bisa menjamin kalau Tasya dan pacarnya tidak berbuat apa-apa, karena selaput daranya utuh."


Tasya semakin mengeraskan tangisnya, dia kesal sekali. Jadi dia tidak peduli akan dianggap bagaimana. Jujur ini konyol sekali untuk Al. Tapi kasian juga Tasya.


Setelah menerima penjelasan dokter mereka pun baru percaya, ada sedikit rasa bersalah juga karena harus membuat Tasya kesakitan. Tapi memang itu satu-satunya cara menuntaskan masalah ini.


Amara dan Diana mengantarkan dokter Laras keluar rumah sementara Zea, Radit dan Haris masih di sana sembari menatap Tasya dan Al. Zea jadi tidak tega juga melihat Tasya. Dia mengahampiri Tasya dan mengusap-ngusap lengannya agar tenang.


"Sakit pasti ya? Gue juga rada ngeri, pernah ada issue test keperawanan waktu gue SMA, gue udah kabur duluan krena takut," ucap Zea.


"Ya lagian kalian gak percayaan, kasian Tasya harus kesakitan," kesal Al.


"Gue percaya ya, Bunda sama Tante Amara tuh. Cup cup udah jangan nangis," kata Zea.


Al menangkup pipi Tasya agar menatapnya, perlahan dia mengusap air mata gadis itu dengan kedua ibu jarinya. "Maaf ya, jadi lu yang harus ngerasain sakitnya. Kalau bisa gua, udah gua gantiin tadi."


Tasya mengangguk dan sedikit tersenyum. "Hmm." Tasya kembali membenamkan wajahnya pada Al. Dia mau seperti ini saja.


Radit melihat itu senang, tapi menjadi sedikit merasa bersalah pada adiknya karena tidak percaya. Rupanya KKN mereka menjadi ajang PDKT. Baguslah jadi dia tidak perlu repot-repot lagi mencari cara untuk membuat mereka semakin dekat.


Radit mendekati Tasya di samping Zea. Dia berusaha memegang pipi adiknya namun Tasya malam semakin membenamkan wajahnya. Pokoknya dia kesal sekali sekarang, bahkan sakitnya masih terasa.


"Makanya besok-besok kalau mau bicara di waktunya yang tepat," ucap Radit pada Al.


"Udah tepat, kalian aja yang nethink. Padahal gua sama Tasya mau niat baik dengan nerima perjodohan, malah disangka engga-engga. Liat cewek gua nangis, kan?" Balas Al.


"Udah cewek lu aja, adek gua! Maafin Abang ya, Sya. Jangan nangis gitu dong, jangan ngambek," ucap Radit pada Tasya.

__ADS_1


"Marah besar!" Tasya mengeratkan pelukannya pada Al.


Al kembali mengusap punggung gadis itu dan menciumi puncak kepalanya. Tidak peduli walaupun ada Radit, Zea dan Ayahnya, yang terpenting Tasya bisa tenang. Pokoknya Tasya ingin bersama Al saja karena dia marah dengan semua orang.


__ADS_2