
"Nih." Viko sambil menyodorkan jaket pada Tasya. Dia tidak membawa jas hujan, namun dia membawa jaket. Tapi Tasya tidak bertanya, jadi tidak dia berikan sejak tadi.
Tasya yang melihat itu sedikit geram, kenapa Viko baru memberinya jaket setelah dia sudah basah kuyup? Menyebalkan.
"Lah, bukannya dari tadi," ketus Riana yang melihat ke arah Viko dengan tatapan kesal.
"Gua liatin dulu aja tadi, ternyata lemah," jawab Viko asal. Masih untung dia berikan pada Tasya dan membiarkan dirinya sendiri kedinginan.
"Lo ngasihnya ikhlas gak nih? Pake menghina segala. Kalau gak ikhlas ambil aja deh gue juga gapapa," gerutu Tasya sambil mengeluarkan rolleyes-nya.
Viko langsung memakaikan jaketnya tanpa persetujuan Tasya. Gadis ini terlalu banyak bicara dan membuat telinganya sakit. "Banyak ngomong lu tinggal pake doang."
Tak lama kemudian, Chandra datang membawa secangkir coklat panas untuk Tasya.
"Nih." Chandra sambil meletakkan secangkir coklat panas di hadapan Tasya. Entah ada angin apa, sikap Chandra membuat Tasya keheranan, memang Chandra tidak bisa diprediksi.
"Buat gue?" Tanya Tasya memastikan, salah-salah nanti dia cuma kegeeran lagi, kan malu.
"Gua ngasihin ke siapa?" Chandra bertanya balik.
"Ke gue," kata Tasya polos.
"Ya berarti buat lu," ucap Chandra dengan nada kesal. Kebiasaan Tasya adalah lemot tidak tau tempat dan waktu.
"Tumben lo baik sama gue," celetuk Tasya yang masih belum lepas dari tatapannya pada Chandra.
"Gua galak salah, gua baik malah di tanya. Mau lu apa?" tanya Chandra tak terima.
"Ya tumben aja gitu, seorang Chandra Aditya baik sama Tasya Aurel," jawab Tasya lagi sambil meledek.
"Elahh berantem mulu, kalau gak mau buat gua aja. Haus," kata Viko yang langsung mengambil coklat panas itu dan meneguknya hingga habis.
Tasya yang melihat itu hanya cengo, banyangkan saja. Itu coklat panas, tapi Viko meneguknya secara sekaligus. Seperti adegan debus, bukan?
"Ihhhhh itu kan punya gue," kata Tasya
"Btw i-itu gak panas?" lanjut Tasya ragu.
"Ya eng- eh anjirrr lidah gua," kata Viko sambil mengipas-ngipas lidahnya yang kepanasan.
Dengan spontan Tasya berlari menuju kulkas, dan mengambil sebotol air mineral dingin untuk Viko.
"Nih minum." Tasya melihat wajah Viko sambil tertawa terbahak-bahak. Viko benar-benar membuatnya tidak kuat jika tidak tertawa.
Melihat itu, mereka ikut tertawa. Adegan debus dari Viko sukses membuat suasana mencair kali ini. Lagi-lagi Chandra hanya mengembuskan napasnya kasar. Apalagi soal Tasya mengambil sebotol minuman dingin untuk Viko. Linda yang sadar akan sikap Chandra langsung mengelus punggung Chandra dan dibalas lirikan oleh Chandra.
"Cuma orang bego yang minum coklat panas sekali teguk," kata Tasya yang masih terkekeh akibat ulah Viko.
"Diem lu," ketus Viko yang terus meminum airnya, bahkan dia menghabiskan beberapa botol. Meskipun tidak terlalu panas, mungkin karena suhu tubuhnya sedang menurun drastis.
Viko beranjak dari kursinya dan menuju meja pesanan. Dia akan mengganti coklat panas milik Tasya. Sementara Tasya bingung apa yang sedang dilakukan Viko. Viko kembali membawa secangkir coklat panas dan menaruhnya di depan Tasya.
"Nih, gua ganti." Viko pun kembali duduk di tempatnya.
Tasya melirik ke arah Viko, "Tum-"
"Apa? Lu mau bilang 'tumben gua baik?' Gitu aja terus sampe lu gak jomblo lagi," potong Viko dengan kesal. Apa gadis itu tidak bisa menerima tanpa perlu mengejek.
"Dih, sekata-kata ya lo," kesal Tasya tak terima, memang Viko ini tida bisa jika tidak membuat Tasya naik darah.
__ADS_1
"Terima nasib," kata Viko santai.
Percakapan mereka terhenti karena pesanan sudah datang. Mereka juga sudah jengah melihat pertengkaran Viko dan Tasya. Belum lagi pertengkaran Chandra dengan Tasya.
"Daripada debat, mending kita makan," ucap Sinta.
"Bener nah, gak cape apa lo debat mulu? Gue aja yang liatnya gerah. Tasya Aurell ini memang hobinya mengajak debat siapapun." kata Vio.
"Yaudah iya, iya. Lagian siapa suruh ngajak gue debat." Tasya memakan makanannya, memang berdebat membuatnya sedikit lapar.
"Makan yang banyak, Sya. Biar gak kambuh. Tar yang ada lo nyusahin, belum lagi abang lo marah," peringat Chandra.
"Hmm." Tasya hanya berdeham, dia malas berbicara pada siapapun.
...~ • ~...
Tasya dan Viko pun sampai di depan rumah Tasya. Setelah selesai survey mereka memutuskan untuk langsung pulang. Tubuh mereka sudah mengering namun rasa dinginnya menembus kulit.
"Makasih ya, Vik," ucap Tasya pada Viko.
"Sama-sama," balas Viko.
"Mau mampir dulu?" tanya Tasya lagi. Sebenarnya dia tidak berniat, tapi hanya basa-basi saja karena Viko mengantarkannya ke rumah.
"Next time deh," kata Viko.
"Oh ya ya, btw jaket lo?" Tasya menunjuk jaket yang dia pakai.
"Pake aja dulu, kalau mau balikin jangan lupa cuci. Yang wangi juga," kata Viko.
"Dih, najiss, nyusahin."
"Gua balik, bye."
Tasya memasuki rumah, seperti biasa Radit telah siap sedia mengintrogasi adik satu-satunya ini.
"Bagus, hujan-hujanan ya lu. Ngapain aja lu sama Viko? Main India-Indiaan?" Radit melipat tangannya di dada. Padahal Tasya tidak bisa kena angin sedikit dan sekarang malah hujan-hujanan.
"Heh, ngaco lo. Mana ada. Tadi tuh di jalan tiba-tiba hujan lebat. Makanya basah kutub," jawab Tasya menjelaskan kepada kakaknya itu.
"Oh gitu, btw jaket siapa yang lu pake?" Tanya Radit menyelidik. Pasalnya itu jaket pria dan Tasya tidak mempunyai jaket hitam seperti itu. Secara dia adalah cewek kue.
"Viko, kenapa?" Jawab Tasya santai.
"Jadi lu sekarang sukanya sama Viko?"
"Dih mana ada," kata Tasya tak terima dengan tuduhan kakaknya itu.
"Terus? Pergi bareng, pulang bareng, dipakein jaket?"
"Gini. Pertama, gue pergi bareng Viko soalnya gue gak bawa motor dan gak ada tebengan. Dua, ya balik bareng lah masa gue jalan dari Lembang? Tiga, dipakein jaket soalnya tadi gue kedinginan pas nyampe di KL," jelas Tasya secara terperinci.
"Kayaknya ada bau-bau cinta," kata Radit.
"Dih ogah gue cinta sama si Viko," kata tasya bergidik ngeri.
"Ya lu ogah, kalau Vikonya mau gimana?"
"Gak mungkin lah, gue sama dia tuh ibarat kaya kucing sama anjing dan kaya gue sama Chandra," kata Tasya.
"Ya mungkin aja," kata Radit.
__ADS_1
"Pinky swear, kitty Swear, banana, cherry, strawberry swear, gak mungkin dan gak akan pernah!"
"Alay," ejek Radit.
"Lo mah gimana sih jadi kakak, adiknya baru masuk dan masih berdiri gini bukannya disuruh mandi atau ganti baju kek, ini malah diajak debat," kata Tasya.
"Gua abang yang beda dari yang lain," kata Radit.
"Lo gak kuliah? Semester pertama aja lo udah bolos ya," kata Tasya.
"Gua libur ya, sorry," kata Radit meledek.
"Najong lo, btw dia belum pulang?" tanya Tasya dengan nada dingin.
"Besok mungkin," jawab Radit.
"Oh bagus deh, mood gue emang lagi gak baik. Kalau dia balik tambah aja gak baik," ucap Tasya yang langsung pergi untuk mandi dan berganti pakaian.
Radit hanya bisa mengembuskan napasnya pelan, seberapa usahanya untuk menghilangkan kebencian pada diri Tasya, itu sama sekali tak berpengaruh apa-apa. Dia hanya bisa mengandalkan waktu. Mungkin suatu saat, waktu akan menghilangkan kebencian pada diri Tasya. Ya semoga.
Setelah selesai mandi Tasya langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Hari ini begitu melelahkan, rasanya ingin tertidur pulas sekarang. Namun, notif ponselnya berbunyi. Tasya lupa, kalau ponselnya itu bisa langsung terhubung dengan wifi rumahnya. Sehingga notif bisa bermunculan langsung dengan indahnya.
Terlihat notif dari grup "JoJoba Oil."
...Jojoba Oil (4)...
Sarah Sevita : Sya, lo jadian sama Viko?
Niken Adelia : lo kok gak bilang-bilang jadian sama Viko?
Sherli Selinda : Omaygat, ini gak bisa dipercaya.
^^^Hah? Maksudnya? Kok gue gak paham?^^^
Sherli Serlinda : di mana gak pahamnya Tasya Aurelia. Kita tuh tanya, lo sama Viko jadian?
^^^Bah gosip dari mana itu? Mana ada gue jadian sama cowok setan itu.^^^
Sarah Sevita : oh my god, oh my no, oh my wow. Lo harus liat mading online sekolah sekarang.
^^^Emang ada apa di website sekolah?^^^
Niken Adelia : ada pendaftaran siswa baru, Sya. 😒
^^^Bah, terus gue harus mantengin gitu? Hellow, Ketos bukan buat jaga PPDB keles.^^^
Niken Adelia : anjirr ini anak lemotnya kumat.
^^^Hah?^^^
Sarah Sevita : mending lo liat aja website sekolah dan lo liat mading.
Sherli Serlinda : nah.
^^^Oke otw liat.^^^
Niken Adelia : sip.
Sherli Serlinda : sip. (2)
Sarah Sevita : sip. (3)
__ADS_1
Tasya langsung membuka website sekolah. Ternyata itu adalah ....
"WHAT? SIAPA YANG BIKIN HOAX KAYA GINI?" teriak Tasya histeris.